Common Questions This Year

Katanya Allah Maha Besar, kenapa mesti dibela? Kenapa agama mesti dibela? Kenapa ga Tuhan yang membela agamaNya aja sendiri?

Aku baca buku Gus Dur di gramed yang judulnya Tuhan Tidak Perlu Dibela, beliau bukan terlalu panutanku tapi ya apa salahnya lah baca-baca. Katanya, mau kita zikir mau engga, mau bela agama mau engga, itu ga ngaruh akan kedudukan Allah SAW. Allah akan tetap jadi Maha Besar di Arasy-Nya. Ya, sangat setuju. Apalagi di Qur’an juga udah dibilang, bahkan kalau iman kita ditukar, Allah ga rugi sama sekali! (QS 3:117, QS 47:32, QS 3:76) justru Allah melarang kita menyembah sesuatu yang merugikan BAGI KITA (QS 10:106) bukan bagi Allah.

Sayangnya tulisan di buku itu berhenti sampai disitu. Seolah berkesimpulan “yaudah” gitu muslim ga akan berguna kalau membela Allah. Kalau begitu, kenapa kita zikir setiap hari? Bukankah sama aja kasusnya?

Sebenarnya, ngapain kita mikir untung-rugi buat Allah karena itu ga akan ngaruh, berkacalah sama diri sendiri yang masa depan aja belom pasti apalagi hal lainnya. Apakah dengan zikir dan membela Allah kita jadi untung? atau rugi? Misal dengan zikir, bagi muslim yang beneran berniat ingin istiqomah dan bukan sekadar label saja, zikir membantu meneguhkan hati, mentauhidkan Allah, dan membuang pikiran2 negatif terutama terhadap Allah.

Misal kita suka dengan si Fulan, lalu kita bilang ke setiap kenalan dan setiap orang bahwa kita mencintai dia setulus hati, maka perasaan itu akan terus tumbuh meski kita ga liat si Fulan karena dibahas terus setiap waktu dan setiap orang dan setiap tempat sehingga menjadi dominasi dalam hati dan pikirannya. Begitupun ke ALLAH.

Lalu apa gunanya bagi kita mendominasi hati dan pikiran dengan Allah SWT?
Karena dengan itu, kita jadi taat dan melaksanakan perintahNya. Ga perlu mikir dan membanding-bandingkan dengan perintah-perintah lain apalagi yang dibikin sama makhluk. Ga bisa kita hanya taat sama ALLAH dengan setengah-setengah. Apalagi mencampur adukkan apa yang dari Allah dengan yang bukan yaitu hidup dengan 1/2 qur’an taat 1/2 qur’an engga. Ini ayat yang dibawah bukan pilihan ganda boleh nurut atau boleh engga, kalau mau beriman maka otomatis harus mau kaffah.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]

Kenapa kita harus taat? Apa untungnya?
Untung-rugi terhadap Allah sudah pasti engga, sudah dibahas diatas. Tapi apa keuntungan bagi kita manusia?

Ini perumpamaan yang aku dapat sejak SMP, dan masih keinget sampe sekarang.

Bayangkan bahwa kita adalah seorang pencipta barang canggih, misalkan handphone di tahun awal keberadaanya dan sebelumnya ga ada yang menciptakan hp. Lalu kita menjual–tentu sekaligus sama buku panduannya–karena yang beli masih awam dan ga ngerti bagaimana penggunaannya. Setelah dibeli oleh si A, hp itu digunakan sesuai dengan buku panduan. Tentu si hp akan berfungsi maksimal dan sesuai dengan peruntukannya. Berbeda dengan si B yang ga membaca buku panduan itu, ia malah baca gimana cara memainkan bola. Alhasil hp itu malah jadi rusak dan fungsinya ga berjalan maksimal.

