Pengecualian

Setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan membuatku berfikir bahwa semesta selalu mengecualikan aku. Aku adalah tidak ketika semua orang adalah iya. Aku adalah pergi saat semua orang datang. Aku adalah setiap kebaikan yang menjadi debu. Aku adalah setiap jahat yang selalu teringat. Aku juga kau saat kau tidaklah aku.

Akhirnya aku menyadari. Akulah yang mengecualikan aku. Akulah yang berjalan sendiri ke lingkaran sendiri. Hilang sudah semua kecuali diri.


draft 5/11/2017

Tempat Tinggal Lucifer

Kau sudah tahu betul bahwa kini para setan senang beranak pinak dan bertelur dibawah kuku kuku manusia. Entah itu kuku seorang selebriti sehabis di manicure, atau bahkan kuku seorang penggali kubur yang sering bermain tanah.

Cara mereka bekerja semakin pintar dan tidak mengenal usia. Anak-anak setan itu menetas kemudian bermain di jari-jari manusia sehingga tangan mereka menjadi gatal dan tidak bisa diam. Adapun obatnya sudah disediakan oleh lucifer, orang tua mereka. Sebuah layar kecil yang sekaligus menjadi tempat tinggal manusia saat senang, sedih, marah, benci. Dunia baru mereka adalah layar yang memiliki julukan “pintar”.

Anak-anak itu kini menjadi anak kesayangan ayah ibu setan. Karena manusia jadi bertingkah tidak biasanya. Tipu daya semakin banyak dan kepedulian semakin mengerucut. Mereka suka akan hal itu.

Seorang suami istri di dunia nyata bisa saja saling tersenyum setiap hari padahal para anak-anak setan berhasil merayu mereka di balik layar kecil pintar itu, agar saling berselingkuh dengan rapi dengan para mantan.

Atau memunculkan iri dengki hasad dan benci di hati-hati para manusia yang berusaha paling hati-hati menjaga hati. Membiarkan kabar-kabar buruk dan gembira saling bermunculan menimpa satu sama lain tanpa tahu bahwa itu hanyalah karangan seorang penulis fiksi yang jahat.

Seorang teman kini tidak lagi memeluk erat sahabatnya yang 5 tahun tak bertemu–karena toh setiap hari kita bertemu dibalik layar, bukan?

Seorang ibu tidak lagi pernah menanyakan “bagaimana sekolah/kuliahmu hari ini?” sementara si bungsu tidak tahu harus bercerita pada siapa saat ia di bully. Anak-anak kecil kehilangan penasehat-penasehat dan teman bermain dari kalangan orang dewasa, sehingga menangis rewel menyebalkan selalu menjadi andalannya. Sementara para orang dewasa sibuk marah-marah mengata-ngatai anak jaman kini yang semakin manja.

Kuharap pasangan-pasanganmu tidak pernah menyimpan rahasia dibalik layar pintar milik anak-anak setan itu. Kuharap ayah ibu kakak adikmu adalah orang yang masih mau bercengkrama menatap mata setiap hari dan bertanya apa yang terjadi setiap hari. Kuharap teman-teman dan sahabat lamamu bukanlah orang yang mendengarmu bercerita padahal mata hati dan pendengaran mereka hanya tertuju pada layar milik lucifer itu. Kuharap orang-orang disebelahmu mau meletakkan layar itu jauh-jauh, karena kau jauh lebih berarti.

Adalah kuberharap, agar beberapa orang yang memiliki masalah pelik mau memotong kuku dan jari mereka, supaya lucifer tidak lagi menyimpan telurnya.

mnb
weheartit.com

Koffie & Zombie

Puisi senja hujan dan kopi adalah teman setia para penyair. Atau pura-pura penyair. Atau perempuan melankolis dan laki-laki penulis prosa. Atau barista. Atau pura-pura barista. Atau para mahasiswa dengan kantung mata hitam–yang tak punya ide syair apa-apa selain kopi.

Aku tidak bisa bicara apa-apa tentang kopi. Tidak ada seorangpun dan suatu memoripun terkait dengannya. Kecuali ayah yang sangat aku cintai yang mencintai kopi. Kopi mengingatkanku akan rasa tidak punya uang dan tidak punya waktu karena berlama-lama menikmatinya di kafe orang yahudi itu. Mungkin tugas akhir oseanografiku ada sedikit hubungan dengannya. Tapi lupakanlah. Mungkin juga orang itu. Tapi lupakanlah.

