Pengecualian

Setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan membuatku berfikir bahwa semesta selalu mengecualikan aku. Aku adalah tidak ketika semua orang adalah iya. Aku adalah pergi saat semua orang datang. Aku adalah setiap kebaikan yang menjadi debu. Aku adalah setiap jahat yang selalu teringat. Aku juga kau saat kau tidaklah aku.

Akhirnya aku menyadari. Akulah yang mengecualikan aku. Akulah yang berjalan sendiri ke lingkaran sendiri. Hilang sudah semua kecuali diri.


draft 5/11/2017

Tempat Tinggal Lucifer

Kau sudah tahu betul bahwa kini para setan senang beranak pinak dan bertelur dibawah kuku kuku manusia. Entah itu kuku seorang selebriti sehabis di manicure, atau bahkan kuku seorang penggali kubur yang sering bermain tanah.

Cara mereka bekerja semakin pintar dan tidak mengenal usia. Anak-anak setan itu menetas kemudian bermain di jari-jari manusia sehingga tangan mereka menjadi gatal dan tidak bisa diam. Adapun obatnya sudah disediakan oleh lucifer, orang tua mereka. Sebuah layar kecil yang sekaligus menjadi tempat tinggal manusia saat senang, sedih, marah, benci. Dunia baru mereka adalah layar yang memiliki julukan “pintar”.

Anak-anak itu kini menjadi anak kesayangan ayah ibu setan. Karena manusia jadi bertingkah tidak biasanya. Tipu daya semakin banyak dan kepedulian semakin mengerucut. Mereka suka akan hal itu.

Seorang suami istri di dunia nyata bisa saja saling tersenyum setiap hari padahal para anak-anak setan berhasil merayu mereka di balik layar kecil pintar itu, agar saling berselingkuh dengan rapi dengan para mantan.

Atau memunculkan iri dengki hasad dan benci di hati-hati para manusia yang berusaha paling hati-hati menjaga hati. Membiarkan kabar-kabar buruk dan gembira saling bermunculan menimpa satu sama lain tanpa tahu bahwa itu hanyalah karangan seorang penulis fiksi yang jahat.

Seorang teman kini tidak lagi memeluk erat sahabatnya yang 5 tahun tak bertemu–karena toh setiap hari kita bertemu dibalik layar, bukan?

Seorang ibu tidak lagi pernah menanyakan “bagaimana sekolah/kuliahmu hari ini?” sementara si bungsu tidak tahu harus bercerita pada siapa saat ia di bully. Anak-anak kecil kehilangan penasehat-penasehat dan teman bermain dari kalangan orang dewasa, sehingga menangis rewel menyebalkan selalu menjadi andalannya. Sementara para orang dewasa sibuk marah-marah mengata-ngatai anak jaman kini yang semakin manja.

Kuharap pasangan-pasanganmu tidak pernah menyimpan rahasia dibalik layar pintar milik anak-anak setan itu. Kuharap ayah ibu kakak adikmu adalah orang yang masih mau bercengkrama menatap mata setiap hari dan bertanya apa yang terjadi setiap hari. Kuharap teman-teman dan sahabat lamamu bukanlah orang yang mendengarmu bercerita padahal mata hati dan pendengaran mereka hanya tertuju pada layar milik lucifer itu. Kuharap orang-orang disebelahmu mau meletakkan layar itu jauh-jauh, karena kau jauh lebih berarti.

Adalah kuberharap, agar beberapa orang yang memiliki masalah pelik mau memotong kuku dan jari mereka, supaya lucifer tidak lagi menyimpan telurnya.

mnb
weheartit.com

How to let go

Barangkali aku adalah kebalikan dari para perempuan yang kau idamkan. Aku tidak menyimpan memori. Aku menelannya.

Suatu hari di 22 tahun aku mencoba seperti perempuan lainnya. Mengumpulkan setiap kenangan. Seperti mereka, untuk berharap selamanya, agar terkenang dikenang dan mengenang. 30 menit kemudian aku tak sanggup. Aku menelannya.

Setangkai bunga matahari, bungkus pizza, bahkan gelas kopi bertulis nama, tersimpan rapi dalam sebuah box bertulis namamu. Foto mulai dirapikan dipajang dalam kamar. 7 hari kemudian aku tak bisa lagi. Aku menelan semuanya. Kau heran dan kesal melihat kamar perempuan yang tidak berwarna warni akan kenangan dan barang menyenangkan. Itulah aku.

