Memaksakan Pandangan

Dengan segala keterbatasan akal manusia yang waktu sekolah sering remed fisika dan pas TPB banyak matkul yang C ini (wkwk aku aja ini mah), maka sepatutnya kita juga sadar diri bahwa opini dan pendapat hasil buah perenungan akal kita tak selamanya benar. Meski kita berusaha melihat segala sisi dan mencari kedamaian, tapi tetap saja akal ini terbatas. Ngerjain rumus2 yang physically keliatan aja udah susah gimana bisa kita mengupas tuntas pengetahuan tentang Segalanya.

Untuk itulah Allah SWT menurunkan Qur’an untuk menunjuki kita, umat Islam, mana yang harus ditempuh ditengah kegalauan yang disodori oleh dunia. Dan Qur’an berlaku hingga hari kiamat. Beda dengan Zabur, Taurat, dan Injil yang sudah berlaku bagi ummat nabi Daud, Musa, dan Isa AS. –tentu kepercayaan mengenai Qur’an dan keberadaan Allah ini hanya untuk yang memang percaya, jika tidak maka tidak apa kalau tidak baca bacaan ini dan ada baiknya kalau ga sependapat ga perlu dipaksakan.–

Sayangnya, semakin banyak rasanya sarkasme yang mengarah pada agama (yang kalau pada berani frontal mah yang mereka maksud adalah Islam), kitab, bahkan pada Allah SWT. Seakan buah pemikiran manusia adalah hal yang patut dituhankan melebihi Kalam Allah itu sendiri. Kalau kita sudah berkomitmen untuk istiqomah di jalan ini, maka sepatutnya kita ga ikut-ikutan menyalahkan Tuhan apalagi jika ngomongnya “aku islam” sebelum kita belajar/baca2 ma’rifatullah (mengenal Allah SWT).

Kesalahpahaman pertama adalah karena kita menganggap Tuhan itu bersifat makhluk. Makhluk hanya bisa melihat apa yang mereka lihat. Sementara kadang manusia lupa bahwa Allah SWT mengetahui segala hal ghoib termasuk isi hati setiap manusia, rencana-rencana kelompok maupun orang, masa depan, dan pengetahuan lain yang ga dapat makhluknya selami (tapi akan merasakan). Jangan sampai kita jadi orang yang kelak di akhirat, kata Allah di Quran mah, “….matanya terbelalak” karena saking kagetnya dan baru menyadari sesadar2nya apa yang telah terjadi di dunia.

Bukankah 99 Asmaul Husna yang kita hapalin waktu TK/SD salah satunya adalah Allah memiliki nama Mukhalafatu Lilhawaditsi yang artinya Allah memiliki sifat yang berbeda dengan makhluk? Jadi jelas salah saat kita memandang Allah SWT sebagai makhluk yang memiliki pandangan seterbatas makhlukNya dan bisa salah berpendapat. Opini kita bisa salah karena kita makhluk. Tapi tidak pernah salah untuk Khaliq.

Kemudian yang kedua adalah jangan sampai kita menganggap Allah ga ngerti dan ga paham dengan kondisi kita saat ini, negara ini, dunia ini, segala isu dan kabar yang menyelimuti dunia. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Cara kita berpegang teguh adalah kembali pada FirmanNya dalam Quran karena toh itu masih berlaku buat kita. Bukan cuman buat sahabat nabi pada 1500 tahun yang lalu di arab. Quran itu buat setiap zaman di setiap negara dan setiap muslim hingga kiamat. Jangan sampai kita berfikir Quran udah ga relevan dengan jaman modern ini. Mungkin stigma tersebut yang menguji keimanan kita pada Quran. Bukti sains dan Quran sejalan sudah banyak. Kalau kita terus mempertanyakan maka yang lebih patut adalah tanyakan pada diri apakah masih ada iman?

