Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg

Mahkota

Kalo sekarang ke kampus terus liat mahasiswa yang diklat diklat rasanya ikutan cape dan merasa kasian karena perjalanan mereka masih panjang wkwkwk…tapi tentu jaman dulu aku pernah ikutan semacem gitu tapi lupa apakah itu oskm, atau diklat terpusat, atau diklat divisi yang ingin aku tulis disini..

Saat itu kita ngelingker, terus di tanya sama si kakanya, cita-cita mau ngapain? (omg typical bgt). Semuanya menjawab secara formalitas. Tapi ada seorang temen yang jawab,

Saya abis lulus mau tahfiz dulu

Kenapa? Tanya si penanya.

Soalnya, kalau seorang anak bisa tahfiz, nanti di akhirat bisa ngasih mahkota buat kedua orang tua…..

Lalu hening,

Ya, terkadang aku merasa ambis banget ngejar dunia, (meskipun seharusnya keduanya beriringan), bahkan mikir “tahfiz” itu rasanya berattt banget. Padahal kalau masalah perkuliahan atau TA dituntasin abis sampe paper-paper udah sekardus (lebai)

Ya sih ambis itu ga salah, tapi salahnya adalah kalau mengabaikan untuk apa kita hidup seharusnya di dunia dan kalau niatan mengejar itu semua ga melibatkan Allah dan hanya untuk kepuasan diri.

ini tulisan sebagai pengingat diri sendiri saja karena aku merasa masih jauh dari niat baik…

20160621-041723-PM.jpg

 

11.16 pm

Kata orang dan kata meme meme sih lebaran itu menyebalkan dalam hal kalo ditanya kapan lulus atau kapan nikah. Beruntung aku cuman ditanyain kapan lulus aja, mereka beranggapan kalo aku masih muda padahal kan emang.

Kirain kalo ditanya kapan lulus rasanya bakal ngeselin seperti yang orang bilang. Tapi ternyata biasa aja ah hahahaha (naha ketawa).

Yang menyeramkannya adalah pertanyaan selanjutnya: udah ini mau ngapain teh?

Bagaikan ibu hamil yang belom empat bulan, mereka ga boleh bilang2 dulu kalo lagi hamil karena bisi ga jadi. Itulah rasanya pas ditanya: abis ini mau ngapain. Kalo aku cerita “pengennya sih…(kuliah/kerja/lain2)” takutnya ga kesampean seperti ibu hamil tadi. Yah, sampai hari ini aku masih rada insecure kalo ditanya gituan, apalagi kalau mendalam seperti kalo aku jawab mau kuliah akan ditanya lagi: dimana? Kalo dijawab kerja juga: dimana? Ngapain?

Sudahlah shofia dan para orang di tingkat akhir, simpan semua keresahan, kerjain dulu ta/revisiannya. Karena kata Allah kalau Dia berkehendak maka hanya dengan “jadilah” maka jadilah.

20160707-112852 PM.jpg

Everything You Need To Know About How Much #Brexit F*cks All Of Us — Thought Catalog

reblog.

As you might have heard, last night the United Kingdom voted to leave the European Union. From the outset, I want to say that I am not an expert in either British or European politics, but I’m going to try my best to explain why this is actually a big deal. First, the United Kingdom:…

melalui Everything You Need To Know About How Much #Brexit F*cks All Of Us — Thought Catalog

Karena sebuah alasan pribadi kok aku merasa sedih yah.

Cara Belajar bagi “Visual”

Katanya sih cara belajar manusia itu macem-macem. Ada yang kinestetik atau dengan aktivitas, ada yang dengan visual atau melihat, ada juga yang listening atau mendengarkan. Maka ga aneh kalau temen kita ada yang suka tidur tapi sangat jenius. Wallahualambisshawab

Sebagai orang yang visual, beginilah cara aku menangkap sesuatu yang disampaikan oranglain, khususnya dalam hal belajar dikelas.

-Selalu memperhatikan wajah yang ngasih materi. Sekalinya ga liat atau ga pake kacamata, maka fokus akan memudar dan rada sedikit susah nangkep. Tapi ini akan fatal kalau dilakukan di kelas kimia waktu TPB karena bertemu kontak mata dengan dosen sama dengan disuruh maju ngerjain soal. Maka terkadang menundukkan kepala itu perlu juga.

