Things we are all (should) jealous of

Rasanya memalukan hidup sudah cukup lama tapi terlalu sering merasa hampa. Hidup selama ini sudah menghabisi banyak perjuangan, peluh dan keringat, tapi sudah melakukan apa? Sebermanfaat apa? Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan Allah?

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah SWT…”

Semoga ayat yang sangat sering kita dengar dan ucap diatas bukan hanya sekedar cuap-cuap semata tanpa menghadirkan hati. Sudah bukan saatnya lagi mengevaluasi hidup kita dengan melihat standar kehidupan orang lain. Buatlah standar lebih tinggi lagi yaitu dengan menjadikan Allah sebagai tujuan dari setiap aktivitas.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
(Al Kahfi: 103-105)

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al-Kahfi: 46)

Ya, orang lain sudah bekerja dengan suksesnya,  sudah kuliah lagi dengan cumlaudenya, sudah mengelilingi dunia, dan sudah-sudah yang lainnya. Tapi ingat, saat semua mati, semua pencapaian itu tidak akan tertulis dinisan menjadi pridenya hingga kiamat. Tidak akan. Kecuali Allah dihadirkan dalam setiap hal-hal tadi, maka pride itu tertulis abadi di buku yang akan kita terima dengan tangan kanan.

Dewasalah, gapai hal-hal yang akan abadi dan dicintaiNya. Capai semuanya dengan harapan tidak akan putus dan berakhir saat nyawa meregang. Setiap hari bangun pagi pulang sore, berkeringat, dan memutar otak, semoga usia semua usaha-usaha itu tidak pendek sependek umur manusia.

Kejar semua dengan tujuan yang abadi dan manfaat yang mengalir. Supaya setiap peluh tidak sia-sia mengucur. Supaya setiap tangis air mata menjadi saksi penolong kita saat kesulitan mencari syafaat. Bukankah cukup menyedihkan jika semua pencapaian dan perjuangan itu berhenti saat kita mati? Yang mana esokpun kita bisa saja mati.

Berjalanlah bekerjalah belajar tinggilah hanya untuk Allah.

Bukan, bukan klise. Belajarlah jika dengannya kita semakin memahami keteraturan semesta sehingga semakin menebalkan iman kita mengenai kekuasaanNya. Belajarlah jika dengannya masa depan manusia akan lebih baik. Belajarlah jika dengannya akan tercipta generasi-generasi beriman dan berkualitas.

Bekerjalah jika dengannya kita bisa berinfak, membersihkan harta, dan berjuang di jalanNya. Bekerjalah jika dengannya kita akan melahirkan keluarga yang dijaga dari api neraka. Berjalanlah keliling dunia jika dengannya kita menjadi lebih yakin akan keteraturan yang Allah ciptakan dimuka bumi.

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
(QS. Jumu’ah: 10)

Cukup sudah belajar, bekerja, dan beraktivitas hanya untuk dilihat manusia. Hanya untuk menyelamatkan diri dari pertanyaan saat hari raya. Hanya untuk menyelamatkan perasaan bersalah karena tidak menjalani apa yang umumnya manusia jalani. Karena jika itu yang mendasari, maka kematian menjadi benar mati untuk semua peluh kita. Lalu kita hilang dan terlupa seperti tidak pernah hidup.

Maka, sungguh tidak perlu merasa iri pada kesuksesan yang terlihat mata.

Tidak ada iri hati (yang diperbolehkan) kecuali terhadap dua perkara, yakni :

  1. seseorang yang diberi Allah berupa harta lalu dibelanjakanannya pada sasaran yang benar, dan
  2. seseorang yang diberi Allah berupa ilmu dan kebijaksanaan lalu ia menunaikannya dan mengajarkannya.

(HR Al Bukhori)

Maka sungguh rugi jika sebagai orang Islam, kita rela memisah-misahkan Allah dan Islam dari setiap aktivitas padat yang kita jalani. Tutup telinga jika ada yang berkata bahwa tujuan hidup kita cukup bodoh karena tidak sama dengan standar kesuksesan manusia pada umumnya. Kita mempercayai hari kemudian, dan sudah menyimpan tujuan disana sejak hari ini. Dengan begitu, syukur dapat terjadi setiap waktu tidak peduli berapa materi yang dihasilkan.

“Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya

(Hadis Riwayat Muslim)

xt

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s