Good Mourning?

Hidup kita sekarang ini bukan lagi disurga, sehingga kesulitan dan kesusahan kerap terjadi. Dengan itu terkadang kita merasa jadi “centre of the universe” –yang mana merasa diri paling malang sedunia aherat, merasa paling pantas mengeluh dan ngejudge bahwa orang lain ga paham apa yang kita rasakan–. Jika itu terjadi agaknya kita harus belajar berlapang dada dan menyadari bahwa centre of universe itu matahari, bukan kita (hehe kzl).

Menangis dan berkeluh kesah adalah hal yang sangat manusiawi. Toh ini masih didunia yang hidupnya bagaikan roda, yakni atas bawah ganti-gantian namun tetap semua berakhir pada kematian. Sebagai muslim tentu kita meyakini adanya hari kebangkitan meskipun kita belum melihatnya. Karena kalau kita bisa melihat artinya kita udah mati.

Tetapi galau karena hidup juga dilarang berlebihan, dalam Islam. Seperti saat kita putus asa banget sampe ingin mati, janganlah berdoa untuk cepat mati karena itu dilarang, apalagi bunuh diri. Atau saat kita ditinggalkan, meraung-raung sedih justru memperberat beban yang meninggalkan. Disini kita dituntut untuk berlapang dada dan ikhlas, menyadari bahwa Allah memiliki rencana lain yang lebih indah tanpa kita ketahui karena keterbatasan pandangan kita.

Mengimani Qodho dan Qodar mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang kuat dan memiliki motivasi hidup yang tidak habis, karena motivasi kita adalah Allah SWT. Kalau motivasi hidup kita harta, maka saat miskin kita akan sangat sedih bahkan bisa jadi penjahat. Kalau motivasi kita adalah manusia, maka saat ditinggalkan kita akan putus asa. Tetapi kalau kita percaya sama Allah,mau kita senang/sedih/susah/gampang, itu jadi ga masalah selama Allah jadi tujuan. Menangis boleh, karena bahkan saat Ibrahim, putra Rasulullah meninggalpun, Rasul menangis, tetapi beliau tidak meratap dan berkata-kata berlebihan.

Ada baiknya kita berhenti mengeluh, berhenti ngelamun liatin ujan, dengerin lagu-lagu galau sambil dimasukin ke hati, atau bahkan marah-marah saat takdir lagi ga sesuai harapan. Mungkin usaha kita masih kurang, atau Allah ingin kita mengeluh padaNya, atau Allah punya rencana lain.

Apapun hasilnya, bagaimanapun akhirnya, selalu positive thinking adalah hal yang baik untuk mindset kita. Dan segala puji bagi Allah, yang sudah menyuruh “iman pada takdir” pada umat Islam, sejak aku ga paham takdir itu seperti apa sulitnya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-ngoyak baju dan meratap dengan ratapan Jahiliyyah’,” (HR Bukhari [1294] dan Muslim [103]).

Dari Abu Umamah r.a, “Bahwasanya Rasulullah saw. melaknat wanita yang merusak wajahnya, yang mengoyak-ngoyak bajunya dan meraung-raung sambil mengutuk dan mencela diri.” (Shahih, HR Ibnu Majah [1585], Ibnu Hibban [3156], Ibnu Abi Syaibaj [III/290] dan ath-Thabrani dalam al’Kabiir’tf [775]).

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya, serta yang berteriak dan berkata : ‘celaka dan binasalah aku” (HR Ibnu Majah : 1/505, Shahihul Jami’ : 5068)

Rasulullah bersabda, “Orang yang suka meratap, jika tidak bertaubat sebelum matinya, kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari tir dan baju besi yang berkarat”

Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)

Sumber inspirasi: Ringkasan Riyadhush Shalihih
(Penyusun: Imam Nawawi, Peringkas: Syaikh Yusuf An-Nabhani)

Processed with VSCOcam with b1 preset

 

Pelupa

 

Jadilah hamba Allah yang kuat karena musuh kita Azazil Iblis sudah bersiap untuk jadi yang sangat kuat sejak Nabi Adam turun. Kalau melawan diri sendiri sudah selalu menangis dan lupa bersyukur, bagaimana bisa melawan hal diluar diri?

