Ilham

Pada suatu hari –sebut saja kemaren– aku menemukan sebuah blog punya sendiri waktu jaman SMA yang isinya super diary. Linknya aja malu buat disebut. Apacik. Yakni frustratingtragicandbeautiful.blogspot.com. Plis jangan ilfil, karena aku juga udah ilfil pada diri sendiri. Pas bacanya ingin ngubur diri akibat malu sendiri. Segera abis liat itu aku ganti nama link nya.

Kemudian aku mendapat ide untuk melanjutkan blog tersebut dan ingin dikomersialisasikan. Hal ini karena memang yang paling mudah untuk dikomersilkan dengan googleAds hanyalah blogger alias blogspot.  WordPress mah sulid kalau mau cari uang, kecuali kalau langganan bulanan beli domain sendiri. Murah sih, sebulan hanya 1 sekian dollar. Tapi untuk menuju tahap itu ntar dulu deh nunggu kalau hidup udah banyak kepastian (dan banyak pengunjung) (dan keberanian ngeshare link).

Sehingga, blognya sophiology akan dibagi menjadi dua bagian. Formal dan penting dan sekiranya banyak ngeklik kan aku tulis di skhaor.blogspot.co.id yang isinya 1. Wawasan oseanografi 2. DIY 3. Tips-tips/resume/resep/dll Ini baru rencana tapi aku harus disiplin untuk beneran ngejadikeun!!!

WordPress ini tida akan aku tinggalkan karena udah enak banget dan ga seribet dan sedetil blogger. Aku sudah love banget sangat dengan tampilan dan cara kerja wordpress. Site ini digunakan untuk menampung hal-hal semacam fiksi, opini, kehidupan, dan atau prosa puisi kalau lagi pms. Intinya ini akan berisi suka-suka sendiri.

Dah gitu doang. Selamat beraktivitas. Jangan lupa berkunjung kesitu. Tapi nanti.

Pengecualian

Setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan membuatku berfikir bahwa semesta selalu mengecualikan aku. Aku adalah tidak ketika semua orang adalah iya. Aku adalah pergi saat semua orang datang. Aku adalah setiap kebaikan yang menjadi debu. Aku adalah setiap jahat yang selalu teringat. Aku juga kau saat kau tidaklah aku.

Akhirnya aku menyadari. Akulah yang mengecualikan aku. Akulah yang berjalan sendiri ke lingkaran sendiri. Hilang sudah semua kecuali diri.


draft 5/11/2017

Limiting Social Media

I’ve bunch of free time (beside waiting for scholarship announcement and make plans for bussiness with rifa) which means I have chance to do anything unimportant like scrolling my handphone for ages or hanging out with friends every-single-day. I realized that I have to be discipline and limit myself to do such things. So here are how I tried to be productive and limit myself for staying with my phone for years:

1. Uninstall line and download line lite. Line lite won’t allow you to look at timeline or read Line Today. Sometimes if there’s a notification, they stay silent. So I apologize that I took an age to reply your messages. I do not consider too much to use line lite instead the usual line because ‘important’ people would text me on whatsapp. Positive side of line lite is it allow you to know who read your messages in a group. For instances this is how I sent a message:

After I push the black round, I immadiately know who read my message:

Innnn adddition, line lite has a very friendly size of space unlike the usual-heavy-line.

2. Uninstall instagram (sometimes). I had bad behaviour like stalking instagrams of celebrity or kids or jokes. It takes ages for me to stay on instagram and spend my internet quota there. 

3. Download Duolingo so that you can learn any language. Download Wattpad then you can read whatever books you want. Download Pinterest for new ideas and diys. Download…. hungry shark…….because it was ffffffffun!

Pelupa

 

Jadilah hamba Allah yang kuat karena musuh kita Azazil Iblis sudah bersiap untuk jadi yang sangat kuat sejak Nabi Adam turun. Kalau melawan diri sendiri sudah selalu menangis dan lupa bersyukur, bagaimana bisa melawan hal diluar diri?

Panas

Setiap kata tertahan dijemari selama empat minggu. Tanganku hingga bengkak dibuatnya, kepalaku kosong karena isinya tumpah mengalir di lengan dan kuku. Para kupu-kupu yang biasa bertengger di diafragma berkata sudah lelah. Ia juga ingin pindah menuju jemari yang katanya bisa menjadi jalan keluar.

Tetapi setiap kata, isi kepala, dan kupu-kupu yang mengantri di kuku-kuku terlalu takut melanjutkan perjalanan mereka. Cenderung mengantri di setiap telunjuk, jari tengah, dan jempol saja. Karena ada bagian-bagian dalam diriku yang menahan amarah. Jari-jari kaki.