Kalau kata Harun Yahya, janganlah kita memaksakan ayat Allah kedalam pendapat kita. Atau mencomot ayat2 yang kita inginkan tapi mengingkari ayat ayat lainnya sesuka hati.  Tapi kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan setiap perintah dan laranganNya. Itulah ujian bagi kita, yang pengen disebut beriman, maukah kita menghambakan diri pada Allah dan merelakan keinginan serta pendapat kita? Karena kesombongan meskipun hanya sebesar zarrah (atom) tidak akan menuntun kita menujuNya. Nauzubillah. Maaf atas salah kata dan keterbatasan.

Anomali

Jika suhu Samudra India dan Pasifik hari ini sedang anomali, maka aku juga.

Aku selalu menulis mengenai apapun seperti apa-apa yang ada dalam kepalaku, imajinasi, hal-hal yang aku tidak ada didalamnya, bahkan mengenai kamu atau orang-orang itu.

Tetapi beberapa kondisi perasaan yang maksimal membuat aku menjadi sangat bisu. Sedih yang sangat, senang yang luar biasa, atau rasa-rasa lain yang sedang dalam puncaknya. Aku sangat ingin menghasilkan sesuatu agar tidurku nyenyak kembali, dan agar semua rasa-rasa itu normal kembali.

Aku iri pada orang yang bisa menghasilkan buku saat jatuh cinta atau prosa-prosa menyentuh hati saat patah hati. Aku tidak pernah bisa. Semoga saja belum.

Tulisan ini pun bahkan sangat berantakan.

20160811-025452-PM.jpg

Ibu ibu Inspirasional

Aku tidak paham apakah “inspirasional” merupakan kalimat baku yang terdapat di kbbi atau engga. Tetapi yaudah atuh ya ngapain dipermasalahin da ini bukan bikin draft!

Di suatu hari yang maghrib, aku lagi di rumah uwa di kawasan Cijerah. Berhubung udah azan, akhirnya ikut solat dikamarnya. Keinspirasionalannya terjadi disini. Yaitu sehabis beres solat, aku pake kacamata, dan terkaget ternyata di dindingnya banyaaaak banget bacaan Qur’an tulisan tangan gede-gede ditempelin. Kalo difilem indonesia jaman dono kasino indro mungkin disangka untuk mengusir hantu.

Tiba-tiba uwa masuk, melihat aku yang masih takjub, dan bilang, ih yaampun malu ketauan tempelannya. Uwa mah masih belom bisa ngapalin Qur’an. Udah tua mah susah bangeet pi ngapalinnya. Jadi ya giniii di dinding di tempel-tempelin semuanya biar apal…………..Yang ada aku yang malu. Masih muda tapi waktu diabisin sama keambisan duniawi yang ga berujung, padahal lulus mah udah. Setelah kejadian ini aku jadi merasa agak hampa, merasa agak salah jalan, dan merasa ingin les bahasa mandarin (ga deng ga nyambung).

Kedua ibu-ibu yang inspirasional adalah mamahku sendiri. Beliau terkadang suka ngapalin Qur’an kalau abis subuh. Dan ngedenger perjuangannya tuh rasanya subhanallah bangeeet. Karena yang namanya ngapalin Qur’an emang ga mulus dan pasti ada salah salahnya. Ngedenger mamah salah mulu, ngomong eh berkali-kali, dan minta ditesin An-Naba bikin aku speechless tapi aku ga akan bilang-bilang ah heuheu.

Emang bener lagu waktu SD, “Ilmu yang didapat, selagi masih kecil, bagai lukisan diaaatas batuuuu” sementara pepatah mengatakan “Belajar waktu kecil bagaikan menulis diatas batu tetapi kalau udah bertambah umur, belajar itu bagaikan menulis diatas air”

Ibu-ibu inspirasional ketiga dan keempat aku temui tadi pagi. Alhamdulillah aku dan teh ipa ikut training trik ngafalin Qur’an. Pesertanya berapa orang apakah anda bisa nebakkk? Ya, hanya empat orang. Kami juga dapet wejangan sebagai “calon ibu” dari kedua ibu tersebut.

