Topik Mainstream

Dalam beberapa hari ini aku menghindari buka facebook dan timeline line (padahal emang ga pernah liat timeline) karena pas buka aku takut sakit hati dan takut sarkas sarkas sendiri dalam hati akibat apa hayoh pasti tau………………ya betul, kejadian 4/11 kemarin di jakarta. Pokonya cape banget aja.

Pada mulanya aku menulis di Harga-harga Murah mengenai sedikit pemikiran aku yang kurang setuju dengan unjuk rasa tersebut. Dulu disitu tertulis bahwa takutnya emang ada pihak-pihak yang memakai agama untuk kepentingan politiknya. Takutnya juga sebersih apapun niat mereka tapi ada yang akan menunggangi mereka dan takutnya lagi nama Islam justru malah tercoreng karena anarkis dan sebagainya. Udah gitu aku juga berpendapat kalau jangan-jangan saingannya ahok emang make ayat buat provokasi demi kepentingan dia–kan ga banget. Selain itu juga pertimbangan lain kaya ih watir si ahok dan siapa yang salah itu aku rasa adalah si pemotong dan pengedit video. Tapi mohon maap bahwa tulisan tersebut udah diubah sejam setelah dipos karena takut salah hehe. Atau karena aku plegmatis bingit. Oiya kenapa judulnya “harga murah” adalah bermaksud jangan sampe make ayat Allah untuk kepentingan duniawi  (kaya kekuasaan) karena nilai dan harga ayat Allah itu ga semurah itu (di QS 2:41).

Terimakasih kepada segala pihak karena kejadian kemaren membuat aku merenung terlalu dalam dan mencoba liat sisi lain (mungkin ga penting, tapi bagi aku mah penting), karena disatu sisi aku ngerasa “apakah aku yang penuh dosa sehingga memiliki prasangka yang berbeda dengan orang pada umumnya apa gimana ya” akhirnya sambil pasrah aku baca surat An-Nashr. Entah kenapa tiap liat ayat itu jadi inget film mengenai futuh mekkah waktu zaman rasul. Kalo diceritain dan baca mah meren biasa aja, tapi kalo nonton terharu banget sangat 😦 Karena itu kisah waktu Islam menang di Makkah. Pengeeeeen bangeeeeeeet ikutan rasanya, tapi sayang masih di alam ruh.

Kadang aku mah bingung banyak orang pinter yang ngatain orang beragama itu bego dan naif, tapi sesungguh-sungguhnya sepanjang 22 hampir 23 taun ini, ga ada kenikmatan yang lebih membahagiakan daripada nangis saat baca ayat Allah. Mau sekecewa sesedih atau seseneng apapun akan takdir, tapi tetep aja air mata karena Allah itu ujung-ujungnya selalu bikin bahagia dan lega. Beda kalau ke makhluk, mau nangis karena seneng-sedih ujung-ujungnya tetep kecewa dan bikin tambah baper. Kalo kata orang “pinter” mungkin ini alasan dangkal, tapi aku merasa sangat puas akan hal seperti itu dibanding lainnya, ga peduli orang bilang apa.

Oke kembali lagi.

Malam itu akhirnya aku sedih dengan pemikiran diri sendiri yang kayaknya nggak suka dengan pihak yang demo. Prasangka banyak banget takut ditunggangi perpolitikan dan sebagainya. Tapi kayaknya aku bodoh dalam kaya gituan dan lebih milih kedamaian hati nurani jadi akhirnya aku minta maaf sama Allah akan prasangka-prasangka sama sesama muslim. Aku cuman bisa ngomen dan nulis-nulis beginian, mereka udah mau rela turun jauh-jauh (terlepas kalau orang bilang itu ada motif lain, aku mencoba lepas dari segala prasangka).