Ya, sesederhana itu. Jika kita adalah handphone itu, maka buku panduannya adalah Qur’an. Semua perintah Allah sudah sesuai dengan fitrah manusia (kecenderungan). Qur’an benar-benar mengatur kehidupan dari A sampai Z, dari lahir sampai dikubur, dari ibadah yang sendirian sampai yang berhubungan dengan masyarakat. Apakah ada salah satu aturan yang ga sesuai dengan fitrah?

tapi kenapa ada yang taat sama ALLAH namun hidupnya susah?
Susah mudah itu relatif, tapi kita terlanjur dipenuhi sugesti duniawi sehingga susah didefinisikan sebagai hidup melarat, kesendirian, kejelekan (alah), dan seterusnya. Jika beriman, ia akan percaya hari akhir, sehingga yang dimaksud bahagia dunia akhirat ga terlihat dari materinya, tapi kepuasan bathin. Malahan, Allah membiarkan ornag yang ga taat sama Allah berumur panjang dan merasakan kenikmatan dunia, karena memang setelah masuk alam barzakh, sudah tidak lagi bisa merasakan kenikmatan. Selain itu, Allah juga bersifat Ar-Rahman yang artinya Maha Pengasih terhadap SELURUH MAKHLUK. Sementara Ar-Rohim, Maha Penyayang terhadap yang beriman.

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesat­annya sampai suatu waktu.
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami ber­segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”(QS al-Mu’minun: 54-56)

Sementara keuntungan yang beriman adalah dirasa setelah ‘fase ujian’ ini selesai. Ga rugi, karena hidup di bumi ini hanya sebentar.

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”

Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”.

Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui”

(QS Al Mu’minun : 114-116)

ok, lalu kenapa kita harus membela agama?

‘Membela’ kata kbbi adalah menjaga baik-baik; memelihara; merawat. Dalam Islam, agama itu bukanlah sekedar peraturan mengikat menyebalkan semacam aturan sekolah. Dalam Islam, kita harus melibatkan hati dan perasaan cinta terhadap Allah yang diimplementasikan dalam menjalankan agamaNya sepenuh hati karena kita merasa kita yang butuh.

Kalau sudah merasa “memiliki” terhadap Islam. Maka bela agama dan bela Allah itu udah otomatis. Kalau kita selalu menyerah dengan dalih “damai” maka Islam bisa dipreteli satu-satu aturannya sehingga membahayakan keimanan kita. Siapa yang rugi kalau keimanan sudah ga ada? Kita sendiri.

Selain itu, meskipun Islam Rahmatan Lil alamin, tapi ingat bahwa Islam juga punya kehormatan yang harus kita jaga. Untungnya buat siapa? Buat Allah? Bukan. Buat kita juga. Agar hak-hak dan kewajiban dalam menjalankan Islam bisa kita lakukan. Bagi muslim, ‘menjalankan Islam’ itu bukan tuntutan, tapi kebutuhan.

screenshot_2017-02-03-10-23-53-1.png

Moriarty

Sial aku begitu benci kata ‘pencitraan’ hingga ke bulan

Seorang manusia telah lama dipuja dihadapanku
Ilmu yang naik dan sikap yang baik
dan tak lupa amalan tujuh turunan, dimilikinya
Aku pernah percaya

Hal paling membuat kemelut,
Saat teori-teori menjadi kata tapi tak pernah berwujud
Kalau kau bilang jangan lihat penganut,
Lalu kami si awam harus lihat pada siapa?
Bisa bisa aku tercemar oleh ide media

Kau yang pintar, oh dear
Rupanya merebut harta paling berharga
Yang dimiliki sebuah keluarga

Muak sudah mendengar nasihat
Dari manusia yang dipuja
Tapi aku punya sebuah rahasia
Oh dear, yang mana kau bisa seketika jatuh
Dari duniamu yang begitu tingginya

Sial aku begitu benci kata ‘pencitraan’ hingga ke bulan

Aku ingin menghentikan semuanya dengan kasar
Oh dear, yang merebut jiwa hingga rasa
Semoga kau disayang Allah 
Lalu kami bisa menyudahi segala resah