Katanya, kalau udah jadi ibu-ibu, kerasa banget ngafalin Qur’an itu jadi wajib. Belum lagi kalau anak-anaknya udah pada jago karena sekolahnya di sekolah Islam. Mau ga mau, ibu selalu jadi contoh buat anak-anaknya. Eh kalo ditulis mah berasa bosen sih kamu bacanya, tapi pas kami ngobrol dan ibu-ibu tersebut curhat mengenai anak-anak dan keluarga, dan betapa pentingnya Qur’an di dalem rumah, rasanya aku jadi termotivasi dan bersemangat. Kalo sebagai ibu kita ga ngenalin Islam dan Qur’an maka siapa yang akan ngajarin anak-anak? Gitulah intinya mah.

Udah gitu, pas kita lagi mencoba suatu metode, kami semua berhasil ngafalin satu ayat panjang dengan waktu sedikit. Mau tau ga apa??? Ibu-ibu di sebelah aku (tidak sebut nama karena bisi ada yang kenal heuheu) nangis dong saking terharunya karena bisa hapal………….. Ya Allah, sebegitu senengnya bisa ngafalin satu ayat Al-Qur’an bagi mereka. Beliau bilang bahwa udah usia segini dan bisa ngafalin satu ayat itu adalah kenikmatan yang luar biasa.

Ya Allah, semakinlah aku merasa berdosa akan waktu yang sia-sia selama ini. Mereka juga curhat bahwa (you dont say lah) ibu-ibu mah pasti paciweuh (rempong) ngurus semua hal di rumah dan susah nyari waktu luang buat belajar. Lah kami berdua, waktu berlimpah ruah tapi udah dipake apa aja ya……………….

Keempat ibu-ibu tersebut, memberiku kesimpulan kalau masa muda adalah masa yang masih enak untuk belajar. Tapi janganlah hanya ngejar duniawi, pangkat, karena semua itu ga akan tertulis dinisan dan pride ga akan di bawa sampe ke akhirat. Alangkah lebih baik kalau kita ngejar juga ilmu untuk akhirat. Terutama, sebagai ibu-ibu, karena mau ga mau kita yang akan menggiring generasi selanjutnya apakah mau dekat dengan Qur’an atau justru menjadikan Qur’an sesuatu asing yang terlalu “holy” sampe ga pernah disentuh?

Bagi Rapot

Karena satu dan lain hal, hari ini aku ngambil rapotnya nadia. Awalnya sih malez banget parahh karena berasa ibu-ibu, tapi kalau aku inget bahwa banyak temen aku yang bahkan sejak usia remaja udah ngambil rapot adiknya, aku jadi agak ngga males lagi (((agak))). Yaudah sih.

Awalnya sempet kebingungan karena kelasnya dipindah. Setelah nanya sana sini, tetep belom nemu. Alhamdulillahirobbilalamin bagaikan lagi puasa tiba-tiba bedug, begitulah rasanya aku saat itu karena tiba-tiba bertemu temen-temennya si nadia, yakni fara dan mega. Bagaikan seorang kakak merindukan adiknya, aku segera sumringah dan hampir mau meluk,
“Kalian kelasnya dimanaaa?” Bukannya jawab, mereka malah nanya,
“Teh opiii kenapa nadia ga ikut?” Aku jawab sekenanya, lalu nanya lagi kelasnya dimana.
“Disitu teh..” Kata mereka, lalu merekapun pergi.

Lalu aku ngobrol sama ibu gurunya. Kebanyakan malahan jadi cerita kuliahan bukannya ngomongin nilai-nilai nadia.

“Kuliah dimana teh?” Tanyanya. Lalu aku jawab, kelautan itb bu (biar cepet, karena kalo jawabnya oseanografi maka bakal minta penjelasan)

“Wah, anak saya mah di sbm”
“Lulusnya cepet ya bu sbm mah”
“Ah, saya ga peduli mau lulus cepet atau lama, pengennya cepet-cepet punya cucu…….”

