Pengecualian

Setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan membuatku berfikir bahwa semesta selalu mengecualikan aku. Aku adalah tidak ketika semua orang adalah iya. Aku adalah pergi saat semua orang datang. Aku adalah setiap kebaikan yang menjadi debu. Aku adalah setiap jahat yang selalu teringat. Aku juga kau saat kau tidaklah aku.

Akhirnya aku menyadari. Akulah yang mengecualikan aku. Akulah yang berjalan sendiri ke lingkaran sendiri. Hilang sudah semua kecuali diri.


draft 5/11/2017

Limiting Social Media

I’ve bunch of free time (beside waiting for scholarship announcement and make plans for bussiness with rifa) which means I have chance to do anything unimportant like scrolling my handphone for ages or hanging out with friends every-single-day. I realized that I have to be discipline and limit myself to do such things. So here are how I tried to be productive and limit myself for staying with my phone for years:

1. Uninstall line and download line lite. Line lite won’t allow you to look at timeline or read Line Today. Sometimes if there’s a notification, they stay silent. So I apologize that I took an age to reply your messages. I do not consider too much to use line lite instead the usual line because ‘important’ people would text me on whatsapp. Positive side of line lite is it allow you to know who read your messages in a group. For instances this is how I sent a message:

After I push the black round, I immadiately know who read my message:

Innnn adddition, line lite has a very friendly size of space unlike the usual-heavy-line.

2. Uninstall instagram (sometimes). I had bad behaviour like stalking instagrams of celebrity or kids or jokes. It takes ages for me to stay on instagram and spend my internet quota there. 

3. Download Duolingo so that you can learn any language. Download Wattpad then you can read whatever books you want. Download Pinterest for new ideas and diys. Download…. hungry shark…….because it was ffffffffun!

Breadegg #recipe

Ini adalah sebuah resep nenek moyang kami. Biasanya kalau pagi pagi lagi ingin, maka aku membuat sarapan dengan ini. Pada dasarnya ia terbuat dari roti dan telur. Kalau kamu tahu cara bikinnya, mungkin kita memiliki nenek moyang yang sama.

Bahan yang diperlukan hanyalah:

1. Roti 2. Telur 3. Susu/kopi 4. Gula dan garam

Sangat mudah kan????

Caranya hanyalah begini:

Potong bagi empat roti tawarnya. Jumlahnya sesuaikan saja. Buat satu telur bisa 4 slice roti tawar biasa atau 2 slice roti gandum.

Kemudian di mangkuk terpisah, siapkan telur. (Harus pisan ada gambarnya)

Karena dirumah adanya susu bendera, maka aku buat segelas kecil susu. Biasanya kalau vavorit aku adalah pake cappucino atau kopi kopi instan. Biar rasanya kaya roti boy heuheuheu. Kemudian susu/kopinya masukkan ke telur.

Di gambar atas terlihat ada keju kenapa? Karena iseng aja hehe. Boleh pake boleh engga sesuai selera. Kalau bisa pake kejunya yang melt. Kalau engga nanti susah dipanasinnya.

Maaf ya kalau minim karena ini dari hp. Masukkan sedikit garam dan gula sesendok makan kedalam adonan telur dan susu yang udah dikocek.

Siapkan api yang kecil dan penggorengan yang sudah ada menteganya. Lalu satu persatu rotinya masukin ke adonan telur susu. 

Begitulah penampakan miringnya ketika semua roti sudah direndam telur dan segeralah masukkan ke penggorengan dengan api super kecil. Agar supaya adonan telur di dalam roti juga ikut matang.

Karena lama, kamu bisa nunggu sambil cuci piring. Atau kalau seperti aku yang ga sabaran, tutup ajalah biar cepet panasnya.

Jika sudah matang dan sudah dibulak balik maka angkatlah. Sudah jadi!! Tinggal tambahkan topping suka2 seperti eskrim atau apalah. Karena maklum abis pindahan, jadi yang aku bikin hanya pakai cokelat dan keju ajah.

Meski keliatannya biasa aja tapi kalau kamu bisaan masaknya maka enak tau! Ini adalah makanan yang sejak sd hingga hari ini aku sukai. Karena gampang dan ga membosankan. Bisa eksperimen juga susunya diganti dengan apa aja. Seperti matcha, kopi, dan varian rasa lainnya. Semoga bermanfaat.

Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Pelupa

 

Jadilah hamba Allah yang kuat karena musuh kita Azazil Iblis sudah bersiap untuk jadi yang sangat kuat sejak Nabi Adam turun. Kalau melawan diri sendiri sudah selalu menangis dan lupa bersyukur, bagaimana bisa melawan hal diluar diri?

Mendengarkan Ego

A : kemarin aku abis sidang, untung pembimbingnya baik….kan gini..

B :Ih kalau aku mah boro2 baik, dicuekin mulu..

A : kan gini..aku ga bisa jawab, terus semua pertanyannya dia yang jawab

B : kalo aku ga bisa jawab mah udah dibantai, malah pembimbingnya ikut ngebantai

☆part1selesai☆

C : liburan kemaren aku abis ke lembang

D : ih ngapain deket amat, aku mah ke bali

C : tapi seru tau, apalagi kalau subuh2, udah gitu tempat yang kita datengin banyak banget. Mahal di tiket

D : apalagi aku, mana pulangnya naek garuda gara2 keabisan tiket

C : ternyata kampung gajah gitu2 doang ya, seruan de ranch.

D : lebih seru lagi mah di kuta atuh….

Dan lain lain

☆part2selesai☆

Maka manusia harus sering menurunkan ego agar kisah percakapan jadi berubah menjadi

C : liburan kemaren aku abis ke lembang

D : wah kemana aja? Aku juga liburan taun 2010 kesana

C : banyak sih tempatnya, jadi mahalnya karena beli2 tiket, lebar yah? Kamu liburannya kemana?

D : yah padahal kan di lembang kurang lebih tempat2nya sama sama aja. Kalo aku ke Bali sama keluarga…

Dst.

—–

Terinspirasi dari gramedia. Buku berjudul belajar mendengar.

Independent

Orang-orang sepertinya membenci dua hal: bertanya atau merasakan; karena menarik kesimpulan selalu jauh lebih mudah dan menyenangkan, bisa sesuka hati memainkan imajinasi.

Lagi-lagi ini alasan yang membuat kita ga layak hidup buat memuaskan keinginan manusia doang. Karena kalo gitu kita akan terus merasa jadi pecundang. Ga pernah ada standar, disebabkan keinginan dan hawa nafsu akan permintaan yang terus bertambah.

Semoga penyakit-penyakit hati diampuni

IMG_6627

 

Ibu ibu Inspirasional

Aku tidak paham apakah “inspirasional” merupakan kalimat baku yang terdapat di kbbi atau engga. Tetapi yaudah atuh ya ngapain dipermasalahin da ini bukan bikin draft!

Di suatu hari yang maghrib, aku lagi di rumah uwa di kawasan Cijerah. Berhubung udah azan, akhirnya ikut solat dikamarnya. Keinspirasionalannya terjadi disini. Yaitu sehabis beres solat, aku pake kacamata, dan terkaget ternyata di dindingnya banyaaaak banget bacaan Qur’an tulisan tangan gede-gede ditempelin. Kalo difilem indonesia jaman dono kasino indro mungkin disangka untuk mengusir hantu.

Tiba-tiba uwa masuk, melihat aku yang masih takjub, dan bilang, ih yaampun malu ketauan tempelannya. Uwa mah masih belom bisa ngapalin Qur’an. Udah tua mah susah bangeet pi ngapalinnya. Jadi ya giniii di dinding di tempel-tempelin semuanya biar apal…………..Yang ada aku yang malu. Masih muda tapi waktu diabisin sama keambisan duniawi yang ga berujung, padahal lulus mah udah. Setelah kejadian ini aku jadi merasa agak hampa, merasa agak salah jalan, dan merasa ingin les bahasa mandarin (ga deng ga nyambung).

Kedua ibu-ibu yang inspirasional adalah mamahku sendiri. Beliau terkadang suka ngapalin Qur’an kalau abis subuh. Dan ngedenger perjuangannya tuh rasanya subhanallah bangeeet. Karena yang namanya ngapalin Qur’an emang ga mulus dan pasti ada salah salahnya. Ngedenger mamah salah mulu, ngomong eh berkali-kali, dan minta ditesin An-Naba bikin aku speechless tapi aku ga akan bilang-bilang ah heuheu.