Sudah satu dekade jemari kaki bersabar melihat betapa semua hal selalu ingin keluar dari kuku lentik dan jemari tangan, padahal ia sendiri membutuhkan energi. Kapan aku berjalan? Bisiknya padaku setiap waktu. Hingga aku selalu menahan setiap kata, isi kepala,dan kupu-kupu, untuk tetap diam ditanganku hingga tremor.

Waktunya berjalan. Saatnya semua berpindah, menuju jari kaki.

 

Ibu ibu Inspirasional

Aku tidak paham apakah “inspirasional” merupakan kalimat baku yang terdapat di kbbi atau engga. Tetapi yaudah atuh ya ngapain dipermasalahin da ini bukan bikin draft!

Di suatu hari yang maghrib, aku lagi di rumah uwa di kawasan Cijerah. Berhubung udah azan, akhirnya ikut solat dikamarnya. Keinspirasionalannya terjadi disini. Yaitu sehabis beres solat, aku pake kacamata, dan terkaget ternyata di dindingnya banyaaaak banget bacaan Qur’an tulisan tangan gede-gede ditempelin. Kalo difilem indonesia jaman dono kasino indro mungkin disangka untuk mengusir hantu.

Tiba-tiba uwa masuk, melihat aku yang masih takjub, dan bilang, ih yaampun malu ketauan tempelannya. Uwa mah masih belom bisa ngapalin Qur’an. Udah tua mah susah bangeet pi ngapalinnya. Jadi ya giniii di dinding di tempel-tempelin semuanya biar apal…………..Yang ada aku yang malu. Masih muda tapi waktu diabisin sama keambisan duniawi yang ga berujung, padahal lulus mah udah. Setelah kejadian ini aku jadi merasa agak hampa, merasa agak salah jalan, dan merasa ingin les bahasa mandarin (ga deng ga nyambung).

Kedua ibu-ibu yang inspirasional adalah mamahku sendiri. Beliau terkadang suka ngapalin Qur’an kalau abis subuh. Dan ngedenger perjuangannya tuh rasanya subhanallah bangeeet. Karena yang namanya ngapalin Qur’an emang ga mulus dan pasti ada salah salahnya. Ngedenger mamah salah mulu, ngomong eh berkali-kali, dan minta ditesin An-Naba bikin aku speechless tapi aku ga akan bilang-bilang ah heuheu.

Emang bener lagu waktu SD, “Ilmu yang didapat, selagi masih kecil, bagai lukisan diaaatas batuuuu” sementara pepatah mengatakan “Belajar waktu kecil bagaikan menulis diatas batu tetapi kalau udah bertambah umur, belajar itu bagaikan menulis diatas air”

Ibu-ibu inspirasional ketiga dan keempat aku temui tadi pagi. Alhamdulillah aku dan teh ipa ikut training trik ngafalin Qur’an. Pesertanya berapa orang apakah anda bisa nebakkk? Ya, hanya empat orang. Kami juga dapet wejangan sebagai “calon ibu” dari kedua ibu tersebut.

Katanya, kalau udah jadi ibu-ibu, kerasa banget ngafalin Qur’an itu jadi wajib. Belum lagi kalau anak-anaknya udah pada jago karena sekolahnya di sekolah Islam. Mau ga mau, ibu selalu jadi contoh buat anak-anaknya. Eh kalo ditulis mah berasa bosen sih kamu bacanya, tapi pas kami ngobrol dan ibu-ibu tersebut curhat mengenai anak-anak dan keluarga, dan betapa pentingnya Qur’an di dalem rumah, rasanya aku jadi termotivasi dan bersemangat. Kalo sebagai ibu kita ga ngenalin Islam dan Qur’an maka siapa yang akan ngajarin anak-anak? Gitulah intinya mah.

Udah gitu, pas kita lagi mencoba suatu metode, kami semua berhasil ngafalin satu ayat panjang dengan waktu sedikit. Mau tau ga apa??? Ibu-ibu di sebelah aku (tidak sebut nama karena bisi ada yang kenal heuheu) nangis dong saking terharunya karena bisa hapal………….. Ya Allah, sebegitu senengnya bisa ngafalin satu ayat Al-Qur’an bagi mereka. Beliau bilang bahwa udah usia segini dan bisa ngafalin satu ayat itu adalah kenikmatan yang luar biasa.

Ya Allah, semakinlah aku merasa berdosa akan waktu yang sia-sia selama ini. Mereka juga curhat bahwa (you dont say lah) ibu-ibu mah pasti paciweuh (rempong) ngurus semua hal di rumah dan susah nyari waktu luang buat belajar. Lah kami berdua, waktu berlimpah ruah tapi udah dipake apa aja ya……………….

