Limiting Social Media

I’ve bunch of free time (beside waiting for scholarship announcement and make plans for bussiness with rifa) which means I have chance to do anything unimportant like scrolling my handphone for ages or hanging out with friends every-single-day. I realized that I have to be discipline and limit myself to do such things. So here are how I tried to be productive and limit myself for staying with my phone for years:

1. Uninstall line and download line lite. Line lite won’t allow you to look at timeline or read Line Today. Sometimes if there’s a notification, they stay silent. So I apologize that I took an age to reply your messages. I do not consider too much to use line lite instead the usual line because ‘important’ people would text me on whatsapp. Positive side of line lite is it allow you to know who read your messages in a group. For instances this is how I sent a message:

After I push the black round, I immadiately know who read my message:

Innnn adddition, line lite has a very friendly size of space unlike the usual-heavy-line.

2. Uninstall instagram (sometimes). I had bad behaviour like stalking instagrams of celebrity or kids or jokes. It takes ages for me to stay on instagram and spend my internet quota there. 

3. Download Duolingo so that you can learn any language. Download Wattpad then you can read whatever books you want. Download Pinterest for new ideas and diys. Download…. hungry shark…….because it was ffffffffun!

Good Mourning?

Hidup kita sekarang ini bukan lagi disurga, sehingga kesulitan dan kesusahan kerap terjadi. Dengan itu terkadang kita merasa jadi “centre of the universe” –yang mana merasa diri paling malang sedunia aherat, merasa paling pantas mengeluh dan ngejudge bahwa orang lain ga paham apa yang kita rasakan–. Jika itu terjadi agaknya kita harus belajar berlapang dada dan menyadari bahwa centre of universe itu matahari, bukan kita (hehe kzl).

Menangis dan berkeluh kesah adalah hal yang sangat manusiawi. Toh ini masih didunia yang hidupnya bagaikan roda, yakni atas bawah ganti-gantian namun tetap semua berakhir pada kematian. Sebagai muslim tentu kita meyakini adanya hari kebangkitan meskipun kita belum melihatnya. Karena kalau kita bisa melihat artinya kita udah mati.

Tetapi galau karena hidup juga dilarang berlebihan, dalam Islam. Seperti saat kita putus asa banget sampe ingin mati, janganlah berdoa untuk cepat mati karena itu dilarang, apalagi bunuh diri. Atau saat kita ditinggalkan, meraung-raung sedih justru memperberat beban yang meninggalkan. Disini kita dituntut untuk berlapang dada dan ikhlas, menyadari bahwa Allah memiliki rencana lain yang lebih indah tanpa kita ketahui karena keterbatasan pandangan kita.

Mengimani Qodho dan Qodar mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang kuat dan memiliki motivasi hidup yang tidak habis, karena motivasi kita adalah Allah SWT. Kalau motivasi hidup kita harta, maka saat miskin kita akan sangat sedih bahkan bisa jadi penjahat. Kalau motivasi kita adalah manusia, maka saat ditinggalkan kita akan putus asa. Tetapi kalau kita percaya sama Allah,mau kita senang/sedih/susah/gampang, itu jadi ga masalah selama Allah jadi tujuan. Menangis boleh, karena bahkan saat Ibrahim, putra Rasulullah meninggalpun, Rasul menangis, tetapi beliau tidak meratap dan berkata-kata berlebihan.

Ada baiknya kita berhenti mengeluh, berhenti ngelamun liatin ujan, dengerin lagu-lagu galau sambil dimasukin ke hati, atau bahkan marah-marah saat takdir lagi ga sesuai harapan. Mungkin usaha kita masih kurang, atau Allah ingin kita mengeluh padaNya, atau Allah punya rencana lain.

Apapun hasilnya, bagaimanapun akhirnya, selalu positive thinking adalah hal yang baik untuk mindset kita. Dan segala puji bagi Allah, yang sudah menyuruh “iman pada takdir” pada umat Islam, sejak aku ga paham takdir itu seperti apa sulitnya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).

