Antara Nikmat dan Petaka

Suatu hari, terdapat seorang anak yang tidak bisa melihat alias tunanetra. Ia diwawancara mengenai prestasinya sebagai seorang hafidz.

Gimana cara kamu belajar menghafal Qur’an?
Saya berguru pada fulan tapi bayangkan, dia hanya menyediakan waktu 2 hari dalam seminggu!

Hanya dua hari?
Ya, tapi saya memohon untuk menambahnya jadi 3 hari. Akhirnya beliau mau.

Bagaimana ia mengajarkanmu?
Kami belajar sambil berjalan kaki. Tapi ia hanya memperbolehkan aku menghafal satu ayat dalam satu hari

Satu ayat?
Iya, hanya satu ayat! Bayangkan! Seharian!

Kalau kamu diberi kenikmatan, maukah kau minta pada Allah agar penglihatanmu dikembalikan?
Tidak! Saya tidak pernah meminta agar saya bisa melihat.

Kamu tidak malu? Minder?
Sejujurnya waktu kecil saya selalu merasa tidak percaya diri. Tapi sekarang tidak pernah.

Kenapa kamu tidak berdoa agar penglihatanmu normal?
Justru saya takut jika saya bisa melihat, karena nikmat penglihatan akan berat konsekuensinya diakhirat nanti. Saya akan gemetar dan ketakutan saat itu. Penglihatan saya akan menambah dosa-dosa saya. Saya beruntung tidak diberi penglihatan, karena bisa mengurangi amalan-amalan buruk saya.

Sumber video: youtube dengan username fahadalkandari


Sama ceritanya dengan seorang yang takut akan kekayaan karena ia tidak mau hartanya justru jadi penghambatnya diakhirat kelak. Maka seorang bussinessman hebat seperti Rasulullah, tetap hidup sangat sederhana dan seperlunya.

20161103-092316-PM.jpg

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s