-Hal yang paling paling dan sangat membantu bagi visual adalah catatan pelajaran. Beginilah kira-kira ringkasannya:

  1. Cari jenis tulisan seperti apa yang bikin kita “terkesan” sehingga dapat diingat terus. Kalau aku sih mencari tulisan yang bikin semangat kalo dibaca. Terbukti pas tadi nemu binder jaman SMA aja rasanya seneeng banget liat catetan-catetannya sampe pengen nyetel lagu “i love me gonna love myself no i dont need anybody else” #alay #narsisme #ilovetheoldme (wkwk sampah)
  2. Jenis tulisan tersebut bisa berupa mindmap, atau biasa aja. Tetapi kalau dikelas biasanya aku menulis dengan biasa aja tapi pas udah mau ujian kita salin ulang dengan mindmap biar ngerti (ini berlaku buat jaman sekolah, kalo udah kuliah rasa ripuh dan malas bersatu jadi ga gini2 amat).
  3. Awalnya aku mencari “jati diri” jenis tulisan dan jenis pulpen dan pola tulisan kaya gimana yang bikin aku ngerti dan enak buat belajar. Akhirnya kalau aku sih,  dengan tulisan yang agak bergambar (gambar panah ato bulet2 ato kotak2) akan lebih membantu dibanding full tulisan semua. Dan aku juga ga bisa nulis pure apa yang ditulis guru, melainkan dicatet dengan bahasa sendiri. Kecuali kalo ga ngerti, ya tulis we dulu. Lalu tulisan paling semangat adalah jika menulis menggunakan pensil yang dipadukan dengan warna-warni spidol tapi jangan colorful amat bisi pusing. Cukup 2 warna maksimal. Tapi paling the best adalah 1 pensil mekanik dan 1 warna spidol ungu.
  4. Jangan terpaku sama garis-garis pada buku. Gambar aja sesuka hati.

Udah gitu doang sih. Tapi kenapa catetan pelajaran itu sangat penting bagi si visual? Hal ini karena setelah diobservasi dan diingat kembali, ternyata pelajaran yang aku ga bisa itu adalah yang catetannya aku gak suka. dan pelajaran yang dipahami adalah pelajaran yang aku senang saat buka catetannya. Berikut contoh-contoh tulisan binder waktu SMA yang aku sukai sehingga semangat dan yang malesin sehingga susah ngerti.

photo(3)
pensil + spidol ungu (myfav!!!)
photo(5)
saat kita seneng liat suatu catetan, ini jadi lebih nempel karena semangat yang timbul waktu baca. Ga peduli orang bilang apa (mau alay, kurang kerjaan, atau gak berkesan karena jelek), yang penting kita senang.

Itu dua diatas adalah contoh jenis catetan yang aku bersemangat dalam membacanya. Tapi ini ada 2 contoh lagi yang tulisannya agak mengesalkan sehingga jadi bete pas bacanya:

Gambar 2 itu terlalu colorful dan terlalu alay sehingga pas liatnya jadi males.

Tiap orang punya caranya dan kesukaannya masing-masing. Mungkin ada yang males nulis seperti itu, atau ada yang malah semangat. Yah sesuaikan ajalah.

Okay, gitu aja mengenai bagaimana pentingnya nulis bagi  yang cara belajarnya dengan visual dengan sesuai gaya dan sesuai keinginanmu supaya lebih nangkep pelajaran (versi skhaor.wordpress.com). Semoga bermanfaat dan sesuaikan cara belajar dengan keinginan dirimu sendiri! Btw, selamat Ramadhan!

Pride

Ted : I am happy for them.

Lily: Is all you let yourself say out loud. Because if you said anything to the contrary, well, then that would make you the most awful person on this rooftop. So I’m gonna give you an out.

Ted: And how are you gonna do that?

Lily: By saying something that is even more awful.

Ted: Like what?

Lily: *crying* Sometimes I wish I wasn’t a mom. Sometimes I wanna pack a bag and leave in the middle of the night and not come back.

Ted: Robin shouldn’t be with Barney, she should be with me.

Ted: Are you serious?

Lily: I don’t know. I mean, I love being a mom, I-I love Marvin so much. But you remember when I wanted to be an artist? Art was my whole life, and… and now it’s been months since I’ve even picked up a brush. I-I spend the whole day taking care of kids in my job, and I come home, and it’s more of the same, and it’s just… it never lets up. It’s just really, really hard, Ted.


Ya meskipun so last year bgt baru namatin HIMYM dua tahun setelah ceritanya tamat, tapi percakapan diatas adalah salah satu yang paling berkesan dari sekian episodnya. Yaitu saat Ted brokenheart akibat Robin yang akan nikah sama Barney.

Rasanya aku ingin banget ikutan ke rooftop ngobrol bareng Lily dan Ted, dan ikutan mengatakan semuaa hal-hal jujur yang aku inginkan tapi ga mungkin terjadi. Udah gitu nangis bertiga sambil berpelukan. (wkkw saha kamu pi). Cheesy ya


Lily : I think we just have to accept our lots in life, and… I have to be a mom to a beautiful, wonderful, if slightly constipated little boy, and you have to let Robin and Barney get a band.

20160524-034038 PM.jpg

 

22

Mengobrol dan menulis adalah cara untuk merapikan dan menata ide-ide atau emosi yang ada dikepala kita. Lalu ijinkan aku untuk merapikan apa yang sedang berantakan dikepalaku saat ini. Ga penting sih, tapi suka-suka lah.

