Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Ibu ibu Inspirasional

Aku tidak paham apakah “inspirasional” merupakan kalimat baku yang terdapat di kbbi atau engga. Tetapi yaudah atuh ya ngapain dipermasalahin da ini bukan bikin draft!

Di suatu hari yang maghrib, aku lagi di rumah uwa di kawasan Cijerah. Berhubung udah azan, akhirnya ikut solat dikamarnya. Keinspirasionalannya terjadi disini. Yaitu sehabis beres solat, aku pake kacamata, dan terkaget ternyata di dindingnya banyaaaak banget bacaan Qur’an tulisan tangan gede-gede ditempelin. Kalo difilem indonesia jaman dono kasino indro mungkin disangka untuk mengusir hantu.

Tiba-tiba uwa masuk, melihat aku yang masih takjub, dan bilang, ih yaampun malu ketauan tempelannya. Uwa mah masih belom bisa ngapalin Qur’an. Udah tua mah susah bangeet pi ngapalinnya. Jadi ya giniii di dinding di tempel-tempelin semuanya biar apal…………..Yang ada aku yang malu. Masih muda tapi waktu diabisin sama keambisan duniawi yang ga berujung, padahal lulus mah udah. Setelah kejadian ini aku jadi merasa agak hampa, merasa agak salah jalan, dan merasa ingin les bahasa mandarin (ga deng ga nyambung).

Kedua ibu-ibu yang inspirasional adalah mamahku sendiri. Beliau terkadang suka ngapalin Qur’an kalau abis subuh. Dan ngedenger perjuangannya tuh rasanya subhanallah bangeeet. Karena yang namanya ngapalin Qur’an emang ga mulus dan pasti ada salah salahnya. Ngedenger mamah salah mulu, ngomong eh berkali-kali, dan minta ditesin An-Naba bikin aku speechless tapi aku ga akan bilang-bilang ah heuheu.

Emang bener lagu waktu SD, “Ilmu yang didapat, selagi masih kecil, bagai lukisan diaaatas batuuuu” sementara pepatah mengatakan “Belajar waktu kecil bagaikan menulis diatas batu tetapi kalau udah bertambah umur, belajar itu bagaikan menulis diatas air”

Ibu-ibu inspirasional ketiga dan keempat aku temui tadi pagi. Alhamdulillah aku dan teh ipa ikut training trik ngafalin Qur’an. Pesertanya berapa orang apakah anda bisa nebakkk? Ya, hanya empat orang. Kami juga dapet wejangan sebagai “calon ibu” dari kedua ibu tersebut.

Katanya, kalau udah jadi ibu-ibu, kerasa banget ngafalin Qur’an itu jadi wajib. Belum lagi kalau anak-anaknya udah pada jago karena sekolahnya di sekolah Islam. Mau ga mau, ibu selalu jadi contoh buat anak-anaknya. Eh kalo ditulis mah berasa bosen sih kamu bacanya, tapi pas kami ngobrol dan ibu-ibu tersebut curhat mengenai anak-anak dan keluarga, dan betapa pentingnya Qur’an di dalem rumah, rasanya aku jadi termotivasi dan bersemangat. Kalo sebagai ibu kita ga ngenalin Islam dan Qur’an maka siapa yang akan ngajarin anak-anak? Gitulah intinya mah.

Udah gitu, pas kita lagi mencoba suatu metode, kami semua berhasil ngafalin satu ayat panjang dengan waktu sedikit. Mau tau ga apa??? Ibu-ibu di sebelah aku (tidak sebut nama karena bisi ada yang kenal heuheu) nangis dong saking terharunya karena bisa hapal………….. Ya Allah, sebegitu senengnya bisa ngafalin satu ayat Al-Qur’an bagi mereka. Beliau bilang bahwa udah usia segini dan bisa ngafalin satu ayat itu adalah kenikmatan yang luar biasa.