Dari Abu Umamah r.a, “Bahwasanya Rasulullah saw. melaknat wanita yang merusak wajahnya, yang mengoyak-ngoyak bajunya dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri.” (Shahih, HR Ibnu Majah [1585], Ibnu Hibban [3156], Ibnu Abi Syaibaj [III/290] dan ath-Thabrani dalam al’Kabiir’tf [775]).

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya, serta yang berteriak dan berkata : ‘celaka dan binasalah aku” (HR Ibnu Majah : 1/505, Shahihul Jami’ : 5068)

Rasulullah bersabda, “Orang yang suka meratap, jika tidak bertaubat sebelum matinya, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari tir dan baju besi yang berkarat”

Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)

Sumber inspirasi: Ringkasan Riyadhush Shalihih
(Penyusun: Imam Nawawi, Peringkas: Syaikh Yusuf An-Nabhani)

Processed with VSCOcam with b1 preset

 

Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Ter-mudah terbaca

Aku membaca novel remaja saat masih kelas 6 SD. Membaca kisah perkuliahan saat masih SMA. Dan membaca peliknya berumah tangga saat masih kuliah. Novel-novel kehidupan itu setidaknya membuatku lebih sensitif atas gelagat dan tatapan orang sekitar. Bagaimana mereka berbicara, berbohong, atau berbasa-basi. Atau memuji, atau merendahkan dalam hati. Sehingga aku bercita cita menjadi seorang detektif atau bagian dari badan intelijen. Ah kalau itu terlalu tinggi, setidaknya, aku ingin jadi psikolog.

Ah bagaimana kalau aku jadi peramal sajalah, yang bisa meramal bagaimana kau benci padaku padahal selalu tersenyum. Bagaimana orang itu tidak pernah peduli padahal sering bertanya kenapa. Marah karena tak pernah kubercerita padahal mendengarpun tak pernah. Atau betapa kesalnya dia saat melihatku lalu memilih pura-pura tidak melihat.

Pun sebaliknya, bagaimana dia terlihat jelas terlalu memberi perhatian. Ada pula yang berbaik hati menolong dan mau berbicara dengan orang sepertiku, yang lebih banyak mengobservasi daripada bicara denganmu. Banyak yang positif, negatifpun lebih banyak lagi. Memberantas penyakit hati dan prasangka memang sulit.

Aku hanya ingin agar kau jangan mudah terbaca. Jangan seperti novel-novel itu. Atau lebih parah lagi kalau kau seperti drama korea. Banyak basa basi dan gelagat aneh padahal kalau mau menuju A B C  atau D tak perlu banyak berakting yang terprediksi.

Kecuali bersikap baik, setidaksuka apapun kau padaku atau siapapun, tetaplah bersikap baik meskipun tidak ingin.

gsrtgf
weheartit.com

How to let go

Barangkali aku adalah kebalikan dari para perempuan yang kau idamkan. Aku tidak menyimpan memori. Aku menelannya.

Suatu hari di 22 tahun aku mencoba seperti perempuan lainnya. Mengumpulkan setiap kenangan. Seperti mereka, untuk berharap selamanya, agar terkenang dikenang dan mengenang. 30 menit kemudian aku tak sanggup. Aku menelannya.

Setangkai bunga matahari, bungkus pizza, bahkan gelas kopi bertulis nama, tersimpan rapi dalam sebuah box bertulis namamu. Foto mulai dirapikan dipajang dalam kamar. 7 hari kemudian aku tak bisa lagi. Aku menelan semuanya. Kau heran dan kesal melihat kamar perempuan yang tidak berwarna warni akan kenangan dan barang menyenangkan. Itulah aku.

Aku tahu semua perlahan meninggalkan. Membiarkan semua kenangan tersimpan hanya membuatku terbelenggu akan hal yang tidak pasti. Puisi dan prosa bahkan tidak akan mengekalkanmu.

