Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

My name’s Blurryface and I care what you think

Meski kita ga pernah ngomong atau bertindak atas tanggapan perlakuan orang lain ke kita, tapi bisa jadi delikan mata tidak suka mereka menyentuh hati kita terlalu dalam. Atau menghindari bicara dengan kita secara implisit, bisa membuat 3 tahun kemudian masih kita ingat dan mempertanyakan apa salah kita padanya.

Bohong rasanya kalau kita benar benar bisa jadi orang yang paling ga peduli dengan anggapan orang. Setidaknya kita selalu butuh saran orang lain untuk menentukan pilihan yang pelik.

Bahkan banyak sekali perkataan atau tindakan orang yang masih kadang muncul atau bahkan kepikiran. Meskipun ga akan mengakibatkan efek apa2 dalam perilaku, tapi sekedar dipikirinpun kadang cukup melelahkan.

Maka benar bahwa “mulutmu harimaumu”. Bahwa kita benar benar harus jaga bicara dan tindakan pada sesama. Karena bisa jadi itu menyakiti mereka hingga bertahun-tahun kemudian, sementara dengan tanpa dosanya kita melupakan perlakuan dan perkataan buruk kita itu.

Sayangnya dijaman semua orang bisa ngetik dan berkirim sesuka hati ini, semua orang semakin menyalahkan dan menyakiti orang lain secara sadar maupun sangat sadar.

Tapi yang paling ga banget adalah orang yang ketemu gede lalu merasa paling kenal dengan temannya sehingga bisa menjudge sesuka hati. Tidak, kita tidak pernah kenal siapapun sampai berhak menjudge atau bergosip, apalagi kawan yang topik obrolannya tidak pernah sampai mengenai masalah keluarga atau rahasia masa lalu. Kecuali kamu adalah malaikat tanpa dosa.

Pinterest

Sebenarnya ini tulisan mungkin agak hiperbola. Maksud dan tujuannya adalah kita ga tau seberapa efek dari apa yang kita katakan atau perbuat bagi orang lain jika kenal aja hanya sekedar say hi. Maka jagalah.

Things we are all (should) jealous of

Rasanya memalukan hidup sudah cukup lama tapi terlalu sering merasa hampa. Hidup selama ini sudah menghabisi banyak perjuangan, peluh dan keringat, tapi sudah melakukan apa? Sebermanfaat apa? Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan Allah?

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah SWT…”

Semoga ayat yang sangat sering kita dengar dan ucap diatas bukan hanya sekedar cuap-cuap semata tanpa menghadirkan hati. Sudah bukan saatnya lagi mengevaluasi hidup kita dengan melihat standar kehidupan orang lain. Buatlah standar lebih tinggi lagi yaitu dengan menjadikan Allah sebagai tujuan dari setiap aktivitas.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(Al Kahfi: 103-105)

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 46)

Ya, orang lain sudah bekerja dengan suksesnya,  sudah kuliah lagi dengan cumlaudenya, sudah mengelilingi dunia, dan sudah-sudah yang lainnya. Tapi ingat, saat semua mati, semua pencapaian itu tidak akan tertulis dinisan menjadi pridenya hingga kiamat. Tidak akan. Kecuali Allah dihadirkan dalam setiap hal-hal tadi, maka pride itu tertulis abadi di buku yang akan kita terima dengan tangan kanan.

Dewasalah, gapai hal-hal yang akan abadi dan dicintaiNya. Capai semuanya dengan harapan tidak akan putus dan berakhir saat nyawa meregang. Setiap hari bangun pagi pulang sore, berkeringat, dan memutar otak, semoga usia semua usaha-usaha itu tidak pendek sependek umur manusia.

Kejar semua dengan tujuan yang abadi dan manfaat yang mengalir. Supaya setiap peluh tidak sia-sia mengucur. Supaya setiap tangis air mata menjadi saksi penolong kita saat kesulitan mencari syafaat. Bukankah cukup menyedihkan jika semua pencapaian dan perjuangan itu berhenti saat kita mati? Yang mana esokpun kita bisa saja mati.

Berjalanlah bekerjalah belajar tinggilah hanya untuk Allah.

Bukan, bukan klise. Belajarlah jika dengannya kita semakin memahami keteraturan semesta sehingga semakin menebalkan iman kita mengenai kekuasaanNya. Belajarlah jika dengannya masa depan manusia akan lebih baik. Belajarlah jika dengannya akan tercipta generasi-generasi beriman dan berkualitas.

