Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Ter-mudah terbaca

Aku membaca novel remaja saat masih kelas 6 SD. Membaca kisah perkuliahan saat masih SMA. Dan membaca peliknya berumah tangga saat masih kuliah. Novel-novel kehidupan itu setidaknya membuatku lebih sensitif atas gelagat dan tatapan orang sekitar. Bagaimana mereka berbicara, berbohong, atau berbasa-basi. Atau memuji, atau merendahkan dalam hati. Sehingga aku bercita cita menjadi seorang detektif atau bagian dari badan intelijen. Ah kalau itu terlalu tinggi, setidaknya, aku ingin jadi psikolog.

Ah bagaimana kalau aku jadi peramal sajalah, yang bisa meramal bagaimana kau benci padaku padahal selalu tersenyum. Bagaimana orang itu tidak pernah peduli padahal sering bertanya kenapa. Marah karena tak pernah kubercerita padahal mendengarpun tak pernah. Atau betapa kesalnya dia saat melihatku lalu memilih pura-pura tidak melihat.

Pun sebaliknya, bagaimana dia terlihat jelas terlalu memberi perhatian. Ada pula yang berbaik hati menolong dan mau berbicara dengan orang sepertiku, yang lebih banyak mengobservasi daripada bicara denganmu. Banyak yang positif, negatifpun lebih banyak lagi. Memberantas penyakit hati dan prasangka memang sulit.

Aku hanya ingin agar kau jangan mudah terbaca. Jangan seperti novel-novel itu. Atau lebih parah lagi kalau kau seperti drama korea. Banyak basa basi dan gelagat aneh padahal kalau mau menuju A B C  atau D tak perlu banyak berakting yang terprediksi.

Kecuali bersikap baik, setidaksuka apapun kau padaku atau siapapun, tetaplah bersikap baik meskipun tidak ingin.

gsrtgf
weheartit.com

Join The Oceanography Society!

Pada suatu hari aku jalan menuju rumah lalu dipanggil pa satpam komplek dan dikasih 2 kiriman. Pertama adalah oriflame. Dan kedua adalah majalah. Majalah Oceanography.

Aku dapat welcome program dari oriflame. Mulanya aku memilih produk2 lain. Eh tapi malah dikirimnya deodorant spray pria:(  Mana dapet 2 biji pula.


Yang satunya sudah dikasih kepada ayah. Satunya lagi mau dijual. Yuk kalo mo beli boleh di kolom komen boleh nego (wkwkkw).
Tapi yang alhamdulilah adalah kiriman majalah dari The Oceanography Society. Kayak ga nyangka aja gitu baik banget beneran di kirim. Jadi terharu. Terkesan desa bgt sih tapi seneng aja wkkw

Awal mula aku daftar The Oceanography Society (TOS) kalo ga salah pas udah sidang. Kan sok sok an nyari hal hal berhubungan keilmuan gitu lah ya. Nemu lah si TOS ini. Akhirnya aku memilih join student membership (meskipun udah lulus) biar bisa langganan majalah. Suganteh langganan majalah yang dimaksud adalah dikirim via email. Ternyata beneran dikirimin langsung.
Ngisinyapun mayan ngasal. Bahkan kode pos harusnya 40282 malah nulis kodepos rumah lama yakni 40121. Udah gitu masukinnya email yang shofiak@students.itb.ac.id supaya disangka mahasiswa. Kan emang masih mahasiswa juga sih.

Mereka minta email kampus juga. Nahlo. Karena ngasal dari awal, email kampus juga aku ngasihnya ngarang:( pokonya xxx@itb.ac.id aja belakangnya teh. Aku hopeles karena pasti mereka minta konfirmasi ke si xxx@itb.ac.id ini apakah aku student apa bukan. Eh gataunya engga dong. Langsung ada tulisan “kamu sukses berlangganan!” In english. Begini nih cara daftarnya.

Sejak itu emang berita2 mengenai TOS rutin masuk ke email. Tapi gak dibaca hehe.

Akhirnya edisi Desember terkirim beneran ke rumah meskipun udah rombeng2. Mungkin karena perjalanan panjang huhuhu.

