Panas

Setiap kata tertahan dijemari selama empat minggu. Tanganku hingga bengkak dibuatnya, kepalaku kosong karena isinya tumpah mengalir di lengan dan kuku. Para kupu-kupu yang biasa bertengger di diafragma berkata sudah lelah. Ia juga ingin pindah menuju jemari yang katanya bisa menjadi jalan keluar.

Tetapi setiap kata, isi kepala, dan kupu-kupu yang mengantri di kuku-kuku terlalu takut melanjutkan perjalanan mereka. Cenderung mengantri di setiap telunjuk, jari tengah, dan jempol saja. Karena ada bagian-bagian dalam diriku yang menahan amarah. Jari-jari kaki.

Sudah satu dekade jemari kaki bersabar melihat betapa semua hal selalu ingin keluar dari kuku lentik dan jemari tangan, padahal ia sendiri membutuhkan energi. Kapan aku berjalan? Bisiknya padaku setiap waktu. Hingga aku selalu menahan setiap kata, isi kepala,dan kupu-kupu, untuk tetap diam ditanganku hingga tremor.

Waktunya berjalan. Saatnya semua berpindah, menuju jari kaki.

 

Advertisements

2 Replies to “Panas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s