Overthinking kills

Teriakan paling memekakkan telinga dialami digelap malam. Saat lampu satu persatu dimatikan. Hanya alunan pelan dari detik jam dinding yang terasa, juga cicak cicak yang sesekali menyuarakan perut lapar mereka. Atau kodok yang bernyanyi di kolam depan. Atau juga suara hening. Tahu kan apa itu suara hening? Ya, suara yang kita dengar saat diam. Tidak bisa kujelaskan, karena kalianpun mengerti.

Aku mulai memejamkan mata pukul 11. Siang hari melelahkan membuat badan hanya ingin berbaring. Tapi betapa kepala selalu tidak tahu waktu. Satu persatu kejadian ia tayang rekamannya, dalam mataku yang masih terpejam. Memperlambat waktu yang paling mengesankan. Waktu yang paling ingin kuhapus dan dilupa. Lalu rekaman percakapan, mengulang ulang terus perkataan yang menyentuh tapi menyakitkan. Mengulang juga literasiku yang tidak seharusnya kuucap.

Juga tatapan dan wajah wajah silih berganti muncul mengesankan perasaan mereka. Setiap waktu hari itu diperlambat tiap sekonnya. Apa yang harus dan tidak harus dikatakan, dilakukan, atau ditunjukkan, ia diktekan. Antara gila dan wajar rupanya beda tipis saat gelap dan hening seperti ini. Kalau sedang sangat buruk, barangkali air mata hanya menambah jelek suasana.

Bisakah kau diam? Tanyaku kepada kepalaku. Bernegosiasi memohon ingin menumpah lelah pada lelap. Berkali ia katakan: mengerti, aku akan berusaha diam, ah tapi itu hanya agar aku bahagia sekejap saja. Karena selanjutnya tayangan lain bergantian bermunculan kembali, menyisakan sesal dan bersalah dengan rasa berbeda. Terkadang jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, darah lebih deras, mata lelah semakin sakit saat terpejam, saat segala ketakutan bermunculan seperti ini.

Isi kepalaku seperti tidak bisa berkompromi, jangan jangan ia bukanlah bagian dari diriku? Apakah suatu makhluk memasukinya dan mengeluarkan kecemasan, takut, kemarahan, dan perasaan buruk dengan tidak terkontrol? Karena ini bukan mauku!

Sayup sayup ayat suci dari masjid lalu terdengar. Rupanya benar, aku tidak tertidur malam ini. Rasanya baru beberapa menit memejam mata, tapi mengapa fajar sudah hampir tiba?

Suara suara dari masjid semakin berkumandang sana sini. Pikiranku mulai sedikit terkendali. Adegan adegan dan suara yang berputar perlahan memelan. Manusia sering lupa, bahwa segala ketakutan dan kecemasan sejatinya hanya bisa dipasrahkan pada-Nya. Tidak perlu berpikir terus hingga hampir gila. Tingkahku malam tadi, seolah aku ini tuhan pengendali takdir dan waktu.

Segala gelisah akhirnya menguap bersamaan dengan pendengaranku yang menangkap suara dari masjid-masjid. Akhirnya aku bisa terlelap pulas, tanpa sempat mendengar adzan shubuh.

Kau tahu? Malam seperti ini adalah jelmaan iblis agar manusia tidak mendengar panggilan Tuhannya saat fajar tiba, agar lupa bahwa segala kecemasan dan kekosongan ada Dia yang menenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s