Isinya apa aja? Kirain isinya mix hiburan dan keilmuan. Gak taunya keilmuan banget……..
Dibaca ga yaaa :((

Tapi meskipun males, yang namanya ilmu itu adalah cahaya sementara bodoh itu bahaya, (kata guru tk aku). Jadi mungkin kelak bisa dipake misal untuk master. Atau kalau gabut dibaca2 kan mayan nambah pinter. Setidaknya kita jadi tau penemuan2 oseanografi terkini.

 

Mendengarkan Ego

A : kemarin aku abis sidang, untung pembimbingnya baik….kan gini..

B :Ih kalau aku mah boro2 baik, dicuekin mulu..

A : kan gini..aku ga bisa jawab, terus semua pertanyannya dia yang jawab

B : kalo aku ga bisa jawab mah udah dibantai, malah pembimbingnya ikut ngebantai

☆part1selesai☆

C : liburan kemaren aku abis ke lembang

D : ih ngapain deket amat, aku mah ke bali

C : tapi seru tau, apalagi kalau subuh2, udah gitu tempat yang kita datengin banyak banget. Mahal di tiket

D : apalagi aku, mana pulangnya naek garuda gara2 keabisan tiket

C : ternyata kampung gajah gitu2 doang ya, seruan de ranch.

D : lebih seru lagi mah di kuta atuh….

Dan lain lain

☆part2selesai☆

Maka manusia harus sering menurunkan ego agar kisah percakapan jadi berubah menjadi

C : liburan kemaren aku abis ke lembang

D : wah kemana aja? Aku juga liburan taun 2010 kesana

C : banyak sih tempatnya, jadi mahalnya karena beli2 tiket, lebar yah? Kamu liburannya kemana?

D : yah padahal kan di lembang kurang lebih tempat2nya sama sama aja. Kalo aku ke Bali sama keluarga…

Dst.

—–

Terinspirasi dari gramedia. Buku berjudul belajar mendengar.

Pride & Prejudice

Aku mengaduk segelas air putih dihadapanku. Kenapa sebuah air putih mesti diaduk? Karena aku sedang tidak ada kerjaan saja. Terlebih, aku sedang menunggu taksi yang tadi telah dipesankan temanku. Sekarang mereka semua sudah pulang sehabis kami menghabiskan 2 jam untuk mengobrol.

Aku merasa sedikit kekosongan saat mendengar cerita mereka. Aku sudah genap setahun lulus dari kampus yang sama dengan mereka, tetapi kehidupan kami jauh berbeda. Aku masih hanya berbisnis kecil (sangat kecil) di online shop saja. Mereka? Ada yang sudah menikah dan suaminya kaya, ada yang bulan depan akan berangkat kuliah lagi ke New Zealand, ada juga yang baru naik pangkat di sebuah perusahaan asing, dan ada yang bisnisnya sudah melesat.

Mereka memesan kopi seharga diatas lima puluh, lalu aku hanya bisa membeli segelas air putih. Ah, haha, tentu tidak. Itu bohong. Karena aku juga memesan pizza seharga yang tidak perlu kusebut.

By the way, Ingat temanku yang tadi kubilang sudah menikah? Dulunya ia perempuan yang bisa dibilang, terlalu sering berpacaran. Pergaulannya sudah tidak bisa kuceritakan lagi karena memang sangat mengikuti zaman. Kukira wajar jika ia cepat menikah (mungkin kau mengerti maksudku).

Lalu temanku yang akan berkuliah, ia tipe orang yang terlalu ambisius. Semasa kuliah, ia selalu menyabet nilai tertinggi. Sayangnya, ia terkesan sombong karena tidak pernah berbagi ilmu dengan kami. Dia juga tidak pernah ada di acara-acara komunitas jurusan kami. Selalu langsung pulang–atau entah kemana kecuali belajar. Wajar kalau sekarang dia ingin lanjut kuliah.