Jangan harap aku menulis. Kertas surat dan puisi berisi nostalgia, sudah kutelan sampai sakit tenggorokan. Kesedihan dan rasa melankolis, aku tidak seperti banyak perempuan yang sanggup melewatinya. Aku menelannya. Menghilangkannya.

Aku menelannya. Agar semua memori menghilang. Mengalir dalam darah. Menjadi detak setiap hidupku.

Ibu ibu Inspirasional

Aku tidak paham apakah “inspirasional” merupakan kalimat baku yang terdapat di kbbi atau engga. Tetapi yaudah atuh ya ngapain dipermasalahin da ini bukan bikin draft!

Di suatu hari yang maghrib, aku lagi di rumah uwa di kawasan Cijerah. Berhubung udah azan, akhirnya ikut solat dikamarnya. Keinspirasionalannya terjadi disini. Yaitu sehabis beres solat, aku pake kacamata, dan terkaget ternyata di dindingnya banyaaaak banget bacaan Qur’an tulisan tangan gede-gede ditempelin. Kalo difilem indonesia jaman dono kasino indro mungkin disangka untuk mengusir hantu.

Tiba-tiba uwa masuk, melihat aku yang masih takjub, dan bilang, ih yaampun malu ketauan tempelannya. Uwa mah masih belom bisa ngapalin Qur’an. Udah tua mah susah bangeet pi ngapalinnya. Jadi ya giniii di dinding di tempel-tempelin semuanya biar apal…………..Yang ada aku yang malu. Masih muda tapi waktu diabisin sama keambisan duniawi yang ga berujung, padahal lulus mah udah. Setelah kejadian ini aku jadi merasa agak hampa, merasa agak salah jalan, dan merasa ingin les bahasa mandarin (ga deng ga nyambung).

Kedua ibu-ibu yang inspirasional adalah mamahku sendiri. Beliau terkadang suka ngapalin Qur’an kalau abis subuh. Dan ngedenger perjuangannya tuh rasanya subhanallah bangeeet. Karena yang namanya ngapalin Qur’an emang ga mulus dan pasti ada salah salahnya. Ngedenger mamah salah mulu, ngomong eh berkali-kali, dan minta ditesin An-Naba bikin aku speechless tapi aku ga akan bilang-bilang ah heuheu.

Emang bener lagu waktu SD, “Ilmu yang didapat, selagi masih kecil, bagai lukisan diaaatas batuuuu” sementara pepatah mengatakan “Belajar waktu kecil bagaikan menulis diatas batu tetapi kalau udah bertambah umur, belajar itu bagaikan menulis diatas air”

Ibu-ibu inspirasional ketiga dan keempat aku temui tadi pagi. Alhamdulillah aku dan teh ipa ikut training trik ngafalin Qur’an. Pesertanya berapa orang apakah anda bisa nebakkk? Ya, hanya empat orang. Kami juga dapet wejangan sebagai “calon ibu” dari kedua ibu tersebut.

Katanya, kalau udah jadi ibu-ibu, kerasa banget ngafalin Qur’an itu jadi wajib. Belum lagi kalau anak-anaknya udah pada jago karena sekolahnya di sekolah Islam. Mau ga mau, ibu selalu jadi contoh buat anak-anaknya. Eh kalo ditulis mah berasa bosen sih kamu bacanya, tapi pas kami ngobrol dan ibu-ibu tersebut curhat mengenai anak-anak dan keluarga, dan betapa pentingnya Qur’an di dalem rumah, rasanya aku jadi termotivasi dan bersemangat. Kalo sebagai ibu kita ga ngenalin Islam dan Qur’an maka siapa yang akan ngajarin anak-anak? Gitulah intinya mah.