Beliau kemudian cerita betapa anaknya super-rajin sampe-sampe gak pernah pacaran, suka males main, hobinya adalah membaca, senang belajar, dan lain-lain, padahal ibunya udah menantikan anaknya punya calon untuk dinikahin.

“Jodohin aja atuh bu” wk ngasal yang agak bodoh. Ngga di waro. Alhamdulilah.

“Coba tanya mamahnya, kalo punya anak perempuan pasti maunya nimang cucu…lulus mah terserah lah”

“Hooo….iya bu nanti ditanya” (padahal ga akan)

*brb ga jadi lulus juli*
*padahal emang engga*

Cara Belajar bagi “Visual”

Katanya sih cara belajar manusia itu macem-macem. Ada yang kinestetik atau dengan aktivitas, ada yang dengan visual atau melihat, ada juga yang listening atau mendengarkan. Maka ga aneh kalau temen kita ada yang suka tidur tapi sangat jenius. Wallahualambisshawab

Sebagai orang yang visual, beginilah cara aku menangkap sesuatu yang disampaikan oranglain, khususnya dalam hal belajar dikelas.

-Selalu memperhatikan wajah yang ngasih materi. Sekalinya ga liat atau ga pake kacamata, maka fokus akan memudar dan rada sedikit susah nangkep. Tapi ini akan fatal kalau dilakukan di kelas kimia waktu TPB karena bertemu kontak mata dengan dosen sama dengan disuruh maju ngerjain soal. Maka terkadang menundukkan kepala itu perlu juga.

-Hal yang paling paling dan sangat membantu bagi visual adalah catatan pelajaran. Beginilah kira-kira ringkasannya:

  1. Cari jenis tulisan seperti apa yang bikin kita “terkesan” sehingga dapat diingat terus. Kalau aku sih mencari tulisan yang bikin semangat kalo dibaca. Terbukti pas tadi nemu binder jaman SMA aja rasanya seneeng banget liat catetan-catetannya sampe pengen nyetel lagu “i love me gonna love myself no i dont need anybody else” #alay #narsisme #ilovetheoldme (wkwk sampah)
  2. Jenis tulisan tersebut bisa berupa mindmap, atau biasa aja. Tetapi kalau dikelas biasanya aku menulis dengan biasa aja tapi pas udah mau ujian kita salin ulang dengan mindmap biar ngerti (ini berlaku buat jaman sekolah, kalo udah kuliah rasa ripuh dan malas bersatu jadi ga gini2 amat).
  3. Awalnya aku mencari “jati diri” jenis tulisan dan jenis pulpen dan pola tulisan kaya gimana yang bikin aku ngerti dan enak buat belajar. Akhirnya kalau aku sih,  dengan tulisan yang agak bergambar (gambar panah ato bulet2 ato kotak2) akan lebih membantu dibanding full tulisan semua. Dan aku juga ga bisa nulis pure apa yang ditulis guru, melainkan dicatet dengan bahasa sendiri. Kecuali kalo ga ngerti, ya tulis we dulu. Lalu tulisan paling semangat adalah jika menulis menggunakan pensil yang dipadukan dengan warna-warni spidol tapi jangan colorful amat bisi pusing. Cukup 2 warna maksimal. Tapi paling the best adalah 1 pensil mekanik dan 1 warna spidol ungu.
  4. Jangan terpaku sama garis-garis pada buku. Gambar aja sesuka hati.