Ah, sebentar, taksiku sudah datang. Aku melesat keluar restoran setelah membayar billnya, karena aku ingin cepat sampai rumah. Ada hal yang harus segera kuatasi. Setelah aku duduk, aku akan lanjut bercerita.

Baiklah, temanku yang ketiga, ia memiliki paras yang rupawan dan tubuh tinggi tegap. Pria idaman semua wanita. Aku juga menyukainya, hanya saja bukan tipeku. Mengerti, kan? Kaupun pasti sering menemukan yang seperti itu. Ia juga wajar saja jika cepat naik jabatan mengingat kondisi fisik yang mendukung. Beruntung sekali. Kemudian temanku yang terakhir, memiliki bisnis melesat. Ah, kuberitahu sebuah rahasia, ia orang yang agak “mistis”. Segala permasalahan ia selalu keluhkan pada kakeknya yang seorang dukun–atau apalah itu namanya. Barangkali ia menggunakan magic dan kekuatan jin untuk memperkaya dirinya. Wajar saja, sangat wajar.

Tiba-tiba teleponku bergetar, sebuah pesan. Ibu!

Cepat kerumah sakit, kondisi kakak semakin parah. Siapin juga uang berobat.

Jantungku hampir berhenti. Urusan yang tadi kubilang genting, adalah kakakku yang sudah sebulan ini sakit. Dokter bilang itu leukimia, aku kebagian merawatnya sore ini.

Aku panik. Uang berobat sudah kuhabiskan untuk pizza mahal-sialan-tadi. Dan juga, oleh taksi ini!

Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau bisa kabur dan menghilang, aku ingin!!


Epilog:

Teman yang pertama, menikah karena dijodohkan orang tuanya. Sempat menangis sepanjang Agustus.

Teman yang kedua, tidak pernah aktif di kampus karena bekerja sampingan dikala kedua orangtuanya sakit. Kini ia bersekolah lagi karena sisa uang beasiswanya akan dipakai untuk sekolah adiknya.

Teman yang ketiga, bekerja penuh tekanan dan kuat mental.

Teman yang keempat, bisnisnya ternyata sudah mulai sejak tingkat satu semasa kuliah. Ia tidak melesat. Tapi memang berkembang.


“There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil, a natural defect, which not even the best education can overcome.”
“And your defect is a propensity to hate everybody.”
“And yours,” he replied with a smile, “is wilfully to misunderstand them.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Sebagai seorang manusia, wajar kalau pikiran buruk banyak muncul. Sebagai manusia, wajar juga kalau memaklumi satu sama lain dan tidak tutup mata atas apa yang tidak terlihat. Maka jadilah manusia. Yang pikirannya ga negatif.

IMG_6627

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

“Deserve”

Bandung, 2001

Betapa egoisnya aku, baru kusadari saat kau berubah sikap. Lalu kau menaruh sepucuk surat di bukumu yang kau masukkan dalam tasku. Terlihat tulisan tanganmu dengan tinta merah muda: Aku lelah, apakah harus selalu aku yang menunggu? Apakah aku yang harus selalu mengejar? Apakah aku yang harus selalu memberi kejutan? Apakah aku yang harus selalu mementingkan urusanmu, tapi sialnya, kau tak mengenal diriku? Aku tidak suka berbasa-basi. Segera sesampainya dirumah, kutekan nomor telpon rumahmu. Kalau kau bertanya padaku berapa nomornya saat aku tidurpun–aku bisa menjawabnya. Terlalu hapal. Hampir genap 4 tahun aku selalu memenceti tombol itu setiap harinya.

Rupanya memang, sudah saatnya kau perhitungan akan segala pengorbananmu padaku. Aku empat tahun ini selalu tersenyum saat kau tiba di depan rumah membawa bonsai-bonsai kesukaanku. Tapi apakah aku pernah kerumahmu untuk membawakan nasi goreng kesukaanmu? Aku empat tahun ini selalu tertawa setiap kau berikan komik-komik lucu terbaru. Tapi apakah aku tahu betapa kau menyukai komik-komik detektif? Kau juga mengajariku matematika setiap ulangan, tapi apakah aku peduli bahwa esoknya kau akan ulangan fisika dan sudah remedial 3 kali? Telpon darimu kubiarkan menggantung bersamaan dengan kesadaran-kesadaran ini. Bahwa tidak satupun, aku mengenal dirimu. Bahwa tentang diriku, kau sudah hapal segala jalan pikiran dan semuanya.