Memaksakan Pandangan

Dengan segala keterbatasan akal manusia yang waktu sekolah sering remed fisika dan pas TPB banyak matkul yang C ini (wkwk aku aja ini mah), maka sepatutnya kita juga sadar diri bahwa opini dan pendapat hasil buah perenungan akal kita tak selamanya benar. Meski kita berusaha melihat segala sisi dan mencari kedamaian, tapi tetap saja akal ini terbatas. Ngerjain rumus2 yang physically keliatan aja udah susah gimana bisa kita mengupas tuntas pengetahuan tentang Segalanya.

Untuk itulah Allah SWT menurunkan Qur’an untuk menunjuki kita, umat Islam, mana yang harus ditempuh ditengah kegalauan yang disodori oleh dunia. Dan Qur’an berlaku hingga hari kiamat. Beda dengan Zabur, Taurat, dan Injil yang sudah berlaku bagi ummat nabi Daud, Musa, dan Isa AS. –tentu kepercayaan mengenai Qur’an dan keberadaan Allah ini hanya untuk yang memang percaya, jika tidak maka tidak apa kalau tidak baca bacaan ini dan ada baiknya kalau ga sependapat ga perlu dipaksakan.–

Sayangnya, semakin banyak rasanya sarkasme yang mengarah pada agama (yang kalau pada berani frontal mah yang mereka maksud adalah Islam), kitab, bahkan pada Allah SWT. Seakan buah pemikiran manusia adalah hal yang patut dituhankan melebihi Kalam Allah itu sendiri. Kalau kita sudah berkomitmen untuk istiqomah di jalan ini, maka sepatutnya kita ga ikut-ikutan menyalahkan Tuhan apalagi jika ngomongnya “aku islam” sebelum kita belajar/baca2 ma’rifatullah (mengenal Allah SWT).

Kesalahpahaman pertama adalah karena kita menganggap Tuhan itu bersifat makhluk. Makhluk hanya bisa melihat apa yang mereka lihat. Sementara kadang manusia lupa bahwa Allah SWT mengetahui segala hal ghoib termasuk isi hati setiap manusia, rencana-rencana kelompok maupun orang, masa depan, dan pengetahuan lain yang ga dapat makhluknya selami (tapi akan merasakan). Jangan sampai kita jadi orang yang kelak di akhirat, kata Allah di Quran mah, “….matanya terbelalak” karena saking kagetnya dan baru menyadari sesadar2nya apa yang telah terjadi di dunia.

Bukankah 99 Asmaul Husna yang kita hapalin waktu TK/SD salah satunya adalah Allah memiliki nama Mukhalafatu Lilhawaditsi yang artinya Allah memiliki sifat yang berbeda dengan makhluk? Jadi jelas salah saat kita memandang Allah SWT sebagai makhluk yang memiliki pandangan seterbatas makhlukNya dan bisa salah berpendapat. Opini kita bisa salah karena kita makhluk. Tapi tidak pernah salah untuk Khaliq.

Kemudian yang kedua adalah jangan sampai kita menganggap Allah ga ngerti dan ga paham dengan kondisi kita saat ini, negara ini, dunia ini, segala isu dan kabar yang menyelimuti dunia. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Cara kita berpegang teguh adalah kembali pada FirmanNya dalam Quran karena toh itu masih berlaku buat kita. Bukan cuman buat sahabat nabi pada 1500 tahun yang lalu di arab. Quran itu buat setiap zaman di setiap negara dan setiap muslim hingga kiamat. Jangan sampai kita berfikir Quran udah ga relevan dengan jaman modern ini. Mungkin stigma tersebut yang menguji keimanan kita pada Quran. Bukti sains dan Quran sejalan sudah banyak. Kalau kita terus mempertanyakan maka yang lebih patut adalah tanyakan pada diri apakah masih ada iman?

Kalau kata Harun Yahya, janganlah kita memaksakan ayat Allah kedalam pendapat kita. Atau mencomot ayat2 yang kita inginkan tapi mengingkari ayat ayat lainnya sesuka hati.  Tapi kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan setiap perintah dan laranganNya. Itulah ujian bagi kita, yang pengen disebut beriman, maukah kita menghambakan diri pada Allah dan merelakan keinginan serta pendapat kita? Karena kesombongan meskipun hanya sebesar zarrah (atom) tidak akan menuntun kita menujuNya. Nauzubillah. Maaf atas salah kata dan keterbatasan.

don’t avoid the thing that scares you.