Bekerjalah jika dengannya kita bisa berinfak, membersihkan harta, dan berjuang di jalanNya. Bekerjalah jika dengannya kita akan melahirkan keluarga yang dijaga dari api neraka. Berjalanlah keliling dunia jika dengannya kita menjadi lebih yakin akan keteraturan yang Allah ciptakan dimuka bumi.

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
(QS. Jumu’ah: 10)

Cukup sudah belajar, bekerja, dan beraktivitas hanya untuk dilihat manusia. Hanya untuk menyelamatkan diri dari pertanyaan saat hari raya. Hanya untuk menyelamatkan perasaan bersalah karena tidak menjalani apa yang umumnya manusia jalani. Karena jika itu yang mendasari, maka kematian menjadi benar mati untuk semua peluh kita. Lalu kita hilang dan terlupa seperti tidak pernah hidup.

Maka, sungguh tidak perlu merasa iri pada kesuksesan yang terlihat mata.

Tidak ada iri hati (yang diperbolehkan) kecuali terhadap dua perkara, yakni :

  1. seseorang yang diberi Allah berupa harta lalu dibelanjakanannya pada sasaran yang benar, dan
  2. seseorang yang diberi Allah berupa ilmu dan kebijaksanaan lalu ia menunaikannya dan mengajarkannya.

(HR Al Bukhori)

Maka sungguh rugi jika sebagai orang Islam, kita rela memisah-misahkan Allah dan Islam dari setiap aktivitas padat yang kita jalani. Tutup telinga jika ada yang berkata bahwa tujuan hidup kita cukup bodoh karena tidak sama dengan standar kesuksesan manusia pada umumnya. Kita mempercayai hari kemudian, dan sudah menyimpan tujuan disana sejak hari ini. Dengan begitu, syukur dapat terjadi setiap waktu tidak peduli berapa materi yang dihasilkan.

“Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya

(Hadis Riwayat Muslim)

xt

DeJavu

Hati ini cukup teriris setelah membaca mengenai runtuhnya peradaban Islam terbesar yang meliputi Eropa, Asia, dan Afrika–Turki Utsmani–yang didalamnya pernah ada panglima dan pasukan terbaik yang sudah diprediksi oleh Rasulullah, yang menaklukan konstatinopel.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad 4/335]

Ya, Muhammad Al-Fatih, atau Sultan Muhammad II. Tapi gak bahas itu dulu karena bukunya Al Fatih mah udah banyak. Jadi ini mengenai bagaimana hilangnya kekhalifahan utsmani dan berdirinya republik turki. Dari berbagai kisahnya yang penuh intrik dan taktik, ini adalah inti dari alur bagaimana cara mereka bisa menghilangkan kekhilafahan Turki Utsmani.

Barangkali kita bisa mengambil pelajaran dan ga akan dibodohi lagi oleh orang-orang yang menjual agamanya untuk kehidupan dunia. Supaya gak polos-polos amat untuk selalu percaya bahwa semua orang itu baik dan ga punya motif apapun.