Udah gitu doang sih. Tapi kenapa catetan pelajaran itu sangat penting bagi si visual? Hal ini karena setelah diobservasi dan diingat kembali, ternyata pelajaran yang aku ga bisa itu adalah yang catetannya aku gak suka. dan pelajaran yang dipahami adalah pelajaran yang aku senang saat buka catetannya. Berikut contoh-contoh tulisan binder waktu SMA yang aku sukai sehingga semangat dan yang malesin sehingga susah ngerti.

photo(3)
pensil + spidol ungu (myfav!!!)
photo(5)
saat kita seneng liat suatu catetan, ini jadi lebih nempel karena semangat yang timbul waktu baca. Ga peduli orang bilang apa (mau alay, kurang kerjaan, atau gak berkesan karena jelek), yang penting kita senang.

Itu dua diatas adalah contoh jenis catetan yang aku bersemangat dalam membacanya. Tapi ini ada 2 contoh lagi yang tulisannya agak mengesalkan sehingga jadi bete pas bacanya:

Gambar 2 itu terlalu colorful dan terlalu alay sehingga pas liatnya jadi males.

Tiap orang punya caranya dan kesukaannya masing-masing. Mungkin ada yang males nulis seperti itu, atau ada yang malah semangat. Yah sesuaikan ajalah.

Okay, gitu aja mengenai bagaimana pentingnya nulis bagi  yang cara belajarnya dengan visual dengan sesuai gaya dan sesuai keinginanmu supaya lebih nangkep pelajaran (versi skhaor.wordpress.com). Semoga bermanfaat dan sesuaikan cara belajar dengan keinginan dirimu sendiri! Btw, selamat Ramadhan!

Fake it, fake it, till you make it

Seringkali banyak persepsi salah mengenai “Ikhlas”. Dulu aku mengenakan tameng: Ah daripada ga ikhlas mending ga usah. Padahal itu hanyalah pembenaran atas kemalasan aja.

Misalkan nih, bisikan malaikat berkata, “kayaknya boleh tuh solat sunnah dulu” eh tapi bisikan lainnya berkata “agak males yaa, kan buru-buru, mau ini..itu…dll” Lalu diri sendiri mencoba menengahi. “Yah, daripada sholat sunnah tapi ga ikhlas, mendingan ga usah tapi ikhlas kali ya”. Itu terjadi cukup sering. Padahal bilang we males.

Benar, bahwa syarat sesuatu hal disebut ibadah itu adalah kalau ikhlas. Kalau ngga ikhlas, maka itu bukan ibadah. Tapi pengertian ikhlaslah yang harus digaris bawahi disini. Jika bicara mengenai ibadah, maka pengertian ikhlas juga harus sesuai dengan Qur’an. Apakah iya ikhlas itu sama dengan rela?

Salah satu kata ikhlas yang tercantum di Qur’an ada di surat Al Bayyinah, selain itu ada juga di Az Zumar tapi lupa ayatnya.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Mungkin bisa di cek arabnya juga apakah yang di bold itu sama dengan ikhlas. Tapi da emang iya. Karena arabnya adalah: Mukhlisiina Lahuddin yakni ikhlas dalam beragama. Tetapi rupanya dalam Qur’an terjemah, Mukhlis itu adalah memurnikan ketaatan padaNya.

Jadi, dalam konteks ini, ikhlas itu bukan nunggu sampe hati rela. Ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah. Bukan karena ingin diliat orang, untuk pamer, atau karena untuk kelegaan hati aja. Bahkan kalaupun kita melakukan suatu kebaikan karena terpaksa, itu adalah hal yang ga salah. Kalo kata guru bahasa inggris: fake it, fake it, fake it, until you make it.

Awalnya mungkin terpaksa, tapi lama lama akan terbiasa. Karena kalo nunggu sampe “hidayah” dan “kerelaan” itu dateng, niscaya ga akan beres-beres sampe akhirnya kita berjalan di shiratal mustaqim yang lebih tajam dari pedang itu lalu menyesali semua yang telah terjadi.

