Ilham

Pada suatu hari –sebut saja kemaren– aku menemukan sebuah blog punya sendiri waktu jaman SMA yang isinya super diary. Linknya aja malu buat disebut. Apacik. Yakni frustratingtragicandbeautiful.blogspot.com. Plis jangan ilfil, karena aku juga udah ilfil pada diri sendiri. Pas bacanya ingin ngubur diri akibat malu sendiri. Segera abis liat itu aku ganti nama link nya.

Kemudian aku mendapat ide untuk melanjutkan blog tersebut dan ingin dikomersialisasikan. Hal ini karena memang yang paling mudah untuk dikomersilkan dengan googleAds hanyalah blogger alias blogspot.  WordPress mah sulid kalau mau cari uang, kecuali kalau langganan bulanan beli domain sendiri. Murah sih, sebulan hanya 1 sekian dollar. Tapi untuk menuju tahap itu ntar dulu deh nunggu kalau hidup udah banyak kepastian (dan banyak pengunjung) (dan keberanian ngeshare link).

Sehingga, blognya sophiology akan dibagi menjadi dua bagian. Formal dan penting dan sekiranya banyak ngeklik kan aku tulis di skhaor.blogspot.co.id yang isinya 1. Wawasan oseanografi 2. DIY 3. Tips-tips/resume/resep/dll Ini baru rencana tapi aku harus disiplin untuk beneran ngejadikeun!!!

WordPress ini tida akan aku tinggalkan karena udah enak banget dan ga seribet dan sedetil blogger. Aku sudah love banget sangat dengan tampilan dan cara kerja wordpress. Site ini digunakan untuk menampung hal-hal semacam fiksi, opini, kehidupan, dan atau prosa puisi kalau lagi pms. Intinya ini akan berisi suka-suka sendiri.

Dah gitu doang. Selamat beraktivitas. Jangan lupa berkunjung kesitu. Tapi nanti.

Limiting Social Media

I’ve bunch of free time (beside waiting for scholarship announcement and make plans for bussiness with rifa) which means I have chance to do anything unimportant like scrolling my handphone for ages or hanging out with friends every-single-day. I realized that I have to be discipline and limit myself to do such things. So here are how I tried to be productive and limit myself for staying with my phone for years:

1. Uninstall line and download line lite. Line lite won’t allow you to look at timeline or read Line Today. Sometimes if there’s a notification, they stay silent. So I apologize that I took an age to reply your messages. I do not consider too much to use line lite instead the usual line because ‘important’ people would text me on whatsapp. Positive side of line lite is it allow you to know who read your messages in a group. For instances this is how I sent a message:

After I push the black round, I immadiately know who read my message:

Innnn adddition, line lite has a very friendly size of space unlike the usual-heavy-line.

2. Uninstall instagram (sometimes). I had bad behaviour like stalking instagrams of celebrity or kids or jokes. It takes ages for me to stay on instagram and spend my internet quota there. 

3. Download Duolingo so that you can learn any language. Download Wattpad then you can read whatever books you want. Download Pinterest for new ideas and diys. Download…. hungry shark…….because it was ffffffffun!

Journal

Can’t believe 2015 was 2 years ago when it feels like yesterday. Yet those memories I wrote on my journal, I almost forgot, but thx to past-shofia who had intention to write down journal so your future-shofia (2017-shofia, i mean) can remembered it all agaiin. 

When I see words there in my journal like ‘blue’, ‘diving class’, suddenly the memories play in my mind like I back to those moments again. I can also feel the emptiness or happiness occured in those 2015-days. 

It’s not that necessary, really. But…it just to make sure that I had lived in my past. You know sometimes, past, dreams, and imagination become mixed that I cant conclude is it ever really happened or only in my mind. Or is it just me?

Today I am going to move with all of family of course, then I packed my books and found that diary that I havent write for like…2 years?

Well, write down journals or letters to future yourself will be fun and give you mixed feelings, I thought.