  1. Kelemahan pertama kali yang timbul adalah lemahnya keteguhan 20 sultan-sultan terakhir terhadap Islam. Penyakit wahn timbul–cinta dunia dan takut mati. Beberapa pasya/gubernur sudah mulai minum arak dan korupsi. Intinya beliau2 sudah mulai duniawi. Udah gitu banyak utang pula.
    .
  2. Para pelajar banyak dikirim ke barat oleh Sultan supaya belajar disana. Ternyata pas pulang mereka membawa pemahaman sekuler ala eropa yang dihembuskan ke masyarakat. Sehingga ada sebuah geng bernama young turk yang masuk kedalam Comitee of Union and Progress (CUP).
    .
  3. Yahudi berkeinginan merebut Palestina yang saat itu milik Turki Utsmani. Di pelopori oleh Theodore Herzl. Cara pertama mereka yakni mendatangi Sultan langsung. “Kita bayarin utang2 kalian tapi kita boleh beli Palestina” gitu katanya. Tapi sultan ga mau. (kemudian Kongres Zionis Internasional pertama terjadi di Swiss, 29-31 Agustus 1897)
    .
  4. CUP ini  pelan-pelan mengganti pejabat-pejabat pemerintahan yang sesuai keinginan mereka. Mereka tidak suka akan pemahaman Islam dan ingin diganti, terlebih setelah udah ada young turk yang paham barat banget. Karena apa? Karena Freemason udah masuk ke CUP/young turks.
    .
  5. Sultan bergerak menjadi boneka dari orang-orang dibelakangnya. Sultan Abdul Hamid secara personal adalah orang yang sholeh. Tapi sistem pemerintahan sudah mulai jelek. Mereka sempat menggunakan pemerintahan absolut. Sekuler sudah masuk sedikit-sedikit. Belum lagi pejabatnya bukan dari orang yang memang mampu jadi pejabat.
    .
  6. Said Nursi sebagai ulama tersohor saat itu mencoba mengkritik pemerintah agar menjadi negara yang merdeka dan berkonstitusi. Namun sultan dan bayang-bayangnya menolak bahkan sempat Said Nursi hampir dihukum dan dipenjara. (meski pada akhirnya memang dipenjara)
    .
  7. Said Nursi memiliki banyak pengikut, sehingga cara untuk “meredam” suaranya ga boleh pakai kekerasan. Tapi beliau diiming-imingi jabatan dan gaji yang besar. Tapi ditolak.
    .
  8. Pendidikan Islam mulai sulit dan pendidikan sains modern lebih banyak dikembangkan. Pendidikan Islam dipisahkan dari pendidikan modern. Said Nursi protes juga agar keduanya seimbang. Lagi-lagi dibungkam oleh sultan dan bayangan. Ia dianggap memasuki ranah politik dan dihukum. Akhirnya tetap bebas karena setelah diserahkan ke gubernur, gubernur tidak mengerti apa salahnya Said Nursi.
    .
  9. Saat perang dunia 1, kondisi khilafah Utsmaniyah lagi lemah dan ga mungkin ikutan. Tetapi dihasut oleh si bayang-bayang yang berasal dari Freemason, sehingga ikutanlah bersama pihak Jerman dan Rusia. Tapi kan kalah ya.
    .
  10. Setelah kalah, Turki Utsmani akhirnya mau ga mau merelakan wilayahnya untuk dibagi-bagi ke sekutu. Palestina diserahkan ke Inggris yang ternyata oleh inggris dikasihin ke Yahudi.
    .
  11. Mustafa Kemal Attaturk, muncul dan menjadi figur komandan militer yang diagung-agungkan saat itu. Saat Inggris datang dan mengawasi Kekhilafahan Utsmani. Bahkan dibilang “Khalid bin Walid”nya jaman mereka..
    .
  12. Isu-isu dimunculkan bahwa yang membela Inggris adalah jihad dan yang membela ulama adalah pemberontak. Semua serba terbalik-balik.
    .
  13. Inggris memaksa agar mereka mengeluarkan fatwa bahwa melawan Inggris itu haram. Supaya rakyatnya ga ada yang memberontak saat Inggris berusaha menguasai dan mempreteli Islam. Dan yang memberontak wajib dibunuh. Berhasil lah keluar fatwanya.
    .
  14. Para ulama membuat fatwa tandingan yang menghalalkan melawan pemberontak. Mustafa Kemal Attaturk kemudian melawan Yunani sampe menang dan akhirnya gencatan senjata dengan Inggris. Dia makin “wah” dimata masyarakat Turki Utsmani. Citranya sangat positif.
    .
  15. Gencatan senjata turki dan inggris membuat kekuasaan Turki Utsmani sepenuhnya di tangan Mustafa Kemal Attaturk. Begitulah bagaimana musuh-musuh Islam mengggerogoti kita dari dalam. Dari mulai “menghilangkan islam perlahan” dari dalam diri masing-masing dan menebar pemahaman atheis dan sekuler.

.

Setelah itu, seperti yang kita ketahui, ditangan dia lah kekhilafahan Islam diganti menjadi sekuler yang sangat radikal. Semua bahasa arab dan persia dimusnahkan. Mesjid-mesjid di tutup atau dijadiin gereja. Baju Islami dilarang dan pakaian barat wajib. Pesta campur perempuan laki-laki pertama setelah 6 abad terjadi di Istanbul, sambil minum arak dan berbaju minim.