Ya Allah, semakinlah aku merasa berdosa akan waktu yang sia-sia selama ini. Mereka juga curhat bahwa (you dont say lah) ibu-ibu mah pasti paciweuh (rempong) ngurus semua hal di rumah dan susah nyari waktu luang buat belajar. Lah kami berdua, waktu berlimpah ruah tapi udah dipake apa aja ya……………….

Keempat ibu-ibu tersebut, memberiku kesimpulan kalau masa muda adalah masa yang masih enak untuk belajar. Tapi janganlah hanya ngejar duniawi, pangkat, karena semua itu ga akan tertulis dinisan dan pride ga akan di bawa sampe ke akhirat. Alangkah lebih baik kalau kita ngejar juga ilmu untuk akhirat. Terutama, sebagai ibu-ibu, karena mau ga mau kita yang akan menggiring generasi selanjutnya apakah mau dekat dengan Qur’an atau justru menjadikan Qur’an sesuatu asing yang terlalu “holy” sampe ga pernah disentuh?

Rebel

20141027-055813-AM.jpg

Soekarno Hatta, obrolan, dan kemacetan sore ini membuat mataku terbuka lebar. Segala A hingga Z menyambung menjadi satu. Sebab akibat saling bertautan. Akhirnya aku menemukan para pencuri terbesar para hati yang kosong. Barangkali kemudian hari aku akan lebih menggunakan kerasionalan, dibanding hal yang masih harus ku istikharoh-kan. Dunia yang dipercaya seketika runtuh, entah bersisa atau tidak.

Adil akhirnya tidak ditemukan disetiap sudut manapun didunia ini. Se-sangat-tidak-adanya-seorangpun yang bisa dipegang, se-aneh-se-sulit diterimanya-takdir yang terjadi, semoga Allah selalu menjadi penuntun.
Yang terpenting hanyalah, jangan menjadi bodoh.

Instagram dan Diam

Media sosial selalu menunjukkan sisi positif atau kebahagiaan dari kehidupan manusia. Menunjukkan orang yang suka berjalan-jalan ke tempat bergengsi dan mahal, berfoto dengan kebahagiannya (entah keluarga, teman, atau lainnya), atau memperlihatkan kesuksesan hidupnya seperti lulus kuliah, wisuda, menikah, anak, dan sebagainya. Well, aku juga masuk kedalam tipe orang seperti itu. Mana mungkin aku upload foto saat lagi ngeplot Matlab yang udah salah sebanyak 571893086578756 kali. Berasa desperate banget. Lebih baik menampilkan saat aku sudah dinyatakan lulus. Entahlah, media untuk pamer sepertinya terlalu banyak atau mungkin memang itulah fungsinya.

Sebagai orang yang pamer terkadang aku ga bermaksud untuk pamer, tapi karena ya pengen aja. Atau mungkin aku belum bertanya lebih dalam pada diri sendiri, kenapa pi mesti ngupload di ig? Mau pamer? Mau diucapin selamat? Tapi asa lebay teuing ga sih kalo sampe direnungi segala. Kita juga ga bisa stop orang-orang dari media sosial mereka. Mau bilang, ih jangan upload-upload wae atuh, da aku teh di rumah mulu ga kaya kamu yang suka jalan-jalan. Kan ga bisa.

Disisi lain, kadang beberapa hal membuat kita jadi membanding-bandingkan diri. Seperti, waw keren, dia udah kuliah master lagi! Waw bisnisnya hebat! Waw keluarganya bahagia banget! Waw anaknya lucu! Jadi sirik! Kalimat terakhir itulah yang mayan mempengaruhi. Kita juga jadi mikir bahwa kenapa orang lain rasanya bahagia banget ari kita mah biasa-biasa aja.

Hal paling salah adalah orang-orang selalu menunjukkan kesuksesannya tapi ga pernah menunjukkan usahanya. Kadang aku sempet mikir bahwa kenapa orang-orang kesannya gampang buat sukses, buat udah kuliah lagi, buat udah berbisnis keren. Well, padahal kita juga harus tau bahwa dibalik kepameran manusia ada berdarah-darahnya dulu, ada usaha kerasnya, ada gagal-gagalnya. Sama seperti aku yang upload foto abis sidang padahal itu teh hasil pekerjaan dari Juni tahun 2015.