Sial aku begitu benci kata ‘pencitraan’ hingga ke bulan
Duniaku akan terbalik kalau aku
Mengeluarkan segala kalut dalam kalbu
Tentangmu dan yang sangat-tidak-mungkin ada dalam kamu

Oh dear, aku bahkan tidak bisa melawan dan berdiri
Aku terjebak dalam mualku sendiri

Migrainne

Saat sedang migrain maka saat itulah mati gaya paling maksimal terjadi. Tidur aja berasa muter-muter dalam hati (eh kebayang ga si). Tapi kalau boleh geer, ini sebenarnya jawaban dari Allah atas doa-doa aku tiap hari dan aku juga ngerasa ini jadi kaya suatu bentuk penjagaan. Karena apa?

1. Saat aku telat makan dikit atau kecapekan, migrain datang kaya ngingetin. Kalau ga migrain dan lagi sibuk, mana bisa inget makan. Tapi kalau diingetinnya oleh si migrain maka warbiyasa pola makan jadi lumayan teratur. Semacam suatu ancaman tapi berefek positif buat diri sendiri.

2. Berhenti dengerin lagu. Ya, kebiasaan yang super kebiasaan adalah dengerin lagu kalau lagi sendirian (perjalanan, dll). Tapi saat migrain, semua suara itu bener bener bikin sakit semakin maximal. Meskipun suka dengerin lagu tapi aku sadar kalau itu bukan kebiasaan baik, dengan ini aku terbantu perlahan terlepas dari habit itu.

3. Bersosialisasi dan ngobrol. Saat migren, aku merasa butuh ngobrol banget karena biar ga kerasa. Makanya aku si anak yang suka males sosialisasi ini kalau lagi migrain akan melakukan hal yang jarang aku lakukan yakni “jadi yang ngajak pergi.”

4. No hp no laptop no nonton. Ya iyalah ya orang yang bermasalah sama kepala suka makin kerasa sakit kalau ngeliat cahaya. Otomatis ngeliat hp atau laptop jadi pengen muntah karena pusing banget. Baguslah. Setidaknya ini jadi semacem waktu “pause” dari aktivitas medsos dan marathon nonton dan biar fokus sama lingkungan sekitar.

5. Tidak berleha-leha. Biasanya orang kalo sakit enaknya kan tidur. Tapi ini mah tidur justru bikin makin berat kepala. Biasanya aku jalan ke jalan bebatuan tanpa alas kaki kaya di Saparua atau Gasibu atau Taman Cibeunying. Itu yang buat refleksi tea. Atau melakukan aktifitas2 lainnya asal ga sama laptop. Kan jadi aga produktif. Meskipun kadang kalau sudah menjalar jadi lemes ya mau ga mau tepar meskipun ga enakeun.

6. Menjaga dari minum kafein, makan cokelat, dan keju. Karena ternyata kesemua itu adalah pemicu migrain. Dan, ketiga makanan itu adalah my fav sekali. Jadi bisa dibilang ini latihan melawan hawa napsu lah ya

7. Menjaga keteraturan waktu tidur.Saat migrain, ga penting tidur berapa jam (selama ga kurang dari 4 jam) asalkan jadwal tidurnya max jam 10. Mau bangun jam 3 atau jam 2 ga apa. Biasanya migrain selalu muncul kalau aku tidur lewat jam 12. Dan migrain dipagi hari itu nightmare banget karena biasanya bertahan sampe malemnya lagi. 

8. D l l

Sebenernya masih ada lagi cuman udah dulu aja. Begitulah simpulan dari yang aku rasain beberapa taun ini. Dulu aku suka mengeluh kenapa sih kenapa sih dan kenapa sih ini migrain ganggu aktivitas banget. Tapi lama lama aku jadi sadar ada beberapa habit aku yang berubah dan jadi lebih baik karena ada migrain ini. Lama lama kalo dipikir2 ini tuh cara Allah mgingetin buat jadi lebih baik lagi. Pun semoga menjadi penghapus dosa.

