Puasa Musik

Quotes bijak menyatakan bahwa terkadang ketika kita terlalu menginginkan sesuatu, justru kita tidak mendapatkannya. Tapi ketika sudah pasrah, malah mendapatkannya. Quotes apa ngasal nih? gatau juga.

November 2012, aku masih ingat karena ditulis di blog ini (atau blog sebelum ini) bahwa aku berhasil puasa dengerin musik selama sebulan. Tapi gakuat. Gagal.

Mendengarkan lagu adalah kebiasaan yang sangat sangat sulit untuk dilepas. Sejak punya earphone dan handphone, setiap perjalanan selalu ditemani dengan lagu-lagu ditelinga sampe budek (ga deng). Sebelum lagu lagu mejadi hits, aku sudah ngapalin liriknya. Pun berlanjut hingga aku kuliah. Bosannya perjalanan dengan angkot dengan kondisi bandung yang makin padat dan macet, menjadikan lagu adalah cara rilex ditengah kelelahan.

Seperti yang dikatakan sikolog, hal yang berulang-ulang terjadi akan menjadi habit. Dan habit merasuki pikiran bawah sadar. Sehingga lama-lama dengerin lagu bukan masalah butuh-atau-tidak, tapi sudah mendarah daging menjadi kebiasaan. Abis duduk di angkot langsung siap earphone. Tiap ada waktu kosong langsung cari playlist.

Jujur, sejujur jujurnya dari hati terdalam, aku merasa bahwa musik memang lebih banyak mudhorot (negatif) daripada positifnya. Terlepas dari segala perdebatan halal-haram–yang aku juga ga layak berkomentar, tapi bagi pribadi sendiri, aku memiliki cita-cita ga ketergantungan lagi sama musik. Ketergantungan ini bener-bener udah kaya opium yang berasa sakau kalau mau berhenti (naha harus opium).

2017 banyak yang terjadi, tanpa disadari aku perlahan meninggalkan kebiasaan mendengarkan musik. Ajaib, ketika aku tidak memplanning seperti November 2012 lalu, aku malah bisa meninggalkan musik. Aku ga tau lagu-lagu baru di mall-mall atau di mobil ayah. Aku ga hafal lagu-lagu di cafe-cafe. Alhamdulillah.

Mengapa bagiku musik itu negatif?

Pertama, musik itu sumber kegelisahan hati. Sebagai wanita lajang rasanya banyak suka muncul perasaan-perasaan ga pararuguh yang malah semakin parah ketika dengerin lagu. Lagu tertentu menimbulkan nostalgia. Lagu lainnya liriknya saitonirrojim betapa tepatnya dengan keadaan hidup ini. Dan, ketika sesuatu berhasil kita rasa sebagai “w banget” maka kalimat selanjutnya yang ia lagukan atau tuliskan, menjadi hipnosis ampuh buat kita. I really  need to get over this menye-menye things. Ketika orang lain udah jadi “orang” masa aku masih menjadi budak atas segala peperangan dalam hati dan galau galau ga faedah? Sungguh ngga banget.

Kedua, karena aku mulai lagi murajaah dan ikut kelas tahfiz, maka kalau dengerin lagu, si hapalan-hapalan yang sudah dihafal bagai melayang layang dadah-dadah lalu terlupakan. Sebagai ganti, simpenlah mp3 Quran di playlist.

Ketiga, musik itu bikin mager. Ketika udah dikamar, jadi makin betah dikamar (meski emang sambil ngerjain hal lain juga sih).

Adapun manfaat musik seperti untuk kesehatan, psikologi, dsb, sebenarnya sudah sangat jelas bahwa mendengarkan Quran memiliki manfaat yang lebih dari itu. Selain berpahala, bisa juga mengikat hafalan kita, dan semakin dekat sama Allah SWT.

Hari ini aku berkhianat, playlistku malam ini –10 menit yang lalu, kembali ke jaman dulu. Lalu gelisah-gelisah ini muncul-muncul lagi. Aku putuskan menulis, supaya keluar sajalah kau sihir-sihir dan rasa tidak tenang ini. Semoga Shofia bisa lebih konsisten lagi kedepannya, karena konsisten sungguh lebih mahal dari pada permulaannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s