Penakut

(QS 31:32)

……………..
Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih”

Setiap orang punya pengalaman berbeda mengenai ketakutan. Mau cerita sedikit tentang aku dan sore Senin ini.

Sore Senin dan Kamis adalah waktu dimana malaikat yang mencatat amal kita pergi dan melapor pada Allah mengenai amalan kita seminggueun itu. Maka dari itu kenapa ada puasa Senin Kamis, agar supaya saat Allah tanya, “sedang apa hambaKu sekarang?” Malaikat bisa menjawab, “lagi shaum dan sudah sholat Ashar”. Maka sebaiknya juga sholat Ashar terutama senin kamis disegerakan.

Sore senin ini aku sudah sampai rumah. Setelah azan ashar, aku tidak bersegera sholat. Padahal 2 hari yang lalu aku berjanji pd diri sendiri untuk ga boleh nunda sholat ashar. Karena ternyata ada hadistnya betapa pentingnya sholat ashar sebelum gelap.

Udah gitu, hujan sedang turun, para penyair mulai bikin puisi tentang kekasihnya, para galauers mantengin jendela memahami setiap rintiknya, atau ada yang kebalikannya, mengumpat kesal, bete, dan bosan dibalik setir (jd inget ig nya t***a).

Aku juga sedang lalai, melakukan suatu hal hingga sholat tertunda. Sempat terlintas dalam hati, “lagi hujan besar, berarti persentase doa untuk segera dikabulkan akan lebih besar, tp nanti bentar lagi deh…” gitu.

Sampai akhirnya waktu terus berjalan, hujan semakin besar, tapi aku mendengar suara azan. Tapi jelas bukan azan maghrib, karena masih pukul 4. Pun azannya bukan pake speaker di mesjid, tapi dari lantai atas rumah tetangga.

Ok fix artinya ini ujan udah semenyeramkan itu sampe ada yg azan. Pun pohon depan rumah pada tumbang. Aku yang lagi ga fokus, lumayan telmi menyadari kesereman hujan tadi, kemudian pas udah sadar aku langsung gemeteran dan hp kelempar, lalu wudhu buat sholat. Yap memang dalam islam, saat kondisi bencana atau gerhana, dianjurkan laki2 untuk azan. Bahkan waktu masih ada nenek, beliau pernah azan waktu apa gitu lupa, da masih kecil.

Saat wudhu, semua pintu lantai atas, bawah, depan, dan belakang tiba2 kebuka keras. Padahal udah di tutup rapet. Suara kerasnya angin masuk ke rumah. Terlihat beberapa daun dan ranting terbang diudara dan beberapa ada yang masuk.

Akhirnya air masuk ke rumah, bukan genangan atau banjir, tapi karena angin besar. Petir menggelegar ga berhenti. Jendela kamar berdecit2 keras. Rasanya pengen buat surat wasiat krn takut banget.

Dengan gemeteran dan khawatir pada keluarga yang lagi pada dijalan pulang, aku sholat. Azan tetangga bikin sedikit tenang meskipun diluar sangat ribut. Bahkan pintu di atas coplok dong kayu-kayu ornamennya. Stop kontak pada kena air jadi semuanya dimatiin sambil takut kesetrum.

Saat saat terdesak kaya gini ini nih yang suka bikin kita jadi malu. Giliran kaya gini inget Allah. Pengen cepet solat. Pengen berdoa banyak2. Giliran waktu lowong, sehat, dan aman malah lupa.

Bukan cuman saat ini, tapi misal dulu pernah juga lagi gempa dan sendirian, rasanya pengen tobat banget da takut akan kematian. Sama kaya hal lain semacam berdoa agar masuk kampus yang bagus, saat ingin a, ingin b, atau lagi sakit parah, dsb. Kalau lagi banyak kepengen, terdesak, selalu inget sama Allah, berdoa aja terus. Pas udah dilapangkan eh lalai lagi.

Itu natural sih. Tapi bukankah lama2 jadi ngerasa malu sendiri? Ada butuhnya aja ngedeketin, padahal sebenarnya Allah kapanpun dapat melakukan apapun terhadap kita.

Padahal bisa banget kita lagi lalai Allah kasih bencana. Bisa banget kita lagi ngerasa hebat2nya eh sama Allah dikasih peringatan. Maka hebat adalah orang yang saat lagi lowong, lagi sehat, lagi banyak uang, lagi tenar, tapi tetep inget Allah. Karena susah rasanya untuk bersyukur saat lagi ‘tinggi’.

Masalahnya adalah apakah harus selalu dikasih peringatan dulu baru kita inget Allah dan taubat?

Semoga kita ga seperti Firaun yang taubat tulusnya terucap saat maut sudah di kerongkongan, saat sudah tenggelam di laut merah. Karena saat itu, pintu taubat sudah ditutup, nauzubillahiminzalik.

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepadaNya.

Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih” ( qs 31:32)

Pengkhianat yg tidak berterima kasih :(((

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang dilangit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika ia tiba-tiba berguncang?” (Qs 67:16)

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Maha Terpuji” (qs 35:15)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s