Pengecualian

Setiap hari, setiap saat, dan setiap tindakan membuatku berfikir bahwa semesta selalu mengecualikan aku. Aku adalah tidak ketika semua orang adalah iya. Aku adalah pergi saat semua orang datang. Aku adalah setiap kebaikan yang menjadi debu. Aku adalah setiap jahat yang selalu teringat. Aku juga kau saat kau tidaklah aku.

Akhirnya aku menyadari. Akulah yang mengecualikan aku. Akulah yang berjalan sendiri ke lingkaran sendiri. Hilang sudah semua kecuali diri.


draft 5/11/2017

Ter-mudah terbaca

Aku membaca novel remaja saat masih kelas 6 SD. Membaca kisah perkuliahan saat masih SMA. Dan membaca peliknya berumah tangga saat masih kuliah. Novel-novel kehidupan itu setidaknya membuatku lebih sensitif atas gelagat dan tatapan orang sekitar. Bagaimana mereka berbicara, berbohong, atau berbasa-basi. Atau memuji, atau merendahkan dalam hati. Sehingga aku bercita cita menjadi seorang detektif atau bagian dari badan intelijen. Ah kalau itu terlalu tinggi, setidaknya, aku ingin jadi psikolog.

Ah bagaimana kalau aku jadi peramal sajalah, yang bisa meramal bagaimana kau benci padaku padahal selalu tersenyum. Bagaimana orang itu tidak pernah peduli padahal sering bertanya kenapa. Marah karena tak pernah kubercerita padahal mendengarpun tak pernah. Atau betapa kesalnya dia saat melihatku lalu memilih pura-pura tidak melihat.

Pun sebaliknya, bagaimana dia terlihat jelas terlalu memberi perhatian. Ada pula yang berbaik hati menolong dan mau berbicara dengan orang sepertiku, yang lebih banyak mengobservasi daripada bicara denganmu. Banyak yang positif, negatifpun lebih banyak lagi. Memberantas penyakit hati dan prasangka memang sulit.

Aku hanya ingin agar kau jangan mudah terbaca. Jangan seperti novel-novel itu. Atau lebih parah lagi kalau kau seperti drama korea. Banyak basa basi dan gelagat aneh padahal kalau mau menuju A B C  atau D tak perlu banyak berakting yang terprediksi.

Kecuali bersikap baik, setidaksuka apapun kau padaku atau siapapun, tetaplah bersikap baik meskipun tidak ingin.

gsrtgf
weheartit.com

Panas

Setiap kata tertahan dijemari selama empat minggu. Tanganku hingga bengkak dibuatnya, kepalaku kosong karena isinya tumpah mengalir di lengan dan kuku. Para kupu-kupu yang biasa bertengger di diafragma berkata sudah lelah. Ia juga ingin pindah menuju jemari yang katanya bisa menjadi jalan keluar.

Tetapi setiap kata, isi kepala, dan kupu-kupu yang mengantri di kuku-kuku terlalu takut melanjutkan perjalanan mereka. Cenderung mengantri di setiap telunjuk, jari tengah, dan jempol saja. Karena ada bagian-bagian dalam diriku yang menahan amarah. Jari-jari kaki.

Sudah satu dekade jemari kaki bersabar melihat betapa semua hal selalu ingin keluar dari kuku lentik dan jemari tangan, padahal ia sendiri membutuhkan energi. Kapan aku berjalan? Bisiknya padaku setiap waktu. Hingga aku selalu menahan setiap kata, isi kepala,dan kupu-kupu, untuk tetap diam ditanganku hingga tremor.

Waktunya berjalan. Saatnya semua berpindah, menuju jari kaki.

 

Unknown

Aku mencarimu kesetiap sudut kota. Cafe cafe tempatmu biasa berdiam diri dihadapan laptopmu. Juga kesetiap cangkir cangkir kopi dimana kau menyeruput. Terutama tempat-tempat penyendiri. Tetapi tidak lagi aku bisa menemukanmu.

Aku terkadang menyengaja naik kendaraan umum yang kau biasa kendarai. Mulai dari bus kota, angkutan umum, hingga ojeg di depan jalan rumahmu. Jangan salah, aku juga sudah memeriksa rumahmu, kosanmu, bahkan apartemen di tahun pertama kau tinggal dikota ini, semuanya kosong. Aku menghempaskan badanku ke sofa dengan pakaian tidur dan rambut acak-acakan, sambil sesekali menghirup teh manis hangat. Berfikir kemana lagi aku akan mencari.