Aku tahu semua perlahan meninggalkan. Membiarkan semua kenangan tersimpan hanya membuatku terbelenggu akan hal yang tidak pasti. Puisi dan prosa bahkan tidak akan mengekalkanmu.

Jangan harap aku menulis. Kertas surat dan puisi berisi nostalgia, sudah kutelan sampai sakit tenggorokan. Kesedihan dan rasa melankolis, aku tidak seperti banyak perempuan yang sanggup melewatinya. Aku menelannya. Menghilangkannya.

Aku menelannya. Agar semua memori menghilang. Mengalir dalam darah. Menjadi detak setiap hidupku.

Unknown

Aku mencarimu kesetiap sudut kota. Cafe cafe tempatmu biasa berdiam diri dihadapan laptopmu. Juga kesetiap cangkir cangkir kopi dimana kau menyeruput. Terutama tempat-tempat penyendiri. Tetapi tidak lagi aku bisa menemukanmu.

Aku terkadang menyengaja naik kendaraan umum yang kau biasa kendarai. Mulai dari bus kota, angkutan umum, hingga ojeg di depan jalan rumahmu. Jangan salah, aku juga sudah memeriksa rumahmu, kosanmu, bahkan apartemen di tahun pertama kau tinggal dikota ini, semuanya kosong. Aku menghempaskan badanku ke sofa dengan pakaian tidur dan rambut acak-acakan, sambil sesekali menghirup teh manis hangat. Berfikir kemana lagi aku akan mencari.

Ide brilian kemudian muncul, aku segera mandi dan bersiap. Aku menuju setiap kantor kecamatan tempatmu pernah tinggal, lalu ke dinas kependudukan, atau kalau nihil, aku akan ke petugas migrasi bahkan imigrasi.
___________________________

Sore ini aku sudah duduk diberanda rumahku. Tersenyum puas akan hasil yang kudapat hari ini. Aku tahu dimana kau berada. Kau tidak ada disatupun data kecamatan, bahkan dinas kependudukan di kota kecil ini, apalagi dalam catatan imigrasi dan migrasi. Aku sudah juga ke tempatmu kuliah, namamu tidak pernah tercatat sebagai mahasiswa, lalu mengapa kau mengaku?

Aku akhirnya menelusuri isi kepalaku. Ternyata keberadaanmu adalah tidak ada. Tidak disini, tidak di masa laluku, tidak dimasa depanku, tidak pernah pula dihatiku, apalagi anganku.

20161204-012113 PM.jpg

Doctors – Review

Dengan segenap kekuatan dan menyadari efek negatifnya, aku yang cukup picky dalam nonton serial nyoba nonton drama korea hasil ngopi dari hardisnya gina, yaitu Doctors yang mana episod terakhirnya baru berakhir Agustus 2016 ini. Hal ini disebabkan serial ini emang cocok banget buat anak kedokteran meski aku mah bukan. Tiap adegan penyakit pasti dijelasin rinci segala apanya (apa ya).

Pemeran-pemerannya ialah Kim Rae Won (Hong Ji Hong), Park Shin Hye (Yoo Hye Jung), Yoon Kyun Sang (Jung Yoon Do), Lee Sung Kyung (Jin Seo Woo) yang mana bahkan sampe hari ini aku ga pernah apal nama mereka.

Disini tiap ada operasi ditunjukkin dong gimana ngebuka kepala, gimana kalo darahnya muncrat, dan berbagai ketegangan lainnya karena ceritanya si pemeran utama adalah dokter bedah syaraf atau neurosurgeon. Yang katanya, mereka harus super teliti karena emang harus gitu.

Udah gitu ini juga pas buat calon2 dokter karena diceritain dokter itu harusnya gimana. Gimana ngadepin pasien, gimana ngadepin sistem rumah sakit, dan seterusnya. Intinyamah semangatlah buat para dokter, hehehe.

Meskipun biasalaya suka banyak konflik dan drama, tapi the best nya adalah pemeran utama pria nya ga gampang kebawa drama karena orangnya dewasa dan bijaksana juga pengertian. Filmnya juga realistis dan ga ada plot plot drama bikin pusing. Udah gitu pemeran utama wanitanya juga cukup keren dengan latar belakang keluarga dan kasih sayang yang kurang justru membuat dia menjadi dokter hebat dari kekuatan “kebencian” akan masa lalunya itu.