Unforgivable

Kalau mau agak lebay, boleh dibilang manusia dan dosa itu seperti dua sisi mata uang yang susah buat dilepas. Tapi kita tahu bahwa Allah Maha Baik dan mengampuni segimana besarnya dosa kita asalkan kita bertaubat dan ga mengulanginya lagi.Sebbbbesarrrr2nya dosa akan Allah ampuni.

Yah, jadi, minder karena dosa dan perasaan ngerasa ‘ga pantes buat deket sama Allah’ itu adalah hal yang sia-sia banget karena, atulah, “tinggal” menyesal, bertaubat, maka Allah akan mengampuni. Timbangan dosa jadi nol.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Tapi ada suatu dosa yang lumayan…………

Lumayan sedikit rumit dan ngeri juga. Yakni dosa atau berbuat salah kepada sesama manusia. Makanya aneh dan ketauan asbun banget orang yang ngomong bahwa antara Islam dan relasi antar manusia itu kontradiktif. Ya sering dengerlah bahwa “lebih baik ga beragama daripada beragama tapi jadi a**h**e.” Entahlah si yang bikin kalimat itu memahami agamanya seperti apa, tapi yang jelas kalau di beneran Islam, hubungan sesama mausia ini penting. Dan justru ini masalah besar.

Kalau apa jadi masalah? Kalau kita menyakiti orang lain (misal lewat harta, perasaan, perbuatan, prasangka, ghibah, dst) dan kita ingin taubat. Karena taubatnya bahkan ga segampang tobat yang dosanya ke Allah (contoh: ninggalin sholat). Sebelum Allah menerima taubat karena kesalahan kita ke sesama manusia, kita harus minta maaf dulu dan dimaafkan oleh orang yang kita zolimi tersebut.

Welllll kadang mau ngakunya aja takut banget, kaya, “eh aku sering loh gibahin kamu, maafin yaaa” atau “aku berprasangka kalau kamu orangnya malesin, maaf yaaa” atau, “maaf yaaaa wahai seluruh manusia Indonesia, aku ngambil uang e ktp kamu sehingga kamu jadi susah ngurus lain2nya karena e ktp kamu ga kecetak2” ok. curhat.

Ya, masalah menghina sesama aja entah bakal diampuni apa engga, apalagi yang menyangkut kemaslahatan banyak manusia. Boong dan salah kalau banyak anggapan bilang Islam itu cuman peduli sama ibadah ritual dan keagamaannya doang, tapi sesungguhnya hubungan hablumminannass nya juga ga kalah penting. Maka sesepele utang sama sahabat karib yang saking karibnya suka pautang2, mungkin lebih baik bikin kejelasan kalau sudah sama2 ikhlas. Maka sesepele “jaga ucapan” juga bener harus dilakukan.

Wallahualam bis-shawab. Ditulis oleh yang kesalahan ke manusianya juga banyak banget 😦

Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari Kiamat datang membawa amalan shalatnya, puasanya, dan zakatnya. Pada saat yang sama, ia juga membawa dosa mencaci si fulan, membunuh si fulan, memakan harta si fulan. Pahala kebaikan-kebaikannya lalu diambil untuk diberikan kepada si fulan, si fulan, dan si fulan. Apabila kebaikannya habis sebelum dosanya tertebus, akan diambilkan dari kesalahan orang-orang yang terzalimi itu untuk ditimpakan kepadanya lalu ia dimasukkan ke dalam neraka.” (HR Muslim).

“Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari).

 

bvcs.jpg

Self Esteem

“Don’t talk about yourself, you aren’t as interesting as you think” (lupa)

Mudah melihat “peringkat” kehidupan seseorang, yaitu cukup lihat saja medsosnya. Berapa followers dan likes di instagramnya, gimana high class-nya semua postingan pathnya, seberapa sering ke cafe mahal, seberapa banyak paspornya di cap, dan seterusnya. Fasilitas-fasilitas ini mudah membuat orang jadi mencari posisi dimata manusia. Mencari pengakuan dan keeksisan. Tanpa disadari.