Pelupa

 

Jadilah hamba Allah yang kuat karena musuh kita Azazil Iblis sudah bersiap untuk jadi yang sangat kuat sejak Nabi Adam turun. Kalau melawan diri sendiri sudah selalu menangis dan lupa bersyukur, bagaimana bisa melawan hal diluar diri?

Tempat Tinggal Lucifer

Kau sudah tahu betul bahwa kini para setan senang beranak pinak dan bertelur dibawah kuku kuku manusia. Entah itu kuku seorang selebriti sehabis di manicure, atau bahkan kuku seorang penggali kubur yang sering bermain tanah.

Cara mereka bekerja semakin pintar dan tidak mengenal usia. Anak-anak setan itu menetas kemudian bermain di jari-jari manusia sehingga tangan mereka menjadi gatal dan tidak bisa diam. Adapun obatnya sudah disediakan oleh lucifer, orang tua mereka. Sebuah layar kecil yang sekaligus menjadi tempat tinggal manusia saat senang, sedih, marah, benci. Dunia baru mereka adalah layar yang memiliki julukan “pintar”.

Anak-anak itu kini menjadi anak kesayangan ayah ibu setan. Karena manusia jadi bertingkah tidak biasanya. Tipu daya semakin banyak dan kepedulian semakin mengerucut. Mereka suka akan hal itu.

Seorang suami istri di dunia nyata bisa saja saling tersenyum setiap hari padahal para anak-anak setan berhasil merayu mereka di balik layar kecil pintar itu, agar saling berselingkuh dengan rapi dengan para mantan.

Atau memunculkan iri dengki hasad dan benci di hati-hati para manusia yang berusaha paling hati-hati menjaga hati. Membiarkan kabar-kabar buruk dan gembira saling bermunculan menimpa satu sama lain tanpa tahu bahwa itu hanyalah karangan seorang penulis fiksi yang jahat.

Seorang teman kini tidak lagi memeluk erat sahabatnya yang 5 tahun tak bertemu–karena toh setiap hari kita bertemu dibalik layar, bukan?

Seorang ibu tidak lagi pernah menanyakan “bagaimana sekolah/kuliahmu hari ini?” sementara si bungsu tidak tahu harus bercerita pada siapa saat ia di bully. Anak-anak kecil kehilangan penasehat-penasehat dan teman bermain dari kalangan orang dewasa, sehingga menangis rewel menyebalkan selalu menjadi andalannya. Sementara para orang dewasa sibuk marah-marah mengata-ngatai anak jaman kini yang semakin manja.

Kuharap pasangan-pasanganmu tidak pernah menyimpan rahasia dibalik layar pintar milik anak-anak setan itu. Kuharap ayah ibu kakak adikmu adalah orang yang masih mau bercengkrama menatap mata setiap hari dan bertanya apa yang terjadi setiap hari. Kuharap teman-teman dan sahabat lamamu bukanlah orang yang mendengarmu bercerita padahal mata hati dan pendengaran mereka hanya tertuju pada layar milik lucifer itu. Kuharap orang-orang disebelahmu mau meletakkan layar itu jauh-jauh, karena kau jauh lebih berarti.

Adalah kuberharap, agar beberapa orang yang memiliki masalah pelik mau memotong kuku dan jari mereka, supaya lucifer tidak lagi menyimpan telurnya.

mnb
weheartit.com

How to let go

Barangkali aku adalah kebalikan dari para perempuan yang kau idamkan. Aku tidak menyimpan memori. Aku menelannya.

Suatu hari di 22 tahun aku mencoba seperti perempuan lainnya. Mengumpulkan setiap kenangan. Seperti mereka, untuk berharap selamanya, agar terkenang dikenang dan mengenang. 30 menit kemudian aku tak sanggup. Aku menelannya.