Udah gitu, pas kita lagi mencoba suatu metode, kami semua berhasil ngafalin satu ayat panjang dengan waktu sedikit. Mau tau ga apa??? Ibu-ibu di sebelah aku (tidak sebut nama karena bisi ada yang kenal heuheu) nangis dong saking terharunya karena bisa hapal………….. Ya Allah, sebegitu senengnya bisa ngafalin satu ayat Al-Qur’an bagi mereka. Beliau bilang bahwa udah usia segini dan bisa ngafalin satu ayat itu adalah kenikmatan yang luar biasa.

Ya Allah, semakinlah aku merasa berdosa akan waktu yang sia-sia selama ini. Mereka juga curhat bahwa (you dont say lah) ibu-ibu mah pasti paciweuh (rempong) ngurus semua hal di rumah dan susah nyari waktu luang buat belajar. Lah kami berdua, waktu berlimpah ruah tapi udah dipake apa aja ya……………….

Keempat ibu-ibu tersebut, memberiku kesimpulan kalau masa muda adalah masa yang masih enak untuk belajar. Tapi janganlah hanya ngejar duniawi, pangkat, karena semua itu ga akan tertulis dinisan dan pride ga akan di bawa sampe ke akhirat. Alangkah lebih baik kalau kita ngejar juga ilmu untuk akhirat. Terutama, sebagai ibu-ibu, karena mau ga mau kita yang akan menggiring generasi selanjutnya apakah mau dekat dengan Qur’an atau justru menjadikan Qur’an sesuatu asing yang terlalu “holy” sampe ga pernah disentuh?

Bagi Rapot

Karena satu dan lain hal, hari ini aku ngambil rapotnya nadia. Awalnya sih malez banget parahh karena berasa ibu-ibu, tapi kalau aku inget bahwa banyak temen aku yang bahkan sejak usia remaja udah ngambil rapot adiknya, aku jadi agak ngga males lagi (((agak))). Yaudah sih.

Awalnya sempet kebingungan karena kelasnya dipindah. Setelah nanya sana sini, tetep belom nemu. Alhamdulillahirobbilalamin bagaikan lagi puasa tiba-tiba bedug, begitulah rasanya aku saat itu karena tiba-tiba bertemu temen-temennya si nadia, yakni fara dan mega. Bagaikan seorang kakak merindukan adiknya, aku segera sumringah dan hampir mau meluk,
“Kalian kelasnya dimanaaa?” Bukannya jawab, mereka malah nanya,
“Teh opiii kenapa nadia ga ikut?” Aku jawab sekenanya, lalu nanya lagi kelasnya dimana.
“Disitu teh..” Kata mereka, lalu merekapun pergi.

Lalu aku ngobrol sama ibu gurunya. Kebanyakan malahan jadi cerita kuliahan bukannya ngomongin nilai-nilai nadia.

“Kuliah dimana teh?” Tanyanya. Lalu aku jawab, kelautan itb bu (biar cepet, karena kalo jawabnya oseanografi maka bakal minta penjelasan)

“Wah, anak saya mah di sbm”
“Lulusnya cepet ya bu sbm mah”
“Ah, saya ga peduli mau lulus cepet atau lama, pengennya cepet-cepet punya cucu…….”

Beliau kemudian cerita betapa anaknya super-rajin sampe-sampe gak pernah pacaran, suka males main, hobinya adalah membaca, senang belajar, dan lain-lain, padahal ibunya udah menantikan anaknya punya calon untuk dinikahin.

“Jodohin aja atuh bu” wk ngasal yang agak bodoh. Ngga di waro. Alhamdulilah.

“Coba tanya mamahnya, kalo punya anak perempuan pasti maunya nimang cucu…lulus mah terserah lah”

“Hooo….iya bu nanti ditanya” (padahal ga akan)

*brb ga jadi lulus juli*
*padahal emang engga*

12:03

Katanya, ada 3 tipe wanita solehah.

Pertama adalah tipe Khadijah yaitu seorang istri yang mana suaminya sangat mentaati Allah (Rasulullah) dan beliau mendukung Rasul dalam segala perjuangannya.