Ide brilian kemudian muncul, aku segera mandi dan bersiap. Aku menuju setiap kantor kecamatan tempatmu pernah tinggal, lalu ke dinas kependudukan, atau kalau nihil, aku akan ke petugas migrasi bahkan imigrasi.
___________________________

Sore ini aku sudah duduk diberanda rumahku. Tersenyum puas akan hasil yang kudapat hari ini. Aku tahu dimana kau berada. Kau tidak ada disatupun data kecamatan, bahkan dinas kependudukan di kota kecil ini, apalagi dalam catatan imigrasi dan migrasi. Aku sudah juga ke tempatmu kuliah, namamu tidak pernah tercatat sebagai mahasiswa, lalu mengapa kau mengaku?

Aku akhirnya menelusuri isi kepalaku. Ternyata keberadaanmu adalah tidak ada. Tidak disini, tidak di masa laluku, tidak dimasa depanku, tidak pernah pula dihatiku, apalagi anganku.

20161204-012113 PM.jpg

Anomali

Jika suhu Samudra India dan Pasifik hari ini sedang anomali, maka aku juga.

Aku selalu menulis mengenai apapun seperti apa-apa yang ada dalam kepalaku, imajinasi, hal-hal yang aku tidak ada didalamnya, bahkan mengenai kamu atau orang-orang itu.

Tetapi beberapa kondisi perasaan yang maksimal membuat aku menjadi sangat bisu. Sedih yang sangat, senang yang luar biasa, atau rasa-rasa lain yang sedang dalam puncaknya. Aku sangat ingin menghasilkan sesuatu agar tidurku nyenyak kembali, dan agar semua rasa-rasa itu normal kembali.

Aku iri pada orang yang bisa menghasilkan buku saat jatuh cinta atau prosa-prosa menyentuh hati saat patah hati. Aku tidak pernah bisa. Semoga saja belum.

Tulisan ini pun bahkan sangat berantakan.

20160811-025452-PM.jpg

La Nina Sepanjang Waktu

tumblr_mx4s1x0xd11szol4po1_500

Disebuah taman bacaan,
Kabarmu datang bersama La Nina
Hujan rintik pagi juga datang bersamanya
Lalu berlanjut hujan deras disiang
Hingga badai pada petang
Menjadi alasan saling menguak
Kedalaman tiap diri

Kau adalah pawang hujan
Tetapi hari itu selalu mengatakan,
Kita tidak boleh pulang
Karena hujan tidak akan berhenti
Hingga Februari

Akhirnya kutahu alasannya, bahwa
Februari kau akan menghilang
Bersama dengan La Nina

Kalau begitu, wahai pawang hujan
beri aku La Nina sepanjang waktu
Agar kubisa membaca pikiranmu
Sedalam-dalamnya

Tetapi aku malah berkata:
Hentikan La Nina saat ini juga
Kan kubayar sebesar-besarnya

Karena aku ingin pulang

 

Aku lalu menjadi munafik

Pride & Prejudice

Aku mengaduk segelas air putih dihadapanku. Kenapa sebuah air putih mesti diaduk? Karena aku sedang tidak ada kerjaan saja. Terlebih, aku sedang menunggu taksi yang tadi telah dipesankan temanku. Sekarang mereka semua sudah pulang sehabis kami menghabiskan 2 jam untuk mengobrol.

Aku merasa sedikit kekosongan saat mendengar cerita mereka. Aku sudah genap setahun lulus dari kampus yang sama dengan mereka, tetapi kehidupan kami jauh berbeda. Aku masih hanya berbisnis kecil (sangat kecil) di online shop saja. Mereka? Ada yang sudah menikah dan suaminya kaya, ada yang bulan depan akan berangkat kuliah lagi ke New Zealand, ada juga yang baru naik pangkat di sebuah perusahaan asing, dan ada yang bisnisnya sudah melesat.

Mereka memesan kopi seharga diatas lima puluh, lalu aku hanya bisa membeli segelas air putih. Ah, haha, tentu tidak. Itu bohong. Karena aku juga memesan pizza seharga yang tidak perlu kusebut.