 

 

 

How girls call you

Gak tau kenapa tiba-tiba inget

Jadi dari jaman SMP hingga SMA dan terkadang kuliah (tapi sekarang ku udah tobat), dalam grup cewe-cewe yang suka curhat, biasanya mereka memiliki panggilan khusus buat si doi doi yang kadang diomongin dalam grup mereka. Waktu SMP mah ada “si 02:47” terinspirasi dari seorang penyanyi kalo ga salah Marcell deh, yang memiliki tattoo di tangannya bertuliskan “04.00”. Rempong pisan ga.

Ada juga yang disebut “si Sweater” akibat orang itu suka pake sweater mulu. Ada juga si “Kapas” gatau kenapa alesannya. Ada juga “Cottonbud” karena dia rada conge #gakdeng. Lama-lama muncul nama lain dari minuman seperti: si soda, si Okky jelly drink, lalu berbagai angka: si 12, si 31, si 42, banyak weh sampe ada yang akar 10, akar 987, dsb (yang terakhir mah lebay aja biar seru) tapi yang sangat jahat adalah “leho” karena dia suka lehoan huhuhu parah banget sih. Terkadang ada yang punya 2 panggilan. Misalkan si Soda a.k.a si 12.

Setelah menginjak SMA, personil berganti total dan panggilan orang menjadi angka sudah musnah digantikan oleh berbagai macam warna. Ada si “Kuning”, “Biru”, “Ijo”, Cokelat”, “Abu”, “Item”, dan “Merah”. Hal ini didasarkan jaket atau tas atau hal-hal yang sering mereka pake. Misalkan si Coklat dipanggil coklat karena dia selalu pake jaket coklat. Atau si Kuning karena kulitnya kekuningan langsat gitu.

Yah begitulah para penggibah mengghibah biar ga ketauan orangnya. Jadi kalau di depan kamu ada  yang ngomongin “si sepeda” atau si-apalah yang gak masuk akal, niscaya dia sedang ngomongin orang.Janganlah ditiru, ini mah bocoran aja yang merupakan rahasia umum seluruh umat penggosip.

Tapi aku yakin pasti yang baca-baca inipun sama seperti kami hwhwhw.
Pesanku adalah satu, Berhentilah nak dalam melakukan kealayan dan segeralah keluar dari lembah dosa ini–apalagi kalau ngasih nama orangnya dengan hal-hal jahat. Tapi kalo urgent mah gapapa. #lah

#tulisanyangtidakberfaedah
#jahiliyah
#gengyangriweuh
#jahat
#maap
#kokpakehashtagya

:) :) :)

Sebagai generasi 90an memang kadang enak sekali untuk menjudge para remaja masa kini yang “beda” dengan kita. Jaman sekarang, ada anak SD bunuh diri karena putus cinta, anak SMP dan SMA yang pergaulannya ga terkontrol, dan sebagainya. Dan si anak-anak 90an (ga ngaca) bisanya nulis-nulis notes di fb aja marah-marah liat kelakuan anak sekarang. Maunya mah mendengar kaya gitu tuh yaudah ga peduli aja. Tapi berhubung aku punya adik–Naira yang masih bisa dicubitin itu, mau ga mau hal tersebut jadi kepikiran.

Memang, yang namanya “kaderisasi” (kalo dikampus mah) itu bukan hal yang sepele dan tidak mudah dilakukan. Bahkan dalam surat 4:9 juga Allah menyuruh orang muslim untuk “jangan meninggalkan generasi yang lemah dibelakang”. Mnegaskan bahwa menjaga nilai untuk generasi selanjutnya adalah wajib. Bahkan Rasul aja di akhir hayatnya nangis mikirin ummatnya sepeninggalnya.

Jadi kalau dicari salah siapa adik-adik kita seperti itu mungkin salah satunya karena generasi didepan mereka kurang menguatkan. Atau jaman yang semakin jahat dan kita sulit beradaptasi.