Azan dan bacaan Quran semua diganti jadi bahasa turki. Yang berani azan pake bahasa arab langsug dibunuh. Pun yang belajar Islam dan Quran. Semua simbol Kekhilafahan Utsmani dihilangkan. Patung dan tugu dibuat di kota-kota. Pernikahan beda agama boleh. Yang masih “Islami” akan dipenjara atau dihukum mati. Padahal dulu dia dielu-elukan masyarkat sampai di bilang seperti Kholid bin Walid. Eh ternyata ada udang di balik batu.

Gak heran kenapa di sinetron cinta di musim cherry ga ada rasa islamnya padahal mereka udah 6 abad memakai kekhilafahan utsmani. Ternyata sudah seradkal itu pemusnahan Islam oleh Mustafa Kemal Attaturk. Naudzubillah.

sumber inspirasi: Api Tauhid oleh Habiburrahman El-Shirazy

Pelupa

 

Jadilah hamba Allah yang kuat karena musuh kita Azazil Iblis sudah bersiap untuk jadi yang sangat kuat sejak Nabi Adam turun. Kalau melawan diri sendiri sudah selalu menangis dan lupa bersyukur, bagaimana bisa melawan hal diluar diri?

Tempat Tinggal Lucifer

Kau sudah tahu betul bahwa kini para setan senang beranak pinak dan bertelur dibawah kuku kuku manusia. Entah itu kuku seorang selebriti sehabis di manicure, atau bahkan kuku seorang penggali kubur yang sering bermain tanah.

Cara mereka bekerja semakin pintar dan tidak mengenal usia. Anak-anak setan itu menetas kemudian bermain di jari-jari manusia sehingga tangan mereka menjadi gatal dan tidak bisa diam. Adapun obatnya sudah disediakan oleh lucifer, orang tua mereka. Sebuah layar kecil yang sekaligus menjadi tempat tinggal manusia saat senang, sedih, marah, benci. Dunia baru mereka adalah layar yang memiliki julukan “pintar”.

Anak-anak itu kini menjadi anak kesayangan ayah ibu setan. Karena manusia jadi bertingkah tidak biasanya. Tipu daya semakin banyak dan kepedulian semakin mengerucut. Mereka suka akan hal itu.

Seorang suami istri di dunia nyata bisa saja saling tersenyum setiap hari padahal para anak-anak setan berhasil merayu mereka di balik layar kecil pintar itu, agar saling berselingkuh dengan rapi dengan para mantan.

Atau memunculkan iri dengki hasad dan benci di hati-hati para manusia yang berusaha paling hati-hati menjaga hati. Membiarkan kabar-kabar buruk dan gembira saling bermunculan menimpa satu sama lain tanpa tahu bahwa itu hanyalah karangan seorang penulis fiksi yang jahat.

Seorang teman kini tidak lagi memeluk erat sahabatnya yang 5 tahun tak bertemu–karena toh setiap hari kita bertemu dibalik layar, bukan?

Seorang ibu tidak lagi pernah menanyakan “bagaimana sekolah/kuliahmu hari ini?” sementara si bungsu tidak tahu harus bercerita pada siapa saat ia di bully. Anak-anak kecil kehilangan penasehat-penasehat dan teman bermain dari kalangan orang dewasa, sehingga menangis rewel menyebalkan selalu menjadi andalannya. Sementara para orang dewasa sibuk marah-marah mengata-ngatai anak jaman kini yang semakin manja.

Kuharap pasangan-pasanganmu tidak pernah menyimpan rahasia dibalik layar pintar milik anak-anak setan itu. Kuharap ayah ibu kakak adikmu adalah orang yang masih mau bercengkrama menatap mata setiap hari dan bertanya apa yang terjadi setiap hari. Kuharap teman-teman dan sahabat lamamu bukanlah orang yang mendengarmu bercerita padahal mata hati dan pendengaran mereka hanya tertuju pada layar milik lucifer itu. Kuharap orang-orang disebelahmu mau meletakkan layar itu jauh-jauh, karena kau jauh lebih berarti.

Adalah kuberharap, agar beberapa orang yang memiliki masalah pelik mau memotong kuku dan jari mereka, supaya lucifer tidak lagi menyimpan telurnya.

mnb
weheartit.com

Ter-mudah terbaca

Aku membaca novel remaja saat masih kelas 6 SD. Membaca kisah perkuliahan saat masih SMA. Dan membaca peliknya berumah tangga saat masih kuliah. Novel-novel kehidupan itu setidaknya membuatku lebih sensitif atas gelagat dan tatapan orang sekitar. Bagaimana mereka berbicara, berbohong, atau berbasa-basi. Atau memuji, atau merendahkan dalam hati. Sehingga aku bercita cita menjadi seorang detektif atau bagian dari badan intelijen. Ah kalau itu terlalu tinggi, setidaknya, aku ingin jadi psikolog.