Mungkin semua orang pernah ngerasain perasaan dan kecemasan bahwa kematian semakin mendekati dirinya. Misalnya waktu lagi sakit parah, kalau lagi gempa, hujan besar dan petir, atau saat insomnia di malam hari, saat mendengar pengumuman mesjid bahwa ada seorang tetangga yang diambilNya, atau juga saat lagi ngelamun kemudian pikiran-pikiran itu menyergap membuat kita ketakutan.

Pernah ga sih, waktu lagi takut dan berpikir tentang kematian, kita membayangkan dan sudah tahu diri ini lebih condong akan berbahagia atau justru merana—kalau sudah mati nanti. Aku juga pernah, yang ada aku hanya menyesal dan menyesal sekaligus lemah dan pasrah. Sekuat tenaga hanya bisa berzikir sambil berharap setiap zikir mampu menghapus dosa kita yang bagaikan spidol snowman yang bukan buat whiteboard, yaitu seperti susah diapus dan banyak.

Satu dan lain hal dihari ini membuatku sedikit mikir, bahwa akhir-akhir ini aku sering mencemaskan hal-hal yang sepele dan melakukan effort untuk hal yang kurang bermanfaat. Well, sebenarnya, kalau ditanya siapa itu tuhan? Maka seharusnya setiap orang memiliki jawabannya.

Siapakah yang (paling) berhasil membuat kita menangis? Siapakah yang (paling) mengisi pikiran sepanjang waktu? Siapakah yang (paling) berhasil membuat kita berkorban? Siapakah yang (paling) membuat kita seketika berbahagia? Siapakah yang selalu menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan yang kita ambil? Siapa yang kepadanya kita menggantungkan kebahagiaan?

Jawabannya, mereka adalah tuhan dalam diri kita. Aku menulis ini juga sambil deg-deg-an, karena kalau mau menjawab pertanyaan tadi, takutnya bukan bermuara pada Allah SWT. Seperti yang tertera dalam surah Al-Ikhlas, bahwa Illah/Tuhan itu adalah sesuatu yang menjadi tempat bergantung semua harapan, kebahagiaan, cita-cita, dan seluruh kehidupan kita.

tumblr_mb1hqnbW4a1rwjr80o1_500

Kalau kita kembali pada Allah hanya saat sedih dan kecewa aja, kalau setiap perbuatan dan keputusan pertimbangannya hanya kepuasan diri sendiri, seharusnya kita bertanya lebih sering dan lebih dalam pada diri sendiri, siapa dan apa yang sebenarnya menempati posisi nomor satu dalam hidup kita? Astaghfirullahal-adzim, semoga Allah selalu menetapkan hati kita agar selalu menuju-Nya, dan memberikan kita kekuatan agar pantas mengatakan “La Ilaha Illallah muhammadar-rasulullah” saat nyawa meregang.

Karena bukankah sangat curang, kalau kelak dialam barzakh dan alam akhirat kita ingin Allah selalu menolong kita, tapi saat didunia kita “hanya” mengingat Allah kala lagi sedih aja? Itupun kalo iya.


Ditulis tepat beberapa puluh menit sebelum mendengar kabar seorang Uwa yang dipanggil-Nya. Selalu saja merasa aneh ketika beliau beberapa bulan lalu sempat mengobrol, tapi sekarang melihatpun sudah tidak bisa. Ketika dulu beliau masih sangat kuat, ternyata sekarang sudah diambil oleh Yang Maha Kuat dan Penyayang. Semoga kesalahannya dihapuskan, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran (terutama a adi, a rama, dan a azhari), kuburnya dilapangkan, dan diberi tempat tertinggi disisiNya. Aamiin ya robbal alamiin.

Mahkota

Kalo sekarang ke kampus terus liat mahasiswa yang diklat diklat rasanya ikutan cape dan merasa kasian karena perjalanan mereka masih panjang wkwkwk…tapi tentu jaman dulu aku pernah ikutan semacem gitu tapi lupa apakah itu oskm, atau diklat terpusat, atau diklat divisi yang ingin aku tulis disini..

