Self Esteem

“Don’t talk about yourself, you aren’t as interesting as you think” (lupa)

Mudah melihat “peringkat” kehidupan seseorang, yaitu cukup lihat saja medsosnya. Berapa followers dan likes di instagramnya, gimana high class-nya semua postingan pathnya, seberapa sering ke cafe mahal, seberapa banyak paspornya di cap, dan seterusnya. Fasilitas-fasilitas ini mudah membuat orang jadi mencari posisi dimata manusia. Mencari pengakuan dan keeksisan. Tanpa disadari.

Sebagai manusia biasa yang bisa salah dan berdosa, aku sadar banget hal-hal tersebut harus aku hindari. Karena bisa mengaburkan niat dalam melakukan kegiatan. Apalagi sekarang udah ada igstories, udah deh godaan banget.

Kalau diibaratkan –semacam masalah klasik sih– kaya pas magrib posting makanan lalu ngucap selamat berbuka. Asa pengen diciein karena shaum gitu. Tapi disisi lain, takut ga sih pahalanya jadi nol? Atau makan dan tempat mahal, kemungkinan ingin membuat prasangka bahwa ia orang sangat berada. Atau selfie, barangkali terselubung niat ingin ada puji-pujian merambah kolom komentarnya. Tentu ga disadari, karena toh semua orang kaya gitu. Aku juga suka gitu kadang–tapi udah engga sih. Ga salah maksudnya.

Pernah aku juga baca kalau kebanyakan orang itu menganggap dirinya sendiri lebih wah dari kenyataannya. Misalkan pas ngaca, ih asa cantik lah, asa putihan lah padahal kata orang mah nambah item dan biasa aja. Atau wew w nambah ganteng nic eh padahal sebenernya engga.

Pernah waktu aku berusia 15 keatas mengalami keinginan untuk dipuji manusia. Misalnya bikin friendster dan update terus, status YM gonta ganti tiap menit, foto juga ganti mulu, terus abis aku bikin tulisan, si tulisannya itu di print banyak dan di share sambil dimintain note komentar ke setiap orang mulai dari orang rumah sampai temen sekelas, guru-guru di ruang guru, juga ke sepupu-sepupu. Rariweuh pokonya.

Entahlah aku ga bisa menjudge isi hati orang seperti apa, tapi bagi aku pribadi kesemua itu cukup bahaya. Karena selain takut mengaburkan niat, juga aku takut jadi kehilangan jati diri. Aku pernah mengalami itu, saat “worthy” nya aku, kuanggap ada ditangan manusia. Lalu Allah merubah keadaan aku, dan aku merasa jadi bahan komentar buruk orang pertama kalinya seumur hidup.

Kerasa banget hidup itu ada up down nya. Ga selamanya aku disukai sama semua orang. Keadaan itu mayan mengagetkan, namun membuat aku jadi kembali mikir, hidup ini bukan buat bikin seluruh dunia bahagia, tapi gimana bisa bernilai dimata Allah. Karena yang mengenal kita bukan manusia-manusia, tetapi Pencipta kita. Dan sebagai orang Islam tujuan hidup itu apa sih kalau bukan Ridho Allah. Toh akhirnya juga kita akan mati dan kembali.

Well keberadaan instastory dan kawan-kawan bisa banget membangkitkan keinginan ingin di likes banyak dan “dianggep” sama orang lain. Tapi sudahlah, kalau itu ternyata mengaburkan tujuan hidup, janganlah dijadikan ajang pamer diri wahai sofia.

Jadi inget kisah Uwais Al-Qorny yang tidak dikenal dibumi namun terkenal di langit. Maka apa? Maka muliakan ibu, seperti Uwais. (eh nyambung ga ya ni paragraf)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s