Tempat Tinggal Lucifer

Kau sudah tahu betul bahwa kini para setan senang beranak pinak dan bertelur dibawah kuku kuku manusia. Entah itu kuku seorang selebriti sehabis di manicure, atau bahkan kuku seorang penggali kubur yang sering bermain tanah.

Cara mereka bekerja semakin pintar dan tidak mengenal usia. Anak-anak setan itu menetas kemudian bermain di jari-jari manusia sehingga tangan mereka menjadi gatal dan tidak bisa diam. Adapun obatnya sudah disediakan oleh lucifer, orang tua mereka. Sebuah layar kecil yang sekaligus menjadi tempat tinggal manusia saat senang, sedih, marah, benci. Dunia baru mereka adalah layar yang memiliki julukan “pintar”.

Anak-anak itu kini menjadi anak kesayangan ayah ibu setan. Karena manusia jadi bertingkah tidak biasanya. Tipu daya semakin banyak dan kepedulian semakin mengerucut. Mereka suka akan hal itu.

Seorang suami istri di dunia nyata bisa saja saling tersenyum setiap hari padahal para anak-anak setan berhasil merayu mereka di balik layar kecil pintar itu, agar saling berselingkuh dengan rapi dengan para mantan.

Atau memunculkan iri dengki hasad dan benci di hati-hati para manusia yang berusaha paling hati-hati menjaga hati. Membiarkan kabar-kabar buruk dan gembira saling bermunculan menimpa satu sama lain tanpa tahu bahwa itu hanyalah karangan seorang penulis fiksi yang jahat.

Seorang teman kini tidak lagi memeluk erat sahabatnya yang 5 tahun tak bertemu–karena toh setiap hari kita bertemu dibalik layar, bukan?

Seorang ibu tidak lagi pernah menanyakan “bagaimana sekolah/kuliahmu hari ini?” sementara si bungsu tidak tahu harus bercerita pada siapa saat ia di bully. Anak-anak kecil kehilangan penasehat-penasehat dan teman bermain dari kalangan orang dewasa, sehingga menangis rewel menyebalkan selalu menjadi andalannya. Sementara para orang dewasa sibuk marah-marah mengata-ngatai anak jaman kini yang semakin manja.

Kuharap pasangan-pasanganmu tidak pernah menyimpan rahasia dibalik layar pintar milik anak-anak setan itu. Kuharap ayah ibu kakak adikmu adalah orang yang masih mau bercengkrama menatap mata setiap hari dan bertanya apa yang terjadi setiap hari. Kuharap teman-teman dan sahabat lamamu bukanlah orang yang mendengarmu bercerita padahal mata hati dan pendengaran mereka hanya tertuju pada layar milik lucifer itu. Kuharap orang-orang disebelahmu mau meletakkan layar itu jauh-jauh, karena kau jauh lebih berarti.

Adalah kuberharap, agar beberapa orang yang memiliki masalah pelik mau memotong kuku dan jari mereka, supaya lucifer tidak lagi menyimpan telurnya.

mnb
weheartit.com

Ter-mudah terbaca

Aku membaca novel remaja saat masih kelas 6 SD. Membaca kisah perkuliahan saat masih SMA. Dan membaca peliknya berumah tangga saat masih kuliah. Novel-novel kehidupan itu setidaknya membuatku lebih sensitif atas gelagat dan tatapan orang sekitar. Bagaimana mereka berbicara, berbohong, atau berbasa-basi. Atau memuji, atau merendahkan dalam hati. Sehingga aku bercita cita menjadi seorang detektif atau bagian dari badan intelijen. Ah kalau itu terlalu tinggi, setidaknya, aku ingin jadi psikolog.

Ah bagaimana kalau aku jadi peramal sajalah, yang bisa meramal bagaimana kau benci padaku padahal selalu tersenyum. Bagaimana orang itu tidak pernah peduli padahal sering bertanya kenapa. Marah karena tak pernah kubercerita padahal mendengarpun tak pernah. Atau betapa kesalnya dia saat melihatku lalu memilih pura-pura tidak melihat.

Pun sebaliknya, bagaimana dia terlihat jelas terlalu memberi perhatian. Ada pula yang berbaik hati menolong dan mau berbicara dengan orang sepertiku, yang lebih banyak mengobservasi daripada bicara denganmu. Banyak yang positif, negatifpun lebih banyak lagi. Memberantas penyakit hati dan prasangka memang sulit.