Secara keseluruhan, mengenai kisah cintanya mah ga akan bikin kita capek dalam menontonnya karena mereka menjalankan hubungan dengan cukup logis dan dewasa, kalo ada masalahpun itu hal yang cukup “worth it” buat jadi masalah. Mereka ga gampang kejebak masalah yang cetek-cetek remaja gitu (wkwk kzl) karena emang di filmnya usia mereka udah 30 keatas. Juga si pemeran antagonisnya ga evil-evil banget kaya film lain. Kita juga jadi ngerti dikit mengenai dunia dokter.

Hikmah yang dapat diambil kalau kamu nanya, adalah semakin orang meremehkan kita jadikanlah itu sebagai kekuatan untuk mencapai keberhasilan kita. Lalu jika kita mau mencari jodoh yang sesuai, jadilah dulu diri yang nyaman buat diri sendiri. Dah gitu doang

Ini adalah review pertama di blog ini, nanti kedepannya bakal sering nulis ginian aja ah.

korean-drama-doctors-episode-10

The cells that make up a human constantly maintain a state of instability.
Being alive is unstable.

Hong Ji Hong

La Nina Sepanjang Waktu

tumblr_mx4s1x0xd11szol4po1_500

Disebuah taman bacaan,
Kabarmu datang bersama La Nina
Hujan rintik pagi juga datang bersamanya
Lalu berlanjut hujan deras disiang
Hingga badai pada petang
Menjadi alasan saling menguak
Kedalaman tiap diri

Kau adalah pawang hujan
Tetapi hari itu selalu mengatakan,
Kita tidak boleh pulang
Karena hujan tidak akan berhenti
Hingga Februari

Akhirnya kutahu alasannya, bahwa
Februari kau akan menghilang
Bersama dengan La Nina

Kalau begitu, wahai pawang hujan
beri aku La Nina sepanjang waktu
Agar kubisa membaca pikiranmu
Sedalam-dalamnya

Tetapi aku malah berkata:
Hentikan La Nina saat ini juga
Kan kubayar sebesar-besarnya

Karena aku ingin pulang

 

Aku lalu menjadi munafik

Pride & Prejudice

Aku mengaduk segelas air putih dihadapanku. Kenapa sebuah air putih mesti diaduk? Karena aku sedang tidak ada kerjaan saja. Terlebih, aku sedang menunggu taksi yang tadi telah dipesankan temanku. Sekarang mereka semua sudah pulang sehabis kami menghabiskan 2 jam untuk mengobrol.

Aku merasa sedikit kekosongan saat mendengar cerita mereka. Aku sudah genap setahun lulus dari kampus yang sama dengan mereka, tetapi kehidupan kami jauh berbeda. Aku masih hanya berbisnis kecil (sangat kecil) di online shop saja. Mereka? Ada yang sudah menikah dan suaminya kaya, ada yang bulan depan akan berangkat kuliah lagi ke New Zealand, ada juga yang baru naik pangkat di sebuah perusahaan asing, dan ada yang bisnisnya sudah melesat.

Mereka memesan kopi seharga diatas lima puluh, lalu aku hanya bisa membeli segelas air putih. Ah, haha, tentu tidak. Itu bohong. Karena aku juga memesan pizza seharga yang tidak perlu kusebut.

By the way, Ingat temanku yang tadi kubilang sudah menikah? Dulunya ia perempuan yang bisa dibilang, terlalu sering berpacaran. Pergaulannya sudah tidak bisa kuceritakan lagi karena memang sangat mengikuti zaman. Kukira wajar jika ia cepat menikah (mungkin kau mengerti maksudku).

Lalu temanku yang akan berkuliah, ia tipe orang yang terlalu ambisius. Semasa kuliah, ia selalu menyabet nilai tertinggi. Sayangnya, ia terkesan sombong karena tidak pernah berbagi ilmu dengan kami. Dia juga tidak pernah ada di acara-acara komunitas jurusan kami. Selalu langsung pulang–atau entah kemana kecuali belajar. Wajar kalau sekarang dia ingin lanjut kuliah.

Ah, sebentar, taksiku sudah datang. Aku melesat keluar restoran setelah membayar billnya, karena aku ingin cepat sampai rumah. Ada hal yang harus segera kuatasi. Setelah aku duduk, aku akan lanjut bercerita.