Keempat ibu-ibu tersebut, memberiku kesimpulan kalau masa muda adalah masa yang masih enak untuk belajar. Tapi janganlah hanya ngejar duniawi, pangkat, karena semua itu ga akan tertulis dinisan dan pride ga akan di bawa sampe ke akhirat. Alangkah lebih baik kalau kita ngejar juga ilmu untuk akhirat. Terutama, sebagai ibu-ibu, karena mau ga mau kita yang akan menggiring generasi selanjutnya apakah mau dekat dengan Qur’an atau justru menjadikan Qur’an sesuatu asing yang terlalu “holy” sampe ga pernah disentuh?

Pride & Prejudice

Aku mengaduk segelas air putih dihadapanku. Kenapa sebuah air putih mesti diaduk? Karena aku sedang tidak ada kerjaan saja. Terlebih, aku sedang menunggu taksi yang tadi telah dipesankan temanku. Sekarang mereka semua sudah pulang sehabis kami menghabiskan 2 jam untuk mengobrol.

Aku merasa sedikit kekosongan saat mendengar cerita mereka. Aku sudah genap setahun lulus dari kampus yang sama dengan mereka, tetapi kehidupan kami jauh berbeda. Aku masih hanya berbisnis kecil (sangat kecil) di online shop saja. Mereka? Ada yang sudah menikah dan suaminya kaya, ada yang bulan depan akan berangkat kuliah lagi ke New Zealand, ada juga yang baru naik pangkat di sebuah perusahaan asing, dan ada yang bisnisnya sudah melesat.

Mereka memesan kopi seharga diatas lima puluh, lalu aku hanya bisa membeli segelas air putih. Ah, haha, tentu tidak. Itu bohong. Karena aku juga memesan pizza seharga yang tidak perlu kusebut.

By the way, Ingat temanku yang tadi kubilang sudah menikah? Dulunya ia perempuan yang bisa dibilang, terlalu sering berpacaran. Pergaulannya sudah tidak bisa kuceritakan lagi karena memang sangat mengikuti zaman. Kukira wajar jika ia cepat menikah (mungkin kau mengerti maksudku).

Lalu temanku yang akan berkuliah, ia tipe orang yang terlalu ambisius. Semasa kuliah, ia selalu menyabet nilai tertinggi. Sayangnya, ia terkesan sombong karena tidak pernah berbagi ilmu dengan kami. Dia juga tidak pernah ada di acara-acara komunitas jurusan kami. Selalu langsung pulang–atau entah kemana kecuali belajar. Wajar kalau sekarang dia ingin lanjut kuliah.

Ah, sebentar, taksiku sudah datang. Aku melesat keluar restoran setelah membayar billnya, karena aku ingin cepat sampai rumah. Ada hal yang harus segera kuatasi. Setelah aku duduk, aku akan lanjut bercerita.

Baiklah, temanku yang ketiga, ia memiliki paras yang rupawan dan tubuh tinggi tegap. Pria idaman semua wanita. Aku juga menyukainya, hanya saja bukan tipeku. Mengerti, kan? Kaupun pasti sering menemukan yang seperti itu. Ia juga wajar saja jika cepat naik jabatan mengingat kondisi fisik yang mendukung. Beruntung sekali. Kemudian temanku yang terakhir, memiliki bisnis melesat. Ah, kuberitahu sebuah rahasia, ia orang yang agak “mistis”. Segala permasalahan ia selalu keluhkan pada kakeknya yang seorang dukun–atau apalah itu namanya. Barangkali ia menggunakan magic dan kekuatan jin untuk memperkaya dirinya. Wajar saja, sangat wajar.

Tiba-tiba teleponku bergetar, sebuah pesan. Ibu!

Cepat kerumah sakit, kondisi kakak semakin parah. Siapin juga uang berobat.

Jantungku hampir berhenti. Urusan yang tadi kubilang genting, adalah kakakku yang sudah sebulan ini sakit. Dokter bilang itu leukimia, aku kebagian merawatnya sore ini.

Aku panik. Uang berobat sudah kuhabiskan untuk pizza mahal-sialan-tadi. Dan juga, oleh taksi ini!

Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau bisa kabur dan menghilang, aku ingin!!


Epilog:

Teman yang pertama, menikah karena dijodohkan orang tuanya. Sempat menangis sepanjang Agustus.

Teman yang kedua, tidak pernah aktif di kampus karena bekerja sampingan dikala kedua orangtuanya sakit. Kini ia bersekolah lagi karena sisa uang beasiswanya akan dipakai untuk sekolah adiknya.

Teman yang ketiga, bekerja penuh tekanan dan kuat mental.