Sebagai manusia biasa yang bisa salah dan berdosa, aku sadar banget hal-hal tersebut harus aku hindari. Karena bisa mengaburkan niat dalam melakukan kegiatan. Apalagi sekarang udah ada igstories, udah deh godaan banget.

Kalau diibaratkan –semacam masalah klasik sih– kaya pas magrib posting makanan lalu ngucap selamat berbuka. Asa pengen diciein karena shaum gitu. Tapi disisi lain, takut ga sih pahalanya jadi nol? Atau makan dan tempat mahal, kemungkinan ingin membuat prasangka bahwa ia orang sangat berada. Atau selfie, barangkali terselubung niat ingin ada puji-pujian merambah kolom komentarnya. Tentu ga disadari, karena toh semua orang kaya gitu. Aku juga suka gitu kadang–tapi udah engga sih. Ga salah maksudnya.

Pernah aku juga baca kalau kebanyakan orang itu menganggap dirinya sendiri lebih wah dari kenyataannya. Misalkan pas ngaca, ih asa cantik lah, asa putihan lah padahal kata orang mah nambah item dan biasa aja. Atau wew w nambah ganteng nic eh padahal sebenernya engga.

Pernah waktu aku berusia 15 keatas mengalami keinginan untuk dipuji manusia. Misalnya bikin friendster dan update terus, status YM gonta ganti tiap menit, foto juga ganti mulu, terus abis aku bikin tulisan, si tulisannya itu di print banyak dan di share sambil dimintain note komentar ke setiap orang mulai dari orang rumah sampai temen sekelas, guru-guru di ruang guru, juga ke sepupu-sepupu. Rariweuh pokonya.

Entahlah aku ga bisa menjudge isi hati orang seperti apa, tapi bagi aku pribadi kesemua itu cukup bahaya. Karena selain takut mengaburkan niat, juga aku takut jadi kehilangan jati diri. Aku pernah mengalami itu, saat “worthy” nya aku, kuanggap ada ditangan manusia. Lalu Allah merubah keadaan aku, dan aku merasa jadi bahan komentar buruk orang pertama kalinya seumur hidup.

Kerasa banget hidup itu ada up down nya. Ga selamanya aku disukai sama semua orang. Keadaan itu mayan mengagetkan, namun membuat aku jadi kembali mikir, hidup ini bukan buat bikin seluruh dunia bahagia, tapi gimana bisa bernilai dimata Allah. Karena yang mengenal kita bukan manusia-manusia, tetapi Pencipta kita. Dan sebagai orang Islam tujuan hidup itu apa sih kalau bukan Ridho Allah. Toh akhirnya juga kita akan mati dan kembali.

Well keberadaan instastory dan kawan-kawan bisa banget membangkitkan keinginan ingin di likes banyak dan “dianggep” sama orang lain. Tapi sudahlah, kalau itu ternyata mengaburkan tujuan hidup, janganlah dijadikan ajang pamer diri wahai sofia.

Jadi inget kisah Uwais Al-Qorny yang tidak dikenal dibumi namun terkenal di langit. Maka apa? Maka muliakan ibu, seperti Uwais. (eh nyambung ga ya ni paragraf)

Penakut

(QS 31:32)

……………..
Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih”

Setiap orang punya pengalaman berbeda mengenai ketakutan. Mau cerita sedikit tentang aku dan sore Senin ini.

Sore Senin dan Kamis adalah waktu dimana malaikat yang mencatat amal kita pergi dan melapor pada Allah mengenai amalan kita seminggueun itu. Maka dari itu kenapa ada puasa Senin Kamis, agar supaya saat Allah tanya, “sedang apa hambaKu sekarang?” Malaikat bisa menjawab, “lagi shaum dan sudah sholat Ashar”. Maka sebaiknya juga sholat Ashar terutama senin kamis disegerakan.

Sore senin ini aku sudah sampai rumah. Setelah azan ashar, aku tidak bersegera sholat. Padahal 2 hari yang lalu aku berjanji pd diri sendiri untuk ga boleh nunda sholat ashar. Karena ternyata ada hadistnya betapa pentingnya sholat ashar sebelum gelap.