Ah bagaimana kalau aku jadi peramal sajalah, yang bisa meramal bagaimana kau benci padaku padahal selalu tersenyum. Bagaimana orang itu tidak pernah peduli padahal sering bertanya kenapa. Marah karena tak pernah kubercerita padahal mendengarpun tak pernah. Atau betapa kesalnya dia saat melihatku lalu memilih pura-pura tidak melihat.

Pun sebaliknya, bagaimana dia terlihat jelas terlalu memberi perhatian. Ada pula yang berbaik hati menolong dan mau berbicara dengan orang sepertiku, yang lebih banyak mengobservasi daripada bicara denganmu. Banyak yang positif, negatifpun lebih banyak lagi. Memberantas penyakit hati dan prasangka memang sulit.

Aku hanya ingin agar kau jangan mudah terbaca. Jangan seperti novel-novel itu. Atau lebih parah lagi kalau kau seperti drama korea. Banyak basa basi dan gelagat aneh padahal kalau mau menuju A B C  atau D tak perlu banyak berakting yang terprediksi.

Kecuali bersikap baik, setidaksuka apapun kau padaku atau siapapun, tetaplah bersikap baik meskipun tidak ingin.

gsrtgf
weheartit.com

Koffie & Zombie

Puisi senja hujan dan kopi adalah teman setia para penyair. Atau pura-pura penyair. Atau perempuan melankolis dan laki-laki penulis prosa. Atau barista. Atau pura-pura barista. Atau para mahasiswa dengan kantung mata hitam–yang tak punya ide syair apa-apa selain kopi.

Aku tidak bisa bicara apa-apa tentang kopi. Tidak ada seorangpun dan suatu memoripun terkait dengannya. Kecuali ayah yang sangat aku cintai yang mencintai kopi. Kopi mengingatkanku akan rasa tidak punya uang dan tidak punya waktu karena berlama-lama menikmatinya di kafe orang yahudi itu. Mungkin tugas akhir oseanografiku ada sedikit hubungan dengannya. Tapi lupakanlah. Mungkin juga orang itu. Tapi lupakanlah.

Kata orang tangguh, kopi itu tidak berguna untuk menemani malam. Jantung mereka malah semakin loyo dan ingin tidur. Bagiku sebaliknya, aku selalu bisa merasakan aliran darah deras disekujur tubuh, terpacu jantung yang sedang berlari 120km/jam dalam dadaku. Aku menikmati jalan pulang sambil memeluk tas erat. Kepala tangan dan kakiku tidak ada rasanya. Hanya rasa darah yang berlomba lari dalam urat-urat nadi.

Biasanya teman-temanku akan menyuruhku tidur dan minum akua galon hingga kembung. Makan nasi hingga gendut. Atau bermain kartu hingga lupa hari. Tapi saat sendiri, aku hanya bisa berjalan dengan kaki-kaki hampa yang sering terantuk batu. Tangan yang memeluk diri sendiri. Mata yang sayu, minus bertambah, dan lingkar hitam menebal.

Zombie-zombie itu kembali muncul dari dalam kopi. Untuk menghilangkan aku.

egtrd
weheartit.com

Orang Awam

Ga rahasia lagi sekarang dikalangan orang yang kuliah sampe S3 ke negara negara timur tengah aja kadang pendapatnya berbeda. Bahkan beda banget. Sekarang udah ada JIL. Ada si gus-gus itu yang kalo ceramah malah di gereja. Ada yang syiah. Ada yang masuk ke kalangan 411 212, ada juga yang menentangnya. Kemarin hari paling galau karena aku ngepoin twitternya tokoh-tokoh Islam.

Berasa aku teh orang paling bodo banget saat liat orang ngoceh di medsosnya masing-masing. Semua “orang pinter” bawa-bawa “islam” tapi berbeda satu dan yang lainnya. Mau sok-sok ngebela A atau B juga ga bisa da islam tuh bukan cuman belajar dari logika kita doang, tapi juga Quran dan Hadist. Kalo beda masalah fikihnya sih oke wajar. Tapi ternyata bedanya terlalu dalam. Misal, yang satu mewajibkan hijab. Satunya engga. Yang satu ada juga ga ngewajibin solat jumat. Aneh. Dan banyak lagi yang kalo ditulisin mereun udah jadi novel.