Aku hanya ingin agar kau jangan mudah terbaca. Jangan seperti novel-novel itu. Atau lebih parah lagi kalau kau seperti drama korea. Banyak basa basi dan gelagat aneh padahal kalau mau menuju A B C  atau D tak perlu banyak berakting yang terprediksi.

Kecuali bersikap baik, setidaksuka apapun kau padaku atau siapapun, tetaplah bersikap baik meskipun tidak ingin.

gsrtgf
weheartit.com

Koffie & Zombie

Puisi senja hujan dan kopi adalah teman setia para penyair. Atau pura-pura penyair. Atau perempuan melankolis dan laki-laki penulis prosa. Atau barista. Atau pura-pura barista. Atau para mahasiswa dengan kantung mata hitam–yang tak punya ide syair apa-apa selain kopi.

Aku tidak bisa bicara apa-apa tentang kopi. Tidak ada seorangpun dan suatu memoripun terkait dengannya. Kecuali ayah yang sangat aku cintai yang mencintai kopi. Kopi mengingatkanku akan rasa tidak punya uang dan tidak punya waktu karena berlama-lama menikmatinya di kafe orang yahudi itu. Mungkin tugas akhir oseanografiku ada sedikit hubungan dengannya. Tapi lupakanlah. Mungkin juga orang itu. Tapi lupakanlah.

Kata orang tangguh, kopi itu tidak berguna untuk menemani malam. Jantung mereka malah semakin loyo dan ingin tidur. Bagiku sebaliknya, aku selalu bisa merasakan aliran darah deras disekujur tubuh, terpacu jantung yang sedang berlari 120km/jam dalam dadaku. Aku menikmati jalan pulang sambil memeluk tas erat. Kepala tangan dan kakiku tidak ada rasanya. Hanya rasa darah yang berlomba lari dalam urat-urat nadi.

Biasanya teman-temanku akan menyuruhku tidur dan minum akua galon hingga kembung. Makan nasi hingga gendut. Atau bermain kartu hingga lupa hari. Tapi saat sendiri, aku hanya bisa berjalan dengan kaki-kaki hampa yang sering terantuk batu. Tangan yang memeluk diri sendiri. Mata yang sayu, minus bertambah, dan lingkar hitam menebal.

Zombie-zombie itu kembali muncul dari dalam kopi. Untuk menghilangkan aku.

egtrd
weheartit.com

How to let go

Barangkali aku adalah kebalikan dari para perempuan yang kau idamkan. Aku tidak menyimpan memori. Aku menelannya.

Suatu hari di 22 tahun aku mencoba seperti perempuan lainnya. Mengumpulkan setiap kenangan. Seperti mereka, untuk berharap selamanya, agar terkenang dikenang dan mengenang. 30 menit kemudian aku tak sanggup. Aku menelannya.

Setangkai bunga matahari, bungkus pizza, bahkan gelas kopi bertulis nama, tersimpan rapi dalam sebuah box bertulis namamu. Foto mulai dirapikan dipajang dalam kamar. 7 hari kemudian aku tak bisa lagi. Aku menelan semuanya. Kau heran dan kesal melihat kamar perempuan yang tidak berwarna warni akan kenangan dan barang menyenangkan. Itulah aku.

Aku tahu semua perlahan meninggalkan. Membiarkan semua kenangan tersimpan hanya membuatku terbelenggu akan hal yang tidak pasti. Puisi dan prosa bahkan tidak akan mengekalkanmu.

Jangan harap aku menulis. Kertas surat dan puisi berisi nostalgia, sudah kutelan sampai sakit tenggorokan. Kesedihan dan rasa melankolis, aku tidak seperti banyak perempuan yang sanggup melewatinya. Aku menelannya. Menghilangkannya.

Aku menelannya. Agar semua memori menghilang. Mengalir dalam darah. Menjadi detak setiap hidupku.

Unknown

Aku mencarimu kesetiap sudut kota. Cafe cafe tempatmu biasa berdiam diri dihadapan laptopmu. Juga kesetiap cangkir cangkir kopi dimana kau menyeruput. Terutama tempat-tempat penyendiri. Tetapi tidak lagi aku bisa menemukanmu.