Barangkali aku harus meminimalisir melihat kebohongan-kebohongan yang tercipta antara diri sendiri dan media-media sosial. Meyakini bahwa banyak sekali hal yang ga manusia pamerkan.

Untuk mencapai apa-apa yang diinginkan, ga segampang liat foto orang di ig. Karena dulunya, mereka juga usaha dengan diam.


1.43 pm, setelah sadar masih banyak hal yang harus dikejar setelah ini.

The way you&I write #Part1

“You’re what you eat”
sepertinya sangat berlaku bagi siapapun yang nulis. Kaya misal abis baca bukunya sophie kinsella yang kalimatnya sering banget ada: what on earth… why on earth….. lalu ku jadi ikut ikutan pernah nulis kaya gitu. Terus kadang terhipnotis juga gaya nulisnya tere liye, atau sesimpel-simpelnya ketularan sama blog orang lain.

Ada suatu rahasia yang aku jaga sejak masa remaja kira kira umur 16 tahun lah. Sebenernya ga rahasia sih, tapi pengen aja bilang kalo ini rahasia. Yaitu kita akan secara reflek ngikutin cara nulis ornag yang sering chat sama kita/orang yang kita kagumi/tulisan yang berkesan buat kita. Aku mengamati dari hasil sms atau chat-chat dengan orang yang intens chat dg kita seperti grup persahabatan wanita (halah), chat dg orang yang lagi curhat panjang, si doi, atau dosen, yang lama-lama kok bahasanya jadi serupa yaaa.

Paling jelas keliatan akan saling mempengaruhi sih kalo udah chat yang lamaaaaaaaaaaaaaa banget. Contohnya yang satu alay yang satu engga eh lama-lama dua-duanya jadi mix alay dan engga. Aku sadar banget sih waktu jaman dimana tiap hari dan hampir tiap jam pasti smsan sama nida sekedar nanya: mendingan bolos les apa engga? atau tau gakkk si naira ngegunting rambut aku (sumpah emang segapenting dan seababil itu). Lama-lama pas lulus aku sadar bahwa aku ketular gaya ngetiknya nida dan sebaliknya.Tapi yang paling ngaruh itu adalah kesan. Kalau kita berkesan sama sesuatu, maka itu akan digunakan dalam tulisan, meskipun orang itu ga pernah dipengaruhi tulisan kita, bahkan ga tau siapa. Kayak misalnya…….yahgitulah meni harus dicontohin wae..

Kadang juga terdeteksi dari diksi-diksi yang digunakan orang dalam nulis atau ngobrol secara persis dan aku hanya bisa berkata dalam hati: hmmm diksinya seperti kenal yaaaa. Seperti yang sering aku ketik yaaa. Atau juga kadang aku sadar sendiri ooopsss aku mengatakan diksi yang sering dia pakai… atau ooopss ini diksi yang si A tulis *lalu delet tulisan atau berkata: ah bodo amat

Yah begitulah………


7/12/2016 11.27pm.
Masih bingung dengan buku terjemahan timur tengah yang bahasanya begini: si fulan yang bagaikan kurma itu berjalan menuju sungai nil bak seorang ibu merindukan anaknya…… plz i dont get it.

J-1: As Beauty As An Angel

Satu jam lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, maka satu jam terakhir ini aku ingin menulis sesuatu.

Ada sebuah ayat yang menarik untuk dicermati, bahwa makhluk sekelas malaikat pernah “iri” terhadap manusia.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)

Saat itu manusia diciptakan, lalu Allah mengumumkan bahwa manusia memegang jabatan: Khalifah di muka bumi (wakil Allah). Seketika malaikat bertanya-tanya: Kenapa manusia? Padahal kami (malaikat) adalah hamba Allah yang tidak akan berbuat kerusakan, dan akan selalu taat? Kenapa musti manusia yang merupakan makhluk yang dapat menumpahkan darah?” Memang, dulu sempat terpatri dipikiran bahwa jadi malaikat itu enak ya, sepertinya sih cantik, taat, dan hidupnya ga ada godaan. Justru itulah, adanya godaan dan hawa nafsu itu yang membuat manusia jadi lebih hebat kalau bisa taat.