Setangkai bunga matahari, bungkus pizza, bahkan gelas kopi bertulis nama, tersimpan rapi dalam sebuah box bertulis namamu. Foto mulai dirapikan dipajang dalam kamar. 7 hari kemudian aku tak bisa lagi. Aku menelan semuanya. Kau heran dan kesal melihat kamar perempuan yang tidak berwarna warni akan kenangan dan barang menyenangkan. Itulah aku.

Aku tahu semua perlahan meninggalkan. Membiarkan semua kenangan tersimpan hanya membuatku terbelenggu akan hal yang tidak pasti. Puisi dan prosa bahkan tidak akan mengekalkanmu.

Jangan harap aku menulis. Kertas surat dan puisi berisi nostalgia, sudah kutelan sampai sakit tenggorokan. Kesedihan dan rasa melankolis, aku tidak seperti banyak perempuan yang sanggup melewatinya. Aku menelannya. Menghilangkannya.

Aku menelannya. Agar semua memori menghilang. Mengalir dalam darah. Menjadi detak setiap hidupku.

Ways to achieve your ideal IELTS score

Tulisan ini ditulis akibat pernah nazar kalo nilai ielts nya cukup aku akan menulis gimana cara belajarnya, karena hasilnya sesuai keinginan maka akhirnya ku akan menunaikan tulisan ini. Meskipun yha banyak juga sih blog-blog lain yang lebih detil, tapi ini dari caraku sendiri semoga ada yang cocoq.

overview
IELTS itu sesungguhnya ga ‘bahasa inggris amat’ kayak TOEFL. Karena mungkin namanya juga buat akademisi, jadi lebih ke pola pikir dan berasa ada hawa-hawa TA nya. Gimana mengkorelasikan A dan B, gimana cara menyimpulkan data, dan seterusnya. Sehingga jelas logika dan wawasan jadi penting. Selain wawasan, kita juga harus terbiasa mem-paraphrase vocab. Contohnya: increase=escalate=rose=elevate. Berguna buat speaking dan writing. Poin plusnya IELTS ialah logis jadi ga mesti ngapalin, dan kertasnya bisa di corat-coret. hehe.

preparation
Saat itu, aku menghitung-hitung biaya les sampai tes, sehingga dulu menyimpulkan bakal belajar sendiri sambil sekalian ngerjain tugas akhir–meski akhirnya mah malah les. Caranya ialah,
1. Punya buku catetan sendiri (bukunya yang lucu sehingga jadi semangat)
2. Buka ielts.org lalu catet hal-hal penting dan download segala yang bisa di download
3. Download video-video IELTS di youtube, biasanya yang IELTS Liz atau Emma dan  Passport to English.
4. Setelah di download jangan lupa ditonton dan di catet yang pentingnya
5. Setelah ada sedikit gambaran, aku ikut kelas online free edx.org sama futurelearn.com. Mayan jadi punya brief overview mengenai ielts.
6. Mencari buku latihannya yakni cambridge yang sampe hari ini mereka udah ngeluarin sampe 11 buku. Tapi aku mah cuma punya 9 softcopy pula. Kalo mo minta juga sila saja.
7. Memfamiliarkan kuping dengan postcad bbc. Tambahlah mp3 di hp mu dengan podcast tersebut. Kalau aku milih podcast nya yang 6 menitan aja dan topik yang simple.

note: persiapan ini dilakukan saat lagi sibuk ngerjain hal lain (contoh: tugas akhir dan kuliah) jadi kerasanya belajarnya semacam “escape” dari TA. Karena kalo difokusin pas waktu kosong malah males:( Dilakukan tiap hari tapi paling cuman 15-30 menit aja.