Aku terkadang menyengaja naik kendaraan umum yang kau biasa kendarai. Mulai dari bus kota, angkutan umum, hingga ojeg di depan jalan rumahmu. Jangan salah, aku juga sudah memeriksa rumahmu, kosanmu, bahkan apartemen di tahun pertama kau tinggal dikota ini, semuanya kosong. Aku menghempaskan badanku ke sofa dengan pakaian tidur dan rambut acak-acakan, sambil sesekali menghirup teh manis hangat. Berfikir kemana lagi aku akan mencari.

Ide brilian kemudian muncul, aku segera mandi dan bersiap. Aku menuju setiap kantor kecamatan tempatmu pernah tinggal, lalu ke dinas kependudukan, atau kalau nihil, aku akan ke petugas migrasi bahkan imigrasi.
___________________________

Sore ini aku sudah duduk diberanda rumahku. Tersenyum puas akan hasil yang kudapat hari ini. Aku tahu dimana kau berada. Kau tidak ada disatupun data kecamatan, bahkan dinas kependudukan di kota kecil ini, apalagi dalam catatan imigrasi dan migrasi. Aku sudah juga ke tempatmu kuliah, namamu tidak pernah tercatat sebagai mahasiswa, lalu mengapa kau mengaku?

Aku akhirnya menelusuri isi kepalaku. Ternyata keberadaanmu adalah tidak ada. Tidak disini, tidak di masa laluku, tidak dimasa depanku, tidak pernah pula dihatiku, apalagi anganku.

20161204-012113 PM.jpg

Pride & Prejudice

Aku mengaduk segelas air putih dihadapanku. Kenapa sebuah air putih mesti diaduk? Karena aku sedang tidak ada kerjaan saja. Terlebih, aku sedang menunggu taksi yang tadi telah dipesankan temanku. Sekarang mereka semua sudah pulang sehabis kami menghabiskan 2 jam untuk mengobrol.

Aku merasa sedikit kekosongan saat mendengar cerita mereka. Aku sudah genap setahun lulus dari kampus yang sama dengan mereka, tetapi kehidupan kami jauh berbeda. Aku masih hanya berbisnis kecil (sangat kecil) di online shop saja. Mereka? Ada yang sudah menikah dan suaminya kaya, ada yang bulan depan akan berangkat kuliah lagi ke New Zealand, ada juga yang baru naik pangkat di sebuah perusahaan asing, dan ada yang bisnisnya sudah melesat.

Mereka memesan kopi seharga diatas lima puluh, lalu aku hanya bisa membeli segelas air putih. Ah, haha, tentu tidak. Itu bohong. Karena aku juga memesan pizza seharga yang tidak perlu kusebut.

By the way, Ingat temanku yang tadi kubilang sudah menikah? Dulunya ia perempuan yang bisa dibilang, terlalu sering berpacaran. Pergaulannya sudah tidak bisa kuceritakan lagi karena memang sangat mengikuti zaman. Kukira wajar jika ia cepat menikah (mungkin kau mengerti maksudku).

Lalu temanku yang akan berkuliah, ia tipe orang yang terlalu ambisius. Semasa kuliah, ia selalu menyabet nilai tertinggi. Sayangnya, ia terkesan sombong karena tidak pernah berbagi ilmu dengan kami. Dia juga tidak pernah ada di acara-acara komunitas jurusan kami. Selalu langsung pulang–atau entah kemana kecuali belajar. Wajar kalau sekarang dia ingin lanjut kuliah.

Ah, sebentar, taksiku sudah datang. Aku melesat keluar restoran setelah membayar billnya, karena aku ingin cepat sampai rumah. Ada hal yang harus segera kuatasi. Setelah aku duduk, aku akan lanjut bercerita.

Baiklah, temanku yang ketiga, ia memiliki paras yang rupawan dan tubuh tinggi tegap. Pria idaman semua wanita. Aku juga menyukainya, hanya saja bukan tipeku. Mengerti, kan? Kaupun pasti sering menemukan yang seperti itu. Ia juga wajar saja jika cepat naik jabatan mengingat kondisi fisik yang mendukung. Beruntung sekali. Kemudian temanku yang terakhir, memiliki bisnis melesat. Ah, kuberitahu sebuah rahasia, ia orang yang agak “mistis”. Segala permasalahan ia selalu keluhkan pada kakeknya yang seorang dukun–atau apalah itu namanya. Barangkali ia menggunakan magic dan kekuatan jin untuk memperkaya dirinya. Wajar saja, sangat wajar.

Tiba-tiba teleponku bergetar, sebuah pesan. Ibu!