Tiga belas menit setelah kau menutup telepon, aku hanya termangu menyadari betapa aku memang jahat dan egois. Hanya ingin disenangkan, tanpa mau menyenangkan. Kukira kamu wajar membenciku, karena yang kau berikan padaku selalu pengorbanan. Tapi kau tak pernah berbahagia.

Tunggu, apakah perhitungan itu perlu bagi orang yang saling mengasihi? Jika tidak, maka aku tidak apa-apa. Ini bukan masalah apa-apa. Karena ini, tidak pernah jadi apa-apa.


layaknya seorang ibu dan ayah yang tak peduli anaknya akan membalasnya atau tidak, mengingatnya atau tidak, memperdulikannya atau tidak.

11.07 8/5/2012

 

Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg

The way you&I write #part3

Betapa membosankannya judul ini sampai sampai ada #part3 nya segala. Tapi tak apalah ya.

Aku adalah manusia yang memfollow tips-tips menulis, tips menerbitkan buku, mengolah karakter, memilih klimaks yang greget, mendescribe lokasi dengan menarik, memunculkan konflik, dan hingga cara-cara self publishing. Tapi makin lama aku sadar, bahwa ini adalah nonsense–untuk saat ini. Karena meskipun udah puluhan tahun (berasa tua) aku simpan dan pelajari, tapi aku ga pernah menulis dengan benar. heuheuheu

Suatu hari yang cerah, aku pernah mendapat wejangan dari tere liye waktu ia mengadakan training menulis,

Saya paling bingung kalo pada nanya: gimana sih caranya nulis? Karena nulis itu ga butuh pelajaran rumit yang kita harus pahami dalam-dalam seperti kalau kita belajar pelajaran eksak, seperti pelajaran kuliah, atau lain-lainnya.

Kalau mau nulis, jangan bertanya! Tapi nulis!
Karena kunci bisa nulis itu satu, yaitu nulis!

Aku hanya bisa berkata dalam hati, iyaaaajugaaayaaa. Meskipun kita harus sadar diri juga, bahwa ga mungkin sekalinya nulis langsung bisa kayak J.K Rowling.

Wel wel wel sesungguhnya hal yang menyenangkan dari menulis itu adalah kita jadi lebih mengenal diri sendiri dan mengenal isi pikiran kita. Ga jarang kalau lagi ga pararuguh lalu aku mencoba nulis, akhirnya jadi clear: oh jadi ini yang dari tadi aku cemaskan. Selain itu juga kita jadi mengenal diri sendiri (aku udh ngomong ini berapa kali ya). Selain itu, kita juga jadi mengenal diri sendiri, mengenal diri sendiri, dan diri sendiri. Mungkin aku sebut banyak karena itu dampak paling paling paling kerasa dari hasil aku nyampah-nyampah selama ini di wordpres, heu (lagi seneng dengan kata ‘heu’).

The way you&I write #Part2

Sebenernya ini mah “The way I write” tapi biar ga terkesan egois jadi tetep ada you nya.

Awalnya aku beneran menyukai kegiatan nulis itu waktu SMP. Yang aku inget adalah aku sering nulis (tp ga tau nulis dg keadaan bahagia ga tau sedih ga tau biasa aja) dan dishare ke guru sekolahan dan keluarga bahkan digeser-geser ke tiap bangku orang dikelas untuk dimintain pendapat. Pendapat paling umum sih: “Pi, pakai EYD yang baik ya…” berhubung bahasanya emang bahasa sehari-hari (yah tidak berbeda dengan blog ini).