Udah gitu, hujan sedang turun, para penyair mulai bikin puisi tentang kekasihnya, para galauers mantengin jendela memahami setiap rintiknya, atau ada yang kebalikannya, mengumpat kesal, bete, dan bosan dibalik setir (jd inget ig nya t***a).

Aku juga sedang lalai, melakukan suatu hal hingga sholat tertunda. Sempat terlintas dalam hati, “lagi hujan besar, berarti persentase doa untuk segera dikabulkan akan lebih besar, tp nanti bentar lagi deh…” gitu.

Sampai akhirnya waktu terus berjalan, hujan semakin besar, tapi aku mendengar suara azan. Tapi jelas bukan azan maghrib, karena masih pukul 4. Pun azannya bukan pake speaker di mesjid, tapi dari lantai atas rumah tetangga.

Ok fix artinya ini ujan udah semenyeramkan itu sampe ada yg azan. Pun pohon depan rumah pada tumbang. Aku yang lagi ga fokus, lumayan telmi menyadari kesereman hujan tadi, kemudian pas udah sadar aku langsung gemeteran dan hp kelempar, lalu wudhu buat sholat. Yap memang dalam islam, saat kondisi bencana atau gerhana, dianjurkan laki2 untuk azan. Bahkan waktu masih ada nenek, beliau pernah azan waktu apa gitu lupa, da masih kecil.

Saat wudhu, semua pintu lantai atas, bawah, depan, dan belakang tiba2 kebuka keras. Padahal udah di tutup rapet. Suara kerasnya angin masuk ke rumah. Terlihat beberapa daun dan ranting terbang diudara dan beberapa ada yang masuk.

Akhirnya air masuk ke rumah, bukan genangan atau banjir, tapi karena angin besar. Petir menggelegar ga berhenti. Jendela kamar berdecit2 keras. Rasanya pengen buat surat wasiat krn takut banget.

Dengan gemeteran dan khawatir pada keluarga yang lagi pada dijalan pulang, aku sholat. Azan tetangga bikin sedikit tenang meskipun diluar sangat ribut. Bahkan pintu di atas coplok dong kayu-kayu ornamennya. Stop kontak pada kena air jadi semuanya dimatiin sambil takut kesetrum.

Saat saat terdesak kaya gini ini nih yang suka bikin kita jadi malu. Giliran kaya gini inget Allah. Pengen cepet solat. Pengen berdoa banyak2. Giliran waktu lowong, sehat, dan aman malah lupa.

Bukan cuman saat ini, tapi misal dulu pernah juga lagi gempa dan sendirian, rasanya pengen tobat banget da takut akan kematian. Sama kaya hal lain semacam berdoa agar masuk kampus yang bagus, saat ingin a, ingin b, atau lagi sakit parah, dsb. Kalau lagi banyak kepengen, terdesak, selalu inget sama Allah, berdoa aja terus. Pas udah dilapangkan eh lalai lagi.

Itu natural sih. Tapi bukankah lama2 jadi ngerasa malu sendiri? Ada butuhnya aja ngedeketin, padahal sebenarnya Allah kapanpun dapat melakukan apapun terhadap kita.

Padahal bisa banget kita lagi lalai Allah kasih bencana. Bisa banget kita lagi ngerasa hebat2nya eh sama Allah dikasih peringatan. Maka hebat adalah orang yang saat lagi lowong, lagi sehat, lagi banyak uang, lagi tenar, tapi tetep inget Allah. Karena susah rasanya untuk bersyukur saat lagi ‘tinggi’.

Masalahnya adalah apakah harus selalu dikasih peringatan dulu baru kita inget Allah dan taubat?

Semoga kita ga seperti Firaun yang taubat tulusnya terucap saat maut sudah di kerongkongan, saat sudah tenggelam di laut merah. Karena saat itu, pintu taubat sudah ditutup, nauzubillahiminzalik.