Cepat kerumah sakit, kondisi kakak semakin parah. Siapin juga uang berobat.

Jantungku hampir berhenti. Urusan yang tadi kubilang genting, adalah kakakku yang sudah sebulan ini sakit. Dokter bilang itu leukimia, aku kebagian merawatnya sore ini.

Aku panik. Uang berobat sudah kuhabiskan untuk pizza mahal-sialan-tadi. Dan juga, oleh taksi ini!

Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau bisa kabur dan menghilang, aku ingin!!


Epilog:

Teman yang pertama, menikah karena dijodohkan orang tuanya. Sempat menangis sepanjang Agustus.

Teman yang kedua, tidak pernah aktif di kampus karena bekerja sampingan dikala kedua orangtuanya sakit. Kini ia bersekolah lagi karena sisa uang beasiswanya akan dipakai untuk sekolah adiknya.

Teman yang ketiga, bekerja penuh tekanan dan kuat mental.

Teman yang keempat, bisnisnya ternyata sudah mulai sejak tingkat satu semasa kuliah. Ia tidak melesat. Tapi memang berkembang.


“There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil, a natural defect, which not even the best education can overcome.”
“And your defect is a propensity to hate everybody.”
“And yours,” he replied with a smile, “is wilfully to misunderstand them.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Sebagai seorang manusia, wajar kalau pikiran buruk banyak muncul. Sebagai manusia, wajar juga kalau memaklumi satu sama lain dan tidak tutup mata atas apa yang tidak terlihat. Maka jadilah manusia. Yang pikirannya ga negatif.

IMG_6627

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Overthinking kills

Teriakan paling memekakkan telinga dialami digelap malam. Saat lampu satu persatu dimatikan. Hanya alunan pelan dari detik jam dinding yang terasa, juga cicak cicak yang sesekali menyuarakan perut lapar mereka. Atau kodok yang bernyanyi di kolam depan. Atau juga suara hening. Tahu kan apa itu suara hening? Ya, suara yang kita dengar saat diam. Tidak bisa kujelaskan, karena kalianpun mengerti.

Aku mulai memejamkan mata pukul 11. Siang hari melelahkan membuat badan hanya ingin berbaring. Tapi betapa kepala selalu tidak tahu waktu. Satu persatu kejadian ia tayang rekamannya, dalam mataku yang masih terpejam. Memperlambat waktu yang paling mengesankan. Waktu yang paling ingin kuhapus dan dilupa. Lalu rekaman percakapan, mengulang ulang terus perkataan yang menyentuh tapi menyakitkan. Mengulang juga literasiku yang tidak seharusnya kuucap.

Juga tatapan dan wajah wajah silih berganti muncul mengesankan perasaan mereka. Setiap waktu hari itu diperlambat tiap sekonnya. Apa yang harus dan tidak harus dikatakan, dilakukan, atau ditunjukkan, ia diktekan. Antara gila dan wajar rupanya beda tipis saat gelap dan hening seperti ini. Kalau sedang sangat buruk, barangkali air mata hanya menambah jelek suasana.

Bisakah kau diam? Tanyaku kepada kepalaku. Bernegosiasi memohon ingin menumpah lelah pada lelap. Berkali ia katakan: mengerti, aku akan berusaha diam, ah tapi itu hanya agar aku bahagia sekejap saja. Karena selanjutnya tayangan lain bergantian bermunculan kembali, menyisakan sesal dan bersalah dengan rasa berbeda. Terkadang jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, darah lebih deras, mata lelah semakin sakit saat terpejam, saat segala ketakutan bermunculan seperti ini.

Isi kepalaku seperti tidak bisa berkompromi, jangan jangan ia bukanlah bagian dari diriku? Apakah suatu makhluk memasukinya dan mengeluarkan kecemasan, takut, kemarahan, dan perasaan buruk dengan tidak terkontrol? Karena ini bukan mauku!

Sayup sayup ayat suci dari masjid lalu terdengar. Rupanya benar, aku tidak tertidur malam ini. Rasanya baru beberapa menit memejam mata, tapi mengapa fajar sudah hampir tiba?

Suara suara dari masjid semakin berkumandang sana sini. Pikiranku mulai sedikit terkendali. Adegan adegan dan suara yang berputar perlahan memelan. Manusia sering lupa, bahwa segala ketakutan dan kecemasan sejatinya hanya bisa dipasrahkan pada-Nya. Tidak perlu berpikir terus hingga hampir gila. Tingkahku malam tadi, seolah aku ini tuhan pengendali takdir dan waktu.