Memang sepertinya tingkat akhir adalah masa-masa yang bagaikan buah simalakama. Kalau dibilang pengen lulus cepet, ya pengen. Pengennya karena biar bareng temen-temen dan juga biar ga bimbingan lagi. Lalu ya, banyak lah alasan lain, misalnya biar ga bayar kuliah lagi, biar cepet bisa ngelakuin hal lain entah kuliah lagi atau kerja, dll. Tapi ada sisi lain ada hal-hal yang bikin males lulus. Pertama, karena ga pasti dunia apa yang akan dihadapi setelah lulus. Kedua, karena ngerasa masih ga bisa apa-apa. Ketiga, karena masih pengen ngampus. Keempat, biar renang di saraga tetep bayar 5ribu.

Ga jarang sekarang kalau aku menghirup udara di kampus tuh pake banyak mikir. Semacam, ya ampun, apakah aku masih punya waktu banyak buat menghirup udara dikampus ini dan merasakan segala atmosfernya lagi? Entah atmosfer kuliah atau atmosfer bersama teman-teman.

Bukan berarti pede mau cepet lulus, tapi lulus adalah sebuah keniscayaan. Entah lulus dari annex atau saraga, entah lulus Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari dst, entah 2016 17 18 19 20 21 22 23 24 25 dst. Ini seperti masa-masa akhir SMA. Namun waktu SMA rasanya cukup menggairahkan karena masih bisa bicara mengenai mimpi. “aku mau kuliah mesin” lalu esoknya ganti jadi “eh farmasi deh” lalu seminggu kemudian “eh nikah dulu deh” itu bisa. Tapi sekarang, sudah terlalu banyak waktu habis jika ingin memutar jurusan, dan masa depan sudah bukan hal yang bisa dimimpikan tinggi lagi. Tapi sudah harus realistis.

Mungkin ini memang waktu dimana harus menyerahkan segala kemungkinan padaNya, penulis skenario hidup kita.

Bye. Semoga all the best for us!

20160228-073942 AM.jpg

How deep is your Iman?

Terkadang jikalau ada suatu statemen perintah, kita sebagai manusia terpelajar yang pintar dan kritis tidak akan langsung nurut, malah lebih senang bertanya: kenapa harus kaya gitu? Apa landasannya? Apa teorinya? Apa buktinya?

Seperti misalnya: ‘Eh pake hijab tuh wajib’
Akan ada jawaban: ‘Kok aneh ya, kan sama-sama manusia. Tubuh laki-laki perempuan juga sama aja, paling kita menutupi yang bedanya aja. Kok mesti sampe tangan kaki juga?’ (asli ada yang pernah bilang kaya gitu). ‘Ga ah ga percaya’

Atau
‘Tau ga di Islam mah ga ada pacaran’
Maka akan ada jawaban
‘Yaaa gimana atuh yaa, nanti gimana nikahnya kalo ga kenal dulu? Nanti kalau orangnya zonk gimana? Kalau malah nanti ga langgeng gimana?’ Sehingga ‘engga ah aku mah pacaran aja’

Contoh lain
‘Ga boleh nyontek loh’
Maka pertanyaan yang muncul:
‘Gimana dong cara lulusnya? Orang lain juga udah ga jujur masa kita jujur sendiri, nanti malah ga lulus’

Dan harap kagetlah, karena hal ini ternyata sudah terjadi pada kaum Bani Israil yang sudah Allah ceritakan di qs Al-Baqoroh. Allah memerintahkan:
‘Kurbankanlah seekor sapi’
Tapi mereka yang pintar dan kritis itu bertanya sangat banyak pertanyaan:
‘Yang kaya gimana? Warnanya apa? Laki-laki atau perempuan? Gemuk apa kurus?’
Di ayat selanjutnya Allah menyatakan bahwa hal itu sengaja mereka lakukan agar tidak jadi menyembelih sapi. ‘Hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu’ begitu kata ayat selanjutnya. Padahal batu yang keras dan emang ‘batu’ pun menurut jika Allah perintahkan untuk tergelincir disungai (masih di ayat selanjtnya). Lah manusia?

Kata kuliah Studium Generale kemarin yang membahas tentang kehalalan setelah ada seorang mahasiswa yang nanya, ‘iya saya tau beberapa makanan itu haram, tapi apa bisa dijelasin secara medis yang bisa lebih masuk logika?’
Lalu dijawab sama pengisinya: ‘saya bisa jelasin, sudah banyak penelitian tentang ini. Tapi apakah sebagai seorang yang memiliki iman hal itu jadi penting?’

Kembali ke qs Al Baqoroh, jadilah kita manusia yang memiliki iman, sehingga jika ada suatu perintah, ciri orang beriman adalah: ‘sami’na wa atho’na’ (kami dengar dan kami taat)
Sementata ciri orang munafik adalah ia yang akan menjawab: ‘(lupa arabnya)’
(Kami dengar dan kami mengingkari)

Kalau kita masih banyak bertanya menenai apa yang turun dariNya, sehrusnya kitalah yang bertanya pada diri sendiri: apakah aku masih memiliki iman?