Kata orang tangguh, kopi itu tidak berguna untuk menemani malam. Jantung mereka malah semakin loyo dan ingin tidur. Bagiku sebaliknya, aku selalu bisa merasakan aliran darah deras disekujur tubuh, terpacu jantung yang sedang berlari 120km/jam dalam dadaku. Aku menikmati jalan pulang sambil memeluk tas erat. Kepala tangan dan kakiku tidak ada rasanya. Hanya rasa darah yang berlomba lari dalam urat-urat nadi.

Biasanya teman-temanku akan menyuruhku tidur dan minum akua galon hingga kembung. Makan nasi hingga gendut. Atau bermain kartu hingga lupa hari. Tapi saat sendiri, aku hanya bisa berjalan dengan kaki-kaki hampa yang sering terantuk batu. Tangan yang memeluk diri sendiri. Mata yang sayu, minus bertambah, dan lingkar hitam menebal.

Zombie-zombie itu kembali muncul dari dalam kopi. Untuk menghilangkan aku.

egtrd
weheartit.com

Instagram dan Diam

Media sosial selalu menunjukkan sisi positif atau kebahagiaan dari kehidupan manusia. Menunjukkan orang yang suka berjalan-jalan ke tempat bergengsi dan mahal, berfoto dengan kebahagiannya (entah keluarga, teman, atau lainnya), atau memperlihatkan kesuksesan hidupnya seperti lulus kuliah, wisuda, menikah, anak, dan sebagainya. Well, aku juga masuk kedalam tipe orang seperti itu. Mana mungkin aku upload foto saat lagi ngeplot Matlab yang udah salah sebanyak 571893086578756 kali. Berasa desperate banget. Lebih baik menampilkan saat aku sudah dinyatakan lulus. Entahlah, media untuk pamer sepertinya terlalu banyak atau mungkin memang itulah fungsinya.

Sebagai orang yang pamer terkadang aku ga bermaksud untuk pamer, tapi karena ya pengen aja. Atau mungkin aku belum bertanya lebih dalam pada diri sendiri, kenapa pi mesti ngupload di ig? Mau pamer? Mau diucapin selamat? Tapi asa lebay teuing ga sih kalo sampe direnungi segala. Kita juga ga bisa stop orang-orang dari media sosial mereka. Mau bilang, ih jangan upload-upload wae atuh, da aku teh di rumah mulu ga kaya kamu yang suka jalan-jalan. Kan ga bisa.

Disisi lain, kadang beberapa hal membuat kita jadi membanding-bandingkan diri. Seperti, waw keren, dia udah kuliah master lagi! Waw bisnisnya hebat! Waw keluarganya bahagia banget! Waw anaknya lucu! Jadi sirik! Kalimat terakhir itulah yang mayan mempengaruhi. Kita juga jadi mikir bahwa kenapa orang lain rasanya bahagia banget ari kita mah biasa-biasa aja.

Hal paling salah adalah orang-orang selalu menunjukkan kesuksesannya tapi ga pernah menunjukkan usahanya. Kadang aku sempet mikir bahwa kenapa orang-orang kesannya gampang buat sukses, buat udah kuliah lagi, buat udah berbisnis keren. Well, padahal kita juga harus tau bahwa dibalik kepameran manusia ada berdarah-darahnya dulu, ada usaha kerasnya, ada gagal-gagalnya. Sama seperti aku yang upload foto abis sidang padahal itu teh hasil pekerjaan dari Juni tahun 2015.

Barangkali aku harus meminimalisir melihat kebohongan-kebohongan yang tercipta antara diri sendiri dan media-media sosial. Meyakini bahwa banyak sekali hal yang ga manusia pamerkan.

Untuk mencapai apa-apa yang diinginkan, ga segampang liat foto orang di ig. Karena dulunya, mereka juga usaha dengan diam.


1.43 pm, setelah sadar masih banyak hal yang harus dikejar setelah ini.

Perempuan Di Balik Jendela

Kurang lebih sudah 10 tahun kamu selalu berdiri di balik jendela tempat tinggalku. Aku ingat betul, setiap hari Kamis pukul 10, kau selalu berpijak disitu hingga pukul 10.30. Lalu pergi. Aneh sekali.

Tahun-tahun pertama, kamu datang bersama dengan tangisanmu dan teriakanmu akan namaku. Kukira kau sudah gila sehingga aku hanya menertawakanmu dari dalam sini, dan enggan menemuimu sedetikpun. Lebih tepatnya barangkali aku sudah muak. Tangisan dan teriakanmu tidak mampu membuatku lupa bagaimana kau meninggalkanku demi hidup bersama lelaki tua-kaya-raya itu. Padahal kau sudah janji selalu bersamaku, sehidup semati.