belajar sendiri apa les?
Kenyataannya, meskipun udah belajar sendiri, tapi rasanya selalu masih ga percaya diri. Banyak orang berkata les IELTS itu ga penting karena di internet banyak sumbernya, tapi menurut orang berkapasitas seperti aku dengan tingkat ga pede warbiyasa, aku merasa les itu penting. Belum lagi akhirnya aku tahu beberapa sumber di internet ada yang salah dan butuh seseorang untuk mengkoreksi writing kita. Udah gitu kita jadi tau trik-trik kecil tapi penting semacem: nulis jawabannya semuanya CAPSLOCK, lalu gimana ngebubuhin dash(-), bagaimana plural (s) penting banget, dan segala hal kecil lainnya.

les dimana?
Aku mendaftar beberapa tempat les ielts seperti BLCI dan EEP karena dulu daftar pas masih TA biar deket kampus. Untungnya udah berminggu2 mereka ga manggil2 karena kelasnya belom buka, akhirnya aku keburu lulus dan kemudian daftar ke IEDUC. Hal ini karena setelah bertanya-tanya orang, katanya sih yang bagus itu IEDUC, yauda aku pun kesana. Mereka lebih menyesuaikan materi dengan siswanya. Alhamdulillah aku sekelas dengan para dokter yang tentunya mereka butuh skor lebih tinggi dari teknik dan sains. Jadi mayan semangat dan dipush. Kelas kami kekurangannya ada pada Speaking dan Writing (kayaknya umumnya gitu) jadi para teacher memaksimalkan dalam 2 hal itu.

sehabis les (review)
Abis les, teman-teman pada langsung ambil tes pada 22 oktober. Untungnya aku lagi wisuda jadi ikut yang bulan selanjutnya aja. Selain itu, meski udah les, tetep ga yakin buat daftar cepet-cepet. Maka, aku belajar/review sendiri lagi, caranya?

1. Menuhin dan review hasil dari les, utamanya: perhatiin koreksi writing dari teacher nya.
2. Misahin dari semua cambridge berdasarkan jenis tes: speaking, listening, writing, dan reading. Biar rapih (wwkwk penting ga si).

3. buat writing: karena mayan menguras ide dalam waktu singkat, jadi harus banget banyak latian biar bisa mikir cepet dan bisa memparaphrase dengan mudah. Aku berjanji pada diri sendiri tidak daftar sebelum at least beres ngonsep semua writing dari cambridge 1-9. Percayalah bahwa ini ga sesulit yang dibayangkan karena sebenarnya sudah ada patternnya kalau sering-sering latian. Untuk contoh, cari yang band 8 atau 9, aku biasanya melihat di sini.

4. buat speaking: ini mah rada kesel sih tapi gimana lagi, yaitu ngerekam omongan sendiri mengenai sebanyak-banyaknya topik yang kita punya. Rekam aja di hp dan di timer. Waktu les, kami disuruh ngumpulin 50 topik yang artinya 50 x 15 pertanyaan, ternyata meski dulu ngerjainnya sambil males, saat udah menuju tes mah jadi mikir kenapa ga bikin 100 ajasi! Saking takutnya tea. Tapi akhirnya ini berguna banget, karena asli, pertanyaan speaking pas aku tes bener-bener percis sama cambridge lupa yang keberapa yang untungnya udah pernah dilatihan-kan. Sehari aku minimal rekaman 3 topik. Udah gitu, lihat contoh orang-orang ber-band 8 di youtube biar ada gambaran.

5. buat listening: ini adalah hal yang pallllling aku khawatirkan karena dikelas skornya selalu jadi yang paling be to the go karena susah fokusnya. Jadi, ya gimana lagi selain latihan sebanyak-banyaknya. Dan tips dari ieduc mah, coret-coretlah lembar soalnya.