Kenapa mesti dipikirin? Karena buat kedamaian hati diri sendiri aja dan bertanya-tanya aku salah apa engga. Mau mikirin si jokowinya ngerespon apa engga, bakal rusuh apa engga, itu orang dateng karena disuap apa engga, terserah masing-masing da aku ga ikut dan ga terlibat. Mau orang mikir macem-macem ya itu wajar karena tiap orang punya kebenaran sendiri berdasarkan pemikirannya. (plegmatis banget ga).

Mungkin ini panjang soalnya baper banget hehehehe.

Semakin nambah usia relasi akan bertambah dan keragaman pemikiran orang juga semakin kaya. Disitulah kadang aku ga sanggup kalau Islam jadi bahan omongan yang kadang fitnah–terutama kalo liat di fesbuk. Rasanya aku pengen super penyendiri dan nutup telinga. Seolah inituh pasti anarkis, pokoknya ya kesalahan-kesalahan dimuncul-munculin dan pastinya bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Padahal bisa jadi berita itu di adu domba media, atau komen-komen orang yang sekuler. Udah wajar dari jaman nabi Adam kalau Islam jadi bahan cibiran bagi yang ga meyakininya.

Meski Islam jadi bahan omongan yang kadang miring akibat media dan para provokator, tapi rasanya kita juga harus pertanyakan iman dikala Islam kena fitnah tapi kita malah selow-selow aja. Seperti saat si X adalah orang yang sangat kamu sayangi (misalnya anggota keluarga) . Tapi dia suka dijahatin orang. Tentunya kamu akan ikut kesel ga sih. Ga mungkin bakal diem aja dan bersikap bodo amat. Itulah yang aku takutkan saat aku ngerasa ga tersinggung akan hal-hal berbau Islam. Jangan-jangan aku kurang memiliki Islam dalam hati. Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku. Jangan-jangan di mata Allah mah aku teh kurang banget. Disitulah aku pengen seperti awkarin mengatakan kalian semua suci aku penuh dosa.

Para provokator emang paling ga kuat banget bikin sakit hati. Mau sepositif apapun aksi kemaren akan selalu disorot yang negatifnya sesedikit apapun. Bisa yah. Ada yang bilang ini ulah HTI, helow yang dateng juga ga mengatasnamakan organisasi tertentu dan dari semua kalangan dateng. Gila emang ga ngerti lagi sama komen di medsos dan berita, kadang aneh dan ga logis. Serius baper banget jadi nulisnya seperti ini 😦

Menurutku aksi ini juga tentu ada positifnya bagi mereka yang dateng. Pasti merinding ga sih ngeliat orang sebanyak itu mau turun dan ga ada anarkis (eh terserah pemahaman kamu deng ada ato engga) dan atas satu alasan yang sama: Al-Qur’an. Sekali lagi terlepas segala prasangka, aku mah ngeliat dari hp aja udah merinding, kebayang kalo dateng kayaknya pengen nangis melihat bahwa Islam di Indonesia itu sekeren ini mau cape-cape dituduh macem-macem sama orang, panas-panasan, jauh-jauh dari berbagai kota bukan karena urusan perut atau duniawi. Subhanallah. Dipihak lain tentu ada berbagai pihak yang juga menyelam sambil minum air tapi yaudah lah. Kalo ini adalah skenario, kayaknya hebat banget. Kalo ini sekedar karena kepentingan dan politik, rasanya kurang ricuh. Kalau karena dibayar, yang nyuruh pasti kaya banget. Kalau karena sebungkus nasi, atuhlah masih kepikiran? :”)

Maksud dari kepanjang-panjang curhatan ini adalah, aksi kemarin pasti menimbulkan pro-kontra dan aku (pernah) masuk pada keduanya. Tapi yang paling penting, ini jadi pelajaran bagi ummat Islam akan berbagai hal. Salah satunya yang udah aku tulis. Bye. Maaf kalau menurutmu ini salah. Aku mah ga ngerti. Tapi aku selalu cinta Islam dan berharap sangat Allah akan menyimpan kecintaan itu dalam hati hingga aku mati.

-Dear shofia dimasa depan, tulisan ini tidak perlu diapus sepertinya ya

20161103-091514-PM.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s