Orang Awam

Ga rahasia lagi sekarang dikalangan orang yang kuliah sampe S3 ke negara negara timur tengah aja kadang pendapatnya berbeda. Bahkan beda banget. Sekarang udah ada JIL. Ada si gus-gus itu yang kalo ceramah malah di gereja. Ada yang syiah. Ada yang masuk ke kalangan 411 212, ada juga yang menentangnya. Kemarin hari paling galau karena aku ngepoin twitternya tokoh-tokoh Islam.

Berasa aku teh orang paling bodo banget saat liat orang ngoceh di medsosnya masing-masing. Semua “orang pinter” bawa-bawa “islam” tapi berbeda satu dan yang lainnya. Mau sok-sok ngebela A atau B juga ga bisa da islam tuh bukan cuman belajar dari logika kita doang, tapi juga Quran dan Hadist. Kalo beda masalah fikihnya sih oke wajar. Tapi ternyata bedanya terlalu dalam. Misal, yang satu mewajibkan hijab. Satunya engga. Yang satu ada juga ga ngewajibin solat jumat. Aneh. Dan banyak lagi yang kalo ditulisin mereun udah jadi novel.

Seketika aku merasa kenapa kok islam jadi ngejelimet banget. Apakah untuk menjalani Islam dengan bener seseorang harus S3 tafsir Quran dulu? kuliah Islam di timur tengah dulu? Padahal dulu aja di jaman Rasul dan di jaman kekhalifahan maupun kerajaan, mereka para orang Islam memiliki porsi keilmuan masing-masing. Ada yang belajar bahasa, ada yang belajar astronomi, aljabar, perdagangan, dan sebagainya. Pada akhirnya semua saling berintegrasi. Gak semuanya tiap orang banget belajar super dalam dari kitab-kitab kuning dlsb dan ga semuanya jadi ulama.

Kalau mau menyerah, mungkin enak memiliki agama: “islam dalam hati aja” yang mana: ya Allah aku pusing sama semuanya. yang penting Allah selalu dihati aja lah. Allah mah maha tahu. Padahal itu mah positif ga boleh. Karena mendapat Ridho Allah ga semurah dan semudah itu. Berjuang buat si dia yang manusia aja abis-abisan, ini Tuhan, Allah, Robb, Malik, dan Illah, apakah pantes cuman sekedar hati aja?

Karena iman adalah diyakini dengan hati dikatakan dengan lisan dan dilaksanakan dengan perbuatan. Maka bukan teori dikelas agama doang, bahwa kelakuan kita harusnya mereprentasikan apa yang diyakini dalam hati. Lalu gimana sih berakhlak yang benar? Berkelakuan dan berjuang yang bener di jalan Allah teh yang gimana? Siapa yang harus diikutin? Sementara sekarang yang pinter Islam pun beda-beda pendapatnya.

Kalau kata guru SMP, Islam itu agama fitrah, artinya akan cocok buat kehidupan manusia dan sesuai dengan kecenderungan manusia (pada dasarnya). Islam berpedoman pada Quran. Qur’an pun bukan sesuatu yang ga bisa diomongin semua orang, meskipun ga bisa sembarangan tafsir juga.

Quran fungsinya bukan pengusir hantu atau pajangan aja, tapi petunjuk. Ibaratnya kaya peta kalau kita lagi kesasar. Ibaratnya tanda-tanda di jalan, misal tanda itu menggambarkan antapani lurus, kanan kircon, kiri cicadas. Sejelas itu. Hanya ada orang asing yang berbisik-bisik. “Maksudnya kanan tuh kiri loh, aku disini udah tinggal lama, percaya aja”. Atau “tulisan antapani tuh maksudnya bukan antapani secara real, tapi maksudnya adalah ujung berung”

Makanya kenapa sekarang aku berasa serba salah, mungkin karna terlalu ngedengerin semua sudutnya manusia. Lupa kalau Allah udah menurunkan Al-Qur’an sejelas dan semudah mungkin. Lupa kalau bingung gimana melaksanakannya, kita tinggal ngikutin Rasulullah, bukan sama si orang yang udah lama diem di bawah “tanda jalan antapani kircon cicadas” itu. Adapun hal yang ga terlalu prinsip, ada baiknya baikan aja dan gausah jadi bahan debat.

Bukan berarti kita ga usah percaya semua orang, tapi dikala ada jalan A atau B, pilihan C atau D, kembalikan semua ke Quran dan lihat sejarah Rasulullah jaman dulu pernah ada gak sih pemahaman seperti itu? Diajarkan Rasul ga sih? Karena bukan cuman Bung Karno yang bilang JAS MERAH. Allah juga banyak banget berpesan dalam Quran untuk “mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu”. Pusing memang pusing bingung memang bingung apalagi buat orang awam kaya yang nulis sophiology ini. Tapi jangan lupa semua jawaban sudah jelas di Quran dan di sejarah Rasulullah. Hanya masalahnya mau terus belajar atau engga? Atau setidaknya, mau baca Quran engga?

Wallahu alam bis-shawab.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

(QS. Ar Ruum: 30)

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran?

(al-Qomar:17) ayat ini diulang 4  kali

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân itu untuk bahasamu agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur`ân itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

(Maryam: 97)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

(QS Al-Ahzab:21)

“Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)

20150212-095746-PM.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s