The way you&I write #Part1

“You’re what you eat”
sepertinya sangat berlaku bagi siapapun yang nulis. Kaya misal abis baca bukunya sophie kinsella yang kalimatnya sering banget ada: what on earth… why on earth….. lalu ku jadi ikut ikutan pernah nulis kaya gitu. Terus kadang terhipnotis juga gaya nulisnya tere liye, atau sesimpel-simpelnya ketularan sama blog orang lain.

Ada suatu rahasia yang aku jaga sejak masa remaja kira kira umur 16 tahun lah. Sebenernya ga rahasia sih, tapi pengen aja bilang kalo ini rahasia. Yaitu kita akan secara reflek ngikutin cara nulis ornag yang sering chat sama kita/orang yang kita kagumi/tulisan yang berkesan buat kita. Aku mengamati dari hasil sms atau chat-chat dengan orang yang intens chat dg kita seperti grup persahabatan wanita (halah), chat dg orang yang lagi curhat panjang, si doi, atau dosen, yang lama-lama kok bahasanya jadi serupa yaaa.

Paling jelas keliatan akan saling mempengaruhi sih kalo udah chat yang lamaaaaaaaaaaaaaa banget. Contohnya yang satu alay yang satu engga eh lama-lama dua-duanya jadi mix alay dan engga. Aku sadar banget sih waktu jaman dimana tiap hari dan hampir tiap jam pasti smsan sama nida sekedar nanya: mendingan bolos les apa engga? atau tau gakkk si naira ngegunting rambut aku (sumpah emang segapenting dan seababil itu). Lama-lama pas lulus aku sadar bahwa aku ketular gaya ngetiknya nida dan sebaliknya.Tapi yang paling ngaruh itu adalah kesan. Kalau kita berkesan sama sesuatu, maka itu akan digunakan dalam tulisan, meskipun orang itu ga pernah dipengaruhi tulisan kita, bahkan ga tau siapa. Kayak misalnya…….yahgitulah meni harus dicontohin wae..

Kadang juga terdeteksi dari diksi-diksi yang digunakan orang dalam nulis atau ngobrol secara persis dan aku hanya bisa berkata dalam hati: hmmm diksinya seperti kenal yaaaa. Seperti yang sering aku ketik yaaa. Atau juga kadang aku sadar sendiri ooopsss aku mengatakan diksi yang sering dia pakai… atau ooopss ini diksi yang si A tulis *lalu delet tulisan atau berkata: ah bodo amat

Yah begitulah………


7/12/2016 11.27pm.
Masih bingung dengan buku terjemahan timur tengah yang bahasanya begini: si fulan yang bagaikan kurma itu berjalan menuju sungai nil bak seorang ibu merindukan anaknya…… plz i dont get it.

Advertisements

J-1: As Beauty As An Angel

Satu jam lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, maka satu jam terakhir ini aku ingin menulis sesuatu.

Ada sebuah ayat yang menarik untuk dicermati, bahwa makhluk sekelas malaikat pernah “iri” terhadap manusia.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)

Saat itu manusia diciptakan, lalu Allah mengumumkan bahwa manusia memegang jabatan: Khalifah di muka bumi (wakil Allah). Seketika malaikat bertanya-tanya: Kenapa manusia? Padahal kami (malaikat) adalah hamba Allah yang tidak akan berbuat kerusakan, dan akan selalu taat? Kenapa musti manusia yang merupakan makhluk yang dapat menumpahkan darah?” Memang, dulu sempat terpatri dipikiran bahwa jadi malaikat itu enak ya, sepertinya sih cantik, taat, dan hidupnya ga ada godaan. Justru itulah, adanya godaan dan hawa nafsu itu yang membuat manusia jadi lebih hebat kalau bisa taat.

Rupanya bukan hanya malaikat, iblispun menolak kenyataan ini dengan tidak mau bersujud pada manusia saat Allah memerintahkan seluruh makhluk bersujud (aku pernah nulis ini deh tp biar aja ya). Sujud disini bukan berarti menghambakan diri, tetapi bentuk makhluk lain “siap” membantu manusia dalam menjalani tugas kekhalifahannya.