By the way, Ingat temanku yang tadi kubilang sudah menikah? Dulunya ia perempuan yang bisa dibilang, terlalu sering berpacaran. Pergaulannya sudah tidak bisa kuceritakan lagi karena memang sangat mengikuti zaman. Kukira wajar jika ia cepat menikah (mungkin kau mengerti maksudku).

Lalu temanku yang akan berkuliah, ia tipe orang yang terlalu ambisius. Semasa kuliah, ia selalu menyabet nilai tertinggi. Sayangnya, ia terkesan sombong karena tidak pernah berbagi ilmu dengan kami. Dia juga tidak pernah ada di acara-acara komunitas jurusan kami. Selalu langsung pulang–atau entah kemana kecuali belajar. Wajar kalau sekarang dia ingin lanjut kuliah.

Ah, sebentar, taksiku sudah datang. Aku melesat keluar restoran setelah membayar billnya, karena aku ingin cepat sampai rumah. Ada hal yang harus segera kuatasi. Setelah aku duduk, aku akan lanjut bercerita.

Baiklah, temanku yang ketiga, ia memiliki paras yang rupawan dan tubuh tinggi tegap. Pria idaman semua wanita. Aku juga menyukainya, hanya saja bukan tipeku. Mengerti, kan? Kaupun pasti sering menemukan yang seperti itu. Ia juga wajar saja jika cepat naik jabatan mengingat kondisi fisik yang mendukung. Beruntung sekali. Kemudian temanku yang terakhir, memiliki bisnis melesat. Ah, kuberitahu sebuah rahasia, ia orang yang agak “mistis”. Segala permasalahan ia selalu keluhkan pada kakeknya yang seorang dukun–atau apalah itu namanya. Barangkali ia menggunakan magic dan kekuatan jin untuk memperkaya dirinya. Wajar saja, sangat wajar.

Tiba-tiba teleponku bergetar, sebuah pesan. Ibu!

Cepat kerumah sakit, kondisi kakak semakin parah. Siapin juga uang berobat.

Jantungku hampir berhenti. Urusan yang tadi kubilang genting, adalah kakakku yang sudah sebulan ini sakit. Dokter bilang itu leukimia, aku kebagian merawatnya sore ini.

Aku panik. Uang berobat sudah kuhabiskan untuk pizza mahal-sialan-tadi. Dan juga, oleh taksi ini!

Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau bisa kabur dan menghilang, aku ingin!!


Epilog:

Teman yang pertama, menikah karena dijodohkan orang tuanya. Sempat menangis sepanjang Agustus.

Teman yang kedua, tidak pernah aktif di kampus karena bekerja sampingan dikala kedua orangtuanya sakit. Kini ia bersekolah lagi karena sisa uang beasiswanya akan dipakai untuk sekolah adiknya.

Teman yang ketiga, bekerja penuh tekanan dan kuat mental.

Teman yang keempat, bisnisnya ternyata sudah mulai sejak tingkat satu semasa kuliah. Ia tidak melesat. Tapi memang berkembang.


“There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil, a natural defect, which not even the best education can overcome.”
“And your defect is a propensity to hate everybody.”
“And yours,” he replied with a smile, “is wilfully to misunderstand them.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Sebagai seorang manusia, wajar kalau pikiran buruk banyak muncul. Sebagai manusia, wajar juga kalau memaklumi satu sama lain dan tidak tutup mata atas apa yang tidak terlihat. Maka jadilah manusia. Yang pikirannya ga negatif.

IMG_6627

“They walked on, without knowing in what direction. There was too much to be thought, and felt, and said, for attention to any other objects.”

-Jane Austin, Pride and Prejudice

Bayangan

Ini sudah hari ketujuh bagiku menempati kantor ini yang jam kerjanya hingga pukul 04 sore. Namun karena kondisi kota yang macet, aku lebih memilih pulang setelah maghrib agar lalu lintas sudah tidak begitu padat. Kalau kau tanya apa yang aku lakukan hingga magrib, aku biasa membaca buku-buku atau sekedar browsing, dan jika ada yang lembur, sesekali aku mengobrol dengan mereka.