Di bangku SMA aku membuat blog yang pindah-pindah dari multiply, blogspot, bahkan blogsome, dan terakhir tumblr yang ada hingga hari ini (shofiak.tumblr.com, ini pun aku ga tau paswordnya apa, kalo ganti hp niscaya ga akan on tumblr lagi). Saat TPB (mereun, aku juga lupa,) aku baru mulai percaya bahwa ini adalah passsssion! Meskipun sekarang sih aku kembali meragukannya wkkwk.

Hal ini dimulai dari setiap ada ide buat nulis (terutama fiksi), aku langsung merasakan rasa-rasa aneh dalam perut dan dada, mungkinkah ini arti dari peribahasa butterflies in my stomach? Iyak betul! Sampe-sampe pengen senyum-senyum sendiri.

Selain merasakan butterflies, darah yang ngalir ke ujung jari jari tangan dan kaki tuh rasanya dingin, dan aku excited bangettt lalu segera buka laptop, takut idenya ilang. Saking banyaknya butterflies tersebut, aku biasanya malah jadi beneran mules (asli ini mah). Jadi aja kepotong dulu nulisnya. Akhirnya lupa deh.

Ada suatu masa, sebut saja masa blogspot dan tumblr, dimana aku lagi pengen nulis banget, etapi yang bikin males nya–barangkali kamu mau bilang aku jahat atau kaku atau super aneh– yaitu banyak pafolow-folow dengan orang yang dikenal dari temen SD hingga SMA (krn kan pas kuliah udah pindah wordpres), sehingga aku jadi males. Soalnya kalo aku dibuli mereka teh suka bilang, ah entar ditulis di tumblr… wkwkwkw males banget ga dibilang kaya gitu. Ya becanda sih, tapi aku jadi mikir banyak bahwa ada hal yang harus difilter dan ada yang engga. Udah gitu juga aku mau nulis yang rada jahiliyah teh takut. Ya biasalah, takut di judge.

Akhirnya berjalanlah waktu, terkadang ia berlari tapi kadang juga ngesot (naon si pi), dan aku disibukkan oleh kehidupan duniawi. Aku ga pernah nulis di word atau di buku tulis, tetapi hanya di tumblr aja. Aku ngefollow banyyyyak banget akun mulai dari temen sampe fangirl-nya artis artis dan penyanyi holiwood. Alhasil aku ga pernah nulis lagi, karena apa, karena hidup aku penuh dengan reblog-reblog-reblog-dan reblog atau like-like-like-dan like sampe lupa kalo aku punya laman sendiri. Akhirnya tumblr tersebut pun ga ada tulisan aku, kalo pun ada paling kegalauan yang dituangkan dalam satu kalimat doang.

Akupun menyadari bahwa aku membutuhkan suatu akun yang ga ada distraksi apa-apa. Yaitu wordpress, karena mau reblog juga ga se-bagus fiturnya tumblr, dan emang kesannya “nulis banget” gitu. Di tahun 2012 lahirlah blog ini bersamaan dengan akun tumblr baru yang emang fungsinya buat reblog doang. Niatnya ga akan di publish dan buat pribadi doang dan cuman di tempel di twitter dan ig.

Dan betul, menurut standar diriku sendiri, bahwa dengan aku memiliki wordpress ini, kerajinan nulis jadi meningkat. Sampai akhirnya berada dititik ini, dimana aku merasa keren sama orang yang punya target nulis: seminggu sekali, atau sebulan sekali, udah gitu hasilnya bagus dan berguna pula. Well, bahkan aku nahan buat ga nulis seminggu aja udah hebat. Karena nulis di wordpress ini rasanya udah terlalu kebiasaan. Lama-lama aku takut nyampah (padahal udah) dan ga penting bahkan mudhorot. Semoga itu mah pikiran lebay aja.

Aku pernah kepo sama suatu tumblr yang penulisnya hits itu geuning (kamu pasti tau deh), dia aja nulis ga tiap hari banget, dan aku mati-matian nahan biar ga mencet “publish” tiap abis nge draft diwordpress. Baru 2 hari ga ngepost aja rasanya kaya sebulan. Aku merasa bahwa ini bukan hal yang baik sih, entahlah.

