Kisah Iblis

Tulisan ini apa yang aku tangkap dari kajian oleh KH Athian Ali di Mesjid Al Barokah. Mengenai akidah.

Seperti yang kita ketahui, Al Quran turun secara berangsur angsur sesuai dengan kondisi saat itu, agar lebih mudah diamalkan. Kecuali sholat, ibadah ibadah ritual lainnya diturunkan di Madinah di 10 tahun terakhir kenabian. Belom ada suruhan zakat, haji, shaum, dll. Karena apa? Karena di awal tahun kenabian, Allah menurunkan wahyu perihal akidah dan keimanan, baru kemudian perintah perintah ibadah ritual menyusul. 

Kalau ditilik tilik, semua perintah ibadah dalam Quran diawali dengan “wahai orang beriman”. Sperti perintah sholat, shaum, dst. Tidak ada “yaa ayyuhan nass” sebagai awalan perintah sholat. 

Artinya apa? Sebelum kita melakukan berbagai perintah Allah, kita harus make sure kalau kita berada di golongan “orang beriman”. 

Dalam QS Ibrahim:25, orang beriman itu bagaikan pohon. Akarnya menghujam kuat, batangnya kokoh, dan berbuah banyak. Akar ini menurut berbagai tafsir adalah akidah/keimanan. Ga mungkin kita berbuah banyak kalau akar aja tidak ada.

Apa itu keimanan? Ya, keimanan hanya bisa dilihat dari hati, dan yang maha mengetahui hati hanyalah Allah SWT. Keimanan pada Allah artinya menerima (tidak meragukan sedikitpun) 6666 ayat dalam Al Quran juga tidak kurang 5000 hadist Rasulullah. 

Kalau ada satu ayat saja yang kita ragukan, maka bye. Bukan masuk ke golongan “beriman”. Mau sehebat apapun ibadahnya, kalau dia ragu mengenai ayat tentang hukum waris, maka ia ga percaya Allah (artinya ga beriman). Kalau dia umroh tiap taun, tapi ga percaya satu aja ayat Quran, maka percuma. (Mau sebut satu ayat contoh lagi, tapi takut disangka nyepet huhu)

Contoh kasusnya adalah iblis. Golongan jin telah mengabdi pada Allah selama 80.000 tahun. Apakah iblis itu percaya Allah adalah Tuhan? Ya, sangat percaya. Toh dia sudah sering berdialog dengan Allah. Apa kesalahan iblis sehingga ia jadi disebut ga beriman? 

Cuman satu, perintah yang iblis tolak dari Allah. Cuman satu. Yaitu ga mau sujud pada Nabi Adam. Sisanya? Mereka hebat sekali ibadahnya. Hanya satu perintah yang ia ragukan membuatnya langsung “kekal di neraka”. 

Mari kita berkaca. Berapa ayat yang ga dipercayai? Yang butuh analisis dan kondisi lebih logis untuk bisa kita percayai? Jangan sampai kita lebih iblis daripada iblis yang sebegitu ragunya sama ayat ayat Allah. Iblis aja hanya satu perintah yang ia tolak, bisa berakibat fatal. Kita yang beribadah belum 80.000 tahun, apakah berani meragukan satu ayatnya?

Nauzubillahiminzalik. Semoga Allah menetapkan kita dan menguatkan kita untuk selalu berada dalam DienNya.

Lalu apa pentingnya menjadi “beriman”? Beriman adalah satu satunya cara membayar tiket surga. Ibarat kata ada orang hampir tiap hari males solat, tapi dia yakin sama semua perintah Allah. Maka tiket surga udah digenggaman. Tapi balik lagi kaya tadi, meski ia sholat sampe jidat item tapi menolak satu ayat, maka melayanglah tiket itu. 

Pada akhirnya, amal soleh dan amal salah orang beriman akan menentukan seberapa lamanya ia singgah dineraka sebelum akhirnya ke surga. Maksiat banyak tapi iman ada, maka, ya, dia masuk surga. Tapi gatau kapan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s