Kalau di bilang parah, emang makin lama dunia ini makin kejam untuk jiwa jiwa muda yang masih “ummi”. Jaman sekarang disuguhi berbagai kemudahan yang bikin malas, bocah-bocah sukanya main tab mulu, tabnya ada internet dan gampang akses apa aja, dsb. Bagi kita mah itu ga masalah da udah ngerti. Tapi anak kecil yang penasaran, mereka bisa melakukan apapun untuk ga penasaran lagi (wel aku ngomong gini karena liat Naira dan ponakan-ponakan juga)
Pernah juga aku kaget pas liat tab nya keponakan, masa game nya ada yang aga porno gitu. Bukan sepenuhnya salah anaknya, tapi dia mah ga ngerti dan asal download aja. Dia juga ga tau itu porno apa bukan, baik atau engga. Ga kaya kita yang udah tau bener dan salah.

Semakin jaman bertambah tua sepertinya semakin kelihatan, yang dibutuhkan manusia bukan hanya skill bahasa inggris sejak balita, matematika pake sempoa (eh udah ga jaman deng), belajar menggambar sampe jadi pelukis, atau belajar musik sampe ikut indonesian idol. Tapi yang terpenting ditanamkan anak muda seperti Naira adalah pemahaman dan karakter. Supaya tidak mudah terbawa jaman yang semakin menjauhkan kita dari apa yang seharusnya kita peluk erat sehingga menjadi perilaku.

Yah jadi ini tuh hasil ngobrol sama Siti sore sore bulan kemaren (lama amat ya). Kalo ngomongin kaya gini, mau mikirin masalah diri sendiri lainnya tuh kaya “naon sih pi”. Ada hal lebih besar dan berat yang jadi PR muslim sedunia.
Pertanyaannya adalah : terus kita harus ngapain?

Yah tapi sebenarnya excuse bisa banyak muncul dan beranak pinak untuk meniadakan masalah ini. Seperti, ‘lah gimana dong aku aja masih ga bener’

20160412-062330 PM.jpg

Relation Ship

Kami seketika diam berpandangan setelah guru kami bertanya,
“Apa itu akidah?”

Beliau menunjuk satu-satu untuk menjawab pertanyaan itu. Giliranku.

“Coba ya pak, mungkin akidah itu pemahaman seseorang?” Ngasal banget. Tentunya salah.
“Yang lain?” Tanyanya. Bermacam jawaban temanku, ada yang bilang mental, agama, pemahaman, keyakinan, dsb. Kelas mulai rusuh, bukan karena siswa siswa ketakutan ditanya, tapi karena memang penasaran. Jadi apa itu akidah? Sejak SD hingga SMP kami selalu mengikuti pelajaran Akidah Akhlak tanpa tahu apa artinya. Baru dipertanyakan saat sudah kelas 9, mau lulus.

“Oke, misalkan saya punya domba, lalu domba itu ditali ke pohon. Yang mana yang akidah?”
Kami makin bingung, apasih maksudnya? kerusuhan itu ada yang dimanfaatkan juga untuk mengobrol dan bercanda. Kami menggeleng tidak tahu apa korelasi domba dengan akidah.

Lalu beliau menjawab, “akidah itu talinya”.
Semakin bengonglah kita, tapi kelas sudah mulai hening.
Ya, lalu beliau menjelaskan bahwa akidah itu adalah ikatan. Ikatan antara manusia dengan Kholiknya. Saat itu aku manggut manggut, baru mengerti.

Seberapa kuat akidahmu bukan berarti seberapa kuat prinsip dan pemahamanmu, tetapi dalam kata lain itu bisa berarti, seberapa kuat ikatanmu dengan Allah?

Apakah dengan angin berhembus saja ikatanmu bisa lepas? Atau justru pisau tajam tak mampu melepaskan ikatan itu?

Semoga tak peduli siapapun dan apapun itu yang mencoba merenggangkan “ikatan”mu denganNya, akidahmu akan tetap bertahan hingga hari kau benar kembali padaNya.

20160218-092000 PM.jpg
(“We believe in God and the Day of judgment” But they’re not true believers)
Nauzubillah