Tipe kedua adalah Asiyah, yang suaminya adalah seorang penentang Allah, Fir’aun. Meski suaminya menyekutukan Allah, tapi ia tetap di jamin surga-Nya karena keteguhan hatinya pada Islam hingga akhirnya beliau meninggal dibakar demi mempertahankan prinsipnya.

Ketiga adalah Maryam. Beliau sama sekali tidak menikah, bahkan sempat difitnah macam-macam oleh masyarakat saat itu karena ia memiliki seorang anak; Nabi Isa a.s. Meski tidak menikah, tetapi perjuangannya dalam jalan Allah sungguh luar biasa, sehingga mulia derajatnya.

Yah begitulah, pasangan bukanlah tujuan hidup manusia, ia hanya salah satu media untuk tetap berjalan menujuNya. Tidak ada cerita orang masuk neraka karena tidak menikah atau karena pasangannya jahat. Sesoleh-solehnya Rasul dan se jahat-jahatnya Fir’aun atau se-tidak ada pasangan layaknya Maryam, itu tidak mempengaruhi derajat Khadijah, Asiyah, atau Maryam. Karena seperti yang dikatakan kitab suci bahwa derajat seseorang dipengaruhi oleh taqwanya.

Jadi, pikirkanlah apa yang harus dipikirkan

How girls call you

Gak tau kenapa tiba-tiba inget

Jadi dari jaman SMP hingga SMA dan terkadang kuliah (tapi sekarang ku udah tobat), dalam grup cewe-cewe yang suka curhat, biasanya mereka memiliki panggilan khusus buat si doi doi yang kadang diomongin dalam grup mereka. Waktu SMP mah ada “si 02:47” terinspirasi dari seorang penyanyi kalo ga salah Marcell deh, yang memiliki tattoo di tangannya bertuliskan “04.00”. Rempong pisan ga.

Ada juga yang disebut “si Sweater” akibat orang itu suka pake sweater mulu. Ada juga si “Kapas” gatau kenapa alesannya. Ada juga “Cottonbud” karena dia rada conge #gakdeng. Lama-lama muncul nama lain dari minuman seperti: si soda, si Okky jelly drink, lalu berbagai angka: si 12, si 31, si 42, banyak weh sampe ada yang akar 10, akar 987, dsb (yang terakhir mah lebay aja biar seru) tapi yang sangat jahat adalah “leho” karena dia suka lehoan huhuhu parah banget sih. Terkadang ada yang punya 2 panggilan. Misalkan si Soda a.k.a si 12.

Setelah menginjak SMA, personil berganti total dan panggilan orang menjadi angka sudah musnah digantikan oleh berbagai macam warna. Ada si “Kuning”, “Biru”, “Ijo”, Cokelat”, “Abu”, “Item”, dan “Merah”. Hal ini didasarkan jaket atau tas atau hal-hal yang sering mereka pake. Misalkan si Coklat dipanggil coklat karena dia selalu pake jaket coklat. Atau si Kuning karena kulitnya kekuningan langsat gitu.

Yah begitulah para penggibah mengghibah biar ga ketauan orangnya. Jadi kalau di depan kamu ada  yang ngomongin “si sepeda” atau si-apalah yang gak masuk akal, niscaya dia sedang ngomongin orang.Janganlah ditiru, ini mah bocoran aja yang merupakan rahasia umum seluruh umat penggosip.

Tapi aku yakin pasti yang baca-baca inipun sama seperti kami hwhwhw.
Pesanku adalah satu, Berhentilah nak dalam melakukan kealayan dan segeralah keluar dari lembah dosa ini–apalagi kalau ngasih nama orangnya dengan hal-hal jahat. Tapi kalo urgent mah gapapa. #lah

#tulisanyangtidakberfaedah
#jahiliyah
#gengyangriweuh
#jahat
#maap
#kokpakehashtagya

Don’t see me, don’t read me.

Please don’t see
Just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me
Reaching out for someone I can’t see

It’s Adam Levine’s week!