Pencinta Matahari

Kaukah pencinta matahari itu? Yang sedang membangun tempat tertinggi untuk mencapainya, yang tadi pagi nelangsa takut bulan mengambil nyawanya?

Pencinta matahari adalah Firaun yang dengan peluhnya membangun piramida tertinggi untuk menyentuhnya. Namun ia justru membuat matahari marah dan memperbesar gravitasinya, sehingga laut merah menelan tubuhnya.

Pencinta matahari adalah pengembara luar angkasa yang terus berjalan menujunya, tapi akhirnya matahari malah membunuhnya. Matahari selalu membinasakan pencintanya yang berjalan mencurinya.

Tapi kaukah pencinta matahari itu? Yang kala pagi tiba kau memburu sinarnya, untuk menumbuhkan bunga bunga kesayanganmu, untuk menguatkan tulang belulang pada tubuhmu.

Kaukah pencinta matahari itu? Yang saat gelap tiba, kau dan airmatamu berpadu memohon pada Penciptanya agar matahari kembali esok hari. Agar gelap tidak menerkamnya. Agar gelap tidak mencuri cahayanya. Benar, matahari tidak meninggalkan pencintanya. Setiap esok hari adalah kedatangan kembali matahari, untuk menemui para pencintanya.

Kaukah pencinta matahari yang kelak akan dibunuhnya? Atau pencinta matahari yang akan selalu ditemaninya setiap pagi?

 

diketik di iphone jenis paling purba yang usianya 5 tahun lebih, j+12 gerhana matahari total, 3/09/2016, daichi.

You’re in Trouble!

Mungkin aku bosan, mungkin juga kamu bosan. Mendengar bahwa kunci dari permasalahan hidup manusia adalah dengan dua hal; sabar dan sholat. Kalau kau memiliki hati dan keyakinan seorang muslim harusnya percaya, karena hal tersebut tertera di kitab suci. Tapi tak jarang saat kita sudah di titik terjenuh dan stuck, rasanya hanya ingin memaki-maki dan melakukan hal-hal negatif. Mana ada kepikiran buat sabar. Apalagi sholat.

Tentu adakalanya juga waktu dimana kita sudah bisa mulai mengendalikan pikiran dan hati saat sedang diterpa musibah. Saat seperti ini sangat baik dimanfaatkan untuk sholat. Karena sebenarnya, saat manusia sedang sholat, ia sedang diingatkan bahwa ia memiliki masalah yang teramat sangat besar dari pada masalah yang sedang dihadapinya sekarang.

Yaitu masalah yang akan datang di hari akhirat nanti.

Kadang kalau menjelang salam, saat kita berdoa untuk diselamatkan dari azab jahannam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, dan fitnah al massih dajjal, saat membacakan doa tersebut, rasanya aku jadi merasa bodoh jika terlalu larut dalam kesedihan atas masalah yang ada didunia. Bangun! Masih ada masalah lebih besar yang harus dibenahi!

Mungkin itu caraNya agar kita nggak baper kalau ditimpa suatu hal sedih; yaitu dengan diingatkan bahwa ada hal lebih penting yang mesti diurusin; masalah akhirat.

Cerita Sederhana

Sadar gak sadar, keajaiban dalam hidup ini sering terjadi. Keajaiban hadir bukan sebagai bukti kalau kamu itu hebat, tapi justru sebagai bukti kalau kita itu ga ada apa-apanya dan pemilik segalanya hanyalah Dia.

Seperti misalnya saat aku menjalani kelas 3 SMA dengan dilanda akademik yang buruk. Rasanya tidak rasional kalau bisa keterima di tempat kuliahku sekarang. Tapi saat itu aku sudah pasrah dan berusaha dalam hal lain–bukan belajar. Ajaibnya ternyata aku bisa kuliah kok.

Atau saat menjalani semester sekian, dimana belajar buat uts uas adalah h-seminggu, dan diabisin banget belajarnya, eh..malah keluar ip jelek yang bikin rumah tangga geger (lah lebay).

Misal juga, saat ada dua pilihan, yakni kuliah atau nemenin naira yang sakit. Kondisinya adalah semua orang punya kepentingan yang lagi ngga bisa ditunda. Kadang, saat aku milih bolos dan nemenin naira, justru indeks mata kuliah itu jadi ajaib bagiku.

Jaman semester hektik kemaren juga terkadang membawa kegalauan. Seperti dihadapkan pilihan; laporan ngumpulin telat tapi bantuin mama dulu atau ga usah bantuin mama tapi laporan tepat waktu? Atau hari Sabtu ke kampus ngerjain laporan bareng temen atau ngerjainnya dirumah tapi pasti bakal ga bener karena Naira pasti pengen ditemenin main mulu?

Kalau mau egois, aku bakal lebih milih gausah bantu mama dan gausah main sama Naira asal segala urusan kuliah beres. Tapi semua ‘keegoisan’ itu juga ga menjamin kalau aku akan sukses kuliah. Mengorbankan akademik dengan memilih prioritas lain yang lebih penting terkadang malah bisa mendongkrak ip.

Jadi pengen nulis lagi tulisan yang pernah ditulis di blog ini:

bahwa usaha manusia itu adalah 0. Semakin banyak usaha, maka akan semakin banyak angka 0 nya. Tapi angka nol bukankah tak berarti jika tidak ada angka 1 didepannya?

Angka 1 itu adalah keberadaan Allah SWT dalam hidup kita.

Percuma belajar mati-matian kalau bukan for the sake of Allah SWT. Karena sekarang atau nanti, akan kerasa kalau usahanya ternyata hanya nol saja.

Jadi jangan khawatir buat yang memprioritaskan urusan lain yang kata orang mah ga penting. Seperti memprioritaskan nyenengin ortu dengan bantu-bantu dirumah, atau memprioritaskan bantuin temen, atau hal-hal “gapenting” lainnya.

pers.(pective)

Hari yang aneh. Pagi tadi, aku menyapa seorang teman. Ia tidak dengar. Atau pura-pura tidak dengar? Sorenya, kakiku masuk ke lubang lapangan basket kampus. Tahu seberapa malu dalam itu? Lalu malamnya, sepi sekali. Kenapa aku melihat bayang-bayang aneh mengikutiku? Imajinasiku melayang kemana-mana, akhirnya aku berlari pelan. Tetangga lalu menyapa diujung jalan, “Ngapain lari-lari neng?”

Setelah mau tidur, aku baru sadar. Aku lupa memakai kaca mata hari ini. Semua hal yang aku katakan tadi, hanya bayang palsu saja. Teman yang kutemui tadi pagi, adalah orang asing yang mirip seorang teman saja. Bayangan di malam hari, hanya dedaunan di pohon saja. Tunggu, apa tetangga yang menyapa itu lalu bukan tetangga?

Semua akan benar jika bisa melihat jelas. Asumsi hanya akan menyusahkan. Pakai kacamatamu, nak. Pakai pikiranmu, jangan lagi perasaan yang kerap dibawa.

[ditulis sambil bikin andat, dan dengerin lagu emo alay jaman smp; sekenhen&friends.]