Baiklah, temanku yang ketiga, ia memiliki paras yang rupawan dan tubuh tinggi tegap. Pria idaman semua wanita. Aku juga menyukainya, hanya saja bukan tipeku. Mengerti, kan? Kaupun pasti sering menemukan yang seperti itu. Ia juga wajar saja jika cepat naik jabatan mengingat kondisi fisik yang mendukung. Beruntung sekali. Kemudian temanku yang terakhir, memiliki bisnis melesat. Ah, kuberitahu sebuah rahasia, ia orang yang agak “mistis”. Segala permasalahan ia selalu keluhkan pada kakeknya yang seorang dukun–atau apalah itu namanya. Barangkali ia menggunakan magic dan kekuatan jin untuk memperkaya dirinya. Wajar saja, sangat wajar.

Tiba-tiba teleponku bergetar, sebuah pesan. Ibu!

Cepat kerumah sakit, kondisi kakak semakin parah. Siapin juga uang berobat.

Jantungku hampir berhenti. Urusan yang tadi kubilang genting, adalah kakakku yang sudah sebulan ini sakit. Dokter bilang itu leukimia, aku kebagian merawatnya sore ini.

Aku panik. Uang berobat sudah kuhabiskan untuk pizza mahal-sialan-tadi. Dan juga, oleh taksi ini!

Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau bisa kabur dan menghilang, aku ingin!!


Epilog:

Teman yang pertama, menikah karena dijodohkan orang tuanya. Sempat menangis sepanjang Agustus.

Teman yang kedua, tidak pernah aktif di kampus karena bekerja sampingan dikala kedua orangtuanya sakit. Kini ia bersekolah lagi karena sisa uang beasiswanya akan dipakai untuk sekolah adiknya.

Teman yang ketiga, bekerja penuh tekanan dan kuat mental.

Teman yang keempat, bisnisnya ternyata sudah mulai sejak tingkat satu semasa kuliah. Ia tidak melesat. Tapi memang berkembang.


“There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil, a natural defect, which not even the best education can overcome.”
“And your defect is a propensity to hate everybody.”
“And yours,” he replied with a smile, “is wilfully to misunderstand them.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Sebagai seorang manusia, wajar kalau pikiran buruk banyak muncul. Sebagai manusia, wajar juga kalau memaklumi satu sama lain dan tidak tutup mata atas apa yang tidak terlihat. Maka jadilah manusia. Yang pikirannya ga negatif.

IMG_6627

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Overthinking kills

Teriakan paling memekakkan telinga dialami digelap malam. Saat lampu satu persatu dimatikan. Hanya alunan pelan dari detik jam dinding yang terasa, juga cicak cicak yang sesekali menyuarakan perut lapar mereka. Atau kodok yang bernyanyi di kolam depan. Atau juga suara hening. Tahu kan apa itu suara hening? Ya, suara yang kita dengar saat diam. Tidak bisa kujelaskan, karena kalianpun mengerti.

Aku mulai memejamkan mata pukul 11. Siang hari melelahkan membuat badan hanya ingin berbaring. Tapi betapa kepala selalu tidak tahu waktu. Satu persatu kejadian ia tayang rekamannya, dalam mataku yang masih terpejam. Memperlambat waktu yang paling mengesankan. Waktu yang paling ingin kuhapus dan dilupa. Lalu rekaman percakapan, mengulang ulang terus perkataan yang menyentuh tapi menyakitkan. Mengulang juga literasiku yang tidak seharusnya kuucap.

Juga tatapan dan wajah wajah silih berganti muncul mengesankan perasaan mereka. Setiap waktu hari itu diperlambat tiap sekonnya. Apa yang harus dan tidak harus dikatakan, dilakukan, atau ditunjukkan, ia diktekan. Antara gila dan wajar rupanya beda tipis saat gelap dan hening seperti ini. Kalau sedang sangat buruk, barangkali air mata hanya menambah jelek suasana.

Bisakah kau diam? Tanyaku kepada kepalaku. Bernegosiasi memohon ingin menumpah lelah pada lelap. Berkali ia katakan: mengerti, aku akan berusaha diam, ah tapi itu hanya agar aku bahagia sekejap saja. Karena selanjutnya tayangan lain bergantian bermunculan kembali, menyisakan sesal dan bersalah dengan rasa berbeda. Terkadang jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, darah lebih deras, mata lelah semakin sakit saat terpejam, saat segala ketakutan bermunculan seperti ini.

