Breadegg #recipe

Ini adalah sebuah resep nenek moyang kami. Biasanya kalau pagi pagi lagi ingin, maka aku membuat sarapan dengan ini. Pada dasarnya ia terbuat dari roti dan telur. Kalau kamu tahu cara bikinnya, mungkin kita memiliki nenek moyang yang sama.

Bahan yang diperlukan hanyalah:

1. Roti 2. Telur 3. Susu/kopi 4. Gula dan garam

Sangat mudah kan????

Caranya hanyalah begini:

Potong bagi empat roti tawarnya. Jumlahnya sesuaikan saja. Buat satu telur bisa 4 slice roti tawar biasa atau 2 slice roti gandum.

Kemudian di mangkuk terpisah, siapkan telur. (Harus pisan ada gambarnya)

Karena dirumah adanya susu bendera, maka aku buat segelas kecil susu. Biasanya kalau vavorit aku adalah pake cappucino atau kopi kopi instan. Biar rasanya kaya roti boy heuheuheu. Kemudian susu/kopinya masukkan ke telur.

Di gambar atas terlihat ada keju kenapa? Karena iseng aja hehe. Boleh pake boleh engga sesuai selera. Kalau bisa pake kejunya yang melt. Kalau engga nanti susah dipanasinnya.

Maaf ya kalau minim karena ini dari hp. Masukkan sedikit garam dan gula sesendok makan kedalam adonan telur dan susu yang udah dikocek.

Siapkan api yang kecil dan penggorengan yang sudah ada menteganya. Lalu satu persatu rotinya masukin ke adonan telur susu. 

Begitulah penampakan miringnya ketika semua roti sudah direndam telur dan segeralah masukkan ke penggorengan dengan api super kecil. Agar supaya adonan telur di dalam roti juga ikut matang.

Karena lama, kamu bisa nunggu sambil cuci piring. Atau kalau seperti aku yang ga sabaran, tutup ajalah biar cepet panasnya.

Jika sudah matang dan sudah dibulak balik maka angkatlah. Sudah jadi!! Tinggal tambahkan topping suka2 seperti eskrim atau apalah. Karena maklum abis pindahan, jadi yang aku bikin hanya pakai cokelat dan keju ajah.

Meski keliatannya biasa aja tapi kalau kamu bisaan masaknya maka enak tau! Ini adalah makanan yang sejak sd hingga hari ini aku sukai. Karena gampang dan ga membosankan. Bisa eksperimen juga susunya diganti dengan apa aja. Seperti matcha, kopi, dan varian rasa lainnya. Semoga bermanfaat.

Tujuh juli.

10 tahun lalu aku memberikan ayah sebuah kado ulang tahun berbungkus kado merah. Sebuah buku berjudul: Dilarang Merokok! Bukunya sekecil bungkus rokok juga setebal bungkus rokok. “Ayah harus baca yah!” Kataku saat itu. Ayah hanya ketawa dan mengiyakan lalu mengambil buku kecil tersebut.

Hari ini aku memiliki perspektif lain terhadap ayah dan rokoknya yang membuatku tidak pernah membenci perokok. Bukan berarti aku suka, bahkan jika ayah berhenti merokok aku akan sangat senang!

Rokok ayah dimataku adalah gambaran perjuangan ayah. Sejak kehidupan ayah waktu muda yang tidak mudah, lalu menikahi mama dan menghidupi kami yang semuanya sama sekali tidak semudah apa yang kutulis.

Terkadang saat aku beresin meja ayah dan menemukan puntung rokok yang bertumpuk, yang kubayangkan adalah bagaimana ayah sering begadang, membaca buku-buku berbahasa segala macam. Terkadang membaca tafsir, terkadang mekanika, terkadang mengonsep ngonsep sesuatu dilaptopnya. Dan ayah melewati itu semua dengan rokoknya.

Entahlah, ga bisa berkata banyak, aku benci rokok ayah karena membuatku sedih, bahwa dengan melihatnya aku jadi melihat segala perasaan dan kesulitan ayah demi membahagiakan kami! Selamat ulang tahun ayah! Xoxo!

–Draft 7 Juli 2016, 11.13AM

 

:) :) :)

Sebagai generasi 90an memang kadang enak sekali untuk menjudge para remaja masa kini yang “beda” dengan kita. Jaman sekarang, ada anak SD bunuh diri karena putus cinta, anak SMP dan SMA yang pergaulannya ga terkontrol, dan sebagainya. Dan si anak-anak 90an (ga ngaca) bisanya nulis-nulis notes di fb aja marah-marah liat kelakuan anak sekarang. Maunya mah mendengar kaya gitu tuh yaudah ga peduli aja. Tapi berhubung aku punya adik–Naira yang masih bisa dicubitin itu, mau ga mau hal tersebut jadi kepikiran.

Memang, yang namanya “kaderisasi” (kalo dikampus mah) itu bukan hal yang sepele dan tidak mudah dilakukan. Bahkan dalam surat 4:9 juga Allah menyuruh orang muslim untuk “jangan meninggalkan generasi yang lemah dibelakang”. Mnegaskan bahwa menjaga nilai untuk generasi selanjutnya adalah wajib. Bahkan Rasul aja di akhir hayatnya nangis mikirin ummatnya sepeninggalnya.

Jadi kalau dicari salah siapa adik-adik kita seperti itu mungkin salah satunya karena generasi didepan mereka kurang menguatkan. Atau jaman yang semakin jahat dan kita sulit beradaptasi.

Kalau di bilang parah, emang makin lama dunia ini makin kejam untuk jiwa jiwa muda yang masih “ummi”. Jaman sekarang disuguhi berbagai kemudahan yang bikin malas, bocah-bocah sukanya main tab mulu, tabnya ada internet dan gampang akses apa aja, dsb. Bagi kita mah itu ga masalah da udah ngerti. Tapi anak kecil yang penasaran, mereka bisa melakukan apapun untuk ga penasaran lagi (wel aku ngomong gini karena liat Naira dan ponakan-ponakan juga)
Pernah juga aku kaget pas liat tab nya keponakan, masa game nya ada yang aga porno gitu. Bukan sepenuhnya salah anaknya, tapi dia mah ga ngerti dan asal download aja. Dia juga ga tau itu porno apa bukan, baik atau engga. Ga kaya kita yang udah tau bener dan salah.

Semakin jaman bertambah tua sepertinya semakin kelihatan, yang dibutuhkan manusia bukan hanya skill bahasa inggris sejak balita, matematika pake sempoa (eh udah ga jaman deng), belajar menggambar sampe jadi pelukis, atau belajar musik sampe ikut indonesian idol. Tapi yang terpenting ditanamkan anak muda seperti Naira adalah pemahaman dan karakter. Supaya tidak mudah terbawa jaman yang semakin menjauhkan kita dari apa yang seharusnya kita peluk erat sehingga menjadi perilaku.

Yah jadi ini tuh hasil ngobrol sama Siti sore sore bulan kemaren (lama amat ya). Kalo ngomongin kaya gini, mau mikirin masalah diri sendiri lainnya tuh kaya “naon sih pi”. Ada hal lebih besar dan berat yang jadi PR muslim sedunia.
Pertanyaannya adalah : terus kita harus ngapain?

Yah tapi sebenarnya excuse bisa banyak muncul dan beranak pinak untuk meniadakan masalah ini. Seperti, ‘lah gimana dong aku aja masih ga bener’

20160412-062330 PM.jpg

The 13th Friday; May Day; My Day

20151114-030949 PM.jpg
I dont have to party for every-13th November then.

Sejak aku menonton nobita, sejak aku tahu 13 adalah sial, aku jadi selalu merasa tidak beruntung. Semua keinginanku yang tidak tercapai sudah aku relakan mengingat kapasitas diri yang sudah terlalu sadar diri. Tapi akhirnya semakin besar aku semakin mengerti.
Terima kasih Allah sudah mempercayakan 22 tahun ini untuk dinikmati. Semoga sisa umur nanti bisa dipertanggung jawabkan setiap detiknya.

20151114-031700 PM.jpg
Terima kasih sangat untuk teman teman yang mendoakan; karena aku telah menghapus setiap 13 November disetiap media sosial; dan kalian masih ingat itu^^

Perjalanan Pulang

Sebenarnya, kalau boleh jujur, ada hal yang paling menakutkan dalam menjalani kehidupan ini. Yaitu bagaimana caranya agar kita dapat berinteraksi baik dengan manusia lainnya. Aku cuma ingin bilang omong kosong bagi orang yang alim tapi hubungan dengan manusianya buruk. Seperti bagaimana Islam yang digambarkan dalam film-film barat; terkesan menyucikan diri sendiri tapi evil banget terhadap orang lain. Enggak, Allah SWT ga pernah menyuruh kita kaya gitu. Entah deh agama apa yang mereka berusaha gambarkan, tapi jelas itu bukan Islam.

Bahkan sebenarnya amalan-amalan kita yang “langsung” untuk Allah SWT hanyalah sholat dan puasa (cmiiw). Selain itu, seperti infaq, sedekah, dakwah, zakat, idul adha, dan lainnya merupakan amalan yang membutuhkan bantuan manusia lain dalam mencapainya dimana orang lain akan mendapat kebaikan dari amalan tersebut.

Sering sekali dalam Al-Qur’an Allah berfirman bahwa Ia akan bersedia mengampuni dosa-dosa kita sebeesssssssssssar apapun selama kita mau bertaubat. Tapi jika kita punya dosa sekecil biji zarrah kepada manusia? Allah hanya akan memaafkan selama orang yang disakiti sudah memaafkan pula. Hayoh hitung udah segimana banyaknya manusia yang harusnya kita minta maaf padanya…

Ghibah contohnya. Kita tidak akan berhasil suci dari dosa ghibah selama kita belum pernah minta maaf terhadap orang yang di-ghibahi. Atau hutang. Seberapa kecilnya utang, kalau belum dibayar, maka akan terus menjadi penghalang kita sampai di akhirat kelak. Atau juga kisah mengenai perbandingan antara orang yang terus menerus sholat dengan orang yang selalu mengantarkan makanan untuk orang sholat. Siapa yang lebih beruntung diantara mereka? Yaitu orang yang mengantar makanan untuk orang sholat. Karena selain mengingat Allah, ia juga telah menolong sesamanya.

Aku jadi merasa takut sekali dengan obrolan kita mengenai ini; ya, malam ini aku dan seorang teman seni rupa bicara banyak hal mengenai banyak. Salah satunya ini. Aku merasa nol besar dalam menjalin hubungan baik dengan manusia. Maaf  😦

Buka

20150702-062808 PM.jpg

Saat kamu bukber diluar, ingatlah kasian mama dan ayah yang bukbernya cuma berdua dirumah.
Alhamdulillah akhirnya hari ini kami bisa bukber fullltim bersama keluarga, setelah berhari-hari kebanyakan bukber sama temen.

Junior High School

7 tahun lalu, kami pernah dipanggil kepsek. Diancam berbagai hal karena sudah kelewatan. Akhirnya kami semua menangis sambil bersihin wc dan ngepel selasar sekolah (antiklimaks bgt ya). Kami bersyukur karena ternyata sanksinya hanya bersihin sekolah.

Kami juga sering hujan-hujanan, membuat penumpang angkot saat pulang jijik melihat kami yang jibreg.

Kami sering tertawa diangkot pulang, dan membuat penumpang lain ikutan tertawa.

Kami juga sering main air saat waktu sholat. Membuat kami sering disindir setiap apel penutupan.

Meski begitu, kami juga senang berbagi cerita dan menulis diary.

20150613-115143 AM.jpg

Akhirnya kami dipertemukan kembali…
Selamat tinggal masa lalu yang suka disindir wakasek, sekarang kita udah pada mau lulus! (Taun depan deng)(aamin)

Take me away

Draft Kamis minggu kemarin

Hari ini, entah sampai kapan, rasanya aku ingin sekali meninggalkan bandung. Bahkan menghapuskannya jika aku tuhan. Setiap sudutnya, kini selalu berhasil membuatku kesakitan. Sepanjang jalan pulang, seluruh kota rasanya sedang menertawakan dan melihatku dengan iba. Bukan tentang manusia, tapi tentang memori dalam setiap langkah dikota ini. Aku tidak pernah tahan dengan perjalanan. Kanan-kiri-depan-belakang, semuanya memori kebahagiaan. Namun kau tentu paham, kebahagiaan adalah kefanaan. Sekali dalam seumur hidupku, hari ini aku terlalu benci bandung. Oh, bahkan aku sekarang bisa mengucap kata itu; benci. Maafkan aku. Maafkan. Ini tulisan yang terlalu jelek untuk sesuatu yang dulu aku sangat cintai. so so so sorry i was drunk

Our real boss.

Kalau disuruh milih mau jadi guru apa jadi dosen, aku milih jadi dosen aja.

Menjadi orang dewasa diantara anak-anak adalah beban tersendiri. Seperti halnya kemarin saat aku mengajari mereka matematika. Mereka ialah anak kelas 6 SD Islam yang full day school. Aku pernah seperti mereka dengan materi pelajaran yang hampir sama (karena sekolahnya juga berlandaskan hal yang sama) jadi aku mengerti apa yang sudah mereka pahami dari bersekolah selama 6 tahun di sekolah yang setiap harinya dibahas mengenai orientasi hidup yang harus ke akhirat. Kemarin ada yang bertanya,

“Teh kenapa pake celananya kaya gitu?”……………………………omg gimana gak malu di’nasehatin’ sama anak kecil. Btw aku pake celana jeans mayan skinny meski ga ngetat amat. Kemudian aku berjanji tiap sabtu bakal pake rok aja, biar mereka ga bertanya-tanya mana benar mana salah. Kan sayang kalau mereka udah diajarin hal-hal yang benar tapi aku malah mencontohkan yang gak baik.

Beberapa bulan lalu aku pernah makan bareng keluarga, dan disebelah kami ada ayah-ibu-anak balita. Mereka lagi makan juga, namun ayah dan ibunya sedang ngobrol lumayan ricuh. Si anak kecilnya tiba-tiba teriak, “Ih diem! Kalau lagi makan kan gak boleh ngobrol!” Orang tuanya tersenyum, lalu mengangguk angguk. Dan diam.

Sebenarnya aku lebih kasihan sama Naira, adik bungsu yang sekarang udah menginjak usia SD. Waktu kecil, ia sering protes kalau apa-apa yang aku lakukan gak sesuai dengan materi yang dia dapet disekolah. Misalnya kerudung yang transparan, atau makan sambil berdiri, ngomong yang gak pantes, daaaaan banyak banget yang lainnya. Rasanya selalu aja ada yang ngingetin kalau aku salah. Tapi karena aku terlalu sering nggak sesuai dengan koridornya Naira mungkin dia jadi capek dan…………..yaudah.

Pernah juga Naira mengatakan suatu hal yang ga pantes, pas ditanya dapet kosa kata dari mana, ternyata dapet dari Mbak (‘baby sitternya’ dulu). Kan kasian.

Sayangnya lagi, ternyata ‘hal-hal baik’ yang sudah ada dikepala mereka, yang para guru susah payah menanamkan kedalam pemahaman dan hati mereka, akan mudah terkikis dengan melihat contoh-contoh ‘orang dewasa’ yang tidak sesuai. Apalagi kalau orang dewasanya yang mereka segani.

Makanya kenapa aku lebih milih jadi dosen, biar kalau aku salah, mahasiswa nggak akan menjadikan itu sebuah contoh. Lagipula diusia ‘mahasiswa’ seharusnya mereka udah punya ideologi masing-masing yang ga bisa kita judge baik atau buruknya (nanti disangka ga toleran).

yaudah tidur dulu deh soalnya besyok mau kuliah syelam…………………………