Lama-lama, aku luluh juga. Itu butuh waktu 9 tahun, hingga tahun lalu aku berhasil memaafkanmu. Meski kau perempuan, tetapi kau sangat setia–lupakan lelaki tua yang barangkali sudah tiada itu. Aku tidak tahu apakah hubungan antara “perempuan” dan “kesetiaan” itu berbanding terbalik sehingga aku mengatakan “tetapi” seperti kalimat tadi. Tapi rasanya cocok saja. Aku jadi lupa mengapa dulu aku sempat membencimu setengah mati.

Sudah pukul 09.00 hari Kamis, tahun 2016. Genap sepuluh tahun kau menemuiku. Aku bersenandung riang sambil menyisir. Aku sudah mandi, berpakaian bagus, dan menyemprotkan minyak wangi. Membayangkan kau datang lagi pukul 10.00 sambil membawa sekotak brownies kesukaanku seperti minggu kemarin membuatku ingin tersenyum sampai menangis. Kau harus mengerti, kadang terlalu senangpun membuat kita ingin menangis.

Lalu Jhony menghampiriku tertawa, meledekku yang sedang mengusap tangis. Ah kasihan, dia tidak mengerti.

Benar! Pukul 10 lewat 6 detik kau sudah disitu sambil melambaikan tangan dengan sumringah.Senang sekali melihatmu senang. Aku jadi ingin tertawa sekaligus menangis lagi. Kau menyuruhku mendekat. Kemudian menunjukkan secarik kertas padaku dibalik kaca,

Aku punya kejutan! tulisanmu begitu rapi.

Aku menggerakkan bibirku, apaaa? kataku tak sabar, sambil sedikit memukul jendela. Paling ia akan memberiku brownies, atau kopi, atau bunga?

Kamu terlihat memanggil seseorang, lalu lelaki muda berkemeja garis-garis datang, berdiri disebelahmu sambil tersenyum dan menundukkan kepala padaku–maksudnya ingin salam. Apa maksudnya? Siapa dia? Aku bertanya-tanya sampai kamu akhirnya menulis lagi,

Aku akan menikah, restui kami ya

Aku tidak bisa menjawab apa-apa, seperti kehilangan kesadaran. Aku membaca tulisan itu berulang-ulang. Kau melambai-lambai tanganmu menunggu jawabanku. Lelaki sialan itu malah tersenyum penuh kemenangan.

Aku lalu menggeleng kepala. Tidak bisa. Tidak mungkin. Apa artinya 10 tahun ini kita selalu bertemu? Apa artinya hadiah-hadiah yang selalu kau berikan padaku? Apa artinya aku selalu berdandan rapi setiap Kamis pukul 10? Apa artinya tawa dan tangisku selama ini yang hanya untukmu?

Perlahan, aku melihat lengan kananku. Ah, sakit sekali, tapi terkadang sakit fisik itu kita butuhkan agar lupa akan sakit yang didalam sini. Aku kehilangan akal sehat. Seperti akan gila. Sebuah cutter yang selalu kuselip dibalik celana akhirnya sudah menyentuh tangan kananku bahkan sudah memotong 1-2 urat. Jhony kulihat sedang sibuk mengobrol dengan dinding. Ah, ia memang gila.

Sementara kau dan orang itu, memukul-mukul jendela. Berteriak memanggil dokter. Kalian menangis. Aku terjatuh lemas dan tertawa. Kunci rumahku hampir terbuka oleh seseorang yang kau panggil ia dengan sebutan dokter, kemudian aku melihatmu lagi, sedang menempelkan secarik kertas,

Berhenti, Ayah! Kenapa harus bunuh diri?

Sebelum kesadaran menyergap sempurna, aku terlanjur tak sadar.

Jalan Riau no. 11, Bandung

tumblr_nd0abiZyux1tchrkco1_500

Epilog:

Hari ini harusnya jadi hari kebahagiaanku, yaitu hari dimana aku meminta restu ayah dan ibu untuk menikah. Kau tahu? Ibu seperti sudah tidak peduli lagi–sibuk bersama adik-adik yang merupakan saudara tiriku. Ia kaya sekali dan sangat berbahagia. Sampai-sampai tak pernah menanyakanku, apalagi mengunjungi ayah.

