slow

Draft 12 februari

“Selow”  agaknya menjadi motto hidup para pemuda pemudi masa kini. Hal ini secara tidak langsung untuk meremehkan/memusnahkan kata “panik” yang kerap kali muncul dalam kehidupan manusia dan kegelisahan hati.

Pun tidak munafik aku menyukai kewolesan dan selalu berdoa tidak harus bekerja sama dengan orang perfeksionis yang serba panik akan hal kecil. Karena aku akan menjadi selalu salah dimata mereka.

Sebagai contohnya dalam mengerjakan tugas, aku tidak terlalu mengejar kesempurnaan nilai, tapi yang penting bagaimana tugas itu selesai dan beban tanggung jawabku lepas. Atau dalam berpakaian, apapun yang penting layak dan enak dipake. Semuanya serba seadanya dan semampunya. 

Kehidupan nyatapun terkadang begitu. Seperti saat aku bingung dan tidak habis pikir saat seorang teman yang berpakaian renang lengkap dan muslimah, tetap panik dan merasa pengen nangis karena merasa berdosa saat aku mengajak dia renang melebihi jam ladies day secara ga sengaja dan diliat beberapa laki2. Padahal aku selow2 aja. Awalnya aku sedikit merasa bahwa ia berlebihan. Lama-lama (sebulan kemudian) aku sadar, bahwa sebagai perempuan memang sebaiknya kita menjaga diri.

Hari ini aku membaca sebuah buku yang mengingatkanku dan menyadarkanku bahwa slogan “selow” itu agaknya tidak pas bagi seorang muslim. Atau setidaknya, harus tau bagaimana penempatan “selow” dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita ditimpa musibah atau bermasalah dengan orang lain, ada baiknya kita rehat sejenak dan berfikir selow dulu biar ga gegabah. Atau saat kita ingin marah atau bersedih, selow menjadi motto hidup yang super pas.

Tapi saat hal terlihat sepele tapi penting dalam islam, janganlah kita terjebak dengan selow layaknya kita sudah dijamin jadi penghuni surga atau mendapatkan Ridho Allah. Sebagai contohnya begini:

  1. Khalifah umar gak selow saat ia di kantornya ngobrolin masalah keluarga tapi ia memakai lampu kantor. “Karena lampu ini dibayar oleh negara” katanya. Padahal mah cuman oh cuman lampu doang kata kita si pemilik motto hidup “slow” mah.
  2. Saat Nabi Musa sembuh dari sakit setelah makan obat, Allah memberinya kembali penyakit itu. ‘Cuman’ karena Nabi Musa berterima kasihnya ke obat. Atulah, bilang “makasih ya, obat” doang, tuh udah termasuk musyrik. Pun bukankah kalau di Islam mah kalimat “Tuhan, Allah, Islam, Rasul” itu adalah kalimat sakral yang ga boleh seenak mulut kita diejek-ejek meski bercanda dan boongan?
  3. Seorang anak perempuan penjual susu di jaman kehalifahan Umar, ia melarang ibunya mencampurkan susu dengan air karena ia merasa menipu pembeli. “yaelah selow, orang pada gatau ini” kata ibunya. Lalu Umar mendengar dan menikahkan anak perempuan itu dengan anak laki-lakinya karena ia jujur.

Kenapa sih orang Islam itu riweuh kaya gitu segala? Karena kita percaya bahwa Allah SWT adalah Pencipta kita yang memiliki semuanya. Diri dan harta juga keluarga hanyalah titipan yang akan dipertanggung jawabkan jika mereka rusak. Sama halnya dengan setiap nafas dan waktu milik kita. Jaga semua hal yang bukan milik kita ini, agar saat kembali, Allah juga ga nge selowin kita pas di padang mahsyar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s