Kadang aku juga suka mikir, kerjaan malaikat itu beberapa diantaranya ngurusin manusia, sisanya wallahu alam. Ingat-ingat saja lagu “sepuluh malaikat yang wajib diketahui” yang kita hapalin waktu PG/TK. Tugas-tugasnya malaikat yaitu menurunkan rizki untuk manusia, mencatat amal baik/buruk manusia, mencabut nyawa, bertanya pada manusia di alam kubur, dll. Kebayang ga sih jadi malaikat rokib/atid tiap hari nempel terus sama kita dan jeli atas segala perbuatan kita dan ditulisin satu-satu. Terdengar membosankan dan cukup waw tapi toh mereka memang malaikat; makhluk yang akan selalu taat.

Manusia sebagai “anak baru” inipun Allah tunjuk sebagai wakil Allah dimuka bumi, bukan malaikat (makhluk yang sangat taat dan tidak memiliki nafsu) juga bukan iblis (makhluk taat yang sudah beribadah lebih lama dan diciptakan jauh lebih dulu dari manusia). Haruskah idung kita ngapung karena kita menempati jabatan yang dipertanyakan dua makhluk sehebat iblis dan malaikat?

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS 17:70)

Kalau diibaratkan dengan teknologi, maka kita adalah gadget paling banyak fiturnya sehingga sanggup jika diberi beban yang lebih. Kenapa? Karena manusia memiliki potensi yang bisa mendukung tugas kita. Dan potensi itu tidak dimiliki makhluk-makhluk lainnya. Seperti halnya juga teknologi, jika aku adalah sebuah hp smartphone tetapi aku tidak mengenal “diriku sendiri” bisa jadi aku hanya memaksimalkan fitur fitur yang aku tahu saja: sms dan telepon. Padahal kalau aku mau belajar, maka aku akan tahu si pembuat “diriku” pengennya aku jadi apa, dan fitur-fitur apa saja yang bisa menghantarkan aku ke tujuan tersebut.

Pun manusia, kita harus mengenal diri kita sehingga kita akan tahu, apa yang Allah inginkan saat Dia menciptakan kita? Diri kita yang super rumit ini (bayangkanlah saat kamu belajar biologi, sel2, darah, saraf2, atau psikologi, atau kegalauan2 dan overthinking yang kamu miliki) akan sangat “mubazir” kalau Allah menciptakan kita yang rumit ini hanya untuk hepi-hepi terus.

Kalau kamu adalah peracik obat-obatan, pembuat robot, atau pembuat-pembuat lainnya, barangkali ga mungkin bikin sesuatu hal yang hebat dan rumit tapi cuman buat: biarkanlah mereka hidup dan menikmatinya. Tanpa ada suatu “tujuan” khusus. Belum lagi tumbuhan (yang buahnya kita makan dan sayurnya sangat sehat), hewan (yang dagingnya berprotein), langit (yang siang dan malam memiliki porsi seimbang), dan tanda-tanda kekuasaanNya yang lainnya yang kalo dipikir-pikir itu semua “buat kita”.

Udah mah manusia itu sendiri merupakan penciptaan yang hebat, lalu makhluk-makhluk lain juga diciptakan untuk mendukung kehidupan kita. Masihkah kita berpikir bahwa hidup kita harus sesederhana yang dijalankan sekarang ini? (seharusnya bukan kita, tetapi aku)

Tujuannya itu apa? Barangkali telah disebutkan di paling atas: menjadi khalifah dimuka bumi. Yang menjalankan hidup sesuai aturanNya, meng-uswatunhasanah-kan Rasulullah Muhammad SAW, dan menjadikan Allah sebagai Rabb, Malik, dan Illah-nya.

Sekian dulu tulisan dimalam takbiran ini, tulisan ini ditulis pukul 05 sore tapi berhenti karena harus mengerjakan sesuatu hal (yah biasalah kerempongan lebaran) sehingga baru dilanjut malam ini. Semoga jadi pengingat khususnya buat diri sendiri dan umumnya buat yang baca.

Habis mudik, kalau sempat akan dilanjutkan, dan semoga kita bertemu Ramadhan selanjutnya! 🙂

Taqobalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Maafkan aku ya……..

20160705-075840 PM.jpg

Careless: Masuk Neraka Karena Lalat


Terdapat kisah-kisah yang menunjukkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati meski itu hanya dari niat.