Kau tahu? Saat meminta restu ayahpun hasilnya tidak bagus. Ia malah mencoba bunuh diri. Setelah ayah pingsan, lalu aku mengobrol dengan dokter. Katanya, ayah melihatku seperti melihat ibu. Wajah kami memang mirip. Tapi rupanya meminta restu darinya sama saja memunculkan perasaan sakit seperti saat ibu pergi dulu.

Apakah kau tau? Aku sangat bingung. Mengapa hidupku selalu seperti ini sejak aku kecil–aku ingin ayah dan ibuku yang dahulu, 10 tahun lalu. Aku jadi ingin berdiri terus sepanjang hari disini. Di rel kereta api.

Hari Pertama

Ini hari pertama dalam hidupmu yang ada dalam hidupku. Hari terakhirku justru menjadi hari pertamamu. Siang itu aku memohon pada malaikat untuk menghadiri mimpi-mimpi manusia. Urusanku belum selesai, kataku memelas.

Kini aku memiliki 40 hari untuk menyelesaikan semua perkaraku. 50 hektar tanah dan segala tetek bengeknya sudah kuwasiatkan dalam mimpi adikku. Kematianku cukup muda, aku baru 32 tahun. Tak pernah terpikirkan untuk menulis wasiat dan urusan-urusan yang kupinta untuk selesaikan usai kematianku. Kecuali tentangmu, perempuan yang tinggal 100 meter dari rumahku, karena kutulis setiap hari. Sehingga benar apa yang tersirat dibenakmu, aku mati penasaran dan tidak tenang.

Aku tidak layak menuliskan apa yang seharusnya dan akan terjadi pada diriku disini–kata mereka, itu rahasia. Sehingga apa yang aku katakan ini, hanya yang beririsan saja dengan keperluan manusia, terutama dirimu.

Seandainya bisa kuulang waktu, aku ingin kembali lagi kedunia. Itulah yang dikatakan para orang-orang mati, terutama para pendosa. Begitupun aku. Terutama aku. Terlebih setelah melihat dirimu berada dalam pemakamanku. Kau berjalan perlahan, terakhir, dan penyendiri. Aku terenyuh, kau tahu namaku? Bahkan kau menangisi kematianku? Setelah sepi, kau menancapkan bunga mawar ditanah basahku, sambil sesekali mengelap ingusmu. Seharusnya aku merasa senang, tapi sungguh, sebagaimanapun membahagiakannya, kematian bukan hal yang romantis atau menyenangkan. Aku benci kisah Romeo Juliet.

Ini, hari terakhir dalam hidupku. Tetapi hari pertama dalam hidupmu, berada dalam hidupku. Tetapi aku telah mati.

2:22

20160804-031835 PM.jpg

Gosong dan Kosong

Seandainya kalian tahu, aku beruntung menikahi istriku. Aku pencinta makan, lalu ia pintar memasak. Serasi bukan? Aku tahu kau akan bilang tidak. Karena siapalah yang tidak senang memiliki istri yang jago memanjakan lidahmu. Siapa pula yang tidak menyukai makanan. Klise. Tapi tetap saja, aku beruntung.

Usia pernikahan kami baru beranjak tahun ke tujuh. Anak kami, tidak ada. Ia meninggal saat berusia 7 bulan di rahim ibunya, setahun yang lalu. Kami hanya harus bersabar. Hanya? Tidak, itu bukan sebuah hanya. Menunggu kehadiran seorang anak, membutuhkan kesabaran ekstra dan kalau dibilang lelah–aku mengakuinya. Lebih tepatnya, rindu, pada mereka yang belum aku temui. Rindu itu menyiksa, bukankah kau setuju?

Dua bulan lalu kerjaanku sungguh menumpuk. Aku beruntung. Banyak orderan skala besar disana-sini, sehingga beberapa kali aku menginap dikantor. Istriku memakluminya. Hingga suatu malam larut saat aku pulang, aku mendapati makan malam yang gosong. Maaf, kata istriku, tanpa terlihat menyesal. Aneh sekali, pikirku. Ingin segera beristirahat membuatku mengabaikan masalah ini. Aku tetap melahap. Hambar. Baru kali ini. Gosong. Baru kali ini.

Setelah hari itu, aku tidak lagi menginap dikantor. Aku selalu pulang, selarut apapun itu. Dan lagi, masakan istriku kembali gosong dan hambar. Kali ini tanpa kata maaf. Ia tidak menemaniku makan, karena sudah kenyang, katanya. Kupikir ia sudah makan duluan karena terlalu lama jika harus menungguku.