Emang bener lagu waktu SD, “Ilmu yang didapat, selagi masih kecil, bagai lukisan diaaatas batuuuu” sementara pepatah mengatakan “Belajar waktu kecil bagaikan menulis diatas batu tetapi kalau udah bertambah umur, belajar itu bagaikan menulis diatas air”

Ibu-ibu inspirasional ketiga dan keempat aku temui tadi pagi. Alhamdulillah aku dan teh ipa ikut training trik ngafalin Qur’an. Pesertanya berapa orang apakah anda bisa nebakkk? Ya, hanya empat orang. Kami juga dapet wejangan sebagai “calon ibu” dari kedua ibu tersebut.

Katanya, kalau udah jadi ibu-ibu, kerasa banget ngafalin Qur’an itu jadi wajib. Belum lagi kalau anak-anaknya udah pada jago karena sekolahnya di sekolah Islam. Mau ga mau, ibu selalu jadi contoh buat anak-anaknya. Eh kalo ditulis mah berasa bosen sih kamu bacanya, tapi pas kami ngobrol dan ibu-ibu tersebut curhat mengenai anak-anak dan keluarga, dan betapa pentingnya Qur’an di dalem rumah, rasanya aku jadi termotivasi dan bersemangat. Kalo sebagai ibu kita ga ngenalin Islam dan Qur’an maka siapa yang akan ngajarin anak-anak? Gitulah intinya mah.

Udah gitu, pas kita lagi mencoba suatu metode, kami semua berhasil ngafalin satu ayat panjang dengan waktu sedikit. Mau tau ga apa??? Ibu-ibu di sebelah aku (tidak sebut nama karena bisi ada yang kenal heuheu) nangis dong saking terharunya karena bisa hapal………….. Ya Allah, sebegitu senengnya bisa ngafalin satu ayat Al-Qur’an bagi mereka. Beliau bilang bahwa udah usia segini dan bisa ngafalin satu ayat itu adalah kenikmatan yang luar biasa.

Ya Allah, semakinlah aku merasa berdosa akan waktu yang sia-sia selama ini. Mereka juga curhat bahwa (you dont say lah) ibu-ibu mah pasti paciweuh (rempong) ngurus semua hal di rumah dan susah nyari waktu luang buat belajar. Lah kami berdua, waktu berlimpah ruah tapi udah dipake apa aja ya……………….

Keempat ibu-ibu tersebut, memberiku kesimpulan kalau masa muda adalah masa yang masih enak untuk belajar. Tapi janganlah hanya ngejar duniawi, pangkat, karena semua itu ga akan tertulis dinisan dan pride ga akan di bawa sampe ke akhirat. Alangkah lebih baik kalau kita ngejar juga ilmu untuk akhirat. Terutama, sebagai ibu-ibu, karena mau ga mau kita yang akan menggiring generasi selanjutnya apakah mau dekat dengan Qur’an atau justru menjadikan Qur’an sesuatu asing yang terlalu “holy” sampe ga pernah disentuh?

Perempuan Di Balik Jendela

Kurang lebih sudah 10 tahun kamu selalu berdiri di balik jendela tempat tinggalku. Aku ingat betul, setiap hari Kamis pukul 10, kau selalu berpijak disitu hingga pukul 10.30. Lalu pergi. Aneh sekali.

Tahun-tahun pertama, kamu datang bersama dengan tangisanmu dan teriakanmu akan namaku. Kukira kau sudah gila sehingga aku hanya menertawakanmu dari dalam sini, dan enggan menemuimu sedetikpun. Lebih tepatnya barangkali aku sudah muak. Tangisan dan teriakanmu tidak mampu membuatku lupa bagaimana kau meninggalkanku demi hidup bersama lelaki tua-kaya-raya itu. Padahal kau sudah janji selalu bersamaku, sehidup semati.

Lama-lama, aku luluh juga. Itu butuh waktu 9 tahun, hingga tahun lalu aku berhasil memaafkanmu. Meski kau perempuan, tetapi kau sangat setia–lupakan lelaki tua yang barangkali sudah tiada itu. Aku tidak tahu apakah hubungan antara “perempuan” dan “kesetiaan” itu berbanding terbalik sehingga aku mengatakan “tetapi” seperti kalimat tadi. Tapi rasanya cocok saja. Aku jadi lupa mengapa dulu aku sempat membencimu setengah mati.