Saat perang Khandaq, Ali bin Abi Thalib sedang menghadapi Amr bin Abd Wahd. Amr terpojok dan mencoba memberontak, saat itu ia meludahi wajah Ali bin Abi Thalib. Bukannya segera “menuntaskan pekerjaan”, Ali malah mundur dan tidak jadi membunuh Amr bin Abd Wahd.
“Jika saat itu aku membunuhnya, aku takut niat membunuh Amr bukan karena Allah, tetapi karena kemarahanku yang telah diludahi oleh Amr…..” Itu alasan mengapa Ali tidak jadi membunuh Amr bin Abd Wahd yang padahal tinggal dikit lagi berhasil. Subhanallah kan.


Jaman dahulu kala mama sering ngebeliin buku “Ba’da Isya” yang ditulis oleh Sofiah Mashuri. Isinya mengenai kisah-kisah muslim jaman dulu yang dikemas pendek-pendek dengan gambar yang banyak. Hingga hari ini, ada satu kisah yang masih aku ingat. Mengenai seseorang yang masuk neraka karena lalat.

Ceritanya ada 2 orang yang bernama fulan dan fulin (namanya ngarang). Mereka hendak melewati suatu pedesaan. Sesampainya di pedesaan itu, kepala desa dan kerabatnya mencegat mereka,
“Kalo mau lewat, harus ngasih sesajen dulu ke berhala kami!” Katanya layaknya preman-preman jaman sekarang yang kalo lewat harus ngasih duit. Tapi bedanya preman mah buat dirinya, tapi orang di pedesaan itu buat tuhannya.

Mereka bingung karena ga punya duit dan ga punya apa-apa. Akhirnya orang desa berkata,
“Mau nyembelih lalat doang juga gapapa”
Fulan dan fulin berpandangan. Fulan segera menyembelih seekor lalat dan akhirnya fulan bisa lewat desa itu. Tetapi si fulin meskipun “cuman” lalat, tetapi dia sama sekali ga mau nyembelih lalat buat berhala mereka. Karena ia tidak mau mempersembahkan sesuatu untuk tuhan orang lain, dan fyi fulan dan fulin adalah orang Islam.

“Karena seekor lalat saja, seseorang bisa masuk neraka (fulan) dan yang lainnya bisa masuk surga (fulin)”, begitu kata Rasul mengakhiri cerita ini dihadapan para sahabatnya.


Begitulah dua kisah mengenai: bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam setiap langkahnya. Terlalu selo dan terlalu bodoamat adalah hal yang harus dihindari. Tutup kuping atas pernyataan bahwa kita terlalu strict atau kaku atau apapun, karena, memang muslim harus berhati-hati.

Dari aku, yang juga belum maksimal dalam kehati-hatian.

Pride

Ted : I am happy for them.

Lily: Is all you let yourself say out loud. Because if you said anything to the contrary, well, then that would make you the most awful person on this rooftop. So I’m gonna give you an out.

Ted: And how are you gonna do that?

Lily: By saying something that is even more awful.

Ted: Like what?

Lily: *crying* Sometimes I wish I wasn’t a mom. Sometimes I wanna pack a bag and leave in the middle of the night and not come back.

Ted: Robin shouldn’t be with Barney, she should be with me.

Ted: Are you serious?

Lily: I don’t know. I mean, I love being a mom, I-I love Marvin so much. But you remember when I wanted to be an artist? Art was my whole life, and… and now it’s been months since I’ve even picked up a brush. I-I spend the whole day taking care of kids in my job, and I come home, and it’s more of the same, and it’s just… it never lets up. It’s just really, really hard, Ted.


Ya meskipun so last year bgt baru namatin HIMYM dua tahun setelah ceritanya tamat, tapi percakapan diatas adalah salah satu yang paling berkesan dari sekian episodnya. Yaitu saat Ted brokenheart akibat Robin yang akan nikah sama Barney.

Rasanya aku ingin banget ikutan ke rooftop ngobrol bareng Lily dan Ted, dan ikutan mengatakan semuaa hal-hal jujur yang aku inginkan tapi ga mungkin terjadi. Udah gitu nangis bertiga sambil berpelukan. (wkkw saha kamu pi). Cheesy ya


Lily : I think we just have to accept our lots in life, and… I have to be a mom to a beautiful, wonderful, if slightly constipated little boy, and you have to let Robin and Barney get a band.

20160524-034038 PM.jpg