Pertama karena aku cukup minder dengan orang lain yang pengalamannya banyyyyak sehingga wajar kalo menulis banyak; seperti cerita traveling, cerita pengalaman lomba, ato foto-foto bagus, atau apalah. Da aku mah apa atuh gini2 aja sebagai anak rumahan. Kedua, ada yang bilang kalau kita harus hati-hati untuk menulis dan jangan ngasal. Lah ini ngasal mulu. Terus aku juga masih kepikiran takut ini tuh pencitraan seperti yang pernah ditulis di sini. Aku bingung sih, ini baik dan bagus diterusin ga yah.. Dan percayalah padaku, nulis di wordpress ini ga butuh effort yang luar biasa sehingga kalo dibilang, “niat banget sih (gabut banget sih) pi ngeblog mulu” oh my god, ini bukan niat, hanya saja rasanya itu sebagaimana kamu kebelet pipis dan harus ke wc….aku juga bukan nulis kaya blogger keren yang pergi ke cafe cafe buat nulis… kadang angkot dan hape pun jadi buat ngepost mah….

Tapi pertanyaan dan pernyataan dalam paragraf terakhir tadi itu ga akan membuat aku berhenti ngewordpress, karena ga bisa aja. Ga tau deng

Terakhir, aku ingin berkata pararunten bagi follower yang menerima email mulu karena aku ngepostnya sering, hehehe

20160716-121658 AM.jpg

The way you&I write #Part1

“You’re what you eat”
sepertinya sangat berlaku bagi siapapun yang nulis. Kaya misal abis baca bukunya sophie kinsella yang kalimatnya sering banget ada: what on earth… why on earth….. lalu ku jadi ikut ikutan pernah nulis kaya gitu. Terus kadang terhipnotis juga gaya nulisnya tere liye, atau sesimpel-simpelnya ketularan sama blog orang lain.

Ada suatu rahasia yang aku jaga sejak masa remaja kira kira umur 16 tahun lah. Sebenernya ga rahasia sih, tapi pengen aja bilang kalo ini rahasia. Yaitu kita akan secara reflek ngikutin cara nulis ornag yang sering chat sama kita/orang yang kita kagumi/tulisan yang berkesan buat kita. Aku mengamati dari hasil sms atau chat-chat dengan orang yang intens chat dg kita seperti grup persahabatan wanita (halah), chat dg orang yang lagi curhat panjang, si doi, atau dosen, yang lama-lama kok bahasanya jadi serupa yaaa.

Paling jelas keliatan akan saling mempengaruhi sih kalo udah chat yang lamaaaaaaaaaaaaaa banget. Contohnya yang satu alay yang satu engga eh lama-lama dua-duanya jadi mix alay dan engga. Aku sadar banget sih waktu jaman dimana tiap hari dan hampir tiap jam pasti smsan sama nida sekedar nanya: mendingan bolos les apa engga? atau tau gakkk si naira ngegunting rambut aku (sumpah emang segapenting dan seababil itu). Lama-lama pas lulus aku sadar bahwa aku ketular gaya ngetiknya nida dan sebaliknya.Tapi yang paling ngaruh itu adalah kesan. Kalau kita berkesan sama sesuatu, maka itu akan digunakan dalam tulisan, meskipun orang itu ga pernah dipengaruhi tulisan kita, bahkan ga tau siapa. Kayak misalnya…….yahgitulah meni harus dicontohin wae..

Kadang juga terdeteksi dari diksi-diksi yang digunakan orang dalam nulis atau ngobrol secara persis dan aku hanya bisa berkata dalam hati: hmmm diksinya seperti kenal yaaaa. Seperti yang sering aku ketik yaaa. Atau juga kadang aku sadar sendiri ooopsss aku mengatakan diksi yang sering dia pakai… atau ooopss ini diksi yang si A tulis *lalu delet tulisan atau berkata: ah bodo amat

Yah begitulah………


7/12/2016 11.27pm.
Masih bingung dengan buku terjemahan timur tengah yang bahasanya begini: si fulan yang bagaikan kurma itu berjalan menuju sungai nil bak seorang ibu merindukan anaknya…… plz i dont get it.