Point of View: rok & celana

Aku tidak tahu apakah ini tulisan pembenaran atau bagaimana, tapi ini pendapatku mengenai hijab bagi perempuan dan berbagai hal serupa.

Aku bersekolah islam selama 11 tahun. Ketika keluar, lalu aku sma, lalu aku kuliah. Ketika itu aku ke kampus pakai rok. Anehnya beberapa orang malah nyelametin: cie sekarang udah pakai rok. Selamat ya. 

Buat apa? Toh esok belum tentu pakaianku sama. Lalu ada seorang kenalan yang mulanya sering pakai rok, lalu berganti jadi celana. Di kelas ada yang bertanya: eh sekarang jadi pakai celana? Kenapa? 

Parahnya, ada juga yang ngomongin di belakang. Seolah negatif banget. 

Ya, mungkin kalau kasusnya yang ia pakai adalah celana skinny yang membentuk kaki itu bisa dikatakan kemunduran. Karena dulunya menutup bentuk badan, sekarang malah membentuk kaki. Tapi ini dia memakai celana yang longgar. Menurutku ga salah.

Pun kadang aku sering salah kostum. Pernah ke kajian salaf tapi aku pakai celana dan baju peach. Yang lain hitam dan kerudung lebar. Ok. W jadi berasa anak paling tabarruj semesjid. 

Atau waktu TPB pernah iseng ikutan majelis HATI yang isinya HTI. Aku pake bajunya potongan. Bukan gamis. Warna warni. Kadang celana. Ok. Ngerasa paling pinerakaeun. Mata orang orang pun kadang ngeliatin. Ahhh biarsajah.

Aku tahu pakaianku ga sempurna. Baru sekarang sekarang aku merubah celana yang dulu jeans menjadi celana lebih longgar. Aku tahu mungkin dimata orang level aku masih dibawah dan perlu beberapa perubahan lagi untuk jadi muslimah.

Ada yang mengacu pada sebuah hadist mengenai perempuan tidak boleh menyerupai lelaki. Sehingga tidak boleh pakai celana. 

Kalau gitu, laki laki ga boleh bergamis dong nanti disangka ibu ibu? 

Lalu yang aku pahami setelah dipahamkan oleh guru guru masa lalu, bahwa acuan kita adalah an nuur:30. Menutupi seluruh badan termasuk wajah dan telapak tangan. Dan tidak membentuk badan tentunya. 

Hijab bagi wanita itu seluruh tubuh. Tapi bukan berarti wajib pakai kerudung yang seluruh tubuh. Karena baju dan rok/celanapun disebut hijab jika menutupi bentuk badan.

Barangkali kalau nanti aku bekerja dirumah dan jadi orang kaya, bisa jadi pakaian gamis dan kerudung sangat lebar menjadi pilihanku. Jangan lupa tentunya perlu supir pribadi. Karena kalau sekarang aku disuruh begitu, aku ga menjamin bajunya bisa ga keselip di gojek, rok juga akan nyapu jalanan karena terkadang jadi pejalan kaki–belum postur tubuh yang agak kecil, atau bisi bau kesang karena suka naik angkot. Lagipula mahal banget keles baju baju gamis yang enakeun teh.

Aku percaya Islam tidak akan membebani seseorang dan tidak membuat susah. Kita pasti bisa beraktivitas tapi tanpa melanggar aturan, meskipun kita perempuan. Seperti mengapa wanita arab memakai cadar, itu karena biar ga kena debu debu padang pasir. 

Hingga hari ini aku tidak merasa perempuan harus berevolusi sampai akhirnya memakai cadar dan bergamis hitam. Memang itu solusi terbaik dalam menjalankan an nuur:33, tapi hal ini juga bisa disesuaikan dengan kondisi fisik maupun lingkungan kita. 

Disisi lain akupun merasa kagum kepada muslimah muslimah yang anggun dan sangat menjaga auratnya dengan pakaian gamis dan warna netral. Memang, itu menjadi bentuk rendah hati jika kita memakai pakaian tanpa ingin menjadi sorotan. 

Tapi pelis jangan menjudge yang berbeda donk hehehe. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s