Hari ini, hari ulang tahun pernikahan kami yang ke delapan. Aku pulang cepat tanpa memberitahu istriku, membawa kado–rahasia, aku takut kau membongkarnya. Aku berjalan perlahan membuka pintu. Ia tidak sadar. Kulihat dapur mengepul. Ia sedang memasak. Tetapi tunggu, suaranya ada dikamar, seperti sedang menelpon seseorang.

Aku menguping, ia berbisik. Lalu tertawa. Lalu selanjutnya perkatan-perkataan dari mulutnya membuatku tak bernyawa. Seperti akan mati perlahan. Kubiarkan asap didapur semakin mengepul. Kubiarkan api semakin membesar. Tangis lelaki lemah ini kuharap dapat memadamkannya. Meski nyatanya, tidak. Api semakin membesar dan melahap apapun dihadapannya. Termasuk istriku, teleponnya, dan aku.

Gosong, aku tahu mengapa semua masakannya menjadi gosong. Rupanya ia selalu menyisakan kosong dan gosong, pada apa yang ingin ia tinggalkan.

 

20160807-074459 AM.jpg

Everything You Need To Know About How Much #Brexit F*cks All Of Us — Thought Catalog

reblog.

As you might have heard, last night the United Kingdom voted to leave the European Union. From the outset, I want to say that I am not an expert in either British or European politics, but I’m going to try my best to explain why this is actually a big deal. First, the United Kingdom:…

melalui Everything You Need To Know About How Much #Brexit F*cks All Of Us — Thought Catalog

Karena sebuah alasan pribadi kok aku merasa sedih yah.

Pengetuk Jendela Kamar

Seperti biasa, malam itu aku mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang sedang menumpuk-menumpuknya. Maklum, tingkat tiga. Tak terasa. Aku biasa belajar diatas kasur, dengan meja lipat kecil didepanku yang diatasnya ada laptop berantakan dan kotor saking aku tidak tahu lagi kapan waktu yang tepat mengurusi kerapihan hidupku karena waktuku terenggut oleh tugas-tugas takberperikemanusiaan ini.

Hari ini hari pertamaku tinggal dirumah baru. Ada yang mengetuk jendela. Aku berniat menengok tapi dengan cepat berpaling lagi. Aku ingat sesuatu. Bahwa kamarku berada di lantai dua. Seketika leherku merinding. Kubuka pintu kamar, agar tidak merasa sendirian.

Ketukan berbunyi-bunyi lagi. Lebih seperti suara kayu yang dipukul-pukul ke jendelaku. Aku berniat menengok. Tapi kuurungkan lagi. Bukankah tidak ada pohon disekitar kamarku? Atau itu adalah tetangga sebelah? Tidak mungkin. Karena tetanggaku anak kelas 2 SD yang mana mungkin sangat niat manjat-manjat rumah orang, tidak masuk akal. Lagipula terlalu jauh jaraknya untuk mencapai jendela kamarku.

Ketukan berbunyi. Terimakasihku pada tugas ini, karena kalian menjadi fokus hidupku. Dengan cepat aku mengabaikan semua hal yang terjadi dikamarku malam itu. Suara-suara itu tidak lagi aku dengar. Yang penting kelar. Kataku dalam hati dengan mata sudah tidak karu-karuan karena menahan kantuk luar biasa.

Ketukan berbunyi lagi. Terimakasih aku tidak dilahirkan sebagai orang yang seperti diceritakan film-film horor atau nightmare side ardan, yang penasaran banget dan selalu menengok kalau ada keanehan. Tidak, sama sekali tidak penasaran.

Sudah pukul 03 dini hari. Ketukan sudah tak terhitung jumlahnya. Aku tidak peduli. Akhirnya aku bisa tertidur, tugas tugas sudah aku kumpulkan via email. Baiklah, kali ini aku tidak akan mematikan lampu–sebenarnya karena sedikit takut. Sedikit.

Aku biasa tertidur menghadap ke kanan, karena kata kakakku yang sedang ko-as, kalau menghadap kiri itu tidak baik untuk kesehatan, dan kata ibu itu merupakan cara tidur setan. Aku tak kuat lagi dan segera berbaring.

Sial, aku lupa kalau menghadap kanan itu artinya aku sekarang sedang tepat melihat jendela yang masih berbunyi itu. Kali ini bunyinya memanggil namaku. Lalu,

“Akhirnya kamu tidur juga….”

Ia tidak mengetuk jendelaku lagi, tetapi sudah tepat berada di depanku, lalu gelap.

Aku terlalu mengantuk.

19:58, Bandung, SK.