Sin Differently

Karena nila setitik rusak susu sebelanga adalah peribahasa yang tepat untuk memulai tulisan ini. Ya, terkadang kita fokus pada ‘nila setitik’ yang terdapat pada diri orang lain, sehingga orang itu jadi sebegitu jatuhnya dipandangan kita.

Atau “semut di sebrang pulau keliatan, tapi gajah dipelupuk mata sendiri tidak terlihat”, juga bisa. 

Sering mendengar obrolan seperti dibawah ini, yang mungkin kadang juga terucap dari mulutku sendiri..

“Itu orang udah hijab panjang dan bercadar, tapi instagramnya selfie semua…”

“Bagus yaa bandung banyak kajiannya, tapi coba kita liat majelis hafalan quran, kosong kan? Keliatan pada ga mau susah…”

“Katanya dia hijrah tapi suka gonta ganti pacar….”

Tapi paling jleb pernah ada bilang gini,

“Seneng ih sama kamu, tapi sayangnya pendek…..” shitttttsekalikan

Oke

Banyak hal hal yang dikomparasikan dan seolah kita selalu menuntut orang lain untuk sempurna. Seolah olah kalau udah kelihatan dari pakaiannya yang agamis niscaya dia ga boleh berbuat dosa. 

Ya, namanya juga dosa, siapa sih yang boleh?

Kalau melihat sosok manusia sih, sudah jelas yang jadi cerminan adalah Rasulullah SAW. Bukan si A yang udah sangat nyunnah dan belajar sampe professor dibidang agama, atau si B yang sudah berani bercadar, atau C yang bikin vlog keagamaan dan followersnya berjuta. Karena mereka belum ada jaminan. 

Saat ini setiap orang(*) sedang berusaha, untuk menaklukan hawa nafsu hawa nafsunya, ada yang berusaha mencari jalan hidup, ada yang berusaha untuk melawan sekuat hati masa lalunya yang kelam, atau juga melawan kebiasaan buruknya yang sulit hilang. 

Ya, sekarang kita bukan tuhan yang bisa mengatakan si A berdosa, si B masuk surga atau si C mendingan lepas kerudung. Karena rasa benci itu melelahkan, kenapa gak semua dibawa positive thinking aja. Sekaligus doa agar diberi hidayah. Kalau teman dekat, ya nasehatilah. 

Ibaratnya jadi begini, gapapalah awkarin mau bejat juga, tapi oki setiana dewi kan muslimah, jadi ga boleh. 

Apa ya, maksudnya adalah hidup ini masih proses, hargai setiap langkah langkah manusia yang mungkin masih sedikit-sedikit. Karena sekalinya orang berhijrah, ga serta merta ia langsung jadi penghuni surga 

tapi yang paling penting adalah ngapain fokus untuk mikirin orang lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s