Sudah tiga hari terakhir ini aku mengalami keanehan setiap pulang kantor. Tiga hari lalu, saat aku berjalan di basement, aku melihat sebuah bayangan mengikutiku. Itu adalah hari-hari dimana banyak orang menulis kisah mengenai kejahatan yang mengenai dirinya di medsos dan di share di grup-grup. Lokasinya pun kebanyakan berada di dekat kantor. Apakah aneh kalau aku merasa takut? Salah satu dari mereka mengatakan “Hati hati kalau berada di….kemarin saya diikuti oleh seorang lelaki……..untung saya pernah belajar beladiri sehingga saya berhasil kabur……..” Itu kata salah satu broadcast yang pernah kudapat. Aku yang sadar diri tidak bisa bela diri atau membawa alat untuk melindungi diri, segera melepas heels yang kupakai dan berlari sekencang mungkin kearah mobil dan dengan terburu-buru aku segera menyalakan mesin. Tidak mau tahu siapa pemilik bayangan itu.

Hari selanjutnya, aku sudah hampir lupa mengenai kejadian itu. Sampai ketika aku mulai memasuki basement–kali ini basement sebuah mall karena aku habis menonton sebuah film horor (dan sendirian!), lagi-lagi aku melihat bayangan itu lagi. Dua bayangan, satu milikku dan satunya entah siapa. Dengan memberanikan diri, akupun melihat kanan-kiri-depan-belakang sambil berjalan cepat. Sial, nihil. Lalu kulihat lagi bayangannya, masih ada! Film horor yang habis kutonton membayangi diriku, lalu aku segera berlari. Bayangan itupun lari! Tapi sosoknya tidak ada! Rupanya yang mengejarku sejak kemarin bukan penjahat, tetapi makhluk lain!

Akhirnya aku melewati hari itu dengan selamat lagi, tetapi berbeda dengan hari esoknya.

Sepulang kantor, aku menunggu seorang teman yang akan pulang bersamaku. Ya, aku mulai tidak berani berjalan di basement sendirian. Tetapi sesampainya dibasement, ia meninggalkanku sendirian diluar toilet–tentu karena ia sedang buang hajat. Kebelet, katanya. Kau tahu apa yang selanjutnya terjadi? Aku terkesiap setelah melihat dua bayangan lagi seperti kemarin, satu milikku dan satunya entah siapa.

Karena aku sadar temanku berada didekatku (meskipun itu didalam toilet), aku berusaha menenangkan diri. Setidaknya kalau terjadi apa-apa, ia bisa menolongku. Aku diam. Ia diam. Aku berjalan dua langkah. Ia juga. Aku berjalan mundur, dia juga mundur! Aku menggerakkan tangan kanan, ia juga menggerakan tangan kanannya! Tidak mungkin. Aku lalu menoleh ke kanan kiri, bayangan itupun melakukan hal sama.

Kemudian aku bernafas lega. Rupanya aku dihantui oleh diriku sendiri! Terkadang memang kita memiliki beberapa bayangan–bergantung bagaimana pencahayaan diruangan itu. Aku ingin minta maaf pada penjahat dan makhluk halus yang menjadi kambing hitam atas ketakutan dalam diriku tiga hari ini, lalu aku berjalan pulang dan lupa meninggalkan temanku yang sedang asyik berdiam diri.


Terkadang kita terlalu takut akan hal-hal disekeliling kita dan selalu menyalahkan keadaan atas kesialan yang menimpa. Padahal kalau mau berfikir lebih jujur, barangkali yang kita takutkan sebenarnya hanya muncul dari dalam diri saja. Mereka tidak pernah berusaha membuat kita gagal. Tapi bayangan kitalah.

 

Lupin

Siapalah yang tidak mengenal Lupin, pencuri ulung sepanjang masa yang penuh tipu muslihat dan pengkhianatan yang cerdik. Kalau kau tidak tahu, maka hari ini kau jadi tahu.

Tetapi pencuri paling kejam bukanlah Lupin. Ia adalah smartphonemu. Aku benci menamakannya dengan ‘smartphone’ karena kepintarannya dapat mengisap tatapan mata teduh para orang-orang dekat. Ia juga tidak pantas menjadi kata-kata dalam puisi ataupun prosa. Aku akan memanggilnya handphone, seperti anak-anak 90-an yang baru diberi handphone saat kelas 3 SMP sehingga jadi memiliki hobi bermain snake.

Betapa kini kita tidak perlu mengetik di mesin ketik, tidak perlu berjalan kesana-kemari untuk mendapat jawaban dari pertanyaan, tidak perlu berkirim surat pada dirinya dengan tinta hitam berkertas merah muda lalu menunggu 3 bulan untuk mendapat jawaban, juga tidak perlu membayar mahal untuk sebuah lembar foto keluarga. Bahkan foto sendiri pun sudah berjumlah ribuan dalam galeri kita masing-masing.