6. buat reading: janganlah dulu baca bahan readingnya, tapi langsung aja baca soal guna menghemat waktu. Caranya, tiada trik pasti selain latihan aja yang banyak supaya familiar dan terbiasa. Biasanya reading ini penunjang skor tertinggi.

daftarnya kapan?
Kebanyakan orang yang aku tanya, yakni teacher2 dan teman2 les, mereka prefer langsung tes seminggu-dua minggu setelah les biar ga lupa. Dan lagi mereka kan sibuk tea jadi ga sempet belajar sendiri. Ada juga yang berpendapat ambil tes setelah nilai prediksinya lebih 0.5-1 dari skor ideal mereka.Tapi kalau aku, karena sudah bertekad cuman pengen tes sekali (kalopun nilainya jelek ya terima dan bikin plan lain) jadi aku daftar saat rasa enek belajar lebih besar dari rasa takut dapet nilai jelek. Yaitu sekitar 4 minggu setelah les.

saat tes
Persiapkan apa yang disuruh secara maksimal (baw alat tulis, id card). Yang penting banget adalah jangan nervous. Kalo pas speaking nervous, bilanglah ke examinernya supaya me-release stress kita. Kujuga gitu ko.

Aku selalu terngiang-ngiang akan nasehat seseorang di ieduc yaitu: usaha ga akan mengkhianati hasil. Selain itu kayaknya faktor kemahalan (dan sponsorsip yang bukan dari diri sendiri wqwq) yang membuat aku ga mau ngambil tes ini lagi sehingga mau ga mau harus latihan terus.

Anomali

Jika suhu Samudra India dan Pasifik hari ini sedang anomali, maka aku juga.

Aku selalu menulis mengenai apapun seperti apa-apa yang ada dalam kepalaku, imajinasi, hal-hal yang aku tidak ada didalamnya, bahkan mengenai kamu atau orang-orang itu.

Tetapi beberapa kondisi perasaan yang maksimal membuat aku menjadi sangat bisu. Sedih yang sangat, senang yang luar biasa, atau rasa-rasa lain yang sedang dalam puncaknya. Aku sangat ingin menghasilkan sesuatu agar tidurku nyenyak kembali, dan agar semua rasa-rasa itu normal kembali.

Aku iri pada orang yang bisa menghasilkan buku saat jatuh cinta atau prosa-prosa menyentuh hati saat patah hati. Aku tidak pernah bisa. Semoga saja belum.

Tulisan ini pun bahkan sangat berantakan.

20160811-025452-PM.jpg

Ibu ibu Inspirasional

Aku tidak paham apakah “inspirasional” merupakan kalimat baku yang terdapat di kbbi atau engga. Tetapi yaudah atuh ya ngapain dipermasalahin da ini bukan bikin draft!

Di suatu hari yang maghrib, aku lagi di rumah uwa di kawasan Cijerah. Berhubung udah azan, akhirnya ikut solat dikamarnya. Keinspirasionalannya terjadi disini. Yaitu sehabis beres solat, aku pake kacamata, dan terkaget ternyata di dindingnya banyaaaak banget bacaan Qur’an tulisan tangan gede-gede ditempelin. Kalo difilem indonesia jaman dono kasino indro mungkin disangka untuk mengusir hantu.

Tiba-tiba uwa masuk, melihat aku yang masih takjub, dan bilang, ih yaampun malu ketauan tempelannya. Uwa mah masih belom bisa ngapalin Qur’an. Udah tua mah susah bangeet pi ngapalinnya. Jadi ya giniii di dinding di tempel-tempelin semuanya biar apal…………..Yang ada aku yang malu. Masih muda tapi waktu diabisin sama keambisan duniawi yang ga berujung, padahal lulus mah udah. Setelah kejadian ini aku jadi merasa agak hampa, merasa agak salah jalan, dan merasa ingin les bahasa mandarin (ga deng ga nyambung).

Kedua ibu-ibu yang inspirasional adalah mamahku sendiri. Beliau terkadang suka ngapalin Qur’an kalau abis subuh. Dan ngedenger perjuangannya tuh rasanya subhanallah bangeeet. Karena yang namanya ngapalin Qur’an emang ga mulus dan pasti ada salah salahnya. Ngedenger mamah salah mulu, ngomong eh berkali-kali, dan minta ditesin An-Naba bikin aku speechless tapi aku ga akan bilang-bilang ah heuheu.