Rupanya bukan hanya malaikat, iblispun menolak kenyataan ini dengan tidak mau bersujud pada manusia saat Allah memerintahkan seluruh makhluk bersujud (aku pernah nulis ini deh tp biar aja ya). Sujud disini bukan berarti menghambakan diri, tetapi bentuk makhluk lain “siap” membantu manusia dalam menjalani tugas kekhalifahannya.

Kadang aku juga suka mikir, kerjaan malaikat itu beberapa diantaranya ngurusin manusia, sisanya wallahu alam. Ingat-ingat saja lagu “sepuluh malaikat yang wajib diketahui” yang kita hapalin waktu PG/TK. Tugas-tugasnya malaikat yaitu menurunkan rizki untuk manusia, mencatat amal baik/buruk manusia, mencabut nyawa, bertanya pada manusia di alam kubur, dll. Kebayang ga sih jadi malaikat rokib/atid tiap hari nempel terus sama kita dan jeli atas segala perbuatan kita dan ditulisin satu-satu. Terdengar membosankan dan cukup waw tapi toh mereka memang malaikat; makhluk yang akan selalu taat.

Manusia sebagai “anak baru” inipun Allah tunjuk sebagai wakil Allah dimuka bumi, bukan malaikat (makhluk yang sangat taat dan tidak memiliki nafsu) juga bukan iblis (makhluk taat yang sudah beribadah lebih lama dan diciptakan jauh lebih dulu dari manusia). Haruskah idung kita ngapung karena kita menempati jabatan yang dipertanyakan dua makhluk sehebat iblis dan malaikat?

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS 17:70)

Kalau diibaratkan dengan teknologi, maka kita adalah gadget paling banyak fiturnya sehingga sanggup jika diberi beban yang lebih. Kenapa? Karena manusia memiliki potensi yang bisa mendukung tugas kita. Dan potensi itu tidak dimiliki makhluk-makhluk lainnya. Seperti halnya juga teknologi, jika aku adalah sebuah hp smartphone tetapi aku tidak mengenal “diriku sendiri” bisa jadi aku hanya memaksimalkan fitur fitur yang aku tahu saja: sms dan telepon. Padahal kalau aku mau belajar, maka aku akan tahu si pembuat “diriku” pengennya aku jadi apa, dan fitur-fitur apa saja yang bisa menghantarkan aku ke tujuan tersebut.

Pun manusia, kita harus mengenal diri kita sehingga kita akan tahu, apa yang Allah inginkan saat Dia menciptakan kita? Diri kita yang super rumit ini (bayangkanlah saat kamu belajar biologi, sel2, darah, saraf2, atau psikologi, atau kegalauan2 dan overthinking yang kamu miliki) akan sangat “mubazir” kalau Allah menciptakan kita yang rumit ini hanya untuk hepi-hepi terus.

Kalau kamu adalah peracik obat-obatan, pembuat robot, atau pembuat-pembuat lainnya, barangkali ga mungkin bikin sesuatu hal yang hebat dan rumit tapi cuman buat: biarkanlah mereka hidup dan menikmatinya. Tanpa ada suatu “tujuan” khusus. Belum lagi tumbuhan (yang buahnya kita makan dan sayurnya sangat sehat), hewan (yang dagingnya berprotein), langit (yang siang dan malam memiliki porsi seimbang), dan tanda-tanda kekuasaanNya yang lainnya yang kalo dipikir-pikir itu semua “buat kita”.