Segala gelisah akhirnya menguap bersamaan dengan pendengaranku yang menangkap suara dari masjid-masjid. Akhirnya aku bisa terlelap pulas, tanpa sempat mendengar adzan shubuh.

Kau tahu? Malam seperti ini adalah jelmaan iblis agar manusia tidak mendengar panggilan Tuhannya saat fajar tiba, agar lupa bahwa segala kecemasan dan kekosongan ada Dia yang menenangkan.

Perempuan Di Balik Jendela

Kurang lebih sudah 10 tahun kamu selalu berdiri di balik jendela tempat tinggalku. Aku ingat betul, setiap hari Kamis pukul 10, kau selalu berpijak disitu hingga pukul 10.30. Lalu pergi. Aneh sekali.

Tahun-tahun pertama, kamu datang bersama dengan tangisanmu dan teriakanmu akan namaku. Kukira kau sudah gila sehingga aku hanya menertawakanmu dari dalam sini, dan enggan menemuimu sedetikpun. Lebih tepatnya barangkali aku sudah muak. Tangisan dan teriakanmu tidak mampu membuatku lupa bagaimana kau meninggalkanku demi hidup bersama lelaki tua-kaya-raya itu. Padahal kau sudah janji selalu bersamaku, sehidup semati.

Lama-lama, aku luluh juga. Itu butuh waktu 9 tahun, hingga tahun lalu aku berhasil memaafkanmu. Meski kau perempuan, tetapi kau sangat setia–lupakan lelaki tua yang barangkali sudah tiada itu. Aku tidak tahu apakah hubungan antara “perempuan” dan “kesetiaan” itu berbanding terbalik sehingga aku mengatakan “tetapi” seperti kalimat tadi. Tapi rasanya cocok saja. Aku jadi lupa mengapa dulu aku sempat membencimu setengah mati.

Sudah pukul 09.00 hari Kamis, tahun 2016. Genap sepuluh tahun kau menemuiku. Aku bersenandung riang sambil menyisir. Aku sudah mandi, berpakaian bagus, dan menyemprotkan minyak wangi. Membayangkan kau datang lagi pukul 10.00 sambil membawa sekotak brownies kesukaanku seperti minggu kemarin membuatku ingin tersenyum sampai menangis. Kau harus mengerti, kadang terlalu senangpun membuat kita ingin menangis.

Lalu Jhony menghampiriku tertawa, meledekku yang sedang mengusap tangis. Ah kasihan, dia tidak mengerti.

Benar! Pukul 10 lewat 6 detik kau sudah disitu sambil melambaikan tangan dengan sumringah.Senang sekali melihatmu senang. Aku jadi ingin tertawa sekaligus menangis lagi. Kau menyuruhku mendekat. Kemudian menunjukkan secarik kertas padaku dibalik kaca,

Aku punya kejutan! tulisanmu begitu rapi.

Aku menggerakkan bibirku, apaaa? kataku tak sabar, sambil sedikit memukul jendela. Paling ia akan memberiku brownies, atau kopi, atau bunga?

Kamu terlihat memanggil seseorang, lalu lelaki muda berkemeja garis-garis datang, berdiri disebelahmu sambil tersenyum dan menundukkan kepala padaku–maksudnya ingin salam. Apa maksudnya? Siapa dia? Aku bertanya-tanya sampai kamu akhirnya menulis lagi,

Aku akan menikah, restui kami ya

Aku tidak bisa menjawab apa-apa, seperti kehilangan kesadaran. Aku membaca tulisan itu berulang-ulang. Kau melambai-lambai tanganmu menunggu jawabanku. Lelaki sialan itu malah tersenyum penuh kemenangan.

Aku lalu menggeleng kepala. Tidak bisa. Tidak mungkin. Apa artinya 10 tahun ini kita selalu bertemu? Apa artinya hadiah-hadiah yang selalu kau berikan padaku? Apa artinya aku selalu berdandan rapi setiap Kamis pukul 10? Apa artinya tawa dan tangisku selama ini yang hanya untukmu?

Perlahan, aku melihat lengan kananku. Ah, sakit sekali, tapi terkadang sakit fisik itu kita butuhkan agar lupa akan sakit yang didalam sini. Aku kehilangan akal sehat. Seperti akan gila. Sebuah cutter yang selalu kuselip dibalik celana akhirnya sudah menyentuh tangan kananku bahkan sudah memotong 1-2 urat. Jhony kulihat sedang sibuk mengobrol dengan dinding. Ah, ia memang gila.