Emang bener lagu waktu SD, “Ilmu yang didapat, selagi masih kecil, bagai lukisan diaaatas batuuuu” sementara pepatah mengatakan “Belajar waktu kecil bagaikan menulis diatas batu tetapi kalau udah bertambah umur, belajar itu bagaikan menulis diatas air”

Ibu-ibu inspirasional ketiga dan keempat aku temui tadi pagi. Alhamdulillah aku dan teh ipa ikut training trik ngafalin Qur’an. Pesertanya berapa orang apakah anda bisa nebakkk? Ya, hanya empat orang. Kami juga dapet wejangan sebagai “calon ibu” dari kedua ibu tersebut.

Katanya, kalau udah jadi ibu-ibu, kerasa banget ngafalin Qur’an itu jadi wajib. Belum lagi kalau anak-anaknya udah pada jago karena sekolahnya di sekolah Islam. Mau ga mau, ibu selalu jadi contoh buat anak-anaknya. Eh kalo ditulis mah berasa bosen sih kamu bacanya, tapi pas kami ngobrol dan ibu-ibu tersebut curhat mengenai anak-anak dan keluarga, dan betapa pentingnya Qur’an di dalem rumah, rasanya aku jadi termotivasi dan bersemangat. Kalo sebagai ibu kita ga ngenalin Islam dan Qur’an maka siapa yang akan ngajarin anak-anak? Gitulah intinya mah.

Udah gitu, pas kita lagi mencoba suatu metode, kami semua berhasil ngafalin satu ayat panjang dengan waktu sedikit. Mau tau ga apa??? Ibu-ibu di sebelah aku (tidak sebut nama karena bisi ada yang kenal heuheu) nangis dong saking terharunya karena bisa hapal………….. Ya Allah, sebegitu senengnya bisa ngafalin satu ayat Al-Qur’an bagi mereka. Beliau bilang bahwa udah usia segini dan bisa ngafalin satu ayat itu adalah kenikmatan yang luar biasa.

Ya Allah, semakinlah aku merasa berdosa akan waktu yang sia-sia selama ini. Mereka juga curhat bahwa (you dont say lah) ibu-ibu mah pasti paciweuh (rempong) ngurus semua hal di rumah dan susah nyari waktu luang buat belajar. Lah kami berdua, waktu berlimpah ruah tapi udah dipake apa aja ya……………….

Keempat ibu-ibu tersebut, memberiku kesimpulan kalau masa muda adalah masa yang masih enak untuk belajar. Tapi janganlah hanya ngejar duniawi, pangkat, karena semua itu ga akan tertulis dinisan dan pride ga akan di bawa sampe ke akhirat. Alangkah lebih baik kalau kita ngejar juga ilmu untuk akhirat. Terutama, sebagai ibu-ibu, karena mau ga mau kita yang akan menggiring generasi selanjutnya apakah mau dekat dengan Qur’an atau justru menjadikan Qur’an sesuatu asing yang terlalu “holy” sampe ga pernah disentuh?

Pride & Prejudice

Aku mengaduk segelas air putih dihadapanku. Kenapa sebuah air putih mesti diaduk? Karena aku sedang tidak ada kerjaan saja. Terlebih, aku sedang menunggu taksi yang tadi telah dipesankan temanku. Sekarang mereka semua sudah pulang sehabis kami menghabiskan 2 jam untuk mengobrol.

Aku merasa sedikit kekosongan saat mendengar cerita mereka. Aku sudah genap setahun lulus dari kampus yang sama dengan mereka, tetapi kehidupan kami jauh berbeda. Aku masih hanya berbisnis kecil (sangat kecil) di online shop saja. Mereka? Ada yang sudah menikah dan suaminya kaya, ada yang bulan depan akan berangkat kuliah lagi ke New Zealand, ada juga yang baru naik pangkat di sebuah perusahaan asing, dan ada yang bisnisnya sudah melesat.