Udah mah manusia itu sendiri merupakan penciptaan yang hebat, lalu makhluk-makhluk lain juga diciptakan untuk mendukung kehidupan kita. Masihkah kita berpikir bahwa hidup kita harus sesederhana yang dijalankan sekarang ini? (seharusnya bukan kita, tetapi aku)

Tujuannya itu apa? Barangkali telah disebutkan di paling atas: menjadi khalifah dimuka bumi. Yang menjalankan hidup sesuai aturanNya, meng-uswatunhasanah-kan Rasulullah Muhammad SAW, dan menjadikan Allah sebagai Rabb, Malik, dan Illah-nya.

Sekian dulu tulisan dimalam takbiran ini, tulisan ini ditulis pukul 05 sore tapi berhenti karena harus mengerjakan sesuatu hal (yah biasalah kerempongan lebaran) sehingga baru dilanjut malam ini. Semoga jadi pengingat khususnya buat diri sendiri dan umumnya buat yang baca.

Habis mudik, kalau sempat akan dilanjutkan, dan semoga kita bertemu Ramadhan selanjutnya! 🙂

Taqobalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Maafkan aku ya……..

20160705-075840 PM.jpg

Careless: Masuk Neraka Karena Lalat


Terdapat kisah-kisah yang menunjukkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati meski itu hanya dari niat.

Saat perang Khandaq, Ali bin Abi Thalib sedang menghadapi Amr bin Abd Wahd. Amr terpojok dan mencoba memberontak, saat itu ia meludahi wajah Ali bin Abi Thalib. Bukannya segera “menuntaskan pekerjaan”, Ali malah mundur dan tidak jadi membunuh Amr bin Abd Wahd.
“Jika saat itu aku membunuhnya, aku takut niat membunuh Amr bukan karena Allah, tetapi karena kemarahanku yang telah diludahi oleh Amr…..” Itu alasan mengapa Ali tidak jadi membunuh Amr bin Abd Wahd yang padahal tinggal dikit lagi berhasil. Subhanallah kan.


Jaman dahulu kala mama sering ngebeliin buku “Ba’da Isya” yang ditulis oleh Sofiah Mashuri. Isinya mengenai kisah-kisah muslim jaman dulu yang dikemas pendek-pendek dengan gambar yang banyak. Hingga hari ini, ada satu kisah yang masih aku ingat. Mengenai seseorang yang masuk neraka karena lalat.

Ceritanya ada 2 orang yang bernama fulan dan fulin (namanya ngarang). Mereka hendak melewati suatu pedesaan. Sesampainya di pedesaan itu, kepala desa dan kerabatnya mencegat mereka,
“Kalo mau lewat, harus ngasih sesajen dulu ke berhala kami!” Katanya layaknya preman-preman jaman sekarang yang kalo lewat harus ngasih duit. Tapi bedanya preman mah buat dirinya, tapi orang di pedesaan itu buat tuhannya.

Mereka bingung karena ga punya duit dan ga punya apa-apa. Akhirnya orang desa berkata,
“Mau nyembelih lalat doang juga gapapa”
Fulan dan fulin berpandangan. Fulan segera menyembelih seekor lalat dan akhirnya fulan bisa lewat desa itu. Tetapi si fulin meskipun “cuman” lalat, tetapi dia sama sekali ga mau nyembelih lalat buat berhala mereka. Karena ia tidak mau mempersembahkan sesuatu untuk tuhan orang lain, dan fyi fulan dan fulin adalah orang Islam.

“Karena seekor lalat saja, seseorang bisa masuk neraka (fulan) dan yang lainnya bisa masuk surga (fulin)”, begitu kata Rasul mengakhiri cerita ini dihadapan para sahabatnya.


Begitulah dua kisah mengenai: bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam setiap langkahnya. Terlalu selo dan terlalu bodoamat adalah hal yang harus dihindari. Tutup kuping atas pernyataan bahwa kita terlalu strict atau kaku atau apapun, karena, memang muslim harus berhati-hati.

Dari aku, yang juga belum maksimal dalam kehati-hatian.

Pride

Ted : I am happy for them.

Lily: Is all you let yourself say out loud. Because if you said anything to the contrary, well, then that would make you the most awful person on this rooftop. So I’m gonna give you an out.

Ted: And how are you gonna do that?

