Paham dan Tahu

Ilmu dan pemahaman adalah dua kata yang sangat berbeda. Orang yang berilmu, belum tentu paham. Tetapi yang paham, maka dia punya ilmunya. 

Contohnya adalah aku sebagai (mantan) mahasiswa oseanografi. Kami semua tahu bagaimana pentingnya laut, dan bagaimana pentingnya untuk mengeksplor dibidang ini. Tapi apakah semuanya pada akhirnya memperjuangkan itu? Tidak. Ada yang masih idelis ingin bekerja dirumpun yang sama, bahkan kuliah lagi di jurusan yang sama, tapi ada juga yang sudah luluspun masih menyepelekan dunia kelautan yang kini belum menjanjikan. 

Padahal keduanya ilmu dasarnya sama, tapi sikapnya berbeda. Yang paham maka akan terus berjuang di bidang kelautan, yang ‘cukup jadi ilmu’ akan melupakan. Tidak ada salah benar karena ini pilihan hidup.

Seperti juga ketika kita sholat di masjid. Saat membaca al fatihah, beberapa orang menangis. Tetapi ada yang malah nguap nguap mengantuk. Keduanya tahu arti dari surat al fatihah. Ilmunya sudah punya. Tetapi yang paham dan menghayati setiap katanya bisa sampai menangis karena campuran terharu, sedih, takut, sekaligus minta permohonan. Yang cukup tau bisa saja hanya sekedar jadi formalitas dalam sholatnya. Bukan berarti tiap sholat harus menangis, maksudku, yang paham akan melibatkan hatinya.

Maka tidak aneh jika kita menemukan kisah Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani dalam Quran, yang mulanya beriman tetapi pada akhirnya setelah diutusnya Rasul malah banyak yang berbalik ke belakang. Ahli Kitab adalah mereka yang sangat tahu betul kitab kitab sebelum Quran. Yang paham, maka ia mengimani datangnya nabi muhammad karena sesuai dengan kitab kitab terdahulu. Sisanya? Dengki membuat ilmu mereka sia sia dengan tidak mengakui kenabian yang sebenarnya mereka tahu bahwa itu benar.

Maka, terdapat dua hal yang harus diperjuangkan. Ilmu, sekaligus doa agar ilmu ilmu itu menjadi cahaya yang menerangi saat gelapnya kehidupan kita. 

Karena percuma jika ilmu itu malah membuat kita besar kepala. Kesombongan membuat kita malas berdoa, sehingga bukan tidak mungkin Allah menutup dan membiarkan hati kita pergi kemanapun ia sukai.

Benar kata buku waktu SD, seperti padi lah, yang semakin berisi semakin merunduk. Semakin tahu, maka semakin banyak tidak tahu.

Advertisements

2 Comments

  1. اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا

    اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s