Mereka memesan kopi seharga diatas lima puluh, lalu aku hanya bisa membeli segelas air putih. Ah, haha, tentu tidak. Itu bohong. Karena aku juga memesan pizza seharga yang tidak perlu kusebut.

By the way, Ingat temanku yang tadi kubilang sudah menikah? Dulunya ia perempuan yang bisa dibilang, terlalu sering berpacaran. Pergaulannya sudah tidak bisa kuceritakan lagi karena memang sangat mengikuti zaman. Kukira wajar jika ia cepat menikah (mungkin kau mengerti maksudku).

Lalu temanku yang akan berkuliah, ia tipe orang yang terlalu ambisius. Semasa kuliah, ia selalu menyabet nilai tertinggi. Sayangnya, ia terkesan sombong karena tidak pernah berbagi ilmu dengan kami. Dia juga tidak pernah ada di acara-acara komunitas jurusan kami. Selalu langsung pulang–atau entah kemana kecuali belajar. Wajar kalau sekarang dia ingin lanjut kuliah.

Ah, sebentar, taksiku sudah datang. Aku melesat keluar restoran setelah membayar billnya, karena aku ingin cepat sampai rumah. Ada hal yang harus segera kuatasi. Setelah aku duduk, aku akan lanjut bercerita.

Baiklah, temanku yang ketiga, ia memiliki paras yang rupawan dan tubuh tinggi tegap. Pria idaman semua wanita. Aku juga menyukainya, hanya saja bukan tipeku. Mengerti, kan? Kaupun pasti sering menemukan yang seperti itu. Ia juga wajar saja jika cepat naik jabatan mengingat kondisi fisik yang mendukung. Beruntung sekali. Kemudian temanku yang terakhir, memiliki bisnis melesat. Ah, kuberitahu sebuah rahasia, ia orang yang agak “mistis”. Segala permasalahan ia selalu keluhkan pada kakeknya yang seorang dukun–atau apalah itu namanya. Barangkali ia menggunakan magic dan kekuatan jin untuk memperkaya dirinya. Wajar saja, sangat wajar.

Tiba-tiba teleponku bergetar, sebuah pesan. Ibu!

Cepat kerumah sakit, kondisi kakak semakin parah. Siapin juga uang berobat.

Jantungku hampir berhenti. Urusan yang tadi kubilang genting, adalah kakakku yang sudah sebulan ini sakit. Dokter bilang itu leukimia, aku kebagian merawatnya sore ini.

Aku panik. Uang berobat sudah kuhabiskan untuk pizza mahal-sialan-tadi. Dan juga, oleh taksi ini!

Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau bisa kabur dan menghilang, aku ingin!!


Epilog:

Teman yang pertama, menikah karena dijodohkan orang tuanya. Sempat menangis sepanjang Agustus.

Teman yang kedua, tidak pernah aktif di kampus karena bekerja sampingan dikala kedua orangtuanya sakit. Kini ia bersekolah lagi karena sisa uang beasiswanya akan dipakai untuk sekolah adiknya.

Teman yang ketiga, bekerja penuh tekanan dan kuat mental.

Teman yang keempat, bisnisnya ternyata sudah mulai sejak tingkat satu semasa kuliah. Ia tidak melesat. Tapi memang berkembang.


“There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil, a natural defect, which not even the best education can overcome.”
“And your defect is a propensity to hate everybody.”
“And yours,” he replied with a smile, “is wilfully to misunderstand them.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Sebagai seorang manusia, wajar kalau pikiran buruk banyak muncul. Sebagai manusia, wajar juga kalau memaklumi satu sama lain dan tidak tutup mata atas apa yang tidak terlihat. Maka jadilah manusia. Yang pikirannya ga negatif.

IMG_6627

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice