Bukan Ajaran Vertikal

Disebuah seminar lalu-lalu mengenai “branding” diri, si narasumber mengatakan suatu hal yang sempat aku setujui,

“Jangan sampai kamu ikut komen-komen di medsos mengenai SARA. Akan sangat terlihat belief kamu seperti apa. Lebih baik diam.”

Setuju… isu agama dan toleransi sedang menjadi topik hangat yang ampuh untuk menjadi alat berbagai kepentingan. 

Jelas, mengenai bicara kotor dan mengumpat di medsos bukanlah cerminan dari akhlak seorang muslim. Seperti yang kudengar dari Ust Adi Hidayat tempo lalu di mesjid TSM, orang beriman tercermin dari akhlaknya seusai ia sholat. Makian, cacian, dan kebencian harusnya menjadi pertanyaan bagi diri, apakah aku sudah berakhlak seperti yang dituntunkan oleh Rasul? bahkan sampai ke pertanyaan Apakah sholatku benar?

Balik lagi ke seminar, selanjutnya pembicara menyatakan,

“Urusan kepercayaan itu vertikal, hanya kamu dan tuhanmu. Jangan sampai membawa-bawanya dengan hubungan horizontal/dalam hubungan sosial”

Sayangnya Islam tidak begitu. Tapi perkataan itu aku maklumi karena beliau memang non islam, jadi tidak salah. Hanya saja akan salah jika kepercayaan itu dianut oleh orang Islam. Kalau ajaran Islam hanyalah vertikal, lantas buat apa Rasul memperjuangkan hingga futuh makkah dengan perjuangan yang luar biasa hebatnya.

Dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Menyampaikan satu ayat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Aku habis membaca tulisan orang mengenai “kewajiban” yang penjelasannya lumayan ribet karena bicara sejarah, fakta, sains, dan seterusnya. Masya Allah, taatnya seorang muslim pada sesuatu itu bukan karena sains atau sejarah, tapi karena ada dalilnya dalam Quran dan Hadist. Karena dua hal itulah warisan Rasul yang disuruhnya untuk kita tanam dalam hati dan menjadi denyut nadi. Kalau dalam hal ini sudah memiliki yakin berbeda, maka pembicaraan sudah tidak bisa dilanjutkan.

Tetapi kalau setuju bahwa Quran Hadist adalah hal yang paling harus digigit sampai mati, maka saling mengingatkan sesama adalah pekerjaan utama. Tentu dengan cara-cara yang baik dan damai. Tak perlu sampai caci maki. Firaun yang sebegitu kejam dan jahatnya saja, tak pernah dihina dan dicaci maki sedemikian rupa oleh Nabi Musa. Bahkan Allah tidak mencantumkan nama aslinya di Quran (Firaun adalah gelar–bukan nama). Kita bukanlah nabi, dan orang-orang yang sering jadi bahan olokan juga tidak sejahat Firaun.

Muslim ditunjukkan dari akhlaknya, maka jadilah muslim yang baik hubungannya–bukan hanya hubungan vertikal, tapi juga horizontalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s