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepadaNya.

Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih” ( qs 31:32)

Pengkhianat yg tidak berterima kasih :(((

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang dilangit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika ia tiba-tiba berguncang?” (Qs 67:16)

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Maha Terpuji” (qs 35:15)

Good Mourning?

Hidup kita sekarang ini bukan lagi disurga, sehingga kesulitan dan kesusahan kerap terjadi. Dengan itu terkadang kita merasa jadi “centre of the universe” –yang mana merasa diri paling malang sedunia aherat, merasa paling pantas mengeluh dan ngejudge bahwa orang lain ga paham apa yang kita rasakan–. Jika itu terjadi agaknya kita harus belajar berlapang dada dan menyadari bahwa centre of universe itu matahari, bukan kita (hehe kzl).

Menangis dan berkeluh kesah adalah hal yang sangat manusiawi. Toh ini masih didunia yang hidupnya bagaikan roda, yakni atas bawah ganti-gantian namun tetap semua berakhir pada kematian. Sebagai muslim tentu kita meyakini adanya hari kebangkitan meskipun kita belum melihatnya. Karena kalau kita bisa melihat artinya kita udah mati.

Tetapi galau karena hidup juga dilarang berlebihan, dalam Islam. Seperti saat kita putus asa banget sampe ingin mati, janganlah berdoa untuk cepat mati karena itu dilarang, apalagi bunuh diri. Atau saat kita ditinggalkan, meraung-raung sedih justru memperberat beban yang meninggalkan. Disini kita dituntut untuk berlapang dada dan ikhlas, menyadari bahwa Allah memiliki rencana lain yang lebih indah tanpa kita ketahui karena keterbatasan pandangan kita.

Mengimani Qodho dan Qodar mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang kuat dan memiliki motivasi hidup yang tidak habis, karena motivasi kita adalah Allah SWT. Kalau motivasi hidup kita harta, maka saat miskin kita akan sangat sedih bahkan bisa jadi penjahat. Kalau motivasi kita adalah manusia, maka saat ditinggalkan kita akan putus asa. Tetapi kalau kita percaya sama Allah,mau kita senang/sedih/susah/gampang, itu jadi ga masalah selama Allah jadi tujuan. Menangis boleh, karena bahkan saat Ibrahim, putra Rasulullah meninggalpun, Rasul menangis, tetapi beliau tidak meratap dan berkata-kata berlebihan.

Ada baiknya kita berhenti mengeluh, berhenti ngelamun liatin ujan, dengerin lagu-lagu galau sambil dimasukin ke hati, atau bahkan marah-marah saat takdir lagi ga sesuai harapan. Mungkin usaha kita masih kurang, atau Allah ingin kita mengeluh padaNya, atau Allah punya rencana lain.

Apapun hasilnya, bagaimanapun akhirnya, selalu positive thinking adalah hal yang baik untuk mindset kita. Dan segala puji bagi Allah, yang sudah menyuruh “iman pada takdir” pada umat Islam, sejak aku ga paham takdir itu seperti apa sulitnya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).

Dari Abu Umamah r.a, “Bahwasanya Rasulullah saw. melaknat wanita yang merusak wajahnya, yang mengoyak-ngoyak bajunya dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri.” (Shahih, HR Ibnu Majah [1585], Ibnu Hibban [3156], Ibnu Abi Syaibaj [III/290] dan ath-Thabrani dalam al’Kabiir’tf [775]).

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya, serta yang berteriak dan berkata : ‘celaka dan binasalah aku” (HR Ibnu Majah : 1/505, Shahihul Jami’ : 5068)

Rasulullah bersabda, “Orang yang suka meratap, jika tidak bertaubat sebelum matinya, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari tir dan baju besi yang berkarat”

Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)

Sumber inspirasi: Ringkasan Riyadhush Shalihih
(Penyusun: Imam Nawawi, Peringkas: Syaikh Yusuf An-Nabhani)

Processed with VSCOcam with b1 preset