Lily: By saying something that is even more awful.

Ted: Like what?

Lily: *crying* Sometimes I wish I wasn’t a mom. Sometimes I wanna pack a bag and leave in the middle of the night and not come back.

Ted: Robin shouldn’t be with Barney, she should be with me.

Ted: Are you serious?

Lily: I don’t know. I mean, I love being a mom, I-I love Marvin so much. But you remember when I wanted to be an artist? Art was my whole life, and… and now it’s been months since I’ve even picked up a brush. I-I spend the whole day taking care of kids in my job, and I come home, and it’s more of the same, and it’s just… it never lets up. It’s just really, really hard, Ted.


Ya meskipun so last year bgt baru namatin HIMYM dua tahun setelah ceritanya tamat, tapi percakapan diatas adalah salah satu yang paling berkesan dari sekian episodnya. Yaitu saat Ted brokenheart akibat Robin yang akan nikah sama Barney.

Rasanya aku ingin banget ikutan ke rooftop ngobrol bareng Lily dan Ted, dan ikutan mengatakan semuaa hal-hal jujur yang aku inginkan tapi ga mungkin terjadi. Udah gitu nangis bertiga sambil berpelukan. (wkkw saha kamu pi). Cheesy ya


Lily : I think we just have to accept our lots in life, and… I have to be a mom to a beautiful, wonderful, if slightly constipated little boy, and you have to let Robin and Barney get a band.

20160524-034038 PM.jpg

 

How girls call you

Gak tau kenapa tiba-tiba inget

Jadi dari jaman SMP hingga SMA dan terkadang kuliah (tapi sekarang ku udah tobat), dalam grup cewe-cewe yang suka curhat, biasanya mereka memiliki panggilan khusus buat si doi doi yang kadang diomongin dalam grup mereka. Waktu SMP mah ada “si 02:47” terinspirasi dari seorang penyanyi kalo ga salah Marcell deh, yang memiliki tattoo di tangannya bertuliskan “04.00”. Rempong pisan ga.

Ada juga yang disebut “si Sweater” akibat orang itu suka pake sweater mulu. Ada juga si “Kapas” gatau kenapa alesannya. Ada juga “Cottonbud” karena dia rada conge #gakdeng. Lama-lama muncul nama lain dari minuman seperti: si soda, si Okky jelly drink, lalu berbagai angka: si 12, si 31, si 42, banyak weh sampe ada yang akar 10, akar 987, dsb (yang terakhir mah lebay aja biar seru) tapi yang sangat jahat adalah “leho” karena dia suka lehoan huhuhu parah banget sih. Terkadang ada yang punya 2 panggilan. Misalkan si Soda a.k.a si 12.

Setelah menginjak SMA, personil berganti total dan panggilan orang menjadi angka sudah musnah digantikan oleh berbagai macam warna. Ada si “Kuning”, “Biru”, “Ijo”, Cokelat”, “Abu”, “Item”, dan “Merah”. Hal ini didasarkan jaket atau tas atau hal-hal yang sering mereka pake. Misalkan si Coklat dipanggil coklat karena dia selalu pake jaket coklat. Atau si Kuning karena kulitnya kekuningan langsat gitu.

Yah begitulah para penggibah mengghibah biar ga ketauan orangnya. Jadi kalau di depan kamu ada  yang ngomongin “si sepeda” atau si-apalah yang gak masuk akal, niscaya dia sedang ngomongin orang.Janganlah ditiru, ini mah bocoran aja yang merupakan rahasia umum seluruh umat penggosip.

Tapi aku yakin pasti yang baca-baca inipun sama seperti kami hwhwhw.
Pesanku adalah satu, Berhentilah nak dalam melakukan kealayan dan segeralah keluar dari lembah dosa ini–apalagi kalau ngasih nama orangnya dengan hal-hal jahat. Tapi kalo urgent mah gapapa. #lah

#tulisanyangtidakberfaedah
#jahiliyah
#gengyangriweuh
#jahat
#maap
#kokpakehashtagya