Teman yang keempat, bisnisnya ternyata sudah mulai sejak tingkat satu semasa kuliah. Ia tidak melesat. Tapi memang berkembang.


“There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil, a natural defect, which not even the best education can overcome.”
“And your defect is a propensity to hate everybody.”
“And yours,” he replied with a smile, “is wilfully to misunderstand them.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Sebagai seorang manusia, wajar kalau pikiran buruk banyak muncul. Sebagai manusia, wajar juga kalau memaklumi satu sama lain dan tidak tutup mata atas apa yang tidak terlihat. Maka jadilah manusia. Yang pikirannya ga negatif.

IMG_6627

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Rebel

20141027-055813-AM.jpg

Soekarno Hatta, obrolan, dan kemacetan sore ini membuat mataku terbuka lebar. Segala A hingga Z menyambung menjadi satu. Sebab akibat saling bertautan. Akhirnya aku menemukan para pencuri terbesar para hati yang kosong. Barangkali kemudian hari aku akan lebih menggunakan kerasionalan, dibanding hal yang masih harus ku istikharoh-kan. Dunia yang dipercaya seketika runtuh, entah bersisa atau tidak.

Adil akhirnya tidak ditemukan disetiap sudut manapun didunia ini. Se-sangat-tidak-adanya-seorangpun yang bisa dipegang, se-aneh-se-sulit diterimanya-takdir yang terjadi, semoga Allah selalu menjadi penuntun.
Yang terpenting hanyalah, jangan menjadi bodoh.

Instagram dan Diam

Media sosial selalu menunjukkan sisi positif atau kebahagiaan dari kehidupan manusia. Menunjukkan orang yang suka berjalan-jalan ke tempat bergengsi dan mahal, berfoto dengan kebahagiannya (entah keluarga, teman, atau lainnya), atau memperlihatkan kesuksesan hidupnya seperti lulus kuliah, wisuda, menikah, anak, dan sebagainya. Well, aku juga masuk kedalam tipe orang seperti itu. Mana mungkin aku upload foto saat lagi ngeplot Matlab yang udah salah sebanyak 571893086578756 kali. Berasa desperate banget. Lebih baik menampilkan saat aku sudah dinyatakan lulus. Entahlah, media untuk pamer sepertinya terlalu banyak atau mungkin memang itulah fungsinya.

Sebagai orang yang pamer terkadang aku ga bermaksud untuk pamer, tapi karena ya pengen aja. Atau mungkin aku belum bertanya lebih dalam pada diri sendiri, kenapa pi mesti ngupload di ig? Mau pamer? Mau diucapin selamat? Tapi asa lebay teuing ga sih kalo sampe direnungi segala. Kita juga ga bisa stop orang-orang dari media sosial mereka. Mau bilang, ih jangan upload-upload wae atuh, da aku teh di rumah mulu ga kaya kamu yang suka jalan-jalan. Kan ga bisa.

Disisi lain, kadang beberapa hal membuat kita jadi membanding-bandingkan diri. Seperti, waw keren, dia udah kuliah master lagi! Waw bisnisnya hebat! Waw keluarganya bahagia banget! Waw anaknya lucu! Jadi sirik! Kalimat terakhir itulah yang mayan mempengaruhi. Kita juga jadi mikir bahwa kenapa orang lain rasanya bahagia banget ari kita mah biasa-biasa aja.

Hal paling salah adalah orang-orang selalu menunjukkan kesuksesannya tapi ga pernah menunjukkan usahanya. Kadang aku sempet mikir bahwa kenapa orang-orang kesannya gampang buat sukses, buat udah kuliah lagi, buat udah berbisnis keren. Well, padahal kita juga harus tau bahwa dibalik kepameran manusia ada berdarah-darahnya dulu, ada usaha kerasnya, ada gagal-gagalnya. Sama seperti aku yang upload foto abis sidang padahal itu teh hasil pekerjaan dari Juni tahun 2015.

Barangkali aku harus meminimalisir melihat kebohongan-kebohongan yang tercipta antara diri sendiri dan media-media sosial. Meyakini bahwa banyak sekali hal yang ga manusia pamerkan.

Untuk mencapai apa-apa yang diinginkan, ga segampang liat foto orang di ig. Karena dulunya, mereka juga usaha dengan diam.


1.43 pm, setelah sadar masih banyak hal yang harus dikejar setelah ini.

Pascalulus #1

Terlihat dua orang sedang mengobrol serius

b: Sekarang kamu sibuk ngapain?
a: Sibuk nyari temen yang pengen ditemenin
b: Hmmm….oh….ok….

13631391_1140986872635775_7830366248537547359_n

sumber gambar: buzzfeed.
Btw semua gambar di blog ini bersumber dari tumblr/buzzfeed/pinterest/sendiri.