Domba dan Singa

Bukan bohong juga bukan dongeng bahwa hidup bersama-sama dalam mencapai tujuan akan lebih mudah ketimbang mencapainya sendirian.

Hal ini diumpamakan dengan domba dan singa. Saat domba berjalan bersamaan dengan kelompoknya, seekor singa tidak akan berani menerkam mereka.

Tapi singa selalu jeli mencari siapakah seorang domba ‘beruntung’ yang keluar dari barisannya untuk dilahap.

(Sayangnya) hal ini berlaku juga dalam kehidupan manusia. Aku selama ini selalu menafikan dan mencari alasan bahwa dengan berjalan sendiripun kita bisa mencapai goals kita asal patuh pada prinsip dan tetap disiplin. Tapi bukankah kita tidak lupa akan janji Iblis yang senantiasa menyesatkan jalan manusia? Iblis ibarat seekor singa yang mencari para ‘domba-domba’ kesepian, para ‘domba-domba’ sendirian, dan para ‘domba-domba’ penyendiri (eapabedanya).

Maka bukan aneh bukan ajaib juga bukan sihir, tatkala nanti saat di akhirat kita akan bangkit dan berjalan bersama orang-orang yang didunianya juga “berjalan” bersama kita. Juga hadist mengenai tukang parfum dan pandai besi, itu juga benar adanya.

 “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hidup dizaman serba canggih dan pintar ini memang menjadi tantangan tersendiri. Terlalu mudah membuat si ‘domba sendirian’ untuk dilahap para singa. Baru berniat dikit tobat, lalu liat media sosial jadi lupa lagi. Baru berniat mau duduk ngaji, liat notif WA langsung ga jadi. Baru mau shaum, eh lupa ga sahur karena begadang nonton. Baru mau nyari hal-hal positif di youtub, malah nemu hiburan lain. Betapa sekarang niat untuk tetap berada dijalanNya sangat mudah luntur. Itulah gunanya teman yang saling mengingatkan.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Sempat aku menganggap bahwa mencari teman yang nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran adalah berat dan sulit. Tapi ternyata semua itu kembali lagi pada diri sendiri. Mau mencari yang saling mengingatkan maka datanglah ke kajian-kajian Islam, bukan hanya perkaya bacaan di rumah sendirian, bukan juga hanya berkumpul dengan teman yang selalu membuat bahagia tanpa pernah mempertanyakan iman kita.

Kalimat terakhir cukup berat, semoga kita bisa mencari dan menjadi teman yang saling menasehati. Bukan menasehati hanya dalam urusan fisik dan duniawi saja, tetapi masalah paling krusial yang kebanyakan orang menyepelekan dan mengoloknya–padahal masalah itu dibawa hingga kehidupan selanjutnya. Semoga Allah senantiasa menempatkan kita pada pergaulan yang sama-sama menujuNya–baik suka maupun duka.

20160325-100836-PM.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s