Seketika aku merasa kenapa kok islam jadi ngejelimet banget. Apakah untuk menjalani Islam dengan bener seseorang harus S3 tafsir Quran dulu? kuliah Islam di timur tengah dulu? Padahal dulu aja di jaman Rasul dan di jaman kekhalifahan maupun kerajaan, mereka para orang Islam memiliki porsi keilmuan masing-masing. Ada yang belajar bahasa, ada yang belajar astronomi, aljabar, perdagangan, dan sebagainya. Pada akhirnya semua saling berintegrasi. Gak semuanya tiap orang banget belajar super dalam dari kitab-kitab kuning dlsb dan ga semuanya jadi ulama.

Kalau mau menyerah, mungkin enak memiliki agama: “islam dalam hati aja” yang mana: ya Allah aku pusing sama semuanya. yang penting Allah selalu dihati aja lah. Allah mah maha tahu. Padahal itu mah positif ga boleh. Karena mendapat Ridho Allah ga semurah dan semudah itu. Berjuang buat si dia yang manusia aja abis-abisan, ini Tuhan, Allah, Robb, Malik, dan Illah, apakah pantes cuman sekedar hati aja?

Karena iman adalah diyakini dengan hati dikatakan dengan lisan dan dilaksanakan dengan perbuatan. Maka bukan teori dikelas agama doang, bahwa kelakuan kita harusnya mereprentasikan apa yang diyakini dalam hati. Lalu gimana sih berakhlak yang benar? Berkelakuan dan berjuang yang bener di jalan Allah teh yang gimana? Siapa yang harus diikutin? Sementara sekarang yang pinter Islam pun beda-beda pendapatnya.

Kalau kata guru SMP, Islam itu agama fitrah, artinya akan cocok buat kehidupan manusia dan sesuai dengan kecenderungan manusia (pada dasarnya). Islam berpedoman pada Quran. Qur’an pun bukan sesuatu yang ga bisa diomongin semua orang, meskipun ga bisa sembarangan tafsir juga.

Quran fungsinya bukan pengusir hantu atau pajangan aja, tapi petunjuk. Ibaratnya kaya peta kalau kita lagi kesasar. Ibaratnya tanda-tanda di jalan, misal tanda itu menggambarkan antapani lurus, kanan kircon, kiri cicadas. Sejelas itu. Hanya ada orang asing yang berbisik-bisik. “Maksudnya kanan tuh kiri loh, aku disini udah tinggal lama, percaya aja”. Atau “tulisan antapani tuh maksudnya bukan antapani secara real, tapi maksudnya adalah ujung berung”

Makanya kenapa sekarang aku berasa serba salah, mungkin karna terlalu ngedengerin semua sudutnya manusia. Lupa kalau Allah udah menurunkan Al-Qur’an sejelas dan semudah mungkin. Lupa kalau bingung gimana melaksanakannya, kita tinggal ngikutin Rasulullah, bukan sama si orang yang udah lama diem di bawah “tanda jalan antapani kircon cicadas” itu. Adapun hal yang ga terlalu prinsip, ada baiknya baikan aja dan gausah jadi bahan debat.

Bukan berarti kita ga usah percaya semua orang, tapi dikala ada jalan A atau B, pilihan C atau D, kembalikan semua ke Quran dan lihat sejarah Rasulullah jaman dulu pernah ada gak sih pemahaman seperti itu? Diajarkan Rasul ga sih? Karena bukan cuman Bung Karno yang bilang JAS MERAH. Allah juga banyak banget berpesan dalam Quran untuk “mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu”. Pusing memang pusing bingung memang bingung apalagi buat orang awam kaya yang nulis sophiology ini. Tapi jangan lupa semua jawaban sudah jelas di Quran dan di sejarah Rasulullah. Hanya masalahnya mau terus belajar atau engga? Atau setidaknya, mau baca Quran engga?

Wallahu alam bis-shawab.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

(QS. Ar Ruum: 30)

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?

(al-Qomar:17) ayat ini diulang 4  kali

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân itu untuk bahasamu agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur`ân itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

(Maryam: 97)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

(QS Al-Ahzab:21)

“Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)

20150212-095746-PM.jpg