Saat itu kita ngelingker, terus di tanya sama si kakanya, cita-cita mau ngapain? (omg typical bgt). Semuanya menjawab secara formalitas. Tapi ada seorang temen yang jawab,

Saya abis lulus mau tahfiz dulu

Kenapa? Tanya si penanya.

Soalnya, kalau seorang anak bisa tahfiz, nanti di akhirat bisa ngasih mahkota buat kedua orang tua…..

Lalu hening,

Ya, terkadang aku merasa ambis banget ngejar dunia, (meskipun seharusnya keduanya beriringan), bahkan mikir “tahfiz” itu rasanya berattt banget. Padahal kalau masalah perkuliahan atau TA dituntasin abis sampe paper-paper udah sekardus (lebai)

Ya sih ambis itu ga salah, tapi salahnya adalah kalau mengabaikan untuk apa kita hidup seharusnya di dunia dan kalau niatan mengejar itu semua ga melibatkan Allah dan hanya untuk kepuasan diri.

ini tulisan sebagai pengingat diri sendiri saja karena aku merasa masih jauh dari niat baik…

20160621-041723-PM.jpg

 

11.16 pm

Kata orang dan kata meme meme sih lebaran itu menyebalkan dalam hal kalo ditanya kapan lulus atau kapan nikah. Beruntung aku cuman ditanyain kapan lulus aja, mereka beranggapan kalo aku masih muda padahal kan emang.

Kirain kalo ditanya kapan lulus rasanya bakal ngeselin seperti yang orang bilang. Tapi ternyata biasa aja ah hahahaha (naha ketawa).

Yang menyeramkannya adalah pertanyaan selanjutnya: udah ini mau ngapain teh?

Bagaikan ibu hamil yang belom empat bulan, mereka ga boleh bilang2 dulu kalo lagi hamil karena bisi ga jadi. Itulah rasanya pas ditanya: abis ini mau ngapain. Kalo aku cerita “pengennya sih…(kuliah/kerja/lain2)” takutnya ga kesampean seperti ibu hamil tadi. Yah, sampai hari ini aku masih rada insecure kalo ditanya gituan, apalagi kalau mendalam seperti kalo aku jawab mau kuliah akan ditanya lagi: dimana? Kalo dijawab kerja juga: dimana? Ngapain?

Sudahlah shofia dan para orang di tingkat akhir, simpan semua keresahan, kerjain dulu ta/revisiannya. Karena kata Allah kalau Dia berkehendak maka hanya dengan “jadilah” maka jadilah.

20160707-112852 PM.jpg

J-1: As Beauty As An Angel

Satu jam lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, maka satu jam terakhir ini aku ingin menulis sesuatu.

Ada sebuah ayat yang menarik untuk dicermati, bahwa makhluk sekelas malaikat pernah “iri” terhadap manusia.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)

Saat itu manusia diciptakan, lalu Allah mengumumkan bahwa manusia memegang jabatan: Khalifah di muka bumi (wakil Allah). Seketika malaikat bertanya-tanya: Kenapa manusia? Padahal kami (malaikat) adalah hamba Allah yang tidak akan berbuat kerusakan, dan akan selalu taat? Kenapa musti manusia yang merupakan makhluk yang dapat menumpahkan darah?” Memang, dulu sempat terpatri dipikiran bahwa jadi malaikat itu enak ya, sepertinya sih cantik, taat, dan hidupnya ga ada godaan. Justru itulah, adanya godaan dan hawa nafsu itu yang membuat manusia jadi lebih hebat kalau bisa taat.

Rupanya bukan hanya malaikat, iblispun menolak kenyataan ini dengan tidak mau bersujud pada manusia saat Allah memerintahkan seluruh makhluk bersujud (aku pernah nulis ini deh tp biar aja ya). Sujud disini bukan berarti menghambakan diri, tetapi bentuk makhluk lain “siap” membantu manusia dalam menjalani tugas kekhalifahannya.

Kadang aku juga suka mikir, kerjaan malaikat itu beberapa diantaranya ngurusin manusia, sisanya wallahu alam. Ingat-ingat saja lagu “sepuluh malaikat yang wajib diketahui” yang kita hapalin waktu PG/TK. Tugas-tugasnya malaikat yaitu menurunkan rizki untuk manusia, mencatat amal baik/buruk manusia, mencabut nyawa, bertanya pada manusia di alam kubur, dll. Kebayang ga sih jadi malaikat rokib/atid tiap hari nempel terus sama kita dan jeli atas segala perbuatan kita dan ditulisin satu-satu. Terdengar membosankan dan cukup waw tapi toh mereka memang malaikat; makhluk yang akan selalu taat.