Sudah pukul 09.00 hari Kamis, tahun 2016. Genap sepuluh tahun kau menemuiku. Aku bersenandung riang sambil menyisir. Aku sudah mandi, berpakaian bagus, dan menyemprotkan minyak wangi. Membayangkan kau datang lagi pukul 10.00 sambil membawa sekotak brownies kesukaanku seperti minggu kemarin membuatku ingin tersenyum sampai menangis. Kau harus mengerti, kadang terlalu senangpun membuat kita ingin menangis.

Lalu Jhony menghampiriku tertawa, meledekku yang sedang mengusap tangis. Ah kasihan, dia tidak mengerti.

Benar! Pukul 10 lewat 6 detik kau sudah disitu sambil melambaikan tangan dengan sumringah.Senang sekali melihatmu senang. Aku jadi ingin tertawa sekaligus menangis lagi. Kau menyuruhku mendekat. Kemudian menunjukkan secarik kertas padaku dibalik kaca,

Aku punya kejutan! tulisanmu begitu rapi.

Aku menggerakkan bibirku, apaaa? kataku tak sabar, sambil sedikit memukul jendela. Paling ia akan memberiku brownies, atau kopi, atau bunga?

Kamu terlihat memanggil seseorang, lalu lelaki muda berkemeja garis-garis datang, berdiri disebelahmu sambil tersenyum dan menundukkan kepala padaku–maksudnya ingin salam. Apa maksudnya? Siapa dia? Aku bertanya-tanya sampai kamu akhirnya menulis lagi,

Aku akan menikah, restui kami ya

Aku tidak bisa menjawab apa-apa, seperti kehilangan kesadaran. Aku membaca tulisan itu berulang-ulang. Kau melambai-lambai tanganmu menunggu jawabanku. Lelaki sialan itu malah tersenyum penuh kemenangan.

Aku lalu menggeleng kepala. Tidak bisa. Tidak mungkin. Apa artinya 10 tahun ini kita selalu bertemu? Apa artinya hadiah-hadiah yang selalu kau berikan padaku? Apa artinya aku selalu berdandan rapi setiap Kamis pukul 10? Apa artinya tawa dan tangisku selama ini yang hanya untukmu?

Perlahan, aku melihat lengan kananku. Ah, sakit sekali, tapi terkadang sakit fisik itu kita butuhkan agar lupa akan sakit yang didalam sini. Aku kehilangan akal sehat. Seperti akan gila. Sebuah cutter yang selalu kuselip dibalik celana akhirnya sudah menyentuh tangan kananku bahkan sudah memotong 1-2 urat. Jhony kulihat sedang sibuk mengobrol dengan dinding. Ah, ia memang gila.

Sementara kau dan orang itu, memukul-mukul jendela. Berteriak memanggil dokter. Kalian menangis. Aku terjatuh lemas dan tertawa. Kunci rumahku hampir terbuka oleh seseorang yang kau panggil ia dengan sebutan dokter, kemudian aku melihatmu lagi, sedang menempelkan secarik kertas,

Berhenti, Ayah! Kenapa harus bunuh diri?

Sebelum kesadaran menyergap sempurna, aku terlanjur tak sadar.

Jalan Riau no. 11, Bandung

tumblr_nd0abiZyux1tchrkco1_500

Epilog:

Hari ini harusnya jadi hari kebahagiaanku, yaitu hari dimana aku meminta restu ayah dan ibu untuk menikah. Kau tahu? Ibu seperti sudah tidak peduli lagi–sibuk bersama adik-adik yang merupakan saudara tiriku. Ia kaya sekali dan sangat berbahagia. Sampai-sampai tak pernah menanyakanku, apalagi mengunjungi ayah.

Kau tahu? Saat meminta restu ayahpun hasilnya tidak bagus. Ia malah mencoba bunuh diri. Setelah ayah pingsan, lalu aku mengobrol dengan dokter. Katanya, ayah melihatku seperti melihat ibu. Wajah kami memang mirip. Tapi rupanya meminta restu darinya sama saja memunculkan perasaan sakit seperti saat ibu pergi dulu.

Apakah kau tau? Aku sangat bingung. Mengapa hidupku selalu seperti ini sejak aku kecil–aku ingin ayah dan ibuku yang dahulu, 10 tahun lalu. Aku jadi ingin berdiri terus sepanjang hari disini. Di rel kereta api.

Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg