Pengecualian

Setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan membuatku berfikir bahwa semesta selalu mengecualikan aku. Aku adalah tidak ketika semua orang adalah iya. Aku adalah pergi saat semua orang datang. Aku adalah setiap kebaikan yang menjadi debu. Aku adalah setiap jahat yang selalu teringat. Aku juga kau saat kau tidaklah aku.

Akhirnya aku menyadari. Akulah yang mengecualikan aku. Akulah yang berjalan sendiri ke lingkaran sendiri. Hilang sudah semua kecuali diri.


draft 5/11/2017

Advertisements

Good Mourning?

Hidup kita sekarang ini bukan lagi disurga, sehingga kesulitan dan kesusahan kerap terjadi. Dengan itu terkadang kita merasa jadi “centre of the universe” –yang mana merasa diri paling malang sedunia aherat, merasa paling pantas mengeluh dan ngejudge bahwa orang lain ga paham apa yang kita rasakan–. Jika itu terjadi agaknya kita harus belajar berlapang dada dan menyadari bahwa centre of universe itu matahari, bukan kita (hehe kzl).

Menangis dan berkeluh kesah adalah hal yang sangat manusiawi. Toh ini masih didunia yang hidupnya bagaikan roda, yakni atas bawah ganti-gantian namun tetap semua berakhir pada kematian. Sebagai muslim tentu kita meyakini adanya hari kebangkitan meskipun kita belum melihatnya. Karena kalau kita bisa melihat artinya kita udah mati.

Tetapi galau karena hidup juga dilarang berlebihan, dalam Islam. Seperti saat kita putus asa banget sampe ingin mati, janganlah berdoa untuk cepat mati karena itu dilarang, apalagi bunuh diri. Atau saat kita ditinggalkan, meraung-raung sedih justru memperberat beban yang meninggalkan. Disini kita dituntut untuk berlapang dada dan ikhlas, menyadari bahwa Allah memiliki rencana lain yang lebih indah tanpa kita ketahui karena keterbatasan pandangan kita.

Mengimani Qodho dan Qodar mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang kuat dan memiliki motivasi hidup yang tidak habis, karena motivasi kita adalah Allah SWT. Kalau motivasi hidup kita harta, maka saat miskin kita akan sangat sedih bahkan bisa jadi penjahat. Kalau motivasi kita adalah manusia, maka saat ditinggalkan kita akan putus asa. Tetapi kalau kita percaya sama Allah,mau kita senang/sedih/susah/gampang, itu jadi ga masalah selama Allah jadi tujuan. Menangis boleh, karena bahkan saat Ibrahim, putra Rasulullah meninggalpun, Rasul menangis, tetapi beliau tidak meratap dan berkata-kata berlebihan.

Ada baiknya kita berhenti mengeluh, berhenti ngelamun liatin ujan, dengerin lagu-lagu galau sambil dimasukin ke hati, atau bahkan marah-marah saat takdir lagi ga sesuai harapan. Mungkin usaha kita masih kurang, atau Allah ingin kita mengeluh padaNya, atau Allah punya rencana lain.

Apapun hasilnya, bagaimanapun akhirnya, selalu positive thinking adalah hal yang baik untuk mindset kita. Dan segala puji bagi Allah, yang sudah menyuruh “iman pada takdir” pada umat Islam, sejak aku ga paham takdir itu seperti apa sulitnya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).

Dari Abu Umamah r.a, “Bahwasanya Rasulullah saw. melaknat wanita yang merusak wajahnya, yang mengoyak-ngoyak bajunya dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri.” (Shahih, HR Ibnu Majah [1585], Ibnu Hibban [3156], Ibnu Abi Syaibaj [III/290] dan ath-Thabrani dalam al’Kabiir’tf [775]).

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya, serta yang berteriak dan berkata : ‘celaka dan binasalah aku” (HR Ibnu Majah : 1/505, Shahihul Jami’ : 5068)

Rasulullah bersabda, “Orang yang suka meratap, jika tidak bertaubat sebelum matinya, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari tir dan baju besi yang berkarat”

Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)

Sumber inspirasi: Ringkasan Riyadhush Shalihih
(Penyusun: Imam Nawawi, Peringkas: Syaikh Yusuf An-Nabhani)

Processed with VSCOcam with b1 preset

 

Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Pelupa

 

Jadilah hamba Allah yang kuat karena musuh kita Azazil Iblis sudah bersiap untuk jadi yang sangat kuat sejak Nabi Adam turun. Kalau melawan diri sendiri sudah selalu menangis dan lupa bersyukur, bagaimana bisa melawan hal diluar diri?

Tempat Tinggal Lucifer

Kau sudah tahu betul bahwa kini para setan senang beranak pinak dan bertelur dibawah kuku kuku manusia. Entah itu kuku seorang selebriti sehabis di manicure, atau bahkan kuku seorang penggali kubur yang sering bermain tanah.

Cara mereka bekerja semakin pintar dan tidak mengenal usia. Anak-anak setan itu menetas kemudian bermain di jari-jari manusia sehingga tangan mereka menjadi gatal dan tidak bisa diam. Adapun obatnya sudah disediakan oleh lucifer, orang tua mereka. Sebuah layar kecil yang sekaligus menjadi tempat tinggal manusia saat senang, sedih, marah, benci. Dunia baru mereka adalah layar yang memiliki julukan “pintar”.

Anak-anak itu kini menjadi anak kesayangan ayah ibu setan. Karena manusia jadi bertingkah tidak biasanya. Tipu daya semakin banyak dan kepedulian semakin mengerucut. Mereka suka akan hal itu.

Seorang suami istri di dunia nyata bisa saja saling tersenyum setiap hari padahal para anak-anak setan berhasil merayu mereka di balik layar kecil pintar itu, agar saling berselingkuh dengan rapi dengan para mantan.

Atau memunculkan iri dengki hasad dan benci di hati-hati para manusia yang berusaha paling hati-hati menjaga hati. Membiarkan kabar-kabar buruk dan gembira saling bermunculan menimpa satu sama lain tanpa tahu bahwa itu hanyalah karangan seorang penulis fiksi yang jahat.

Seorang teman kini tidak lagi memeluk erat sahabatnya yang 5 tahun tak bertemu–karena toh setiap hari kita bertemu dibalik layar, bukan?

Seorang ibu tidak lagi pernah menanyakan “bagaimana sekolah/kuliahmu hari ini?” sementara si bungsu tidak tahu harus bercerita pada siapa saat ia di bully. Anak-anak kecil kehilangan penasehat-penasehat dan teman bermain dari kalangan orang dewasa, sehingga menangis rewel menyebalkan selalu menjadi andalannya. Sementara para orang dewasa sibuk marah-marah mengata-ngatai anak jaman kini yang semakin manja.

Kuharap pasangan-pasanganmu tidak pernah menyimpan rahasia dibalik layar pintar milik anak-anak setan itu. Kuharap ayah ibu kakak adikmu adalah orang yang masih mau bercengkrama menatap mata setiap hari dan bertanya apa yang terjadi setiap hari. Kuharap teman-teman dan sahabat lamamu bukanlah orang yang mendengarmu bercerita padahal mata hati dan pendengaran mereka hanya tertuju pada layar milik lucifer itu. Kuharap orang-orang disebelahmu mau meletakkan layar itu jauh-jauh, karena kau jauh lebih berarti.

Adalah kuberharap, agar beberapa orang yang memiliki masalah pelik mau memotong kuku dan jari mereka, supaya lucifer tidak lagi menyimpan telurnya.

mnb
weheartit.com