Manusia sebagai “anak baru” inipun Allah tunjuk sebagai wakil Allah dimuka bumi, bukan malaikat (makhluk yang sangat taat dan tidak memiliki nafsu) juga bukan iblis (makhluk taat yang sudah beribadah lebih lama dan diciptakan jauh lebih dulu dari manusia). Haruskah idung kita ngapung karena kita menempati jabatan yang dipertanyakan dua makhluk sehebat iblis dan malaikat?

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS 17:70)

Kalau diibaratkan dengan teknologi, maka kita adalah gadget paling banyak fiturnya sehingga sanggup jika diberi beban yang lebih. Kenapa? Karena manusia memiliki potensi yang bisa mendukung tugas kita. Dan potensi itu tidak dimiliki makhluk-makhluk lainnya. Seperti halnya juga teknologi, jika aku adalah sebuah hp smartphone tetapi aku tidak mengenal “diriku sendiri” bisa jadi aku hanya memaksimalkan fitur fitur yang aku tahu saja: sms dan telepon. Padahal kalau aku mau belajar, maka aku akan tahu si pembuat “diriku” pengennya aku jadi apa, dan fitur-fitur apa saja yang bisa menghantarkan aku ke tujuan tersebut.

Pun manusia, kita harus mengenal diri kita sehingga kita akan tahu, apa yang Allah inginkan saat Dia menciptakan kita? Diri kita yang super rumit ini (bayangkanlah saat kamu belajar biologi, sel2, darah, saraf2, atau psikologi, atau kegalauan2 dan overthinking yang kamu miliki) akan sangat “mubazir” kalau Allah menciptakan kita yang rumit ini hanya untuk hepi-hepi terus.

Kalau kamu adalah peracik obat-obatan, pembuat robot, atau pembuat-pembuat lainnya, barangkali ga mungkin bikin sesuatu hal yang hebat dan rumit tapi cuman buat: biarkanlah mereka hidup dan menikmatinya. Tanpa ada suatu “tujuan” khusus. Belum lagi tumbuhan (yang buahnya kita makan dan sayurnya sangat sehat), hewan (yang dagingnya berprotein), langit (yang siang dan malam memiliki porsi seimbang), dan tanda-tanda kekuasaanNya yang lainnya yang kalo dipikir-pikir itu semua “buat kita”.

Udah mah manusia itu sendiri merupakan penciptaan yang hebat, lalu makhluk-makhluk lain juga diciptakan untuk mendukung kehidupan kita. Masihkah kita berpikir bahwa hidup kita harus sesederhana yang dijalankan sekarang ini? (seharusnya bukan kita, tetapi aku)

Tujuannya itu apa? Barangkali telah disebutkan di paling atas: menjadi khalifah dimuka bumi. Yang menjalankan hidup sesuai aturanNya, meng-uswatunhasanah-kan Rasulullah Muhammad SAW, dan menjadikan Allah sebagai Rabb, Malik, dan Illah-nya.

Sekian dulu tulisan dimalam takbiran ini, tulisan ini ditulis pukul 05 sore tapi berhenti karena harus mengerjakan sesuatu hal (yah biasalah kerempongan lebaran) sehingga baru dilanjut malam ini. Semoga jadi pengingat khususnya buat diri sendiri dan umumnya buat yang baca.

Habis mudik, kalau sempat akan dilanjutkan, dan semoga kita bertemu Ramadhan selanjutnya! 🙂

Taqobalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Maafkan aku ya……..

20160705-075840 PM.jpg

Puasa ga puasa

Wacana terbaru bulan ini “yg puasa hrs ngehormatin yg ga puasa” agaknya pernah aku setujui dalam 5 detik dihari aku lagi ga puasa disiang bolong dan lupa sarapan. Dalam 5 detik itu aku mikir, iya juga ya, kerasa banget susahnya makan waktu ga puasa. Tapi hal itu ternyata ga bener karena kebanyakan emang tempat makan buka kok, yang tutup paling warung nasi atau beberapa tempat makan dipinggir jalan. Selain itu mau makan juga bebas bebas aja orang ditutup kain. Kerasa ‘susah makan’nya karena ya masa we mau makan ditempat umum. Kalo makan ya makanlah ditempat makan, jangan di bawa kemana2, dan itu bukan hal ribet kok.

