Proses Menjadi ‘Teladan’

Tadi pagi aku mencari materi-materi tentang marifatul insan tetapi malah nyasar disebuah kertas-kertas mengenai “virus merah jambu”. Bahasa yang jadul banget kan kesel? Sepertinya itu bahasa ada waktu aku SMP-SMA. Aku tidak cerita gimana teori-teori VMJ yang aku baca, tapi ada suatu contoh terselip mengenai kisah Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang diketahui bersama, Zaid bin Haritsah merupakan anak angkat Rasulullah. Suatu hari, Zaid bercerai dengan istrinya, Zainab. Nahhh setelah itu, Rasul diberi perintah oleh Allah untuk menikahi Zainab.

Hal ini semata-mata untuk memperlihatkan pada ummatnya bahwa menikahi mantan istri anak angkat itu boleh. Saat itu, Rasul sebenarnya ada sedikit ketakutan saat menerima perintah itu. Yaaa bayangin aja kalau hal itu terjadi di jaman sekarang, atau di lingkungan kita. Bakalan abis ga tuh orang dighibahin tetangga?

Rasul juga manusia dan punya ketakutan seperti itu. Jangan kira Rasul ga akan paham bahwa akan banyak “spot-spot” perbuatan beliau yang dijadikan senjata orang yang ga suka islam. Semacam tentang poligami, atau tentang kisah ini.

Allah mengetahui isi hati Rasul yang sebenarnya lumayan memikirkan cemoohan orang, akhirnya turunlah surat Al-Ahzab ayat 37

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”,
sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia
supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Hebatlah beliau, berani menghadapi ketakutan akan omongan manusia. Kalau ngaca ke diri sendiri mah masih jauh. Segala hal masih dipikirin apakah mayoritas manusia/teman/lingkungan/si doi suka atau engga atas perbuatan kita. Kalau terus menerus kayak gitu, ya buat apa. Toh manusia ga bisa menjanjikan apa-apa.

Ya, intinya segala perilaku Rasulullah itu semuanya adalah perintah Allah.

Ada juga sebuah cerita lain, yakni bagaimana Rasulullah sholat sunnah rawatib. Duh aku lupa persisnya seperti apa, tapi kira-kira begini ceritanya

Aisyah meriwayatkan, bahwa Rasul biasanya sholat sunnah qobliyah dhuhur 2 rakaat di mesjid. Ternyata ketika pulang, Rasul sholat lagi dua rakaat dirumahnya. Kalau mau, Rasul bisa banget saat itu langsung sholat 4 rakaat sholat sunnah di masjid (kan biar sekalian). Tapi kenapa Rasul memilih dirumah? Karena ternyata hal ini takut jadi ‘beban’ buat ummatnya. Kan kalo solat di mesjid keliatan tuh, jadi takutnya hal ini akan memberatkan ummatnya. Sehingga beliau memilih sholat di rumah saja.

Dari dua kisah itu, betapa terlihat Rasul sangat menjaga perilaku dan ibadahnya dihadapan manusia, karena kelak segala tindak tanduknya akan menjadi contoh bagi ummatnya. Rasul ga bisa berbuat apa apa sesuka hatinya, karena apa yang beliau lakukan adalah perintah Allah.

Yah, subhanallah banget. Sekarang, giliran kita apakah mau meneladani Rasul yang udah segitunya menjaga sikap demi ummatnya, atau meneladani siapa.

cropped-tumblr_mhrtk5ptdz1s5304no1_500.gif

Advertisements

One Reply to “Proses Menjadi ‘Teladan’”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s