Kalau orang jaman dulu iri, maka aku juga iri. Bagaimana mereka menghabiskan waktu secara manusiawi. Sekarang hidup kita seperti dikelilingi hantu–mereka ada tapi tidak yakin benar ada atau tidak. Jiwanya melayang kemana ingin mereka berada. Saat tawa dan senyum manusia bukan untuk orang didepannya, tetapi untuk entahlah siapa. Terkadang aku ingin berkata, pergi dan temui orang itu, agar saat kau tidak ada maka benar benar tidak ada dan agar saat kau ada maka kau benar-benar ada.

Ia juga menjadi belati yang dengan mudah membuat manusia saling kecewa lalu saling benci bahkan jadi tidak saling mengenal. Padahal, bukankah jiwa manusia ada dalam tubuhnya? bukan handphonenya. Maka temuilah.

Ya, ia adalah pencuri terbesar di era ini, yang mencuri kerinduan, sapaan, obrolan basa-basi memuakkan, tatapan, dan kepedulian. Bahkan hal sepenting kesayangan juga perjanjian.

Tapi apa daya, aku tidak bisa berbuat banyak selain menulis ini.
Tapi apa daya, toh aku juga sedang dicurinya.

-Bandung, 02.37
bersama rencana-rencana yang gagal

20160811-025452 PM.jpg

Koran Pagi

Kebiasaanku di pagi hari enam bulan terakhir ini adalah duduk di beranda depan rumah, menyesap teh hangat dan membaca koran. Dengan bapak berada disampingku, menikmati kopi dan koran yang sama–tapi berbeda halaman. Terlalu biasa. Tetapi menenangkan dan menyenangkan. Terlebih jika aku sudah menemukan puisimu dalam koran itu. Namamu R. S., 19 tahun, sama sepertiku. Pun inisial namamu.

Pagi itu berbeda, aku menghabiskan waktu dikereta menuju Bandung karena perkuliahan akan segera dimulai. Tentu laman puisimu berada ditanganku. Sampai akhirnya seorang perempuan berambut sebahu terlihat sibuk berjalan mencari tempat duduk. Ah, disini. Katanya pada kursi disebelahku. Aku tersenyum sekenanya, lalu perempuan itu duduk, merapikan tas, dan terkaget melihat tanganku, hey! Itu puisiku!
Dia adalah kamu. Giliranku yang kemudian terkaget.

Sejak kejadian itu, aku dan kamu menjadi sangat akrab. Kau sangat menyenangkan dan tidak sesendu tulisanmu disetiap pagi itu. Terlebih rupanya kita berada dalam satu kampus yang sama, dengan jurusan berbeda. Aku di sastra, lalu kau di teknik kimia. Anak pintar. Setiap sore kami selalu berjanji bertemu di bawah pohon hanya untuk sekadar berbicara mengenai apapun. Mulai dari bajumu yang tidak matching hingga persoalan ayah-ibumu yang ternyata akan berpisah. Tetapi semenjak kau terkena ulat bulu, kita jadi sering berpindah tempat.

Satu tempat yang kau tidak sukai, perpustakaan. Heran, kau adalah seorang penyair yang hebat tetapi tidak menyukai buku-buku. Karena aku sudah menyukaimu. Begitu jawabanmu setiapku bertanya. Sejak aku dekat denganmu, puisi di koran pagi menghilang. Karena puisi-puisiku adalah kamu, dan kamu sudah ada disini. Buat apa aku menulis lagi? Jawabmu setiap aku menagih puisi-puisi itu.

Hari ini, aku kembali duduk di beranda. Menyesap secangkir teh hangat, dengan koran pagi di tanganku. Puisimu kembali hadir. Aku tersenyum. Aku sadar, aku lebih menyukai puisimu daripada dirimu. Kini kau kembali menjadi perempuan dalam setiap puisi yang kau tulis. Kembali menjadi perempuan sebelum bertemu denganku. Sendu, berteman dengan buku, dan menyukai kesendirian di perpustakaan kampus.

Aku berhasil menghidupkan puisimu lagi. Maafkan aku, yang lebih memilih puisi dan sendumu.

20160807-073807 AM.jpg