Akhir ramadan ini rupanya aku ga saum lagi. Kadang aku bertanya tanya, ya Allah kok gini2 amat ya, pdhl kan akhir ramadan lagi pengen2nya mengais amalan2 (cie gak) dan merupakan hari2 dimana kita sadar bahwa awal ramadan diisi dg hal yang kurang maksimal dan pengen di ganti di hari2 terakhir ini. Namun disisi lain aku inget perkataan seseorang kalau kita juga harus qonaah dalam menerima takdir yang ga bisa diubah. Barangkali dengan berlapang dada justru Allah akan menghargai itu. Wallahu alam.

Kemarin aku menghabiskan waktu full dirumah. Dan kalo dirumah mah ga puasa juga makan aja sesuka hati. Paling kalo nadia tergiur dia akan mengacungkan jari tengah:( kalau gina paling bakal ngomel2. Soalnya yaa kalo mereka ga puasa juga suka gitu. Jadi emang wajar aja, gausah terlalu baper (lah siapa yg baper).

Tetapi tahun ini naira mulai belajar puasa rutin secara full. Tahun2 sblumnya ia hanya 1/2 hari. Tapi oh tapi, rupanya nayra sangaaaat gampang tergoda buat buka puasa. Suatu pagi pukul 7.30 aku lagi sarapan, ehh datanglah naira dan merengek2 minta sesuap. Sebenernya dia ga laper, hanya saja kabitaan (tergiur). Pernah juga lagi migrain, dan cara cepet ngilanginnya dengan bikin kopi. Naira mencium wanginya lalu merengek lagi minta buka. Akhirnya aku simpulkan: ga puasa kali ini harus kaya orang puasa dan mikir dulu kalo mau makan apakah ada naira ato engga.

Kemarin saat kami lagi otw bukber keluarga, di pinggir jalan ada aa aa minum cendol dingin dong! Si naira mulai agak tergoda tapi kami bilang gini, ‘ih kalo naira ttp puasa hebat tauu, bisa ngalahin orang gede yang tadi!!’ Lalu naira ketawa, ‘iyaa yaaa’. Eh udah gitu beberapa menit kemudian malah ada teteh2 di motor minum chatime………….

Disini aku mau info aja bahwa setiap perbuatan baik sengaja atau engga bakal ngaruh ke orang lain. Dalam hal ini yang ga puasa trs makan di tempat umum lalu keliatan anak kecil yang lagi belajar puasa bisa ngeganggu ‘belajar’ mereka yang udah susah2 di bujuk2 sama keluarganya biar kuat. Ini fyi aja, mau menghargai atau engga mah memang urusan masing2.

Misunderstanding about Islam

Siang ini aku memiliki waktu luang dan memiliki internet, sehingga akupun membuka pinterest. Pertanyaan besar sejak pengumuman brexit yang terngiang di kepalaku hingga tadi siang adalah apa pengaruhnya terhadap erasmus mundus. Pertanyaan ini sampe kebawa mimpi. Meskipun hasil sedikit baca tadi kayaknya sih ga ngaruh2 amat (kecuali keuangan em nya ato apa lah ya) soalnya banyak negara non eu yang jadi partner EM kaya norway dan barangkali uk sebagai negara yang sangat banyak terlibat dalam berbagai program em action 1 juga sangat ribet sepertinya jika harus lepas dari em. Yah, semoga saja. Baiklah lanjut kepada pembahasan sebenarnya:

Akhirnya aku ngetik “brexit” di kolom pencarian di pinterest kali aja muncul grafik-grafik atau chart atau gambar2 yang lebih simple dibaca daripada artikel. Bukannya dapet informasi, aku malah nyasar (sebenarnya bukan nyasar, tapi langsung muncul) di pin-pin orang bule yang………………………islamophobia. Dan ini rasanya beda dengan saat nyasar di indonesiafaithfreed#m (skrg msh ada ga ya (ga peduli jg si)) atau di situs2 yang ga suka Islam. Kenapa beda? Karena ini pin-pin yang bukan hanya dari satu orang atau satu “organisasi”, tapi dari banyaak…………orang ….banyak banget. Membuat aku sedikit banyak merasa “gila banyak bgt org yang percaya media” dan merasa “media adalah penyetir yang sangat the best”. Congrats

Barangkali ini berawal dari wacana “Sharia Law” di amerika. Dan juga banyak meme tentang Obama yang bagi mereka Obama ini sangat pro Islam bahkan ngasih uang buat “terorisme”. Ceunah mah.

Sebagai pemeluk Islam, ga ada satupun pin-pin tersebut yang beneran ada dalam kehidupan muslim. Fitnah abis pokonya. Contohnya mengenai zakat dan kehalalan. Sakit hati banget ga sih, kata mereka seperti ini:

 

20160627-100241 PM.jpg

Bagaikan artis yang kena gosip ga sedap dan salah, itulah rasanya saat baca gambar diatas. Super anehnya adalah apa hubungannya Halal dengan Zakat? Halal itu apapun yang diperbolehkan dikonsumsi/dipakai umat Islam. Jika mereka boykot halal, berarti hanya bisa makan anjing, babi, alkohol, darah, dan hewan yang ga disembelih dileher atas nama Allah. Selamat. Sementara zakat adalah kewajiban mengeluarkan harta. Hubungannya mereka simpulkan sesimpel-simpelnya menjadi seperti itu–setiap produk halal akan dizakatkan. Wew. Kita aja ga kepikiran.

Baiklah, mereka ternyata cukup pinter dengan mengetahui ada 8 mustahiq (penerima) zakat; salahsatunya adalah “mereka yang jihad fi sabiilillah”. Tapi astaghfirullahalazim banget dengan kenegatifthinkingan seperti itu bahwa setiap yang jihad adalah teroris. Ini mau ga mau jadi bagaikan memancing di kolam yang bening. Atau bagaikan sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui. Kenapa?

  1. Dengan propaganda tersebut kebencian thd islam menyebar
  2. Yang islampun jadi takut dengan perkataan “jihad”

Dalam Islam, jihad adalah hal penting. Karena Islam ga hanya diyakini dan dimulut aja, tetapi harus jelas, “idhar”, dan tegak dalam perbuatan pemeluknya yang diamalkan dalam perbuatan yang lillahi taala. Jihad ga sesempit bom bunuh diri atau nembakin orang asing.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ‘Imran/3: 142]

Jihad memang harus bagi seorang muslim. Karena jika tidak tampak perbuatannya, maka apa yang dilisankan dan apa yang tertanam dalam hatinya dipertanyakan. Jangan-jangan selama ini Islam yang diyakini hanya menjadi ilmu saja dan tidak tertanam? Semoga tidak.

Jihad itu bukan hanya –sekali lagi– dengan perang dan kekerasan, tetapi segala perbuatan kita yang lillahi taala dan untuk Islam. Berangkat sekolahpun, membantu ibu, sedekah pada yang tidak punya, dan aktivitas lainnya juga bisa dikatakan jihad–bergantung niat masing-masing. Untuk duniawi? Untuk diri sendiri? Atau untuk Allah?

Banyak sekali pin-pin yang menyerukan kewaspadaan terhadap muslim. Seperti, “Islam itu satu, ga ada yang ekstemis, ga ada yang moderat, ga moderat, semua Islam sama! Teroris!” Atau, “mungkin di negaramu islam cuma 7-10%, ingat bahwa nazi juga dulu hanya 7-10%!” Ogt. Keliatannya mereka takut banget. Ada juga gambar bapa2 jatohin anak dari gedung, dan itu diklaim Islam, “begitulah islam memperlakukan bayi mrk” Innalillahi. Betapa sangat jelasnya Islam berada dalam fitnah.

2:193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Saat terjadi fitnah, maka kita harus membersihkannya. Dan kita juga harus memerangi mereka, jika mereka memerangi kita dengan media, teknologi, kebebasan, opini masyarakat, smartphone, rutinitas duniawi, dll, kita harus memiliki tameng agar itu semua ga ngefek terhadap keislaman kita. Tanpa melupakan bahwa kita juga harus berusaha agar ketaatan hanya untuk Allah dengan cara saling mengingatkan, dll. Barangkali seperti di film anaknya Amin Rais itu (lupa), praktekanlah Islam sebagai Rahmatan lilalamin dalam setiap kelakuan kita. Dan Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim Artinya, saat mereka sudah berhenti memusuhi Islam, kita juga berhenti memusuhi mereka, kecuali yang zolim.

Mengenai perang, dan islam yang difitnah sebagai religion of hate (sumber: pinteres), mereka hanya memetik ayat mengenai perang. Tetapi tutup mata akan ayat-ayat lainnya seperti dalam surat al kafirun:

1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir
2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku

Atau Al Baqoroh:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Surat al-Baqoroh: 256)

Mengenai peperangan, Islam mengatur sedemikian rupa dengan step-step yang dicontohkan Rasul dalam berperang. Dan aku tidak menulis mengenai itu karena bagi Islam membunuh tidak sesederhana, “kamu kafir?” kalo iya langsung tembak. Yang ada kita yang malah zolim.

Sebagai seorang muslim, sangat jelas terlihat bahwa propaganda-propaganda tersebut bertujuan apa. Dan jangan terperangkap agenda para pembenci. Dan jangan ikut-ikutan benci dengan kata jihad.

Wallahualam bis-shawab. Tulisan ini sangat sangat kurang, dan ini hanya yang aku ketahui aja. Mohon maaf jika salah, mau koreksi juga silakan.

 

 

Careless: Masuk Neraka Karena Lalat


Terdapat kisah-kisah yang menunjukkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati meski itu hanya dari niat.

Saat perang Khandaq, Ali bin Abi Thalib sedang menghadapi Amr bin Abd Wahd. Amr terpojok dan mencoba memberontak, saat itu ia meludahi wajah Ali bin Abi Thalib. Bukannya segera “menuntaskan pekerjaan”, Ali malah mundur dan tidak jadi membunuh Amr bin Abd Wahd.
“Jika saat itu aku membunuhnya, aku takut niat membunuh Amr bukan karena Allah, tetapi karena kemarahanku yang telah diludahi oleh Amr…..” Itu alasan mengapa Ali tidak jadi membunuh Amr bin Abd Wahd yang padahal tinggal dikit lagi berhasil. Subhanallah kan.


Jaman dahulu kala mama sering ngebeliin buku “Ba’da Isya” yang ditulis oleh Sofiah Mashuri. Isinya mengenai kisah-kisah muslim jaman dulu yang dikemas pendek-pendek dengan gambar yang banyak. Hingga hari ini, ada satu kisah yang masih aku ingat. Mengenai seseorang yang masuk neraka karena lalat.

Ceritanya ada 2 orang yang bernama fulan dan fulin (namanya ngarang). Mereka hendak melewati suatu pedesaan. Sesampainya di pedesaan itu, kepala desa dan kerabatnya mencegat mereka,
“Kalo mau lewat, harus ngasih sesajen dulu ke berhala kami!” Katanya layaknya preman-preman jaman sekarang yang kalo lewat harus ngasih duit. Tapi bedanya preman mah buat dirinya, tapi orang di pedesaan itu buat tuhannya.

Mereka bingung karena ga punya duit dan ga punya apa-apa. Akhirnya orang desa berkata,
“Mau nyembelih lalat doang juga gapapa”
Fulan dan fulin berpandangan. Fulan segera menyembelih seekor lalat dan akhirnya fulan bisa lewat desa itu. Tetapi si fulin meskipun “cuman” lalat, tetapi dia sama sekali ga mau nyembelih lalat buat berhala mereka. Karena ia tidak mau mempersembahkan sesuatu untuk tuhan orang lain, dan fyi fulan dan fulin adalah orang Islam.

“Karena seekor lalat saja, seseorang bisa masuk neraka (fulan) dan yang lainnya bisa masuk surga (fulin)”, begitu kata Rasul mengakhiri cerita ini dihadapan para sahabatnya.


Begitulah dua kisah mengenai: bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam setiap langkahnya. Terlalu selo dan terlalu bodoamat adalah hal yang harus dihindari. Tutup kuping atas pernyataan bahwa kita terlalu strict atau kaku atau apapun, karena, memang muslim harus berhati-hati.

Dari aku, yang juga belum maksimal dalam kehati-hatian.