Isi kepalaku seperti tidak bisa berkompromi, jangan jangan ia bukanlah bagian dari diriku? Apakah suatu makhluk memasukinya dan mengeluarkan kecemasan, takut, kemarahan, dan perasaan buruk dengan tidak terkontrol? Karena ini bukan mauku!

Sayup sayup ayat suci dari masjid lalu terdengar. Rupanya benar, aku tidak tertidur malam ini. Rasanya baru beberapa menit memejam mata, tapi mengapa fajar sudah hampir tiba?

Suara suara dari masjid semakin berkumandang sana sini. Pikiranku mulai sedikit terkendali. Adegan adegan dan suara yang berputar perlahan memelan. Manusia sering lupa, bahwa segala ketakutan dan kecemasan sejatinya hanya bisa dipasrahkan pada-Nya. Tidak perlu berpikir terus hingga hampir gila. Tingkahku malam tadi, seolah aku ini tuhan pengendali takdir dan waktu.

Segala gelisah akhirnya menguap bersamaan dengan pendengaranku yang menangkap suara dari masjid-masjid. Akhirnya aku bisa terlelap pulas, tanpa sempat mendengar adzan shubuh.

Kau tahu? Malam seperti ini adalah jelmaan iblis agar manusia tidak mendengar panggilan Tuhannya saat fajar tiba, agar lupa bahwa segala kecemasan dan kekosongan ada Dia yang menenangkan.

Bayangan

Ini sudah hari ketujuh bagiku menempati kantor ini yang jam kerjanya hingga pukul 04 sore. Namun karena kondisi kota yang macet, aku lebih memilih pulang setelah maghrib agar lalu lintas sudah tidak begitu padat. Kalau kau tanya apa yang aku lakukan hingga magrib, aku biasa membaca buku-buku atau sekedar browsing, dan jika ada yang lembur, sesekali aku mengobrol dengan mereka.

Sudah tiga hari terakhir ini aku mengalami keanehan setiap pulang kantor. Tiga hari lalu, saat aku berjalan di basement, aku melihat sebuah bayangan mengikutiku. Itu adalah hari-hari dimana banyak orang menulis kisah mengenai kejahatan yang mengenai dirinya di medsos dan di share di grup-grup. Lokasinya pun kebanyakan berada di dekat kantor. Apakah aneh kalau aku merasa takut? Salah satu dari mereka mengatakan “Hati hati kalau berada di….kemarin saya diikuti oleh seorang lelaki……..untung saya pernah belajar beladiri sehingga saya berhasil kabur……..” Itu kata salah satu broadcast yang pernah kudapat. Aku yang sadar diri tidak bisa bela diri atau membawa alat untuk melindungi diri, segera melepas heels yang kupakai dan berlari sekencang mungkin kearah mobil dan dengan terburu-buru aku segera menyalakan mesin. Tidak mau tahu siapa pemilik bayangan itu.

Hari selanjutnya, aku sudah hampir lupa mengenai kejadian itu. Sampai ketika aku mulai memasuki basement–kali ini basement sebuah mall karena aku habis menonton sebuah film horor (dan sendirian!), lagi-lagi aku melihat bayangan itu lagi. Dua bayangan, satu milikku dan satunya entah siapa. Dengan memberanikan diri, akupun melihat kanan-kiri-depan-belakang sambil berjalan cepat. Sial, nihil. Lalu kulihat lagi bayangannya, masih ada! Film horor yang habis kutonton membayangi diriku, lalu aku segera berlari. Bayangan itupun lari! Tapi sosoknya tidak ada! Rupanya yang mengejarku sejak kemarin bukan penjahat, tetapi makhluk lain!

Akhirnya aku melewati hari itu dengan selamat lagi, tetapi berbeda dengan hari esoknya.

Sepulang kantor, aku menunggu seorang teman yang akan pulang bersamaku. Ya, aku mulai tidak berani berjalan di basement sendirian. Tetapi sesampainya dibasement, ia meninggalkanku sendirian diluar toilet–tentu karena ia sedang buang hajat. Kebelet, katanya. Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi? Aku terkesiap setelah melihat dua bayangan lagi seperti kemarin, satu milikku dan satunya entah siapa.

Karena aku sadar temanku berada didekatku (meskipun itu didalam toilet), aku berusaha menenangkan diri. Setidaknya kalau terjadi apa-apa, ia bisa menolongku. Aku diam. Ia diam. Aku berjalan dua langkah. Ia juga. Aku berjalan mundur, dia juga mundur! Aku menggerakkan tangan kanan, ia juga menggerakan tangan kanannya! Tidak mungkin. Aku lalu menoleh ke kanan kiri, bayangan itupun melakukan hal sama.

Kemudian aku bernafas lega. Rupanya aku dihantui oleh diriku sendiri! Terkadang memang kita memiliki beberapa bayangan–bergantung bagaimana pencahayaan diruangan itu. Aku ingin minta maaf pada penjahat dan makhluk halus yang menjadi kambing hitam atas ketakutan dalam diriku tiga hari ini, lalu aku berjalan pulang dan lupa meninggalkan temanku yang sedang asyik berdiam diri.


Terkadang kita terlalu takut akan hal-hal disekeliling kita dan selalu menyalahkan keadaan atas kesialan yang menimpa. Padahal kalau mau berfikir lebih jujur, barangkali yang kita takutkan sebenarnya hanya muncul dari dalam diri saja. Mereka tidak pernah berusaha membuat kita gagal. Tapi bayangan kitalah.

 

Happiest

Aku sudah mempersiapkan perkataan dan kalimat untuk menghiburnya, yang terlalu sering kehilangan. Lima tahun lalu, ia tertawa dan menggodaku saat aku datang bersama seorang teman lelaki, hei, ia menghancurkan kalimat-kalimat indah yang aku buat sepenuh hati untuk menghiburnya. Itu hari dimana adiknya–adik kembarnya, berpulang karena sebuah kecelakaan. Sial, bisa-bisanya membahas kehidupanku saat ia berada dalam dunia yang atas bawah kanan kiri depan belakang sudah berantakan.

Kurasa ia sudah lupa, 15 tahun lalu, saat ibunya juga pergi jauh. Ia tetap bermain bersamaku. Berlari kesana-kemari, mengajariku bersepeda, mengajariku melompati tali karet, hingga belajar memelihara kucing. Padahal malam itu aku mendengarnya menangis saat ibuku mengelus kepalanya, memberi beberapa nasihat untuk tetap berdiri tegar meski ibunya yang selama ini jadi tumpuannya–tidak akan pernah kembali. Disatu sisi aku ingin menghibur, tapi disisi lain, ia tidak pernah mau menunjukkan sedikitpun kesedihan itu. Bukankah kau juga mengerti, bahwa banyak sekali orang yang benci dikasihani?

Sejak hari itu, aku tahu hidupnya tidak seteratur dulu. Tidak seteratur hidupku yang masih diatur oleh kedua orang tua dengan rumah nyaman dan hidup berkecukupan. Kalaupun hari ini aku merantau, tapi aku masih tetap bergantung pada mereka. Sementara ia harus berpikir banyak untuk melanjutkan kehidupannya. Jika hati manusia terdiri dari beberapa ruangan, maka para pengisi hatinya, perlahan pergi satu persatu. Jangankan pergi satu-persatu, bahkan pergi seorangpun bukankan rasanya hampa sekali? Sementara ia mengalami banyak kepergian orang dalam hidupnya.

Rahasia saja, bahwa kepergian orang-orang dalam kehidupannya hanya diketahui olehku. Bukan ia bercerita, tetapi lebih karena aku mengenal semua orang dalam hidupnya. Tidak pernah ia menangis didepanku mengisahkan hampa hidupnya, sulitnya mencari biaya kuliah sendiri, bagaimana sepi sering menggerogotinya. Ia lebih suka mencari cela dalam kehidupanku untuk ia tertawai dan menjadikannya hiburan. Bukan hiburan baginya–tapi bagiku.

Lagi lagi hari ini seseorang pengisi hatinya pergi. Kalimat-kalimat penghibur sudah aku siapkan sebaik mungkin, tapi saat aku berusaha mengatakannya, ia segera menepis,: hei, pengangguran! Pasti bingung ya abis lulus mau ngapain? Ah, aku memang bukan penghibur yang baik.

Tapi kali ini tangismu sudah tidak bisa berbohong lagi. Ia akhirnya mengisi sudut matamu sebagaimanapun kau berusaha menertawai hidupku.


banyak sekali orang yang paling ceria–selalu ceria, tidak pernah bercerita, tidak pernah menangis, dan tentang kehampaan dalam hati mereka, tidak ada yang tahu bahkan cicak didindingpun.