Sementara kau dan orang itu, memukul-mukul jendela. Berteriak memanggil dokter. Kalian menangis. Aku terjatuh lemas dan tertawa. Kunci rumahku hampir terbuka oleh seseorang yang kau panggil ia dengan sebutan dokter, kemudian aku melihatmu lagi, sedang menempelkan secarik kertas,

Berhenti, Ayah! Kenapa harus bunuh diri?

Sebelum kesadaran menyergap sempurna, aku terlanjur tak sadar.

Jalan Riau no. 11, Bandung

tumblr_nd0abiZyux1tchrkco1_500

Epilog:

Hari ini harusnya jadi hari kebahagiaanku, yaitu hari dimana aku meminta restu ayah dan ibu untuk menikah. Kau tahu? Ibu seperti sudah tidak peduli lagi–sibuk bersama adik-adik yang merupakan saudara tiriku. Ia kaya sekali dan sangat berbahagia. Sampai-sampai tak pernah menanyakanku, apalagi mengunjungi ayah.

Kau tahu? Saat meminta restu ayahpun hasilnya tidak bagus. Ia malah mencoba bunuh diri. Setelah ayah pingsan, lalu aku mengobrol dengan dokter. Katanya, ayah melihatku seperti melihat ibu. Wajah kami memang mirip. Tapi rupanya meminta restu darinya sama saja memunculkan perasaan sakit seperti saat ibu pergi dulu.

Apakah kau tau? Aku sangat bingung. Mengapa hidupku selalu seperti ini sejak aku kecil–aku ingin ayah dan ibuku yang dahulu, 10 tahun lalu. Aku jadi ingin berdiri terus sepanjang hari disini. Di rel kereta api.

“Deserve”

Bandung, 2001

Betapa egoisnya aku, baru kusadari saat kau berubah sikap. Lalu kau menaruh sepucuk surat di bukumu yang kau masukkan dalam tasku. Terlihat tulisan tanganmu dengan tinta merah muda: Aku lelah, apakah harus selalu aku yang menunggu? Apakah aku yang harus selalu mengejar? Apakah aku yang harus selalu memberi kejutan? Apakah aku yang harus selalu mementingkan urusanmu, tapi sialnya, kau tak mengenal diriku? Aku tidak suka berbasa-basi. Segera sesampainya dirumah, kutekan nomor telpon rumahmu. Kalau kau bertanya padaku berapa nomornya saat aku tidurpun–aku bisa menjawabnya. Terlalu hapal. Hampir genap 4 tahun aku selalu memenceti tombol itu setiap harinya.

Rupanya memang, sudah saatnya kau perhitungan akan segala pengorbananmu padaku. Aku empat tahun ini selalu tersenyum saat kau tiba di depan rumah membawa bonsai-bonsai kesukaanku. Tapi apakah aku pernah kerumahmu untuk membawakan nasi goreng kesukaanmu? Aku empat tahun ini selalu tertawa setiap kau berikan komik-komik lucu terbaru. Tapi apakah aku tahu betapa kau menyukai komik-komik detektif? Kau juga mengajariku matematika setiap ulangan, tapi apakah aku peduli bahwa esoknya kau akan ulangan fisika dan sudah remedial 3 kali? Telpon darimu kubiarkan menggantung bersamaan dengan kesadaran-kesadaran ini. Bahwa tidak satupun, aku mengenal dirimu. Bahwa tentang diriku, kau sudah hapal segala jalan pikiran dan semuanya.

Tiga belas menit setelah kau menutup telepon, aku hanya termangu menyadari betapa aku memang jahat dan egois. Hanya ingin disenangkan, tanpa mau menyenangkan. Kukira kamu wajar membenciku, karena yang kau berikan padaku selalu pengorbanan. Tapi kau tak pernah berbahagia.

Tunggu, apakah perhitungan itu perlu bagi orang yang saling mengasihi? Jika tidak, maka aku tidak apa-apa. Ini bukan masalah apa-apa. Karena ini, tidak pernah jadi apa-apa.


layaknya seorang ibu dan ayah yang tak peduli anaknya akan membalasnya atau tidak, mengingatnya atau tidak, memperdulikannya atau tidak.

11.07 8/5/2012

 

Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg